Remember Me

Remember Me
Enjoy The Life



Happy Reading


***


"Bagaimana hari pertama kerja di minggu ini?" tanya Cassie pada Christov melalui ponsel.


"Sibuk seperti biasa,"


Cassie menyendokkan salad sayur ke mulutnya dan mengangguk kecil walaupun Christov tidak bisa melihatnya.


"Kau sedang makan siang?"


"Yah.." jawab Cassie, "Apa yang tengah kau lakukan? Kau tidak makan siang?"


"Jadwal makan siang ku jam dua siang,"


"Oh.."


"Apa yang menu makan siangmu?"


"Salad sayur, daging ayam rebus, dan jus.."


"Makanan sehat, hm? Kenapa tidak ada es-krim yoghurt?"


Cassie tertawa kecil, "Aku lebih senang memakan itu saat malam agar penceernaanku lancar di besok harinya,'


"Bagaimana acara ulang tahun Ibumu? Lancar?"


"Berjalan lancar..."


"Apa acaramu dengan teman-teman di hari minggu? Apa itu pesta?"


Cassie menggeleng dan melanjut memakan makan siangnya, "No.. Bukan pesta. Aku memiliki tiga teman dekat dan kami selalu melakukan olahraga beladiri boxing setiap ahri minggu. Setelah itu, kami akan pergi spa dan perawatan atau semacamnya."


"Terdengar menyenangkan,"


"Tentu saja. Kau pun harus lebih sering menikmati waktu bersama orang lain,"


"Tapi, aku tidak punya teman," ucap Christov dengan suara sedih dari seberang.


"Aku-kan temanmu. Kau bisa menghabiskan waktu bersamaku,"


Terjadi keheningan di sana dan Cassie tidak bisa menebak mengapa Christov mendadak diam. Apa perkataannya membuat pria itu tidak nyaman?


"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Cassie kembali bicara untuk mencegah keheningan yang semakin berlarut, "Bukankah sekarang jam makan siang?"


"Aku berada di kantorku sekarang. Pekerjaku tengah makan siang ke restoran terdekat,"


Pekerja? Pikir Cassie. Apa pria itu memiliki perusahaan sendiri? Usaha sendiri? Berapa banyak pekerjanya? Apa dia seorang bos?


"Kenapa kau tidak ikut bergabung?"


"Jadwal makan siangku jam dua siang," kata Christov lagi dengan nada mengingatkan.


Cassie memutar matanya, "Yah.. Kau tidak bisa memindahkan jam makan siangmu sesekali saja ke jam normal? Setidaknya kau harus berkomunikasi. Pekerjamu adalah orang yang terdekat denganmu. Mereka menghabiskan waktu delapan jam selama lima hari bersamamu,"


"Kau benar.. Apa aku harus melakukannya?"


"Yah.. Tidak harus. Tergantung dirimu, tapi bukankah lebih baik menghabiskan waktu bersama orang lain dari pada duduk sendirian?"


Dia takut sendiri, tapi dia sendiri yang membuatnya kondisinya menjadi sendirian. Pikir Cassie.


"Atau pekerjamu membuatmu tidak nyaman?"


"Tidak. Mereka baik,"


"Jadi apa yang kau tunggu?"


"Aku takut tidak memiliki bahan obrolan karena kami biasanya hanya sebatas membahas pekerjaan,"


Sekarang, Cassie yang bingung, "Huhh.. Kau manusia introvert. Sudahlah.. Jika itu yang membuatmu nyaman, kenapa tidak?"


"Aku akan mencobanya nanti.."


"Bagus. Aku senang mendengarnya. Kau harus mengajakku ke tempat kerjamu lain kali,"


"Tentu. Aku berharap bisa datang ke tempatmu hari ini, tapi aku memiliki segudang pekerjaan. Apa kau tidak bisa datang?"


"Tidak juga. Proyek kerjaku belum selesai," Cassie menggeleng dan berpikir bahwa pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang bisa di bawa ke tempat bebas. Cassie tidak bisa bekerja tanpa alat musiknya dan Christov pun butuh alat sendiri untuk pekerjaannya sebagai arsitek.


"Well.. Semoga kita bisa bertemu besok,"


"Jika pun tidak. Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama di hari jumat dan sabtu,"


"Aku tidak sabar lagi untuk merasakan caramu bersenang-senang dan menikmati hidup."


Cassie menoleh ke arah jam di atas mejanya, "Aku harus kembali bekerja sebentar lagi. Sampai jumpa.."


"Yah.. Sampai jumpa,"


Tepat saat Cassie memutuskan panggilan, terdengar sebuah ketukan halus di pintunya.


"Masuk!" teriaknya dan melanjut kegiatannya makan siangnya.


Lina, asistennya, muncul dari balik pintu dengan senyum lebar.


"Sepuluh menit lagi sebelum rapat di mulai, Miss..."


"Uhm.. tenang. Biarkan aku menghabiskan makananku dulu,"


"Okay, Miss.. Enjoy your meal*," Lina berlalu dari sana dan Cassie melanjutkan mengunyah makanannya.


(*Nikmati makananmu)


Sabtu... Ke mana kami harus pergi di hari Sabtu? Batinnya.


****


"Jadi kau tidak bisa mengunjungi keluargamu lagi?"


"Aku sibuk, Mom.." kata Christov seraya menatap ke arah pintu masuk ke gedung apartemennya.


"Kau selalu saja sibuk.." suara Theresa naik satu oktaf, "Bagaimana bisa kau tidak pernah lagi mengunjungi orangtuamu,"


"Karena Ibu selalu memiliki siasat dibalik setiap permintaanmu, Mom," kata Christov jengkel. Jengah dengan Ibunya yang tetap terus mengganggunya.


"Apa maksudmu siasat, huh?"


"Ibu pernah berkata bahwa Ibu sakit dan saat aku datang, aku malah menemukan Ibu dalam keadaan sehat dan berbincang ria dengan Clara,"


"Huh.. Anak ini. Ibu melakukan itu demi dirimu dan masa depanmu,"


Bukan demi diriku, tapi demi dirimu sendiri. Pikir Christov marah.


Christov menggeleng dan menatap gelisah ke arah gerbang masuk, "Sudah berakhir, Mom. Kami berdua sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang abu-abu ini. Kami berdua tidak memiliki kecocokan satu sama lain."


"Apa?! Apa yang kau katakan? Kau tidak tahu berapa besar usaha yang ibu berikan agar bisa mengatur pertemuanmu dengan Clara? Dia bukan-lah anak dari keluarga sembarangan, Christov! Bagaimana bisa kau melepaskan berlian begitu saja?"


"Theresa.. Hentikan. Biarkan dia sendiri. Christov sudah tahu apa yang harus dia lakukan," Christov bisa mendengar suara Ayahnya dari seberang.


"Kau pun sama juga. Harusnya kau mendukungku, Robert.."


Christov memijat pelipisnya yang terasa pening. Ibunya memang tidak pernah mau mengalah. Ingin menang sendiri dan begitu egois. Dia heran mengapa Ayahnya tak kunjung menceraikan Ibunya. Dia tahu jelas jika Ayahnya pun kewalahan menghadapi sifat Ibunya.


"Aku lelah, Mom.. Biarkan aku sendiri. Aku bukan lagi anak berusia 10 tahun. Aku sudah hampir berusia 27 tahun,"


"Huh.. Ibu melakukan ini demi dir--"


Suara Ibunya terpotong dan terdengar keributan dari seberang melalui ponsel Christov. Nampaknya, kedua orangtua Christov berdebat. Dia hendak mematikan ponselnya, tapi mengurungkan niatnya saat mendengar suara Ayahnya.


"Maafkan tingkah Ibumu, Christov. Kuharap kau paham mengapa dia melakukan ini,"


Christov menggeleng. Dia tidak paham. Dia tidak akan pernah paham mengapa Ibunya berlaku seperti itu.


"Sudahlah," Christov mendengus, menahan diri untuk tidak meledak, "Jaga kesehatan Ayah dan sampaikan maafku pada Ibu. Bye, Dad.."


"Bye.."


Christov menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Matanya kembali menatap gerbang masuk ke apartemennya. Telapak kaki kirinya dipukul-pukul ke arah lantai. Di mana dia? Pikirnya. Tangannya kembali merogoh ponsel dari saku celananya hendak menghubungi Cassie, tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat satu mobil masuk wilayah gedung apartemennya. Semakin dekat, Christov bisa melihat nomor plat mobil itu adalah milik Cassie. Senyumnya merekah. Beban dan rasa pening di kepalanya seolah hilang begitu saja saat mobil itu berhenti di depannya. Kaca mobil dari pintu samping terbuka dan Christov bisa melihat Cassie.


"Cassie.." panggilnya senang lalu menuruni anak tangga teras menuju mobil Cassie.


"Kenapa setiap melihatmu kau tampak bahagia sekali?" kata wanita itu saat Christov memasuki mobil dan duduk di samping Cassie.


Christov mengangkat bahunya sembari memasang sabuk pengamannya, "Hanya senang saja. Ayo."


Cassie tertawa kecil, "Kita-kan hanya perlu memarkirkan mobilku ke basement. Kenapa kau memakai sabuk pengamanmu?" katanya sembari melajukan mobil.


"Keselamatan adalah yang paling utama..."


Digeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Christov, "Kau tampak bahagia? Apa kau menang lotre atau semacamnya?"


Christov menggeleng, "Aku hanya bahagia. Itu saja. Ini.." diberinya kartu pass warna hitam mengkilap miliknya pada wanita itu.


"Kartunya kelihatan mewah, yah?" komentar Cassie. Dia menerima kartu itu dan menghentikan mobilnya sejenak untuk menempelkan kartu pass. Bunyi klik lembut terdengar. Palang kayu berwarna kuning khas terangkat dan dia kembali melajukan mobilnya menuju parkiran mobil milik Christov.


"Kau punya dua parkiran mobil," kata Cassie sebagai basa-basi.


"Semua unit memiliki dua parkiran,"


"Fasilitas apartemen ini memang sesuai harga," Cassie memarkirkan mobilnya, "Here we are..*"


(*Kita sampai)


Mereka berdua keluar dari mobil dengan Cassie menenteng tote bag besar di bahu kanannya. Tote bag itu berisi pakaian dan produk perawatan wajah miliknya.


"Berikan padaku," Christov menarik tas Cassie dan menentengnya, "Apa kau membawa bom dan semacamnya?"


"Capek?" tanya Christov dan Cassie mengangguk.


"Proyekku akhirnya selesai.."


"Baguslah.. Kita perlu merayakannya dengan makan malam yang enak,"


"Sekarang masih pukul lima sore kurang. Terlalu dini untuk makan malam,"


"Aku akan memasak untukmu,"


Mata Cassie terbuka dan menatap Christov dengan wajah cerah, "Benarkah?"


"Yah. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?"


Cassie menggeleng dan kembali menyandarkan kepalanya pada lengan Christov, "Aku bukan orang tipe yang pilih-pilih makanan. Selama makanannya layak di makan, aku akan memakannya..."


Mereka berdua masuk ke dalam lift dan Christov menekan tombol menuju lantai dua belas.


"Kau suka makanan pedas?" tanya Christov.


"Uhm.. Aku suka asal tidak terlalu pedas,"


"Bagus.."


Saat pintu lift terbuka, mereka berdua berjalan keluar menuju unit apartemen Christov. Suara langkah kaki mereka terdengar di sepanjang lorong gedung tersebut.


"Omong-omong, menu apa yang akan kau masak?"


"Sesuatu.." Christov menempelkan hidupnya pada pucuk kepala Cassie, "Wangi.." bisiknya.


Cassie menjauhkan kepalanya, "Aku bahkan belum mandi dan keringatan satu hari ini saking sibuknya,"


Christov tersenyum lebar, "Tetap saja kau wangi.."


Saat sudah sampai di depan pintu apartemen, dia menggesek kartu pas dan menempelkan jari jempolnya agar mereka bisa masuk. Saat pintu terbuka, Cassie segera melepas sendal jepitnya dan berlari masuk dengan riang gembira. Christov tertawa dan memperbaiki sendal Cassie pada tempatnya.


"Ah.. Entah kenapa aku suka hawa di rumahmu. Begitu sejuk.." ucap Cassie yang berputar-putar di lantai ruang tamu.


"Karena aku menyalakan pendingin ruangan,"


"Tetap saja hawa apartemenmu beda dengan tempatku."


Christov menaruh tas Cassie di atas meja sofa dan berjalan ke arah dapur, "Itu karena lokasi apartemenmu berada di atas rooftop,"


"Hah.. Sekarang aku sedikit merasa menyesal tidak membeli satu unit apartemen di sini," Cassie kini sudah berbaring di atas sofa yang empuk. Matanya menatap Christov yang sudah menyibukkan diri di dapur.


"Aku sedang dalam proyek pembangunan apartemen yang harga dan fasilitasnya mungkin 11-12 dengan apartemenku ini. Aku bisa menyimpan satu unit untukmu,"


Cassie tersenyum lembut, merasa terharu.


"Kau sangat baik, Christov.. Thank you,"


Chirstov tertawa kecil dan masih sibuk, "Tidak kok.."


Cassie menatap televisi LED dengan speaker besar di sisi kanan-kirinya. Di ambil posisi duduk bersila di atas sofa dan menoleh ke arah Christov.


"Boleh aku menyalakan televisi?"


"Kenapa kau harus izin? Anggap saja seperti rumahmu sendiri, Miss Angelis,"


"Terimakasih, Tuan Baik Hati."


Christo tertawa, "Tuan baik hati," gumamnya pelan seraya melanjut mengupas berbagi rempah-rempah. Matanya sesekali melirik tabletnya yang menunjukkan resep makanan rendang. Tak lama kemudian, dia mendengar suara musik dari arah ruang tamu.


"Boleh aku karaoke?" tanya Cassie yang sudah berdiri dan memegang mic di tangannya.


"Selama suaramu bagus, tidak masalah.."


"Suaraku bagus tahu.. Suaraku sekelas dengan Ariana Grande.."


"Terserah, Miss Angelis."


Cassie berdeham pada mic dan perlahan bernyanyi. Christov sesekali melirik ke arah perempuan itu. Suaranya tidak buruk. Pikir Christov. Lagu pertama yang dinyanyikan Cassie dalam nada melow yang lembut, tapi tidak dengan lagu yang kedua yang bernada yang lebih cepat. Lagu yang memiliki beat penuh semangat itu membuat Cassie mengeluarkan tarian mautnya. Christov tertawa terbahak-bahak melihat Cassie bergoyang.


"Oi! Oi! Oi! Tuan tampan. Lagu ini kupersempahkan khusus untukmu, Tuan Muda yang Baik hati," kata Cassie melalui mic dengan suara berat ala-ala kerajaan dan itu membaut Christov tertawa terbahak-bahak. Cassie kembali menggoyangkan pinggulnya dalam gerakan lucu.


"Lucu sekali.." gumamnya.


"Yo.. Yo... Yo.. " lagu ketiga, Cassie melakukan rap kemudian menari dengan gaya swag. Christov benar-benar terhibur dengan tingkah Cassie. Dia pun terkejut melihat kemampuan wanita itu. Cassie menyanyi dengan sangat baik walau wanita itu terlihat konyol dengan tariannya.


Christov mendadak terpesona saat melihat Cassie mengibaskan rambutnya dan euforia yang membuatnya melayang itu muncul lagi. Seluruh dunianya kembali memudar dan meninggalkan dirinya dan Cassie saja. Musik keras itu tidak terdengar lagi. Cassie menyanyi dan hanya mengeluarkan kebisuan. Dalam pandangan Christov, ubuh wanita itu tiba-tiba menari dalam gerakan lambat.


Biasanya dia selalu memasak dalam keheningan dan hanya dia seorang yang berada di sana. Namun, sekarang semuanya sudah berbeda. Suasana apartemennya yang selalu hening, dingin, dan sepi sekarang berubah menjadi ramai hanya karena kemunculan seorang wanita dengan kepribadian unik.


Aku bersyukur datang ke pesta hari itu. Bisiknya. Apa yang akan terjadi seandainya dia tidak datang? Apa mereka akan bertemu?


Christov mencampur semua rempah dan bumbu ke dalam mesin blender sesaat setelah tersadar dari euforia itu. Dia menumis bumbu yang halus telah halus di dalam presto sesuai panduan di resep


"Well.. Wangi apa itu?"


Christov memutar tubuhnya ke arah Cassie yang tengah berjalan ke arah dapur.


"Bumbu.. Wanginya enak, yah?" dia berjalan ke arah dispenser dan menuangkan air dingin untuk diberikan pada Cassie.


"Thank you," ucap Cassie lalu meneguk air yang diberikan Christov. Dia mengambil posisi duduk di meja makan, "Wanginya enak walau agak menyengat. Apa yang tengah kau masak?" tanyanya pada Christov yang kembali sibuk mengaduk bumbu.


"Rendang."


"Rendang? Makanan apa itu? Spanyol?"


Christov tertawa kecil, "Bukan. Indonesia. Daging sapi yang direbus kering dalam bumbu rempah-rempah dan bubuk kelapa yang disangrai," dia menuangkan air secukupnya lalu diikuti daging sapi yang sudah dipotong tipis-tipis ke dalam presto.


"Aku tidak pernah dengar makanan itu seperti itu.."


Christov memutar tubuhnya dan ikut duduk di samping Cassie, "Rasanya enak, kok. Tenang saja. Sewaktu di bangku kuliah, aku memiliki kenalan dari Indonesia. Dia memiliki komunitas perkumpulan mahasiswa Indonesia dan membuat pameran makanan Indonesia saat acara Kampus. Aku datang dan bum... Aku jatuh cinta pada makanan ini.."


"Aku tidak sabar mencobanya. Apa prosesnya lama?"


Pria itu menggeleng.


"Panci yang satu lagi. Apa di sana?" Cassie menunjuk panci yang berada di samping presto dengan jari telunjuknya


"Sup iga.."


"Wow.. Kita benar-benar makan besar malam ini. Kau punya mesin penanak nasi?" tanya Cassie saat melihat mesin penanak nasi di atas pantry dalam keadaan menyala.


"Yah.. Aku memasak nasi. Nasi dan daging rendang adalah perpaduan yang sempurna,"


Mata Cassie berbinar, "Sudah lama aku tidak makan nasi. Aku tidak sabar untuk mencobanya,"


Christov tersenyum lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah dahi Cassie yang berkeringat dan mengelapnya.


"Kau berkeringat sekali,"


Cassie mengangguk, "Hm.. Aku kepanasan karena menari seperti orang kesetanan tadi,"


Christov tertawa kecil dan menatap wajah Cassie dengan lembut, "Wajahmu juga memerah sekali. Mandilah.."


Cassie mengangkat tangan kanannya dan mengusap rambut Christov, "Kenapa rambutmu sangat tebal?"


Christov mendadak merasakan deja-vu. Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan yang Cassie tanyakan saat mereka pertama kali bertemu.


"Kau mabuk?"


Cassie kemudian memindahkan tangannya dari rambut ke wajah Christov dan mendorongnya pelan, "Tentu saja tidak. Aku sedang diet alkohol,"


"Aku senang mendengarnya," Christov berdiri saat mendengar air mendidih. Tangannya mengaduk daging tersebut kemudian menuangkan bubuk kelapa sangrai instant ke dalam daging sapi tadi.


"Pergilah mandi," ujarnya pelan, "Ini akan matang sekitar dua puluh menit lagi," tangannya mengaduk semua bumbu agar tercampur rata. Setelah selesai, dia menutup presto dan mengatur kompor listriknya dengan timer selama 20 menit. Dia menoleh ke belakang dan melihat Cassie masih saja duduk di sana.


"Apa yang kau tunggu? Kau tidak tahu letak kamar mandi?"


"Kau sudah mandi?"


Christov menatap Cassie bingung, "Belum. Kau bisa mandi di kamar mandi kamarku atau kamar mandi tamu. Mandilah. Terserah ingin mandi di mana,"


"Bagaimana dengan rendangnya?"


"Aku sudah mengatur timer dan suhunya jadi tenang saja.."


Cassie mengangguk-angguk kecil dengan wajah seolah mengerti, "Kalau begitu, ayo mandi bersama.."


Christov membelalakkan mata ketika mendengar ucapan spontan dari mulut Cassia, "A-Apa?" katanya terbata.


Cassie menyipitkan mata, "Kau belum pernah mandi bersama wanita yah?" tanyanya dengan nada curiga yang nakal.


Telinga Christov memerah. Wanita ini memiliki pikiran yang jauh lebih ca-bul dariku. Pikir Christov.


"Kenapa kau bertanya hal seperti itu, huh?" Christov memutar tubuhnya dan pura-pura sibuk dengan panci.


"Kau tidak mau?"


Christov menahan napas dan melipat bibirnya menjadi garis keras, "Aku akan menyusul sebentar lagi setelah ini selesai.." gumamnya pelan.


"Okay.. Aku akan mandi di kamar mandi kamarmu," dari balik tubuh Christov, dia bisa mendengar suara gesekan kaki bangku dengan lantai, "Aku menunggumu, Tuan Baik Hati..."


Wanita ini akan membuatku menggila. Pikir Christov.


****


Miss Foxxy


Ciee.. yg berharap ada itunya hahahahahahhahahhahahahahahhahahahahahahhahahahahahahahahahaha


Jangan lupa like, koment, vote, love, dan berikan dukungan lain untuk author. Thank you.