
Happy Reading
***
Mungil, bermata hazelnut bulat, cantik, rambut pirang kecoklatan berkilauan, pintar, dan kaya. Mungkin, beberapa kata yang dipikirkan Christov saat ini masih belum cukup menerangkan betapa sempurnanya Clara Murray. Cara duduk, cara berpakaian, cara dia memegang cangkir, dan bahkan caranya berbicara bisa menjelaskan bahwa Clara terlahir dari keluarga kaya yang berpendidikan.
Wajahnya terpoles dalam riasan tipis, tubuhnya tegap dan memancarkan aura penuh percaya diri, wangi lembut parfum mahal tercium di sekitar tubuhnya, dan...Yah.. Di sinilah dia, duduk santai menikmati secangkir teh di ruang tamu apartemen Christov.
"Maafkan aku tidak menghubungimu lebih awal atas kedatanganku," katanya sembari menaruh cangkir di atas piring kecilnya.
Christov hanya membalasnya dengan senyum tipis karena tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, dia tidak suka hal-hal mengejutkan seperti ini. Datang tanpa memberi kabar kedatangan. Ingin rasanya dia mengusir Clara, tapi.. Well, Christov tidak mungkin berani melakukan itu karena dia terlalu baik.
"Mrs. Connel memaksaku datang kemari.." dia tertawa. Tawa manis dengan sentuhan suara penuh godaan di sana.
"Ibuku pasti merepotimu terus, yah? Kau tidak harus mengikuti perkataan Ibuku," atau secara kasar, Christov ingin mengatakan bahwa Clara berhenti mengusiknya.
"Ah. Tidak.. Mrs. Connel benar-benar baik dan ramah...."
Hening. Keahlian terbesar Christov adalah membuat atmosfer menjadi hening dan canggung. Sayangnya, lawan bicaranya saat ini adalah Clara yang sudah terlatih menghadapi situasi-situasi seperti ini. Di tambah, dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Uhm.. Maafkan aku tidak bisa mengunjungimu selama perawatan di rumah sakit, Christov..."
Tidak masalah. Sungguh tidak masalah.
"Aku mendadak mendapat panggilan melakukan pegabdian di daerah Afrika..."
Oh. Christov sekarang sedikit tertarik.
"Afrika?"
Clara yang menyadari ketertarikan Christov segera berteriak penuh kemenangan dalam hatinya. Akhirnya, dia memiliki topik pembicaraan yang menarik hati Christov.
"Yah.. Aku mendaftarkan diri menjadi relawan UNICEF sebagai dokter..."
Ah... Christov pikir wanita sekelas Clara tidak mungkin melakukan pengabdian seperti itu. Terutama di daerah Afrika.
"Apa saja yang kau lakukan di sana?"
"Banyak.. Aku tidak hanya menjadi dokter saja, tapi juga sebagai pengajar, penasehat, dan banyak lagi.."
Christov mengangguk dan tersenyum sedikit lebih lebar dari sebelumnya.
"Sewaktu duduk di bangku kuliah, aku juga pernah tergabung dalam tim relawan di Afrika.."
"Benarkah?" tanya Clara dengan nada penuh semangat, "Di daerah mana?"
Christov mulai bercerita dan cerita itu mengalir seperti itu saja. Clara pun melakukannya. Saling bercerita, berbagi pengalaman satu sama lain. Di satu titik, Christov merasa senang berbagi cerita tentang pengalaman pengabdian mereka, tapi di sisi lain, dia sadar bahwa cerita Clara mulai diberi sedikit bumbu-bumbu kebohongan untuk membuatnya terpesona.
"Begitukah?" ucap Christov setelah mendengar kebohongan wanita itu tentang Afrika. Ada nada enggan yang terdengar begitu kentara di sana dan Clara--si wanita sempurna-- tentu saja sadar.
"Aku senang kita bisa berbincang seperti ini lagi saat seperti dulu.."
Christov meneguk tehnya hingga habis, enggan berbicara lagi. Dulu? Kapan itu dulu? Pikirnya
"Christov..."
Dia mengangkat kepala dan melihat Clara yang memanggilnya dengan nada aneh. Clara menghela napas panjang dan bibirnya bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Sangat kencang seolah ingin merobek dada Clara dari dalam tubuhnya.
Christov memasang wajah datarnya saat dia melihat raut wajah Clara. Christov seolah tahu perkataan macam apa yang hendak dikatakan oleh Clara.
"Aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?"
Tubuh Christov menegang, tapi dia tetap menjaga kontak mata mereka berdua. Christov tidak mau wanita itu berpikir bahwa perkataannya mempengaruhi Christov.
Sekarang, Christov bertanya-tanya dalam benaknya. Apa mereka punya hubungan? Hubungan macam apa yang mereka miliki? Apa mereka pernah menjalin cinta atau..? Sial.. Christov tidak ingat. Sampai sejauh mana mereka saling mengenal? Jawaban macam apa yang harus dia katakan pada Clara? Apakah dulu dia harus menjawab 'Aku merindukanmu juga'?
"Aku memiliki urusan mendadak yang harus aku kerjakan, Miss Murray" kata Christov dengan nada dan senyum teramah miliknya. Ini adalah jawab yang sanggup dia berikan. Sekarang, dia benar-benar butuh waktu sendiri.
Clara segera membalas senyum Christov dengan senyum kaku dan sadar makna di balik perkataan Christov. Sebuah pengusiran halus.
"Yah.. Aku juga ingat jika aku memiliki shift jaga malam di rumah sakit hari ini,"
Sejujurnya, dia tidak memiliki shift jaga malam hari ini. Berdiri dari duduknya, Clara memegang tas tangannya. Christov pun ikut berdiri.
"Apa aku perlu mengantarmu?"
Clara menggeleng dan berjalan meninggalkan ruang tamu, "No.. Aku bawa mobilku sendiri,"
"Untuk keluar, kau tidak perlu kartu akses seperti saat masuk tadi," jelas Christov.
"Yah. Terima kasih atas teh dan ceritanya, Christov.."
"Terima kasih kembali. Aku menikmati perbincangan kita," Christov membuka pintu untuknya untuk bersikap sopan, tapi itu malah terlihat seperti Christov hendak menendang Clara keluar dari rumahnya.
Wanita berambut sebahu itu tersenyum kaku dan mengangguk sekali lagi sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar.
"Good bye, Clara..."
"Good bye, Christov..." bisik Clara dengan nada perih.
Christov menutup pintu sesaat Clara berjalan meninggalkan apartemennya dan sesegera mungkin menarik napas panjang. Dadanya sedikit terasa sesak. Tangannya memegangi gagang pintu dan matanya menatap kosong ke lantai. Dia merasa bersalah mengabaikan pertanyaan Clara sebelumnya, tapi di sisi lain di juga merasa bahwa dia berhak melakukan ini. Selama dia belum tahu pasti apa hubungannya dengan Clara, Christov tidak boleh bertindak gegabah.
Dia beralih dari sana dengan punggung yang sedikit bungkuk. Pembicaraannya dengan Clara secara tidak langsung menambah beban yang harus Christov pikul. Christov mengambil berkas yang diberikan Elisabeth padanya dari atas sofa. Matanya melirik ke arah cangkir bekas minum mereka tadi dan memilih untuk membereskannya besok.
Dengan langkah lunglai, Christov menaiki anak tangga menuju tempat tidurnya. Sekarang masih pukul tujuh malam, tapi dia sudah merasakan lelah yang teramat. Perbincangannya dengan Clara benar-benar menguras tenaganya.
Masuk ke dalam kamar, menaruh asal berkasnya di atas meja nakas, lalu melepas jaket, kemeja, dan kaos kakinya sehingga meninggalkan dia dalam balutan celana jeansnya.
Sejam saja.. Pinta Christov pada dirinya sendiri. Aku hanya ingin tidur sejam saja. Menatap tempat tidur dan dengan itu pula dia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang yang empuk dan lembut.
Dalam tidurnya, wajah Christov menyergit, membentuk kerutan tebal di dahinya. Menandakan pria itu tidak tidur nyenyak. Tubuhnya menggigil dan mulutnya sedikit terbuka sehingga mengeluarkan napas yang sedikit tersenggal-senggal. Rasa terkejut membuat dia terkejut dari bangunnya.
Dadanya naik turun dan keringat membanjiri tubuhnya. Matanya menatap kosong ke arah kegelapan dalam kamarnya. Tubuhnya merasakan seolah ada ancaman di dalam kamarnya sehingga membuat dia menoleh ke sekitar kamarnya dengan tatapan panik. Christov merangkak ke samping kepala ranjangnya untuk menekan tombol lampu.
Christov menyergitkan dahi dan menutup matanya ketika ada rasa tak nyaman dengan cahaya terang itu. Silau. Pikirnya. Dia pun merasakan tak nyaman pada bagian pinggang, perut, dan kakinya yang diakibatkan oleh jeans yang dia pakai Ah.. Saking lelahnya, dia tertidur dengan jeans.
Bangkit dan duduk di tepi ranjang, Christov menggeleng-geleng sedikit kepalanya untuk membantunya sadar. Matanya melirik ke arah jam digital di atas meja nakas. Pukul 11 malam. Well.. Hampir empat jam sudah dia tidur padahal dia merasa hanya tertidur sepersekian detik saja. Andai mimpi buruk tadi tidak menganggu tidurnya, mungkin dia akan tertidur sepanjang malam dengan jeans.
Dia bangkit berdiri dan berjalan dengan sempoyong ke arah kamar mandi. Melepas jeans dan boxer-nya sekaligus, Christov kemudian menikmati air hangat shower yang membasahi tubuhnya. Dia menumpukan tubuhnya dengan menaruh tangan kanannya di dinding. Kepalanya di tundukkan, membiarkan air itu mengalir dari belakang kepalanya. Dia dalam posisi itu beberapa saat dengan pikiran kosong. Cara ini selalu bisa membuatnya berhenti memikirkan apa pun tentang masalahnya.
Selesai dengan mandi singkatnya, Christov keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Mengganti pakaian dengan kain katun yang lembut lalu keluar dari kamar untuk menyeduh teh untuk dirinya sendiri. Christov kembali lagi ke kamar dan membawa berkasnya menuju ruang kerja.
Duduk dengan rapi, ditemani lantunan musik lembut piano dan secangkir teh, Christov mulai memeriksa file yang diberikan Elisabeth. Dia memeriksa berkas satu per satu dan dibantu dengan perangkat laptop miliknya. Ada beberapa daftar nama yang Christov kenal, termasuk nama Cassie juga ada di sana.
Menghabiskan waktu hampir sejam, Christov akhirnya mendapatkan kesimpulan dari pemeriksaannya. Sebuah kesimpulan yang benar-benar di luar ekspektasinya. Christov menarik napas dan menarik tubuhnya bersandar di kursi. Dipejamkan matanya, merasa sesak lagi. Ah.. Beban lain yang harus dia pikirkan.
Kenapa? Ada apa sebenarnya? Hasil dari pencariannya adalah bahwa setiap undangan pesta yang dia hadiri selalu dihadiri oleh Cassie juga dan begitu pula sebaliknya. Dia tidak hadir dalam pesta jika tidak ada nama Cassie tertera dalam daftar nama undangan.
Apakah ini alasannya selalu memeriksa daftar undangan sebelum pergi ke sebuah pesta? Namun, mengapa?
"Kenapa, Christov? Kenapa?"
***
Miss Foxxy
Kalau disuruh milih, mending pacaran sama Dokter atau Produser musik?