
Happy Reading
****
"Lebih baik tidur dari pada memikirkan hal sialan itu," kata Cassie dua menit yang lalu dan di sinilah dia sekarang. Tidak terbaring lagi di tempat tidurnya yang nyaman, melainkan berdiri di rak buku putih untuk mencari-cari apa pun untuk memuaskan rasa penasarannya.
Dia memeriksa setiap buku dan mengibas-ibaskannya untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terselip di antara kertas. Gerakannya mengibasnya semakin intens ketika tak kunjung mendapat apa pun. Rasa kesal mulai menumpuk di kepalanya.
"Arh--" Cassie berhenti berteriak saat tangannya menarik satu buku dan dua benda ikut terjatuh dari rak buku.
Matanya melihat lipatan kertas tipis jatuh dengan gerakan lambat, sedangkan satu kunci kecil bergemerincing di atas lantai. Tentu saja dia tidak memiliki ingatan sedikit pun tentang kedua benda ini, tapi di sisi lain, penemuan ini memberinya harapan. Dimasukannya buku kembali ke rak dan mengambil kedua benda itu.
Cassie mengambil posisi duduk di meja kerjanya. Kaki kanannya di angkat ke atas. Tangannya menatap kunci kecil yang unik tersebut. Kunci apa? Cassie memutuskan memikirkan kunci apa ini untuk nanti. Sekarang, dia perlu memeriksa lipatan kertas itu.
Ada degupan yang cukup kuat dari dalam dadanya saat membuka lipatan kertas itu. Dia merasa lipatan kertas itu seolah bisa membunuhnya. Well.. Seperti yang pepatah katakan, rasa penasaran bisa membunuhmu.
"Sial..." Cassie mendadak menutup kertas itu dengan menjepitnya di antara kedua telapak tangannya, "Kenapa aku gugup begini?"
Menghela napas panjang, Cassie memperkuat dan memberanikan dirinya untuk mengangkat tangannya yang menutupi kertas. Perlahan dan rasa ngeri di dirinya semakin intens. Dan...
"What?" bisiknya pelan dan semua ketegangan serta adrenalin dari dalam dirinya sirna begitu saja saat melihat ID dan password sebuah email yang ditulis dengan tinta merah. Lipatan kertas membuat beberapa sudut bekas lipatan sedikit robek, tapi Cassie masih bisa membaca tulisannya dengan jelas. Itu tulisannya dan bukan orang lain yang menulisnya. Sayangnya, Cassie tidak ingat pernah menulis hal seperti ini.
ID \= cnc081593@gmail.com
Pws \= cnc091995
Kode 091995 adalah tanggal lahirnya, tapi bagaimana dengan rangkain huruf di bagian ID? Sebuah pemikiran terlintas dalam Cassie dan dia segera melaksanakan apa yang sedang dia pikirkan. Cassie memegang mouse dan mengarahkan panah kursor ke kolom password file C&C itu.
WRONG
Sebuah papan pemberitahuan muncul di layar laptop dengan tulisan 'WRONG' berwarna merah tebal. Itu segera membuat Cassie panik.
"Salah?" Cassie berucap dengan nada tidak percaya. Sekarang, hanya tersisa dua kesempatan lagi untuknya.
Cassie memutar mata dengan jengkel. Kaki kirinya yang berada di lantai di goyang-goyang dengan gelisah. Tangannya saat ini benar-benar gatal untuk mengetik rangkaian huruf di ID email ke dalam kolom sandi itu. Namun, jika salah lagi, dia hanya memiliki satu kesempatan lagi.
File yang disimpan dalam cloud akan hilang selamanya jika melakukan kesalahan password sebanyak tiga kali secara berurutan. Sialnya lagi, hal seperti ini tidak bisa diatasi oleh service elektronik mana pun. Jika pun ada, harga yang ditetapkan pasti tidak masuk akal.
"Nanti saja memikirkan itu.." katanya pelan, "Sekarang mari kita cek email ini.."
Cassie membuka mesin telusur untuk membuka tab email. Selagi menunggu tab email terbuka, Cassie berpikir bahwa email, kunci, dan file ini pasti berisi sesuatu yang penting yang tak seharusnya dia lupakan. C&C, kemungkinan terbesar singkatan itu adalah singkatan namanya dengan seseorang dan seseorang itu pasti terlahir pada tanggal 15 Agustus 1993. Dia bisa tahu tanggal itu dari ID email yang ada.
Apa sebenarnya yang dia lewatkan selama enam bulan ini? Siapa? Mengapa? Kenapa? Di mana? Cassie tetap berpikir sembari mengetikkan ID serta email itu dan betapa mengejutkannya itu bisa ter-login.
"Yes.." pekiknya senang, tapi senyum dan kebahagiaan itu segera hilang saat papan pemberitahuan yang lain muncul.
"Masukkan kode?" bisiknya penuh kemarahan. Dipejamkan matanya dan menekan giginya kuat-kuat hingga terdengar bunyi gesekan. Kebiasaannya saat sedang berusaha menahan amarahnya.
"Kode apa lagi?" tanyanya kesal setelah membuka matanya.
Dalam papan pemberitahuan itu, terdapat nomor ponsel yang empat angka di tengah di hapus dan meninggalkan kode area ponsel LA dengan angka terakhir nomor ponsel. Angka terakhir di layar laptopnya adalah empat dan angka terakhir nomor ponsel Cassie sendiri adalah tujuh.
"Berarti bukan nomor ponselku.."
Ditekannya tombol berbentuk ponsel hijau yang berada di layar laptop dan menunggu kode masuk ke dalam ponselnya. Kotak hitungan mundur muncul sesaat dia menekan tombol hijau itu. Cassie menunggunya dengan penuh harap walau dia tahu angka terakhir ponselnya berbeda dengan yg ada di layar laptop. Dilirik ponselnya yang tidak menyala. Tangannya meraih ponsel miliknya dan memastikan sendiri dengan melihat pemberitahuan di ponselnya
"Benar-benar tidak ada.."
Ditaruh lagi ponselnya dan melihat hitungan mundur untuk memasukkan kode itu perlahan habis. Cassie menekan tombol mengirim kode lagi dan berharap mendapat pesan kode itu di ponselnya. Namun, hingga hitungan mundur itu habis, tidak ada pesan kode yang masuk.
"Sialan..."
***
Christov mengambil piringan hitam milik Mozart dari bungkusnya dan dengan penuh kehati-hatian menaruhnya di gramofon. Piringan hitam itu mulai berputar dan dia menurunkan jarum gramofon ke arah piringan hitam itu. Hanya berselang lima detik, musik piano Mozart dari piringan hitam itu mulai terdengar.
Bersamaan dengan itu pula, Christov mendengar sebuah lonceng pesan pemberitahuan dari ponselnya yang berada di meja kerjanya. Christov mengabaikannya dan memilih memeriksanya setelah memasukkan piringan hitam yang sebelumnya dia pakai dalam bungkusannya.
Hanya berselang satu menit dan tepat setelah dia menyelesaikan menyimpan piringan hitam, terdengar lagi lonceng pesan pemberitahuan. Christov memasukkan kedua tangannya ke saku celana--sebuah kebiasaan--dan berjalan ke arah meja kerja.
Satu tangannya dikeluarkan dari kantong celana untuk meraih ponselnya yang berada di atas meja. Saat melihat layar ponsel, dia mendapatkan dua pesan dengan nama 'EMAIL' dan isinya berupa kode masuk ke email.
"Spam,*" katanya datar.
(Pesan elektronik yang didapat secara bertubi-tubi)
Pesan spamming seperti ini memang kerap terjadi. Dia tidak heran lagi jika nomornya mendapat pesan semacam ini karena privasi di zaman sekarang hampir tidak ada lagi. Semua orang nampaknya bisa mendapatkan nomor ponsel seseorang dengan mudah melalui internet dan memanfaatkannya secara elegal. Christov mendengus pelan lalu menghapus ke-dua pesan itu tanpa pikir panjang dan menaruhnya kembali ke atas meja. Dan dengan itu, Christov beranjak dari sana.
***
Miss Foxxy