
Happy Reading
***
"Sir, kami kesulitan dalam pembuatan permintaan klien yang satu ini," Dylan menunjukkan bagian yang sulit mereka realisasikan pada bagian dalam rumah impian klien mereka.
Christov menatap bagian yang ditunjukkan oleh Dylan pada iPad miliknya.
"Dia meminta desain rumah kayu dengan perpaduan suasana modren..." Dylan mulai menjelaskan kesulitan mereka sementara Christov serta dua karyawannya yang lain menyimaknya dengan seksama. Christov mencerna informasi dari Dylan bagaimana mereka berusaha membuat tatanan bangunan yang pas, tapi dari sekian banyaknya percobaan yang mereka lakukan, tataan itu akan rubuh.
"Josh.." Christov memanggil dengan nada pelan, matanya tetap fokus pada layar iPad.
"Yes, sir?"
"Bisa kau bantu aku menyambungkan kabel in-focus," Christov mengangkat kepalanya, "Aku sudah mendapat solusi dari permasalah kita..."
Ketiganya terkejut bukan main mendengar perkataan Christov. Mulut mereka jatuh ke bawah membentuk huruf 'o'. Betapa jeniusnya, pikir ketiganya. Mereka menghabiskan tiga hari lebih menyelesaikan permasalahan ini tanpa menemukan solusi dan di sini, bos mereka dengan hanya mendengar penjelasan selama 15 menit dan menemukan penyelesainnya.
"Thank you, Josh, " Christov berdiri setelah iPad miliknya tersambung ke in-focus bluetooth, "Bagian ini memang cukup kompleks dan rumit. Untungnya, aku pernah menangani kasus yang mirip seperti ini. Lihat-lah ke layar. Bagian ini...."
Christov menjelaskannya dengan terarah dalam nada yang tenang. Ketiga-nya berfokus melihat layar in-focus yang memiliki coretan, hasil kerja tangan Christov melalui iPad miliknya. Penjelasan Christov yang pas membuat ketiganya paham dengan mudah. Tidak pernah sekalipun ketiganya mendapatkan penjelasan sedetail, serapi, dan sesimpel ini.
"Okay.." Christov menyalakan lampu lagi dan seisi ruangan terang benderang, "Apa kalian paham sampai sejauh ini?"
"Yes, Sir," jawab ketiganya dengan kompak.
Senyum tipis terukir di bibir Christov, "Baguslah. Sekarang mari kita lanjutkan mengerjakannya.." dia mengambil posisi duduk di kursinya kembali.
"Um.. Sir?"
Christov mengangkat kepalanya dari layar iPad ke arah Dylan.
"Ada yang ingin kau tanyakan lagi terkait penjelasanku tadi?"
Dylan menggeleng kecil, "Ini soal sketsa 3D rumah yang anda berikan pada saya saat sebelum anda kecelakaan."
"Rumah?" tanyanya penuh kehenaran. Bukankah mereka berkata bahwa tidak ada proyek yang tidak terselesaikan saat dia kecelakaan?
"Yes, sir.. Proyek ini milik anda sendiri. Dream House,"
Christov menerima iPad milik Dylan dan melihat sketsa itu. Sudah rampung. Bentuk, ukuran, warna, bahkan tersedia animasi untuk setiap rumah itu. Dia tidak ingat mengerjakan hal seperti ini? Apakah bagian ini hilang bersama ingatannya selama enam bulan lalu?
"Aku tidak ingat ini," ujar Christov terarah pada rumah besar berwarna putih bergaya modren yang berada di pinggir lautan. Rumah ini persis seperti rumah impian yang dia angankan selama ini, tapi versi yang satu ini dalam ukuran yang lebih besar. Christov tidak terlalu berharap membangun rumah sebesar ini.
"Anda meminta pertolongan kami untuk menyelesaikan sentuhan terakhir. Seperti pembuatan animasi dan penetapan gradiasi warna," jelas Dylan.
"Anda berkata ingin memiliki rumah sebesar itu untuk calon keluarga dan anak-anak Anda kelak, Sir," ucap Mia dengan nada penuh impian dan Christov menoleh ke arah Mia yang menatapanyanya dengan tatapan menghayal.
Apa? Calon keluarga? Calon anak-anak? Pikiran aneh macam apa itu? Dalam mimpi terliar Christov sekali pun, dia tidak pernah berharap memiliki seorang anak dan semacamnya. Seketika muncul ratusan pertanyaan yang muncul dalam dirinya, tapi dia menahan diri untuk tidak bertanya. Toh, christov jarang berbagi cerita pribadinya pada orang lain jadi kecil kemungkinan para tenaga kerjanya tahu tentang masalah pribadinya.
"Dua minggu setelah anda memberikannya kepada saya, proyek Dream House ini sudah selesai saya kerjakan dan hendak memberikannya pada Anda. Sayangnya, kecelakaan yang menimpa Anda terjadi sebelum saya sempat memberikannya," jelas Dylan dan Christov mendengarnya dalam keadaan tubuh tegang.
"Aku akan melihatnya lebih lanjut, Dylan," ucapnya singkat. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa dan hanya kata-kata tersebut yang bisa terpikirkan oleh Christov.
"Saya akan mengirimnya melalui email, Sir."
"Thank you so much, Dylan."
"You're welcome, Sir."
Christov mengambil pena elektroniknya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya, tapi seluruh raga dan pikirannya tidak lagi terfokus pada pekerjaannya, melainkan pada proyek Dream House itu. Dia mengenal dirinya dengan jelas dan dia tidak akan mengerjakan hal seperti ini jika tidak dimotivasi oleh sesuatu.
Pertanyaannya sekarang, apa yang memotivasinya?
****
Bunyi lonceng terdengar diikuti oleh sambutan dari karyawan yang duduk di balik kasir. Saat menyadari siapa yang datang, kasir itu tersenyum sumringah. Ah.. Kasir itu selalu senang setiap Cassie datang, pelanggan favoritnya.
"Miss Angelis," ucapnya sebagai sapaan seraya berdiri dari duduknya, "Apa anda ingin menjemput Milo, Moli, Mili?"
"Yeah," jawab Cassie dengan suara antusias, "Aku juga ingin membeli beberapa perlengkapan untuk rumah ikan-ikanku.."
Yah. Milo, Moli, dan Mili adalah nama ikan peliharaan Cassie. Mili merupakan ikan Guppy berwarna silver dengan gradiasi pelangi, Milo sendiri adalah ikan Guppy berwarna hitam gelap dan sampai sejauh ini Milo adalah favorit Cassie, dan yang terakhir adalah Moli yang merupakan Ikan Angelfish berwarna putih dengan garis hitam menyerupai Zebra.
"Apa mereka baik-baik saja?" Cassie bertanya saat mengikuti langkah kaki Zidny, karyawan pet shop ini. Mereka melewati rak-rak yang membentuk gang dalam toko ini. Cassie melihat beraneka ragam hewan peliharaan di sana. Mulai dari kura-kura, kadal, tarantula, burung, landak, hamster, kucing, anjing, bahkan ular.
Sebenarnya, Cassie ingin memelihara anjing atau kucing, tapi apartemennya terlalu kecil. Ditambah Cassie benar-benar sibuk di usianya sekarang. Dia takut tidak bisa mengurus mereka. Namun, Cassie memiliki hasrat besar untuk memelihara sesuatu dan pilihannya jatuh pada ikan. Dari semua jenis peliharaan, ikanlah yang lebih mudah di urus.
"Yah.. Mereka baik-baik saja dan di sinilah mereka..." Zidny menunjukkan akuarium segi enam, tempat ikan peliharaannya berada.
"Aw.. My kids*. Mommy sudah datang..."
(Orang barat kerap menganggap hewan peliharaannya sebagai anak.)
Cassie membungkuk untuk menatap ketiga ikannya dengan tatapan bahagia. Untuk beberapa saat dia menatapi ketiga ikannya untuk melepas rindu lalu menoleh ke arah Zidny.
"Aku ingin membeli akuarium serta hiasannya..."
Senyum Zidny merekah. Well.. Pagi ini, setelah menerima pesan Cassie bahwa dia akan menjemput ikannya, dia buru-buru memindahkan ketiga ikannya ke aquarium dengan bentuk unik keluaran terbaru ini karena Zidny yakin bahwa Cassie akan membelinya. Cassie adalah salah satu pelanggan potensial favoritnya.
"Yes, Miss..."
Mili, Milo, Moli
****
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk memasang akuarium dan menghiasinya, Cassie akhirnya selesai dengan rumah baru ketiga ikannya. Sekarang, dia memberi sedikit pelet organik untuk ketiga ikannya.
"Aku berharap kalian tumbuh sebesar hiu, sayangnya kalian sudah berada dalam ukuran terbesar tubuh kalian," bisiknya dengan nada imut yang dilebih-lebihkan. Seandainya memelihara ikan hiu itu legal, Cassie takkan ragu untuk memeliharanya.
Beres dengan ikannya, Cassie menutup wadah tempat pelet itu dan menaruhnya di bawah akuarium.
"Aku juga butuh makan. Jam berapa sekarang?" tanya dia pada dirinya sendiri seraya berjalan meninggalkan akuarium. Dia berjalan ke dapur dan membuat susu protein tinggi sebagai makan malamnya di dalam botol minum yang memiliki sedotan.
Cassie menyedotnya seraya berjalan ke arah kamar dengan tangannya yang satu memeriksa ponsel miliknya. Dia mengambil posisi berbaring di atas tempat tidurnya dan menyalakan televisi. Namun, perhatian Cassie tidak sepenuhnya tertuju pada televisi karena apa yang dia lakukan saat ini adalah mengutak-atik ponselnya.
Nomor ponsel lamanya yang hilang dalam kecelakaan dapat diperbaiki walau dia harus merogoh kocek tinggi untuk memperbaikinya. Dia harus mulai lagi dari awal untuk menyimpan nomor yang hilang, tapi setidaknya beberapa orang masih tetap menghubunginya dengan nomor lamanya.
Matanya melihat penyimpanan G-drive dan Cloud miliknya untuk mencari file tentang lagu yang disinggung oleh Lina pagi ini di tempat kerja. Mulutnya tetap menghisap susu miliknya dengan perlahan hingga habis tak berjejak dan menimbulkan bunyi angin yang dihisap dari dalam botol minumnya.
"Di mana aku menyimpannya?" tanyanya dengan nada jengkel dan menaruh botol minum itu di meja nakas. Sekarang, Cassie mengambil posisi duduk bersila di atas ranjangnya dan memeriksa setiap file yang ada.
"Sialan.." umpatnya saat dia sudah memeriksa semua file dan tidak menemukannya. Diangkat kepalanya untuk melihat laptop miliknya yang berada di ats meja kerjanya yang kecil.
"Mungkin aku menyimpannya di sana.."
Cassie melompat dengan cepat ke arah meja dan duduk. Setelah laptop menyala, dia memeriksa setiap file yang ada di laptopnya.
"Di mana benda sialan ini ku simpan?" giginya bergemeletuk karena dia kesal tak kunjung mendapatkan 20 lagu itu. Kemudian, dia terdiam saat melihat sebuah file di penyimpanan Cloud dan entah mengapa dia yakin bahwa inilah file yang dia cari sedari tadi. Matanya melihat nama file itu dan tidak sedikit pun terbersit sesuatu dalam ingatannya tentang file ini.
"C&C?"
***
Miss Foxxy