Remember Me

Remember Me
I Choose You



Happy Reading


****


Christov membuka pintu sesaat mendengar suara bel unit apartemennya dan dia tahu siapa yang datang tersebut. Dia tersenyum senang seraya membuka lebar tangannya untuk siap memeluk Cassie sesaat pintu terbuka nanti.


"Hai, my love..." suaranya mendadak mengecil saat di ujung kalimatnya dan senyumnya memudar saat melihat ekspresi marah Cassie. Wanita itu melotot dengan mata merah yang nanar. Benar-benar melotot seolah kedua mata Cassie bisa keluar kapan saja. Bibirnya yang dilipat membentuk garis keras bergetar, seolah tengah menahan diri untuk tidak menangis.


"Kenapa?" tanya Christov dengan nada panik, kedua tangannya masih tetap di udara. Dia menahan diri untuk tidak menyentuh kekasihnya tersebut.


"What the f-uc-k is this?*" bisik Cassie dengan nada marah yang bergetar seraya melempar paper bag hitam yang dia pegang pada Christov dan pria itu segera menangkapnya.


(*Apa-apaan ini?)


Christov menatap heran pada Cassie dan paper bag hitam itu secara bergantian. Dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di sini dan benda apa yang tengah dipegangnya saat ini. Secara mendadak, Cassie melangkah kearah Christov dan segera memegang kerah bajunya dengan kedua tangan. Wanita itu menatapnya marah dan napasnya berderu cepat.


"Apa-apaan ini, sialan?" geram Cassie dengan marah, "Siapa Clara Murray, huh?!"


"A-Apa? Clara? Dari mana kau mengenalnya?"


"Argh!" Cassie mendorong lepas keras Christov dengan kuat dan penuh amarah. Matanya yang memerah menatap pria itu dengan tatapan penuh sakit hati.


"Kau mengenalnya?" bisiknya dengan nada hancur, "Itu tunanganmu?"


"Apa?!" kini, suara Christov-lah yang meninggi, "Dia bukan tunanganku, Cassie. Apa yang kau pikirkan, huh? Kau kekasihku, kenapa kau berpikiran seperti itu?"


Cassie menggeleng kecil dan kedua tangannya memeluk tubuhnya, seolah berusaha melindungi dirinya sendiri. Ketika dia mengedipkan mata, air mata yang telah ditahannya sejak tadi mengalir dengan lambat di kedua sisi pipi Cassie. Perih. Hatinya sangat perih.


"Jadi.. Jadi kenapa ada cincin? Siapa dia?"


Hatinya hancur melihat kekasihnya tersebut menangis untuk pertama kalinya. Tak pernah sekalipun dia melihat ekspresi wajah Cassie yang seperti ini dan itu membuat hatinya sakit seolah ditusuk oleh ribuan jarum. Ketika dia mendekat, wanita itu malah menjauh dan hal tersebut membuat tubuh Christov membeku. Dia bisa melihat kehancuran dan ketidakpercayaan pada kedua mata Cassie.


"Biarkan aku menjelaskannya, Cassie..." pintanya dengan suara penuh ketakutan, "Dia hanya wanita yang berusaha dijodohkan Ibuku beberapa bulan lalu dan itu sudah lama berakhir..."


"Ibumu?" tanya Cassie dengan suara penuh kemarahan, "Ibumu yang melakukannya?!"


Christov tersenyum gugup, takut telah melakukan kesalahan dalam pemilihan katanya.


"Aku berjanji itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita. AKu berjanji. Ayah dan saudaraku pasti akan mendukungku. Aku hanya tinggal menyakinkan Ibu..." jelasnya dengan nada khawatir.


"Jangan pernah berjanji sesuatu jika kau tidak bisa menepatinya, Christov.." balas Cassie dengan suara bengis dengan air mata yang masih tetap mengalir di sana, "Kau tidak akan bisa menyakinkan Ibumu tentang hubungan kita.."


"Aku pasti bisa.." ucap Christov dengan suara berusaha optimist, "Dia akan menyukaimu.Aku berjanji..."


Cassie terisak dan wajahnya berkerut untuk menahan hisakannya semakin keras, "Menyukaiku?" dia menggeleng lemah, "Dia tidak akan bisa menyukaiku, Christov," ucapnya dengan nada putus asa.


"Apa maksudmu? Jangan pesimis.. Kau dan Ibu bahkan belum pernah bertemu,"dia berusaha maju ke depan, tapi Cassie tetap mundur menjauh.


"Tidak akan.. Ibumu tak akan menyukaiku.. Selamanya.. Aku yakin dia masih orang yang sama seperti dulu.."


Kini, wajah Christov berubah menjadi wajah serius, "Apa maksudmu? Seperti dulu? Apa kau mengenal Ibuku?"


Cassie menarik napas panjang dan mengembuskannya hanya untuk mengundang air matanya jatuh lagi.


"Ingat.. Ingat saat kau berkata surat izin mengajar ibumu dicabut?"


Christov terdiam, masih belum paham ucapan wanita itu.


"Itu aku.. Itu karena aku.."


"Apa?" bisik Christov, "Jangan bercanda.."


"Ibumu ikut andil atas trauma yang pernah kualami, Christov!" Cassie menatap kedua telapak tangannya dan kembali mengingat masa-masa ketika tangannya terus bergetar hebat karena gangguan panik, "Dia yang membuatku memiliki gangguan panik.. Dia yang membuatku merasa menjadi manusia yang tak berharga.. Dia-lah yang membuat merasa menjadi anak yang berbeda.. Anak yang aneh.. Anak yang tidak memiliki masa depan..."


Christov terdiam dengan wajah penuh keterkejutan. Dia benar-benar tidak tahu bereaksi apa pun atas ucapan Awalnya, dia berpikir ini semacam lelucon. Namun, wajah serius Cassie menjelaskan semuanya.


"Aku bertaruh bahwa Ibumu masih orang yang sama, bukan? Hubungan kita tidak akan berhasil.. Dia tidak menyukaiku.. Bagi Ibumu, aku adalah sosok yang membuat masa lalunya rusak.."


"Hubungan kita akan berhasil. Apa pun yang terjadi.." jawab Christov dengan suara tegas, dia merasa kesal mendengar penghakiman mutlak tanpa alasan dari kekasihnya tersebut.


"Sudah kubilang, jangan berjanji!"


"Aku memilihmu, Cassie.. Aku akan memilihmu. Saudariku akan ada dipihakku dan Ayahku pun akan melakukannya.. Apa kau tidak tahu betapa menderitanya hidupku karena Ibu!" Christov setengah berteriak, "Dia membuatku tidak bahagia.. Dia selalu menetapkan standar kesempurnaan yang gila.. Ibuku tidak pernah membuatku bahagia, Cassie.."


Cassie membuang muka dari Christov, tiba-tiba merasa aneh.


"I choose you*, Cassie.. Aku akan memilihmu, bahkan jika Ibu tidak mau. Bagaimana bisa aku tidak memilihmu saat hanya dirimu yang membuatku bahagia?" bisik Christov, "Please.. Percaya padaku, Cassie. Kumohon...."


(*Aku memilihmu, Cassie.)


"Aku tidak suka mendengar janji.." bisik Cassie tanpa emosi. Tangisnya berhenti dan amarahnya menghilang begitu saja. Satu-satunya yang tersisa adalah rasa lelah.


"Biarkan aku membuktikannya terlebih dulu. Apa kau tidak mempercayaiku? Aku menolak perjodohan sialan ini karena aku lebih memilihmu.. Tidak pernah sekali pun aku berani melawan pada Ibu, tapi kali ini aku berani melakukannya.. Aku berani melakukannya karena ada kau..."


Cassie mengintip dia dengan malu-malu seolah merasa terenyuh dalam ucapan Christov.


"Apa itu yang membuatmu berbohong padaku dengan mengatakan kepergian palsumu ke San Diego? Karena mengetahui Ibuku adalah seorang guru yang pernah menyakitimu?"


Wanita itu tampak terkejut dan buru-buru membuat muka, "Aku tidak ada maksud membohongimu.. Aku hanya butuh waktu sendiri dan aku tak tahu bagaimana mengatakannya karena.." suaranya memelan, bingung memilih alasan apapun.


Christov tersenyum tipis, "Aku tak marah dan aku paham mengapa kau melakukannya, Cassie.. Sekarang, bolehkah aku memelukmu?" pintanya. Sesaat, Cassie tak bereaksi apa pun lalu beberapa detik kemudian di bisa melihat anggukan kecil dari Cassie. Dengan cepat, dia melangkah ke arah kekasihnya tersebut dan menariknya dalam pelukan.


Lega.. Perasaan legalah yang Christov rasakan sesaat memeluk tubuh Cassie. Terasa hangat. Terasa lengkap dan melegakan. Dia mencium pucuk kepala wanita itu lalu menghirup aroma tubuh kekasihnya tersebut dalam-dalam..


"Aku merindukanmu.. Sangat.. Sangat merindukanmu. Apa kau tahu betapa takutnya aku saat mengetahui kau berbohong padaku? Aku pikir kau berselingkuh dengan pria lain.."


"Aku tak akan pernah melakukannya," Cassie memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada dada Christov untuk mendengar detak jantung pria itu, "Bagaimana kau bisa tahu keberadaanku?" bisiknya dengan suara serak.


"Akun goggle.."jawab Christov singkat, "Lain kali, kita harus pergi ke pekan raya untuk naik komidi putar bersama.."


"Apa?" Cassie hendak menarik tubuhnya dari pelukan Christov, tapi pria itu menahannya.


"Jangan tanya bagaimana aku menemukanmu. Jangan berusaha lagi berbohong padaku. Jangan lari dariku lagi. Jangan lagi menangis sedih. Jangan lagi pergi naik komidi putar sendirian. Jangan--"


"Kenapa sangat banyak larangan?" potong Cassie dengan penuh protes dan itu membuat Christov tersenyum senang, "Memangnya kau ayahku, huh?"


Huh.. Senang mendengar energi positifnya kembali. Batin Christov.


"Boleh aku menjadi ayah dari anak-anakmu saja?"


"Kau bicara apa sih? Hubungan kita saat ini saja sudah terancam.."


"Sudah kukatakan, kau akan tetap kupilih. Saudariku dan Ayahku pasti akan berpihak padaku..."


"Bagaimana kau tahu itu?"


"Karena mereka pun benci Ibu..." bisiknya dengan nada kelam.


Wanita itu diam, tak berusaha menjawab apa pun lagi. Mereka berdua tetap di posisi tersebut selama beberapa saat, hingga akhirnya dia mendengar dering ponsel milik Christov dari dapur.


"Ponselmu berdering.." ujar Cassie.


"Biarkan saja... Aku ingin memelukmu. Itu bukan panggilan penting.."


Berdering.. Ponsel itu berdering terus seolah meneriakkan protes karna tak kunjung di angkat.


"Kau yakin itu tidak penting, huh?" Cassie mendorong tubuh Christov menjauh darinya, tapi pria itu menolak, "Ayolah.. Christov.. Angkat ponselmu itu.."


"Aku ingin memelukmu lebih lama lagi..."


Secara mengejutkan, Christov merasakan bagian kejantanannya ditepuk oleh Cassie hingga membuatnya terkejut. Di saat itu pula, Cassie mengambil kesempatan untuk lepas dari pelukannya.


"Astaga! Kenapa kau memukul masa depanku?" pukulan itu tidak kuat, tapi cukup membuat Christov terkejut dan mengirimkan getaran menakutkan di seluruh tubuhnya. Matanya menatap Cassie yang tersenyum jahat. Dia heran... Benar-benar heran. Bagaimana bisa suasana hati kekasihnya tersebut dapat berubah-ubah dengan sangat cepat.


"Angkat ponsel sialanmu itu.. Toh, aku tak akan pergi ke mana-mana.. Tenanglah.."


"Hm.. Kalau begitu, ayo.. Aku sudah memasak menu spesial untukmu.." Christov berjalan mendahului Cassie menuju dapur.


"Menu apa?" tanya Cassie seraya duduk di meja bar, menatap Christov yang nampak pucat pasi, "Kenapa dengan wajahmu? Apa kau mengompol karena aku terlalu keras memukul pen--"


"Saudariku! Astaga.." ucap Christov dengan nada panik, "Sebentar.. Aku pergi ke lobi sebentar..." dia berlari dengan cepat ke arah pintu keluar seraya menerima panggilan tersebut dan Cassie menatapnya dalam diam.


"Jangan kemana-mana!" teriak Christov lalu diikuti suara pintu yang dibanting dengan keras.


Cassie mengedipkan mata secara sadar beberapa kali sebelum menatap sekitar dapur. Dia berdiri dan berjalan ke arah wastafel untuk menyuci wajahnya dari bekas air matanya yang mengering.


"Segar.." bisiknya setelah selesai menyuci muka dengan seadanya.


Seraya melap wajah dengan tissue, matanya menangkap sebuah mangkuk aluminium persegi tidak jauh darinya. Dia membuang tissue bekas lalu berjalan untuk memeriksa isi di balik mangkuk aluminum tersebut. Segera matanya yang merah berubah berbinar-binar.


"Lasagna!" pekiknya dengan bahagia, "Dia memasak Lasagna untukku..." suaranya tiba-tiba berubah sedih dan perasaan bersalah muncul dalam dirinya. Cassie tersenyum kecut seraya menatap Lasagna yang masih mengepulkan asap tersebut


"Dia tahu aku berbohong, tapi tetap memasak makanan yang sudah kuidamkan sejak lama.." ucapnya dengan nada penuh haru, "Sial.. Padahal kesalahan Ibunya bukan kesalahannya. Hah.. Kenapa pria baik selalu dilahirkan dari Ibu yang jahat?"


Cassie mengambil posisi duduk di hadapan Lasagna tersebut dan air liur mulai mengaliri mulutnya. Namun, dia tetap menahan diri untuk tidak mencolek keju yang lumer tersebut. Dia akan menunggu Christov datang terlebih dahulu. Kemudian, Cassie menoleh ke arah pintu keluar dan menyipitkan mata.


"Kenapa sangat lama?"


Tepat saat Cassie menyelesaikan pertanyaannya, pintu yang tengah dia tatapi tersebut akhirnya terbuka. Bukan Christov yang Cassie lihat untuk pertama kali, tapi anjing. Dua anjing!


"Nugget! Salmon!" teriaknya dengan girang seraya melompat turun dari kursi ke arah dua buntalan hidup tersebut. Kedua anjing itu segera melompat ke arah Cassie sehingga membuat wanita itu terduduk di lantai.


"Oh my.." ucap Cassie penuh haru seraya memeluk kedua anjing yang tengah menjilati wajahnya tersebut, "Astaga.. mereka berkunjung.. Nugget.. Salmon.."


Christov tersenyum senang dan merasa bersyukur telah membawa kedua anjing saudarinya tersebut.


"Sesenang itu, huh?" tanya Christov yang sudah ikut duduk di lantai.


"Hm.. Sangat.. Sangat senang.. Aku benar-benar merindukan kedua buntalan ini.."


"Buntalan?" Christov terkekeh, "Aku juga sudah merindukan Milo, Moli, dan Mili.." katanya seraya ikut mengeluh bulu Salmon.


"Apa yang kau rindukan pada ketiga ikanku yang hanya bisa tidur dan makan?"


"Menurutku ikan peliharaanmu menggemaskan.."


"Menggemaskan? Huh.. Tetap saja Salmon dan Nugget yang paling menggemaskan untukku.."


Christov berdiri, "Ayo.. Kau tidak lapar?"


"Aku lapar!" teriak Cassie seraya berdiri, "Kau memasak Lasagna.." keduanya berjalan menuju dapur, diikuti oleh Salmon dan Nugget.


"Hmm... Kau pernah berkata ingin makan hidangan ini."


"Aww.. Kau sangat baik.."


"Duduklah..."


Wanita itu dengan patuh duduk di kursi bar lalu menoleh pada kedua anjing yang tengah menatapnya dengan lidah terjulur.


"Apa saudarimu menyuruhmu menjaga ini? Bukannya besok kau harus kerja?" tanya dia pada Christov yang tengah memindahkan potongan Lasagna pada piring.


"Tidak. Aku tidak menjaga Salmon dan Nugget. Saudariku akan menjemputnya Setelah urusannya selesai. Christina sedang melakukan kunjungan ke dokter kulit untuk perawatan..."


"Dokter kulit? Nampaknya saudarimu sangat kaya.."


Christov tertawa kecil, "Yap.. Dia jauh lebih kaya dariku. Bahkan dia punya mini yacht*..."


(*Kapal layar)


"Apa?! Yacht mini? Saudarimu punya yacht?"


Pria itu mengangguk seraya mendorong piring berisi Lasagna pada Cassie, "Hm.. Dia suka berjemur di pantai, tapi karena terlalu padat, saudariku memilih membeli yacht mini agar bisa berjemur di pesisir lautan sendirian bersama Nugget dan Salmon.."


"Astaga...Saudarimu terdengar sangat keren. Menghabiskan $300.000 hanya untuk dapat berjemur. Aku ingin bertemunya secara langsung. Membeli yatch.."


"Boleh, tapi sekarang, makanlah Lasagna-nya selagi hangat.."


Cassie meraih sendok dan garpu pada kedua tangannya, "Bagaimana dengan salmon dan Nugget?"


"Mereka sudah makan... Makanlah.."


"Kalau begitu, selamat makan.." dia menyendokkan potongan besar Lasagna dalam mulutnya dan matanya segera terpejam sesaat menikmati rasa manis, asam, dan gurih sekaligus pada Lasagna tersebut. Keju meleleh dalam mulutnya dan menyatu sempurna dengan daging cincang, jamur, dan toping yang lain.


"Aku senang kau suka.. Makanlah yang banyak," ujar Christov seraya berdiri dari duduknya dan Cassie mengikuti pria itu dengan mulut tetap mengunyah.


"Kemana?"


"Memberi camilan pada Salmon dan Nugget..."


Cassie mengangguk dan matanya tetap mengikuti kekasihnya yang tengah menumpahkan snack anjing berbentuk tulang dari kotak ke dua mangkok. Memberikannya pada Salom dan Nugget lalu kembali bergabung dengan Cassie untuk menikmati Lasagna.


"Aku masih heran dari mana kau menemukan kemampuan memasak sehebat ini.." komentar Cassie.


"Bakat alami.."


"Mm.. Christov?"


"Yah?"


Cassie menelan Lasagna sebelum kembali berbicara, "Siapa Clara?"


"Kita pernah menonton acaranya.." kata Christov dengan nada acuh.


"Dia artis?"


Pria itu menggeleng, "Ingat acara kesehatan NYC yang pernah kau tonton? Dia adalah dokter yang berpartisipasi dalam acara itu.."


"Dokter? Dia seorang dokter?" suara Cassie meninggi dan wajahnya berubah masam mendengar informasi tersebut. Entah mengapa, dia merasa kalah satu poin dari wanita bernama Clara itu. Dia tentu bangga dengan profesinya, tapi orang zaman sekarang masih memikirkan pekerjaan semacam dokter, pengacara, pengusaha dan semacamnya adalah pekerjaan yang sesungguhnya. Lainnya, terutama pekerjaan dibidang seni adalah pekerjaan omong kosong.


Tak apa.. Toh aku seorang produser dan pencipta lagu terbaik seantero alam semesta. Pikir Cassie.


Cassie berusaha mengingat kembali acara kesehatan NYC yang pernah dia tonton tersebut. Dia pernah mendengar acara itu.


"Hmm.. Tak perlu terkejut begitu.."


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" kata Cassie kesal setelah ingat wajah Clara. Wanita pirang berparas cantik dengan mulut yang pintar.


"Aku hanya belum menemukan momen yang pas dan lagi, kami belum sempat memiliki hubungan apa pun. Aku dan Clara hanya melakukan pertemuan canggung yang dilakukan secara paksa."


"Lalu, bagaimana dengan cincin itu? Kenapa dia memberikan itu padamu?"


Christov menoleh ke arah tempat pertengkaran mereka tadi, dia tidak sadar telah membuang paper bag tersebut ke lantai. Namun, Christov tak mau repot-repot memutiknya kembali


"Isinya cincin? Apa ada surat juga?"


Cassie menyipitkan mata, "Kenapa kau penasaran?"


"Bukan penasaran..." sanggah Christov, "Ibuku kerap memaksa Clara agar mendekatiku, padahal aku sudah berkata tidak mau melanjutkan kegilaan itu pada mereka berdua.."


"Aku tidak berusaha menghina Ibumu Christov, tapi aku tidak suka perangainya yang angkuh. Apa Ibumu masih tetap seperti itu?"


"Aku kan sudah pernah menceritakan tentang Ibu padamu yang selalu menetapkan standar tinggi dan yah, Ibuku sosok yang angkuh.."


"Jadi, bagaimana kelanjutan masalah kita ini?"


"Selama kau tetap di sisiku semua akan baik-baik saja.."


"Aku serius.. Aku tak butuh kata-kata pemanis."


"Aku juga.. Ayah dan Christina akan berada di pihakku. Mengurus Ibu dan Clara bukanlah hal sulit selama kedua saudaraku berada di sisiku.."


"Ini bukanlah masalah yang simpel, Christov.."


"Aku tahu maka dari itu aku memintamu untuk percaya padaku.. Bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak memberitahuku tentang gangguan panik yang kau pernah kau alami?"


Cassie menyendokkan potongan Lasagna lain ke mulutnya dan Christov menunggu sesaat agar wanita itu kembali berbicara.


"Aku mendapatkan gangguan panik setelah suatu perundungan yang pernah kualami. Aku tidak akan menjelaskan kejadiannya secara detail karena itu akan terdengar membosankan.. Pernah sekali, beberapa anak-anak menyergapku dan memotong rambutku secara paksa hingga membuat beberapa bagian kepalaku botak lalu Ibumu muncul, sayangnya dia tidak langsung menolongku dan hanya menyuruh anak-anak yang merundungku pergi.."


"Apa? Ibu tidka menolongmu?" tanya Christov penuh keterkejutan.


Cassie menegak air mineral hingga tersisa setengah lagi, "Aku ingat jelas dia berkata akan membawa petugas kesehatan sekolah datang untuk membantuku, tapi tidak ada. Ibumu tidak pernah datang.. Saudariku dan Gerald-lah yang menolongku.."


Christov terdiam, pikirannya tak mampu membayangkan anak tujuh tahun dirudung seperti itu.


"Itu pasti berat.."


"Tentu saj berat... Aku harus melakukan therapy sialan selama bertahun-tahun.. Untungnya aku memiliki keluarga yang selalu mendukungku.."


Christov melipat bibir, tiba-tiba merasa canggung. Dia tidak pernah tahu bahwa Ibunya ternyata tidak hanya membuat dirinya kesulitan, tapi orang lain juga.


"I'm sorry.." bisiknya dan Cassie membalasnya dengan tawa.


"Tak perlu meminta maaf.. Sudah berlalu, aku hanya syok setelah mengetahui Theresa Connel adalah Ibumu dan juga Mom serta Miranda sudah tahu tentang kejadian ini.."


Christov mengingat kembali keramahan keluarga Cassie dan rasa bersalah serta rasa tak enakan dalam dirinya semakin membengkak.


"Apa mereka tidak menyukaiku sekarang?" tanya dia dengan nada takut-takut.


Cassie membelalakkan mata dan tertawa lagi, "Astaga.. Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau seperti anak anjing yang kedinginan. Tentu saja tidak.. Well.. Kami masih syok, tapi Mom bilang, kesalahan orang tua tidak boleh diturunkan pada anaknya yang tidak mengetahui apa pun.."


Christov tersenyum kecut, "Thank you.." ujarnya, merasa lega dan juga takut.


"Jangan berterima kasih. Sampai saat ini, aku masih marah, tapi mendengar penjelasan dan kepedulianmu padaku sudah membuatku merasa tenang untuk sekarang..."


"Terkadang, aku berharap Ibu memiliki sedikit saja sikap baik dan keramahan dari keluargamu.."


"Keluargaku cukup gila tahu... Lain kali, kita harus ke Itali untuk bertemu keluarga besarku.."


"Keluargamu?" bisik Christov dan itu membuat hatinya terasa hangat karena Cassie mengajaknya bertemu dengan keluarga besar kekasihnya tersebut.


"Hm.. Keluargaku sangat ramah dan menyenangkan walau sedikit gila.. Mereka akan memaksamu makan terus hingga rasanya perutmu meledak lalu mengajakmu menari terus sampai pingsan. Kemudian, melakukan permainan-permainan aneh dan satu lagi, keluargaku sangat suka menggunakan kata-kata umpatan.."


Christov tersenyum, merasa senang hanya mendengar penjelasan singkat tersebut, "Tidak heran kau selalu mengumpat.."


"Rrrr... Dibandingkan keluargaku, aku masih lumayan. Keluargaku mengumpat jauh lebih parah dariku... Kau akan terkena culture shock* saat bertemu mereka.."


(*Ungkapan pada perasaan terkejut, tak nyaman, panik saat pindah ke lingkungan berbeda)


"Aku harap kita pergi sekarang, tapi masalah ini benar-benar tidak bisa menunggu lagi untuk diselesaikan..."


"Hm.. Tidak usah sedih. Aku yakin, kita bisa menemukan solusi dari masalah kita.."


"I love you.." ucap christov.


"I know. I love you too.." Cassie mendorong piringnya ke arah depan, "Aku sudah kenyang.."


"Baguslah.." saat Christov menyusun piring kotor mereka, ponselnya yang berada di atas meja berdering lagi dan dia tahu siapa yang menghubunginya tersebut.


Christina.


"Halo?"


"Aku sudah di depan gedung apartemenmu. Bisa kau antarkan Nugget dan Salmon?" kata Christina dari seberang.


"Boleh kau ambil sendiri?"


"Apa maksudmu, huh? Antar sendiri, sialan.." teriak Christina dari seberang.


Christov menelan ludah. Terkadang batinnya masih belum siap mendengar umpatan saudarinya yang semakin hari semakin parah.


"Okay.. Aku akan ke sana.." dia mematikan sambungan, "Saudariku.." jelas Christov sebelum Cassie bertanya.


"Oh..."


"Ayo.. Kita antar Nugget dan Salmon."


"Apa? Aku?"


"Yeah.." Christov bangkit dari kursi, "Aku ingin mulai mengenalkanmu pada keluargaku juga.."


"Apa?!"


***


Berwajah lancip alami, mata sedikit kehijauan, kulit coklat eksotis, rambut pirang kecoklatan bergelombang, dan badan sintal dibalut dengan pakaian bermerek. Cassie melihat saudari Christov yang benar-benar diluar dugaannya tersebut. Sangat cantik, se-xi, auranya mewah, dan tampak seperti kaum sosialita elit.


Bahkan mobilnya Lamborghini. Batin Cassie seraya melirik ke arah mobil Lamborghini silver yang terparkir di depan lobi. Christov sudah memberitahu dia bahwa saudarinya kaya, tapi dia tidak menduga Christina akan sekaya ini. Pialang saham. Pikir dia. Dia bekerja sebagai pialang saham.


"Cassandra De Angelis.." mereka saling berjabat dan Cassie merasa tangannya seolah diberkati karena bisa berjabat tangan dengan wanita itu, "Senang bertemu denganmu.."


Christina melepas kacamatanya dan menaruh benda itu di antara belahan pa-yu-da-ranya. Dan dia juga sangat keren! Pekik Cassie dalam otaknya.


"Christina Connel," mereka melepaskan jabatan tangan, "Jadi kau wanita yang bisa meluluhkan hati dingin Christov?"


"Well.. Seperti itulah.."


"Aku berharap bisa makan malam bersama kalian saat ini, tapi keadaan tak memungkinkan. Lain kali, berkunjunglah ke tempat tinggalku untuk makan bersama."


"Tentu.. Terimakasih sudah mengundangku..."


"Aku harus pergi, terimakasih sudah menjaga Nugget dan Salmon, Christov dan terimakasih juga sudah mau menemaniku adikku, Cassie.."


"Hati-hati di jalan.." ujar Christov pada Christina yang sudah melangkah menuruni anak tangga bersama kedua anjingnya.


"Bye, Christina.." ujar Cassie.


"Bye"


Mereka berdua tetap berdiri di sana, menunggu mobil Christina pergi hingga hilang dari jangkauan jarak pandang mereka.


"Ayo masuk.." Ajak Christov, tapi Cassie masih berdiri mematung di sana.


"Kenapa aku tidak kepikiran menjadi pialang saham? Astaga.." dia menoleh ke arah Christov, "Saudaramu punya Lamborghini! Pakaiannya... Pakaiannya adalah keluaran terbaru dari brand X," kata dia setengah histeris.


"Aku-kan sudah bilang dia kaya. Lalu, pekerjaan itu bukan soal uangnya, tapi juga tentang kenyamananmu saat bekerja.. Ayo.." ajak dia sekali lagi seraya melingkarkan tangannya pada pinggul Cassie dan wanita itu patuh.


"Tetap saja uang yang terpenting, Christov.. Huh... Aku merasa terberkati setelah berbicara dengannya..."


Christov terkekeh mendengar ucapan Cassie.


"Saudarimu sangat keren, Christov.." katanya saat memasuki lift.


"Kau juga keren.."


Cassie menyandarkan kepalanya pada bahu christov, "Dia terlihat sangat elit dan mewah.."


Christov memindahkan tangannya pada bahu Cassie lalu meremasnya dengan lembut.


"Sekarang kita sudah sendirian.." bisiknya dengan suara yang tiba-tiba serak.


Wanita itu menjauhkan kepalanya untuk melihat Christov, "Dasar ca-bul.."


Christov menoleh ke arahnya dan tatapannya jatuh pada bibir Cassie. Tangannya yang bebeas menyentuh bibir wanita itu dengan jempolnya.


"Boleh?" bisiknya.


Cassie tersenyum miring, "Apa kau meminta untuk dipukul lagi di bagian kejantananmu, huh?"


"Aku lebih memilih jika kau menghisapnya, Cassie...."


Wanita terkekeh, "Of course, my love*.."


(*Tentu, sayang)


***


Miss Foxxy


Welcome December, my favorite month.


Tetaplah sabar membaca karyaku saudaraku walau sulit dicerna. Yuk, drop koment, like, vote, love, dan poin kalian untuk mendukung author. Satu lagi, yuk ikutan giveaway dan menang atau kalah pun, dukungan kalian benar-benar berharga untuk author. Lalu, author tak bisa lagi update sering :' Bye