
Happy Reading
***
Christov membayar bill restoran dan berlalu dari sana setelah selesai. Punggung lehernya tiba-tiba terasa berat memikirkan pembicaraannya yang sudah berlalu dengan Clara. Apa aku pindah negara saja? Pikirnya sejenak. Bukan sekali-dua kali dia menanyakan pertanyaan ini pada dirinya sendiri karena sejak dulu dia ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini dan memulai hidup baru. Di suatu tempat yang memiliki empat musim, kota yang tidak terlalu padat, memiliki udara segar, dan dekat dengan pegunungan serta lautan. Seperti Swiss contohnya.
Tumbuh dan besar di Los Angeles benar-benar membuatnya sudah muak dengan kota ini. Ditambah dia bertemu banyak orang baru yang membuat hidupnya terasa lebih sulit. Tidak satu pun tentang kota ini yang membuat Christov ingin tetap tinggal di sini, tapi itu dulu. Sekarang, kota ini memiliki sesuatu yang membuatnya tertarik menetap. Kota ini ternyat menyimpan harta karun yang dia harap temukan sedari dulu.
"Cassie?" panggilnya dengan suara senang melalui ponsel.
"Uhm... Kau terdengar bahagia. Ada apa? Apa masalahmu sudah terselesaikan?"
Christov tersenyum senang mendengar nada malas Cassie.
"Begitulah.. Urusanku sudah selesai dan bersiap pulang. Apa kau ingin sesuatu?"
"Kalau begitu, bisakah kau membeli es krim yogurt untukku?"
"Hanya itu?"
"Aku ingin ukuran besar. Rasa blueberry dan original. Harus ukuran terbesar..."
Christov berjalan di parkiran menuju mobilnya, "Aku akan beli pabriknya jika kau mau,"
"Nuh-uh*.... Memangnya kau sekaya itu, huh?"
(*Tidak mungkin)
"Tidak juga. Aku bisa meminjam di sana-sini.."
"Huh... Terserahmu, Mr.Connel. Jangan lupa membawa es-krim yougurt-ku."
Pria tersebut masuk dan duduk di kursi pengemudi, "Yes, Miss.. Berjanjilah untuk tetap di sana,"
"Yahhhh... Sekarang berkendaralah dan bawa yougurt-ku dengan selamat. Bye."
"Bye.."
***
"What the.." Cassie kehilangan kata-kata saat melihat dua ember besar yogurt yang ditenteng Christov pada kedua tangannya.
"Original.." kata Christov seraya menaruh satu ember es krim yogurt ke atas meja makan, "Dan... Blueberry..."
Cassie menarik napas dan menutup mulutnya dengan tangan kanan. Satu tangannya yang lain harus berpegangan pada kepala kursi agar tidak kehilangan keseimbangan. Dipejamkan kedua matanya.
"Kenapa? Ada yang salah? Aku ingat jelas jika kau berkata es-krim yoghurt rasa blueberry dan original..."
Cassie membuka kelopak mata dan menatap ngeri ke arah pria tersebut.
"Christov... Maksudku.. Ukuran besar dalam bentuk cup. Bukan.. Bu--" Cassie menggeleng kepala dan menunjuk kedua ember es-krim yoghurt itu dengan gaya dramatis, "Bentuk cup, bukan bentuk ember..."
Christov menggaruk pucuk kepalanya, "Kau berkata ukuran terbesar jadi aku membeli ini,"
"Siapa yang akan menghabiskan semua ini?"
"Kau bisa membawanya pulang jika kau mau. Atau berbagi dengan teman-temanmu.."
Cassie menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tangannya ikut naik turun seiring tarikan napasnya. Digelengkan kepalanya pelan.
"Aku heran.." katanya dan mengambil posisi duduk, "Apakah setiap pria di dunia ini memiliki masalah dalam hal berbelanja? Mungkin jika aku berkata untuk membeli kapal antariksa, kau akan membelinya, bukan?"
Christov ikut duduk di hadapan Cassie, "Selama ada yang menjual, mengapa tidak?"
"Aku jadi teringat saat Ibuku menyuruh ayahku membeli sayuran dan buah. Kau tahu apa yang terjadi? Ayahku malah membeli daun sayuran yang masih tertanam di tanah beserta pot-nya. Untung dia tidak membawa serta pohon buahnya."
"Secara teknis, itu bukan salah ayahmu. Jika diberi instruksi yang tepat, beliau tidak akan salah,"
Cassie menatap heran Christov, "Ayolah.. Saat seseorang menyuruhmu berbelanja sayur, maksudnya adalah membeli sayuran yang ada di supermarket, tanpa tanah dan pot. Itu bukanlah hal yang sulit untuk dicerna dan dipikirkan."
"Tetap saja, itu kesalahan yang memberi instruksi," kata Christov tak mau kalah.
"Jeez.. Sudahlah. Aku tidak akan berdebat tentang ini lagi," Cassie bangkit dari duduknya, "Pria memang memiliki cara berpikir yang unik saat berbelanja,"
"Kita tidak berdebat, Cassie.. Kita berkomunikasi,"
"Really?" Cassie membuka lemari Christov dan mengambil dua mangkok serta sendok, "Original atau blueberry?"
(Benarkah?)
"Berikan aku saranmu..."
Cassie duduk kembali, " 'Berikan aku saranmu' tidak ada di pilihan, Mr. Connel. Original atau Blueberry?"
Christov terkekeh, "Yogurt apa yang rasanya tidak terlalu manis?"
"Original,"
"Okay.. Aku ingin original,"
"Tidak suka manis, yah?"
"Uhmm..." gumam Christov.
Cassie menarik dua ember es-krim yogurt itu ke arahnya. Dengan scoop yang disediakan dalam ember, Cassie menuangkan es-krim yogurt ke dalam mangkok.
"Es-krim yogurt original untuk Mr.Connel," ucap Cassie dengan gaya ala-ala pramusaji, "Dan blueberry untuk saya sendiri,"
"Thank you, Miss Angelis,"
"With my pleasure*.." Cassie menyendokkan es-krim ke mulutnya, "Jadi, bagaimana pertemuanmu hari ini?"
(*Dengan senang hati)
Christov tersenyum kecut, "Tidak berjalan sesuai keinginanku,"
"Well... kenapa?"
"Uhm.. Cassie?"
"Yah?"
"Aku punya sedikit ilustrasi. Jadi begini, kau sudah menolak seseorang untuk melakukan 'sesuatu', tapi dia tidak mau dan terus memaksakan diri dengan keinginannya. Bagaimana caramu agar orang itu berhenti memaksakan dirinya?"
"Abaikan,"
"Aku sudah melakukannya,"
"Kau sudah menolaknya secara langsung dan tidak langsung?"
"Yah.." Christov mengangguk, "Aku sudah melakukannya,"
Cassie mengangguk-angguk kecil sembari menyendokkan es-krim ke mulutnya, "Nampaknya dia sosok yang begitu keras kepala dan tidak mudah menyerah..."
"Aku sudah menghadapi puluhan orang seperti yang kau ceritakan dan itu membuatku tidak nyaman. Argh.. Orang-orang seperti itu benar-benar menjengkelkan,"
Christov mengangguk dengan semangat, merasa senang seseorang memahami perasaannya.
"Menyingkirkan hama seperti mereka tidaklah mudah, tapi bukan berarti mustahil,"
"Bagaimana melakukannya?"
"Kau bisa menghajar mereka jika perlu. Seperti yang pernah kulakukan pada mantan kekasihku.."
Christov tersenyum kaku lalu menunduk menatap es krim yoghurt-nya, "Tapi dia seorang wanita, Cassie.."
"Oh? Begitu... Apa ini permasalahan cinta?"
Christov menggeleng, menolak jujur.
"Bukan. Hanya sedikit masalah keluarga,"
"Oh.. Aku tidak akan memintamu untuk menjelaskannya secara detail. Salah satu cara yang bisa kau lakukan adalah mengabaikannya dan menjadi sakartis. Kau tahu caranya menjadi sakartis, bukan?" tanya Cassie dengan nada memastikan dan Christov hanya tersenyum kaku.
Cassie menghembuskan napas lelahnya, "Permasalahan yang kau hadapi bukan hanya terletak dari wanita itu, tapi juga padamu, Christov," Cassie menyandarkan punggungnya, "Kau terlalu baik.."
"Aku tidak baik," bantah Christov.
"Yes, you are*.. Intinya. Satu-satunya yang dapat kau lakukan adalah mengabaikannya,"
(*Yah. Kau orang baik.)
"Bagaimana jika dia bertingkah di luar batas?"
"Apa lagi? Tentu kau harus bertingkah di luar batas juga. Untuk menyingkirkan orang menyebalkan, kau harus lebih menyebalkan. Untuk bisa mengalahkan orang jahat, kau harus lebih jahat lagi. Kau harus lebih bijak, lebih tajam, lebih pintar, dan lebih licik untuk memusnahkan orang-orang seperti mereka dari hidupmu. Begitulah cara kerja kehidupan ini," ucap Cassie dengan mata membara. Christov berpikir bahwa wanita itu pasti sudah pernah menghadapi masalah yang jauh lebih berat dari masalahnya sendiri.
"Untuk sekarang, nikmati es-krim yoghurt-mu dan memikirkannya nanti lagi. Jangan membebani hidupmu dengan orang-orang sial."
"Oh.. Okay,"
"Hah.. Aku bingung. Bagaimana cara menghabiskan ini semua.." Cassie memukul penutup yogurt dengan telapak tangannya.
"Kau bisa membawanya pulang,"
"Huh? Mana bisa.. Kau yang membeli ini,"
"Itu milikmu, Cassie. Aku membelinya untukmu,"
"Tetap saja... Ini sangat banyak. Bagaimana bisa aku menghabiskannya sendiri,"
"Aku bisa datang berkunjung ke tempatmu untuk membantumu memakannya,"
Cassie mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arah Christov dan menyipitkan matanya, "Pertama, kau mengunjungiku dengan alasan untuk melihat mawar dan sekarang kau punya alasan yang baru. Untuk makan yogurt, hm?"
Christov terkekeh, "Tenang saja. Aku hanya datang untuk makan yogurt,"
"Kau terdengar mencurigakan, Christov.." Cassie bangkit dari duduknya dan mengangkat dua ember yogurt tadi ke dalam lemari pendingin, "Kau tahu Christov, nampaknya aku tidak bisa menginap di sini untuk malam ini."
"Apa?" suara Christov meninggi dan Cassie menoleh ke arah pria tersebut.
"Aku akan pulang saat ini juga,"
"Kenapa?" tanya Christov dengan nada kecewa. Dia berpikir bahwa Cassie akan menginap satu malam lagi bersamanya.
"Aku memiliki acara dengan saudariku hari ini,"
"Kau memiliki saudari?"
"Yah,"
"Bagaimana dengan besok?"
Cassie menggeleng kecil, "Tidak bisa juga. Aku memiliki acara dengan teman-temanku,"
"Kalau begitu, bolehkan aku menginap di tempatmu?" tanya Christov dengan nada kekeuh.
"Tidak bisa.. Malam ini aku menginap di rumah Ibuku. Hari ini ulang tahun Ibuku jadi aku dan saudariku merayakan ulang tahun Ibuku,"
Christov mendesah kecewa.
"Kenapa kau sesedih itu, hm?" Cassie mengambil mangkok bekas es-krim yogurt miliknya dan Christov lalu membawanya ke arah wastafel.
"Aku hanya bingung apa yang akan aku lakukan jika kau tidak ada,"
Cassie yang memunggungi Christov menarik napas dan membuangnya. Tidak beres. Ini tidak beres. Pikirnya.
"Kita masih bisa bertemu di hari-hari berikutnya. Aku bukannya pergi ke negara lain atau pergi berperang," kata Cassie dengan nada bercanda santai.
Christov ikut bergabung dengannya di wastafel dan membantu Cassie menyimpan mangkok dan sendok bersih ke tempatnya. Setelahnya mereka berdua bersandar di pinggiran pantry dan saling bertatapan.
"Kau bisa datang di hari biasa ke tempatku untuk makan es-krim.."
"Aku takut aku dan kamu akan sibuk bekerja satu Minggu ke depan,"
Cassie mendekat dan berdiri dihadapan Christov, "Kalau begitu kita bisa bertemu di hari jumat dan menghabiskan waktu akhir pekan bersama," dilingkarkan tangannya pada leher Christov.
"Apa yang akan kita lakukan akhir pekan depan?"
Cassie melirik ke atas seolah tengah berpikir lalu menoleh lagi pada Christov, "Aku akan menunjukkan padamu bagaimana caraku menikmati hidup."
"Ide bagus," bisik Christov, "Jadi kau akan pergi sekarang juga?"
Dia mengangguk, "Yes, Christov..."
"Okay.. Aku akan mengantarmu, tapi..." suara Christov memelan.
"Tapi, apa?"
"Bisakah kita melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi?" tanya Christov dengan nada malu-malu. Cassie terkekeh karena paham maksud Christov. Dia mengecup bibir Christov sekilas.
"Di dapurmu?"
"Yeah..."
"Why not?*"
(*Kenapa, tidak?"
****
Miss Foxxy
Tidak akan ada pemersatu bangsa untuk di dapur untuk chap berikutnya xixixix. Jadi jangan terlalu berharap hehe. Bye"