Remember Me

Remember Me
Party



Happy Reading


***


"Cassie!" Bambi berteriak ketika Cassie bergabung dengan mereka yang tengah duduk di sofa bulat. Ada Gerald, Meghan, dan dua orang wanita asing yang masih familiar pada Cassie. Dia mengambil posisi duduk di samping Bambi dan menatap orang-orang yang berpesta ria di tepi kolam renang. Ada juga beberapa stand bar yang menyedikan minuman untuk para tamu.


Well.. Ini bukanlah semacam pesta dengan musik klasik tenang yang didalamnya terdapat orang-orang dengan pakaian formal. Cassie tidak terlalu senang menghadiri pesta formal seperti itu karena orang yang datang ke pesta semacam itu bukanlah untuk bersenang-senang, tapi memamerkan apa yang mereka punya.


"Kau tahu di mana Miranda?" Cassie setengah berteriak di telinga Bambi yang tengah menegak birnya.


"Your sister?" Bambi berteriak dengan nada aneh dan saat itu juga Cassie tahu bahwa Bambi sudah mabuk.


Tangan Bambi bergerak melewati depan wajah Cassie dan Cassie mengikuti arah yang ditunjuk temannya tersebut. Matanya melihat Miranda berada tidak jauh darinya, duduk di stand bar dengan pria yang tidak dikenal Cassie. Well.. Saudarinya sudah lebih dulu mendapatkan mangsa.


"Kalian tidak berdansa?" kata Cassie setengah berteriak pada Gerald dan Meghan.


"Kami sudah berdansa sejak tadi!" Gerald membalas dan melanjutkan meneguk birnya.


Cassie mendengus lalu melipat kedua tangannya.


"Kalian tidak menungguku.."


"Siapa yang siap untuk ronde ke-2?"  Meghan tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangan kirinya yang memegang bir kaleng.


Aku menyayangimu, Meghan. Pikir Cassie dan mengambil posisi berdiri.


"Aku!" Cassie, Bambi, dan Gerald segera berteriak bersamaan.


Ke-empatnya segera berjalan ke lantai dansa dan bergabung dengan kerumunan orang-orang yang berdansa ria mengikuti detuman kencang musik dari Disk Jockey (DJ). Baik Cassie, maupun ketiga temannya tidak tahu bagaimana cara berdansa dengan baik. Pernah sekali mereka mengikuti kelas dansa, tapi berhenti setelah masa trial selesai.


Cassie berteriak kencang, tidak peduli dengan keributan yang dia timbulkan karena suaranya sendiri akan teredam oleh suara musik yang kencang. Huh.. Walaupun harus berhimpit-himpitan, setidaknya Cassie bisa berteriak bebas seperti orang gila untuk melepaskan rasa stress dan penat dalam dirinya.


Digerakkan tubuhnya dengan asal dan tertawa kencang. Beberapa orang memberi ruang pada Cassie yang berdansa begitu agresif. Beberapa orang bahkan berpikir jika wanita itu memiliki gangguan jiwa karena gerakannya aneh dan konyol.


Beat dan nada musik tiba-tiba berubah ke musik Adele yang bernada lambat dan lembut secara mendadak. Hal itu membuat orang-orang di sekitar berhenti berdansa, termasuk Cassie. Dia berkacak pinggang dan dadanya naik turun dengan cepat. Tubuhnya berkeringat. Ah.. Setidaknya dia bisa membakar kalori dengan cara ini.


Dia menatap sekitar ketika orang-orang mengambil pasangannya masing-masing untuk berdansa dalam musik yang lambat. Cassie pun tidak bisa menemukan temannya di mana pun. Ah.. Hanya dia yang tidak memiliki teman dansa. Siapa yang peduli? Toh dia tidak senang melakukan dansa semacam ini karena itu terasa menggelikan.


"Panas sekali.." Cassie mengipas-ngipas wajahnya yang panas. Area lehernya terasa gerah karena rambutnya yang tergerai. Digerakkan kedua tangannya untuk menggulung rambutnya, tapi Cassie kesulitan melakukannya karena tidak punya penjepit atau karet rambut.


Cassie memilih menggeraikannya dan hendak berjalan meninggalkan lantai dansa. Namun, tubuhnya membeku, berhenti mendadak ketika merasakan tangan seseorang yang memegangi rambutnya dalam gerakan lembut. Indera penciumannya bisa menangkap aroma tubuh seseorang yang begitu dia kenal baik. Tersimpan baik dalam ingatannya.


"Sudah kukatakan, jangan berdansa dengan rambut tergerai, Cassie..."


Jason!


****


Ribut sekali, pikir Christov saat tengah menikmati minuman soda dingin di meja bar. Matanya tak pernah sekalipun lepas dari jam tangannya. Satu jam! Batas waktunya di sini hanyalah sejam dan setelah itu, dia akan segera pulang.


"Nikmatilah, Christov..." kata Charlie, temannya saat duduk di bangku kuliah. Sesungguhnya, Christov mengenal banyak orang di sini. Namun, hanya sekadar mengenal.


"Kau kan sangat jarang muncul di pesta-pesta seperti ini. Kenapa tidak kau nikmati saja?" timpal pria lain yang duduk bersamanya di stand bar.


"Lihatlah cewek-cewek itu. Sedari tadi menatapimu terus seperti orang kelaparan,"


Christov melirik ke arah sekumpulan wanita yang duduk di sofa yang berbentuk melingkar tengah menatapi ke arah mereka. Diangkat tangan kanannya untuk menggosok lehernya, kebiasaan yang dilakukan saat dia merasa tak nyaman. Wanita selalu membuatnya tidak nyaman karena mereka terlalu ribut.


Dia ingat saat zaman sekolah dulu, wanita menjadi mimpi buruknya karena selalu mengelilinginya, mengikutinya, dan memberikan berbagai surat dan hadiah yang berlebihan. Christov harus kewalahan setiap pulang sekolah karena banyaknya hadiah yang dia terima. Tidak sekali pun dia merasa tenang semasa sekolah dulu.


"Jika kau datang ke tempat seperti ini, setidaknya minum beer atau koktail..."


"Aku cukup dengan ini," kata Christov seraya mengangkat gelasnya.


"Orang mana yang minum soda ke tempat seperti ini?"


"Aku harus mengendarai mobil sendiri saat pulang.."


Empat orang yang duduk dibar bersama Christov tertawa, merasa lucu mendengar jawaban Christov.


"Dasar polos.." kata Charlie.


"Hei.. Lihat itu. Cassandra.."


"Mana?" satu orang menyahut dan lainnya ikut memutar kursi mereka ke arah lantai dansa untuk melihat sosok yang ditengah dibicarakan.


"Ah.. Cassandra. Wanita itu selalu berdansa seperti orang kesetanan,"


Mereka tertawa melihat wanita bernama Cassandra itu.


"Kau benar. Ah.. Untung dia cantik, bukan begitu?"


"Badannya juga oke. Sayang sekali tidak bisa di cicipi,"


Christov menyedot sodanya dan mendengar mereka tanpa rasa ketertarikan apa pun. Satu-satunya yang dia inginkan adalah keluar dari tempat ini.


"Dia benar-benar jual mahal. Aku pernah mengajaknya makan malam dan langsung menolakku mentah-mentah,"


"Seleranyakan benar-benar tinggi. Mungkin, pria sekelas Leonardo Dicaprio yang bisa mengencaninya,"


"Ah.. Tidak juga. Mantan kekasihnya yang sebelumnya tidak ada bagus-bagusnya."


Orang-orang yang duduk bersama Christov mulai ribut membicarakan wanita bernama Cassandra itu. Yah.. Jika datang ke sini, memangnya topik pembicaraan apa lagi yang akan dibicarakan? Tentu saja wanita. Sayangnya, tipikal pembicaraan seperti ini tidak menarik untuk Christov.


"Hei, Christov.. Ayo putar kursimu. Setidaknya lihat wanita-wanita ini untuk cuci mata," kata Charlie.


"Dasar.. Apa jangan-jangan kau suka sesama jenis yah?"


Christov mendengus, "Okay..  Okay," Christov akhirnya memutar kursinya ke arah lantai dansa. Disandarkan tubuhnya pada meja bar dan menatap sosok yang sejak tadi mereka bicarakan. Ah.. wanita bertato tadi. Pikirnya ketika melihat wanita bernama Cassandra yang benar-benar berdansa seperti orang kesetanan, bahkan orang-orang di sekitarnya harus menepi dan menjaga jarak darinya.


"Cantik, bukan?" kata Charlie sembari menyenggol tubuh Christov dengan sikut tangannya.


"Semua wanita pada dasarnya memang cantik,"


"Ah.. Anak ini tidak seru," teman yang lain berceloteh dan tertawa kecil atas pendapat Christov.


Mengabaikan itu, Christov menyedot sodanya hingga habis dengan tetap melihat dansa menggila dari Cassandra. Bukan hanya dia, tapi orang-orang yang ada di kerumunan pun menatap Cassandra. Beberapa orang tampak terhibur dan beberapa lagi merasa terganggu yang ditunjukkan dari tatapan sinis mereka.


Bagaimana dengan Christov? Entahlah. Christov mengarahkan tangan kanannya ke arah mulut dan tanpa sadar sudut bibir sedikit terangkat ketika melihat wanita itu berdansa seolah tidak ada lagi hari esok. Orang-orang di lantai dansa pun sampai keheranan melihat Cassandra yang sangat energik. Christov juga keheranan. Dia belum pernah melihat wanita semacam ini.


Christov bertanya apakah wanita itu tidak malu? Dia tanpa sadar membandingkan Cassandra dengan Clara, wanita yang berusaha dijodohkan Ibunya pada dia. Clara wanita cantik, rapi, sopan,dan selalu menjaga tingkah lakunya. Berbanding terbalik dengan wanita bernama Cassandra itu. Dia nampak tidak peduli pandangan orang lain. Christov tidak bisa bayangkan jika Clara-lah yang ada di posisi Cassie saat ini.


"Lucu.." gumamnya pelan.


"Tapi aku mendengar kabar kalau keluarag Cassandra tidak ada yang beres. Baik Ibu dan saudarinya," seseorang menimpali lagi.


"Tidak beres bagaimana?"


"Kau tahu maksudku. Banyak beredar gosip jika mereka sekeluarga suka tidur bersama pria yang sama dan--"


Christov turun dari tempat duduknya, "Ke kamar mandi," katanya pelan dan berjalan meninggalkan mereka. Dia tidak mau mendengar hal semacam itu.


Mungkin, sifat bergosip itu masih lebih melekat pada wanita. Namun, jika pria yang bergosip, mereka bisa melakukannya sepuluh kali lebih parah. Christov mengetahui itu dari pengalamannya. Ibunya begitu senang bergosip dan Christov tidak suka kebiasaan Ibunya itu. Kemudian, saat duduk di bangku kuliah, Christov kerap berkumpul dengan organisasinya dan menyadari bahwa pria ternyata bisa melakukan hal 'gosip', bahkan jauh lebih parah dari apa yang dilakukan Ibunya.


Dia tidak masalah mendengar itu dan terkadang tanpa sadar menikmatinya juga jika gossip yang sedang dibicarakan masih dalam batas wajar. Namun, jika gossip itu terlalu melangkah jauh seperti yang dia dengar tadi, Christov tidak mau mendengarnya. Inilah kenapa dia benci bergaul dengan teman lamanya karena tidak ada satu pun yang beres. Dia berpikir bahwa mereka hanyalah sekumpulan orang-orang sombong yang suka menyebarkan hal buruk tentang orang lain.


Dari pada mendengar gossip yang tidak mengenakkan itu, Christov jauh lebih memilih pergi dan menunggu di kamar mandi hingga pembicaraan itu selesai. Namun, dia mengurungkan niatnya dan memilih berdiri di lorong sembari memeriksa ponselnya. Disandarkan punggungnya ke dinding dan menatap fokus ke layar ponselnya


Seperti biasa, pesan dari ibunya dan Clara. Dia memilih untuk tidak membaca dan membalasnya.


"Cassie.. Please. Tunggu sebentar,"


Christov mengangkat kepalanya dari ponsel dan menoleh ke arah kiri lorong, sumber dari suara.


"Cassie.. Please,"


Dari jarak saat ini, Christov bisa mengenali bahwa wanita itu adalah Cassandra. Berkat temannya yang sedari tadi membicarakannya, Christov tanpa sadar mengingat nama wanita itu. Jadi nama pendeknya Cassie? Pikirnya. Pria asing yang tengah berbicara dengan Cassie melirik ke arah Christov dan Christov menatapnya dalam diam sebelum akhirnya menyibukkan diri dengan ponselnya. Abaikan saja mereka, Christov. Di sisi lain, Cassandra tidak menyadari keberadaan Christov karena berdiri dalam posisi memunggungi Christov


"Aku ingin ke kamar mandi dan pergilah Jason. Aku muak hanya melihat wajahmu,"


Ah.. Mereka nampaknya dulu sepasang kekasih yang sudah putus.


"Ayolah, Cassie. Kenapa kita tidak memulainya dari awal? Seperti dulu?" pinta pria bernama Jason itu dan Christov bisa dengar nada penuh memohon di sana.


"Jason. Sudah berlalu satu tahu lebih. Sudah berakhir. Semua sudah berakhir..."


Christov melirik dari ujung matanya. Apa dia pergi saja?


"Aku tahu kau masih memiliki perasaan tersisa untukku, Cassie..."


"Tidak ada, Jason. Tidak ada. Tidak rasa benci, rasa sayang yang seperti kau pikirkan, atau rasa apa pun. Aku tidak merasakan apa pun padamu lagi. Bagiku, kau sudah seperti orang asing,"


"Ayolah, Cassie.. Aku kehilangan arah tanpamu,"


"Diam!"


"Aku tahu kau belum memiliki kekasih, Cassie. Aku tahu kau masih menungguku,"


"Gila yah? Siapa yang menungguimu, hah?Sudah berlalu, Jason! Kenapa kau bertingkah seperti ini sih?"


"Itu karena aku masih mencintaimu, Cassie. Kumohon. Maafkan aku... Beri aku kesempatan sekali lagi,"


Christov melihat Jason berusaha meraih wanita itu, tapi Cassie dengan sigap menghindarinya.


"Jangan sentuh aku, breng-sek."


Jika sudah pakai umpatan seperti ini, nampaknya Christov harus pergi dari tempat ini. lebih baik masuk ke dalam kamar mandi. Pikir Christov


"Breng-sek? Breng-sek katamu?"


"Ah sialan.. Sudahlah. Kita hentikan saja. Aku tidak ingin mengacaukan malamku yang sempurna karena kau."


Christov menoleh ke arah mereka dan tatapannya bertemu dengan Jason. pria itu seolah memperingatkan Christov agar pergi dari sana dan dia dengan senang hati melakukannya. Christov tidak mau ikut campur. Diputar tubuhnya ke arah kamar mandi untuk meninggalkan mereka.


"Lepaskan aku! kau sudah gila yah? jangan menyentuhku seenaknya!"


Jangan ikut campur, Christov. Peringatnya.


"Kumohon beri aku kesempatan, Cassie.. Please."


"Ah! Lepaskan tanganku!!"


Jangan ikut campur, Christov. Jangan. Jangan. Suara peringatan itu terdengar semakin kencang dalam kepalanya.


"Breng-sek! Kau memegangi dadaku dengan sengaja yah?! Lepaskan aku!"


Sialan..


****


"Jangan begini,"


Cassie berhenti meronta dan berteriak ketika mendengar suara pria asing yang tiba-tiba memegangi tangan Jason yang mengekangnya. Dia mendongkakkan kepalanya menatap pria asing itu. Ah.. Bukankah dia arsitek tadi? Christoval? Atau Christover? Sialan.. Dia lupa namanya.


"Kau siapa sialan? Ini urusan kami berdua!"


Cassie terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, instingnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri segera bekerja. Jason, mantan kekasihnya itu nampaknya sudah kehilangan pikirannya sendiri.


"Lepaskan tanganku, breng-sek," geram Cassie penuh amarah dan dengan bantuan Christover, Jason melepas tangan Cassie. Buru-buru, Cassie menggandeng tangan kanan Christover. Pria ini nampaknya pria baik nan polos. Pikir Cassie. Aku akan menjelaskannya nanti. Sebenarnya, siapa nama pria ini? Christoval atau Christover?


"Hah? Cassie?" Jason menatap gandengan tangan itu dengan tatapan penuh keterkejutan, "Kau okay? kenapa kau menggandeng orang asing?"


Cassie menoleh ke arah Christover yang menatap datar ke arahnya dan di sisi lain Cassie menatapnya penuh harap.


"Dia teman kencanku. Bukan begitu, Christov?" pada akhirnya, Cassie memakai singkatan nama itu karena tidak yakin dengan nama pria tersebut. Cassie mengeratkan gandengannya pada Christov seolah memberi isyarat pada pria itu.


"Apa kau sudah selesai bicara dengannya?" tanya Christov dan Cassie mendesah pelan penuh kelegaan ketika Christov memahami maksudnya.


"Yah.."


"Oh.. Jadi gossip yang beredar itu benar, yah?" kata Jason dengan nada mencemooh.


Apa lagi sih yang dia dibicarakan? Pikir Cassie.


"Gossip kalau kau membuka selangka--"


"Jangan begitu," potong Christov dengan nada datar, "Jangan melampiaskan kemarahanmu dengan melempar kebohongan. Itu hanya membuatmu jauh lebih buruk," sejujurnya, Christov tidak yakin apakah yang gossip itu benar atau tidak.


Di sisi lain, Cassie menatap Christov dengan tatapan heran.


"Apa sih yang kau bicarakan? Gila yah? Apa dia mainan barumu, Cassie? Kenapa aku tidak pernah melihatmu membawanya ke apartemenmu?"


Dengan cepat, Cassie memutar kepalanya ke arah Jason dengan tatapan penuh amarah.


"Apa maksudmu?" Cassie melepas gandengan tangannya dari Christov. Matanya melotot dan kedua tangannya terkepal kuat.


"Kau menguntitku?!" suara Cassie sekarang naik satu oktaf.


Jason terdiam karena secara tak langsung dia mengakui perbuatannya sendiri.


"Orang sin-ting!" Cassie mengangkat tangan kanannya dan hendak melayangkan tamparan keras pada mantan kekasihnya itu. Namun, telapak tangannya berhenti di udara karena ditahan oleh Christov.


Pria itu memegang pergelangan tangannya dengan lembut dan Cassie menoleh ke arahnya dengan penuh keheranan.


"Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalahmu. Mari kita pergi," katanya dengan nada tenang. Sesaat kemudian, dia menarik tangan Cassie dalam gandengan tangannya. Cassie yang terlalu terkejut hanya dapat pasrah dan patuh pada Christov yang membawanya pergi. Entah kenapa, amarahnya surut begitu saja.


"Dan untukmu," Christov beralih ke arah Jason, "Dia tidak bertemu denganmu lagi. Aku sudah merekam pembicaraan ini sejak tadi hanya untuk berjaga-jaga."


"Sialan.. kau mengancamku, yah?"


"Jika kau merasa kau terancam, jauhi Cassie. Dia tidak ingin melihatmu lagi. Namun, jika kau tetap memaksakan kehendakmu, Cassie berhak melaporkanmu,"


Christov berjalan, membawa Cassie pergi dari sana. Semudah itu? pikir Cassie? Apa yang terjadi padanya benar-benar terjadi begitu cepat dan membuatnya syok. Dia tidak habis pikir Jason akan bertindak sampai sejauh itu. Ah.. Padahal pria itu tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kenapa sekarang berubah menjadi seperti ini?


Satu lagi, bagaimana bisa dia berakhir bersama pria asing yang belum pernah dia temui sebelumnya? Bergandengan tangan pula. Apakah pria itu mendengar pertengkaran mereka sejak awal? Sejak kapan dia ada di sana? Kenapa dia menolongku? Apa dia benar-benar serius merekam percakapan mereka? Bagaimana bisa?


Berbagai pertanyaan menghujani pikiran Cassie, tapi dia memilih bertanya hal yang paling utama dari sekian banyaknya pertanyaan.


"Apa kau benar-benar merekamnya?" bisik Cassie pelan tanpa menoleh ke arah pria tersebut.


"Tidak,"


A-apa?!


***


Miss Foxxy


Jangan harap pertemuan seperti ini ada di dunia nyata. Fantasi.. kita hidup di dunia fantasi . Dunia nyata terlalu kejam T_T