Remember Me

Remember Me
Home (2)



Happy Reading


***


"Di mana Mom?" tanya Christov ketika keluar dari kamar mandi rumah sakit dengan kemeja biru lembut dan celana jeans longgar.


"Ibumu pergi ke supermarket untuk belanja kebutuhanmu bersama Christina,"


Christov mengangguk kecil walau dalam hati kecilnya dia ingin protes karena membuat keluarganya kerepotan karena dia.


"Kau sudah siap? Apa ada sesuatu yang masih ketinggalan?"


Christov menggosok telapak tangannya dan menatap ruangan rumah sakit yang sudah kosong. Well.. Ada perasaan gugup dalam dirinya karena harus meninggalkan rumah sakit ini. Dianggukkan kepalanya dengan senyum kecil lalu menolehkan pandangannya ke arah Robert.


"Sepertinya tidak. Mom sudah mengepaknya dengan sangat rapi,"


Mendengar itu, Robert menarik satu koper besar di tangannya.


"Aku bisa melakukannya, Dad.."


"No.." tolak Robert, "Biarkan aku melakukannya, nak..."


Robert berjalan keluar dari kamar dan Christov menatapnya diam untuk sesaat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya. Dia mengambil posisi berjalan beriringan dengan Robert. Keheningan meliputi mereka, suara langkah kaki dan roda koperlah yang menjadi musik pengiring di antara mereka.


Ah. Sial sekali. Umpat Christov dalam hati karena aura canggung yang mencekik ini. Dia ingin memulai pembicaraan, tapi bingung karena dia tidak memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya.


"Apa Dad dan Mom akan langsung pulang setelah ini?"


"Jika itu yang kau inginkan, aku dan Ibumu bisa pulang."


Christov menahan diri tidak mendengus. Inilah mengapa dia tumbuh menjadi pria yang sulit berkomunikasi dengan ayahnya sendiri. Ayahnya suka menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan satu kalimat yang keluar dari mulut seseorang.


"Bukan maksudku begitu, Dad.." dia ingin melanjut bicara, tapi diurungkan niatnya saat mereka sudah di depan pintu lift.


"Aku tahu maksudmu, Nak."


Keduanya melangkahkan masuk ke lift dan Christov menekan tombol lift.


"Ibumu pasti membuatmu tidak nyaman, bukan?"


Christov menyandarkan tubuhnya di dinding lift, "Bukan begitu," matanya menatap kosong ke arah sneaker hitam yang dia gunakan.


"Ayah pun terkadang kerepotan menghadapi sifat dan sikap Ibumu,"


Christov sadar bahwa tidak ada lagi cinta yang tersisa di antara kedua orangtuanya, tapi mereka tetap bersama untuk alasan yang tidak dipahami oleh Christov. Di usianya saat ini, jika orangtuanya bercerai bukanlah masalah besar untuk Christov.


"Dad,"


"Yah?"


Christov berpikir sejenak tentang pertanyaan yang hendak dia tanyakan. Namun, semakin dia memikirkannya, keraguan dalam dirinya semakin besar.


"Tidak ada lagi,"


"Tanyakan saja apa pun yang ingin kau ketahui.."


Christov mengangkat kepalanya menatap punggung Robert. Kata-kata Robert seolah menyiratkan sesuatu. Dia diam sejenak lalu mengarahkan matanya ke arah tombol lift. Mereka sudah sampai di lantai tujuan mereka.


"Akan kutanyakan lain kali saja," kata Christov akhirnya tepat saat pintu lift terbuka.


Robert mengangguk kecil dan melangkahkan kakinya keluar menuju Center Point. Daerah yang ramai ini. Christov memandang ke jalur tempat pemeriksaan CT Scan yang selalu dia kunjungi, mencoba mencari wanita itu. Cassandra. Namun, sejauh dia memandang di keramaian, dia tidak bisa menemukannya.


Apakah kami akan bertemu lagi? Batinnya, tapi dia sadar dengan cepat. Dia adalah wanita acak yang tidak sengaja kutemui.


Christov melangkahkan kakinya menuju Robert untuk menyusul ketertinggalannya di belakang. Jika bertemu, memangnya apa yang akan dilakukan Christov? Terlebih, kecil kemungkinan dia bertemu wanita itu lagi di kota besar seperti Los Angeles.


Dia melangkah masuk ke dalam mobil di mana Ayahnya sudah duduk di kursi pengemudi kemudian memasang sabuk pengaman pada dirinya sendiri.


"Ready?" tanya Robert.


"Yes..."


Dengan jawaban itu, Robert melajukan mobil meninggalkan lapangan parkir rumah sakit. Christov melirik bangunan rumah sakit yang semakin mengecil melalui kaca spion dan ada rasa tidak nyaman di dadanya. Perasaan kosong ini nampaknya dirasakan siapa pun ketika meninggalkan suatu tempat setelah berada di sana dalam jangka waktu yang panjang.


"Itu terasa aneh.." kata Christov setelah meninggalkan pekarangan Rumah sakit.


Robert melirik sekilas ke arahnya, "Aku tahu apa yang kau maksud,"


Benarkah? Tanya Christov dalam hatinya. Setelah itu, keheningan meliputi keduanya. Christov sibuk dengan pikirannya sendiri seraya menatapi bangunan tinggi  perkotaan, lalu lintas yang padat, dan lautan manusia yang berlalu lalang.


Sama seperti Christov. Dia sudah muak dan bosan berada di kota ini. Udaranya yang kering dan penuh polusi. Warganya begitu kasar dan penuh omong kosong. Sesuatu atau hal biasa dihargai dengan harga luar biasa. Pelayanan kota yang seadanya dengan pajak yang membuat siapapun menggigil mendengar jumlah persenan pajak yang ditetapkan.


Bagi beberapa orang, Los Angeles adalah surga. Namun, untuk beberapa orang lainnya, Los Angeles adalah mimpi buruk. Christov berada di antaranya. Los Angeles tentu bukan surga untuknya dan bukan juga mimpi buruk.


Namun, dia benar-benar ingin pindah dari tempat ini. Ke sebuah kota yang tidak padat, memiliki udara segar, dekat dengan laut, dan tentunya tempat itu harus memiliki empat musim. Christov benar-benar suka dengan musim gugur dan salju. Sayangnya kedua musim itu tidak bisa dia rasakan di sini.


"Here we are.." Robert membuyarkan lamunan Christov saat mereka memasuki kawasan apartemen Christov. Mobil Robert diparkirkan ke parkiran umum. Mereka berdua turun dan Robert masih tetap membawa koper tentunya.


Mata Christov melihat bangunan tinggi apartemen itu. Satu-satunya tempat yang bisa Christov anggap sebagai surganya. Dia ingat terlibat langsung dalam pembangunan apartemen ini delapan tahun yang lalu walau hanya sebagai asisten arsitek.


"Ayo.. Di sini sangat panas," Robert berjalan mendahuluinya dengan bunyi koper yang menganggu telinga karena ketidakmerataan aspal.


Christov melangkahkan kakinya menuju bangunan apartemen. Dia menggesek kartu akses dan menempelkan jari jempolnya agar dapat masuk ke lobi apartemen. Setelah masuk di sana, udara yang sebelumnya panas dan kering berubah menjadi sejuk.


"Jauh lebih baik..." komentar Robert.


Keduanya berjalan ke arah lift dan sekali lagi Christov harus menggesek kartu aksesnya agar mereka bisa masuk. Ditekannya tombol lift lantai 20 dan hanya menunggu beberapa detik saja, tujuan mereka sudah sampai.


"Sampai sekarang aku masih tidak paham dengan teknologi ini.."


Itu karena kau baby-boomer.


(*Baby Boomer adalah bayi-bayi yang terlahir antara tahun 1946-1964)


"Ke arah mana kita?"


"Kiri..." Christov berjalan mendahului ayahnya ke arah kiri seraya menarik koper itu dengan cepat dari jangkauan Ayahnya. Bunyi roda koper itu terdengar lebih halus saat berputar di lantai marmer bangunan itu.


Saat di depan pintu apartemennya, di tempelkannya jari jempolnya sebagai akses masuk dan pintu pun terbuka. Udara dalam apartemennya tercium sedikit lembab karena sudah lama tidak ditempati dan berpadu dengan wangi makanan yang berbumbu kuat.


"Kalian sudah datang?" terdengar suara Ibunya dari arah dapur.


"Begitulah.." Robert melepas sepatu dan kaos kakinya dan menaruhnya asal dipinggiran pintu. Christov menatapnya dalam diam kemudian memperbaiki posisi sepatu itu. Dia melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam apartemennya yang bergaya minimalis yang kaku, bersih, rapi, dan warna-warna cozy mendominasi ruangan.


Hal yang pertama dilakukan Christov adalah memeriksa tanaman pakunya yang berada di samping ruang tamu. Tumbuh dengan subur. Senyum terukir di wajahnya saat menyadari tanaman itu masih bertahan walau ada bagian-bagian yang kering.


Dia berjongkok dan memegang tanahnya yang sedikit lembab. Saluran pipa yang dia rancang ternyata bekerja selama dia tidak ada. Posisi tanaman yang berada di samping dinding kaca apartemen memastikan tanaman itu mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosinstesis setiap harinya


"Christov?"


"Yes, Mom?" Christov bangkit dari posisinya


"Makan siang sudah siap. Kemarilah.."


Christov beralih dari sana dan berjalan menuju dapurnya. Dia melihat Christina dan Ibunya tengah menata meja dengan berbagai makanan sementara ayahnya duduk nyaman di kursi dengan ponsel di tangannya


"Duduklah kemari, nak.." Theresa menarik kursi untuk Christov dan dia tersenyum tipis.


"Thank you, Mom."


"Mom dan Christina membuat ratatouille kesukaanmu, sup domba, ikan tuna bakar, dan ayam kalkun.."


"Apa kita bisa menghabiskan ini semua?"


"Tenang. Sisanya akan aku bawa pulang.." Timpal Christina yang sudah melepas appronnya, "Duduklah, Mom. aku sudah kelaparan."


Theresa mengambil tempat duduk sehingga berhadapan dengan Robert dan Christov berharapan dengan Christina.


"Angkat gelas kalian.." ucap Theresa seraya mengangkat gelas anggur miliknya dan ketiganya mengangkat gelas.


"Untuk Puteraku, Christover O'Connel yang akhirnya sembuh dan kembali pulang dengan sehat," Robert berucap dengan suara yang terdengar tegas dan bijak.


"To my lovely son* yang akhirnya bisa kembali sehat.."


(Untuk anak tersayang ku)


"Untuk Saudaraku yang tertampan..."


"Untuk kita semua.." tutup Christov.


"Cheers."



****


Miss Foxxy