Remember Me

Remember Me
Another Past



Happy Reading


***


"Menginaplah malam ini di sini, Christov.." ucap Barbara seraya menuangkan anggur ke gelasnya lagi, "Sudah larut. Sangat berbahaya pulang larut malam seperti ini.."


"Mommy... Ini masih pukul sebelas malam. Apanya yang larut? Kami bisa pulang sekarang,"


"Kau mau menginap di sini, Christov? Kamar Cassie cukup luas. Aku akan tidur di lantai bawah bersama Mom agar membuatmu nyaman.."


Christov tertawa canggung, bingung harus bereaksi seperti apa.


"Kami pulang saja.." kata Cassie seraya menaruh piring kecil berisi potongan kue ulang tahun milik Miranda di atas meja, "Lagi pula, Christov akan merasa canggung dan tidak nyaman tidur di rumah yang hanya di huni oleh wanita saja.."


"Kau ingin melakukan hal-hal tak senonoh, bukan saat perjalanan pulang nanti? Itu yang membuatmu bersikeras untuk pulang..." ujar Miranda setelah menyesap anggurnya dengan nada penuh kecurigaan, "Biasanya pun kau menginap di sini jika waktu sudah selarut ini..


"Argh.. Apa kau pikir aku seca-bul itu?" geram Cassie dengan nada marah, merasa kesal, "Perkataanmu bisa membuat Christov merasa tak nyaman.."


"Apa aku membuatmu tak nyaman, Christov?" tanda Miranda dengan nada memastikan dan pria itu hanya tersenyum tipis. Tak tahu harus bereaksi apa.


"Dasar gila.. Untuk apa kau menanyakan hal seperti itu? Tentu saja dia menjawab tidak!"


"Sudahlah.." ucap Christov lembut seraya menaruh satu tangannya pada pundak Cassie agar wanita itu tidak marah lagi, "Aku tak masalah tidur di sini. Ibumu benar, ini sudah cukup larut untuk pulang. Ditambah kita berdua sudah minum banyak anggur seperti ini. Hal yang tak diinginkan bisa saja terjadi..."


"Kau dengar itu, Cassie? Christov tidak keberatan tidur di sini," kata Barbara dengan senang, "Kau bisa gunakan baju Cassie.. Sana... Bawa dia ke lantai atas, Cassie.. Kekasihmu sudah mengantuk. Sejak tadi dia menahan diri untuk tidak menguap..."


Christov tertawa kecil melihat keramahan Ibu Cassie.


"Kau sudah mengantuk?" Cassie beralih ke arah pria yang duduk di sampingnya tersebut.


"Sedikit.." bisiknya.


Cassie segera menatap tajam ke arah saudarinya, "Malam ini kau tidur bersama Mom..."


Miranda tertawa jahat, "Apa yang hendak kau lakukan, huh?"


"Ck.. Sudahlah. Jangan menganggu dia terus, Miranda. Sana. Bawa Christov ke atas. Rasanya aku pun ingin berbaring saat ini juga..."


"Okay, Mom. Ayo, Christov..."dia mengandeng tangan kanan Christov agar berdiri dari sofa.


"Good night.." salam Christov dengan nada sopan.


"Good night, Mom..."


Keduanya beralih dari sana menuju lantai dua. Sesaat berlalu dari ruang tamu, Christov memindahkan tangannya ke arah leher Cassie lalu mengecup pucuk kepala wanita itu.


"Wangi sekali.." bisiknya.


"Kau tampaknya sangat mudah mabuk.." mereka menaiki anak tangga secara bersama.


"Aku tak mabuk. Aku hanya kelelahan.." pria itu menguap lebar, "Apa Ibumu tak keberatan kita tidur bersama?"


"Tentu saja tidak.."


Cassie berbelok ke arah lorong kanan dan berjalan ke ujung lorong, tempat kamarnya berada.


"Aku penasaran bagaimana bentuk kamarmu.." kata Christov sesaat mereka berdiri di depan pintu kamar Cassie.


"Tak ada yang istimewa. Hanya seperti kamar pada umumnya," Cassie membuka pintu tanpa melepas diri dari pelukan Christov lalu keduanya melangkah masuk. Tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu, Cassie membawa Christov duduk di atas ranjangnya yang berada di tengah ruangan tersebut.


"Tunggu di sini, pria besar.." katanya pada Christov yang sudah berbaring di ranjang. Dia melangkah ke arah stop kontak untuk menyalakan lampu lalu ke arah lemari untuk mencari pakaiannya yang bisa digunakan oleh Christov.


"Sedang apa?" tanya Christov yang sudah duduk di ranjang dari balik tubuhnya.


"Mencari baju untukmu.. Aku punya banyak kaos dan celana berukuran besar. Mungkin akan muat untukmu.."


"Jadi ini kamarmu.." Christov mengangguk-angguk kecil dan menatap sekitar kamar Cassie. Tidak ada unsur yang girly di sana. Pemilihan warna di sana sangat netral. Warna biru gelap dan perabot kayu bercat putih mendominasi ruangan.


"Ini.." kata Cassie seraya memberikan sehelai kaos dan celana katun panjang untuk Christov, "Itu pakaianku saat di universitas dulu.. Dulu, aku suka pakaian longgar," dia duduk di atas ranjang dan melihat Christov yang berjalan mengelilingi kamarnya.


"Kenapa sekarang tidak lagi? Akhir-akhir ini kau lebih suka memakai pakaian yang ketat.." kata dia dengan nada cemberut.


"Aku hanya pakai pakaian ketat saat ke pesta-pesta tertentu.." sanggah Cassie seraya berbaring dengan posisi miring ke arah Christov.


Pria itu mengangguk kecil, pura-pura mengerti. Dia tidak ingin melakukan adu mulut dengan Cassie di rumah orangtua kekasihnya tersebut.


"Okay.. Okay.. Kau benar," katanya seraya melepas kaos dan celananya hingga meninggalkan dia dalam balutan boxrr serta kaos kaki. Dia memindahkan pakaiannya tersebut ke atas punggung kursi meja-belajar.


"Badanmu benar-benar bagus. Tinggi semampai tanpa lemak berlebih. Kau benar-benar rajin berolahraga, tak heran badanmu sebagus ini. Kau tidak ada niatan menjadi model?"


Christov menggeleng dan memakai celana pemberian Cassie, "Tidak.. Aku tak suka jadi pusat perhatian.." celana itu terasa pas untuknya, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu sempit, begitu juga dengan kaos tersebut. Dia heran, bagaimana bisa Cassie memakai pakaian ukuran besar seperti ini.


"Apa kau tidak sadar bahwa kau selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun kau pergi?"


Christov kembali menjelajahi kamar Cassie dan melihat setiap detail ruangan itu. Sebuah kebiasaan yang lumrah dilakukan di kalangan arsitek, yaitu menginspeksi setidak sudut ruangan suatu bangunan.


"Sadar.. Kau pun begitu, selalu jadi pusat perhatian.." dia berdiri di depan rak buku setinggi pundaknya dan melihat-lihat isi rak tersebut.


"Tidak juga.. Aku selalu iri dengan rambut tebalmu. Kenapa sih pria-pria punya rambut tebal dengan mudah saat aku harus menghabiskan ratusan dollar untuk perawatan rambut?"


"Sudah takdir.." jemarinya yang tengah memilah-milah isi rak itu tiba-tiba berhenti saat menemukan sebuah album foto yang bertuliskan nada lengkap Cassie di bagian sampul. Dia menarik album foto tersebut lalu menunjukkannya pada Cassie.


"Ah itu.. Bawalah ke mari. Itu album foto tentangku.. Dari dulu, aku ingin membawanya agar kutunjukkan untukmu, tapi aku tak ingat. Padahal aku sering berkunjung ke sini.."


"Ini tebal.." gumam Christov lalu naik ke atas ranjang bersama Cassie yang sudah duduk bersandar pada punggung ranjang. Dia duduk di samping wanita itu dan mulai membuka lembaran foto.


"Karena itu foto dari mulai aku lahir hingga lulus kuliah.."


"Ini kau waktu lahir? Whoaaaa.." kata Christov sesaat melihat lembaran pertama berisi tiga foto Cassie saat baru lahir. Bayi mungil berpipi gembul yang merah.


"Menggemaskan sekali.."


"Apanya yang menggemaskan dari ini? Kepala dan alis botak, wajah merah, dan mata bengkak. Seperti alien saja.."


Christov tertawa kecil, "Alien yang menggemaskan.. Kupikir bentuk wajahmu lebih mirip dengan ayahmu.." kata dia ketika membuka lembaran lain.


"Semua orang memang mengatakan itu, tapi aku dan Miranda mewarisi bola mata mama..."


Album itu berisi semua foto tumbuh kembang Cassie, mulai dari dia bayi, berjalan merangkak, foto ulang tahun pertama, balita, dan anak kecil yang siap untuk bersekolah.


"Kau benar-benar lahir dari keluarga seni.." gumamnya melihat beberapa foto Cassie kecil dengan alat musik. Mulai dari piano, drum, clarinet, saxophone, dan harpa. Lalu ada beberapa foto yang menunjukkan dia tengah menari dan melukis.


"Makanya aku sedari dulu bercita-cita untuk berkecimpung di bidang kesehatan agar nampak berbeda dari keluargaku yang lain, tapi sayangnya takdir berkata lain.."


"Nanti akan kuberitahu," jawabnya singkat, "Lihat ini.. Ikan tangkapan pertamaku.." tunjuk Cassie pada foto berisi dia, Miranda, dan Ayah mereka yang berdiri di atas perahu kayu kecil. Ini adalah kenangan masa kecil Cassie saat memancing di danau pada musim semi. Dia tersenyum lebar di dalam foto itu dengan tangan kanan memegang ikan tangkapan berukuran sedang.


"Kau anak yang tumbuh dengan penuh kasih sayang.."


"Yeah.. Kau benar, tapi tidak setelah keluargaku memutuskan pindah ke sini.."


"Memangnya kenapa?" kata Christov sembari membuka lembaran album yang lain, tidak menganggap serius perkataan Cassie.


"Saat kecil aku memiliki gangguan dalam hal berbicara.." katanya dengan nada santai, tapi Christov segera menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh ketidak-percayaan.


"Gangguan bagaimana?"


Cassie mengangkat kedua bahunya dengan acuh, "Gagap.. Dokter pernah memvonisku tak dapat bicara secara normal seumur hidupku. Itu benar-benar pukulan berat bagi kedua orangtuaku pada masanya..."


Mendengar itu, Christov benar-benar syok.  Dia masih belum percaya Cassie seorang produser musik handal ini pernah mengalami gangguan bicara seperti itu.


"Kau tak serius.." bisik Christov dan Cassie menoleh ke arahnya.


"Aku serius.." dia menatap lurus ke depan, "Aku tak mampu menyusun kata-kata hingga aku berusia enam tahun dan aku sudah sempat hidup dengan bahasa isyarat.."


Christov terdiam, tidak tahu harus berkata apa-apa.


"Di usia ke-tujuh, aku mulai bisa menyusun kata, tapi aku kesulitan mengungkapkannya dan selalu tergagap-gagap."


"Cassie.." bisiknya dan wanita itu menoleh ke arah dia.


"Jangan merasa sedih seperti itu.. Sudah berlalu. Sejak pindah ke sini, aku mulai bicara sedikit demi sedikit karena terdorong oleh keadaan..."


"Terdorong keadaan? Bagaimana maksudmu terdorong keadaan?"


"Uhm.. Saat di Itali, orang-orang di sana sangat ramah dan paham akan keadaanku. Itu membuatku nyaman, tenang, dan tidak sedikit pun aku merasa aneh akan keadaanku. Saat kecil, aku menganggap diriku tidaklah berbeda walau aku memiliki kesulitan dalam berkomunikasi," senyum sedih terukir di bibirnya saat mengingat kenang ketika pindah ke negara ini, "Namun, tidak di sini. Beberapa orang benar-benar tidak mau mengerti keadaanku dan hanya memvonisku sebagai anak aneh.." katanya dengan senyum tipis. Senyum untuk menguatkan dirinya sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak emosional mengingat masa kecilnya dirudung oleh anak-anak satu kelasnya.


"Pindah ke negara ini adalah mimpi buruk bagiku karena..." Cassie menahan napas, bingung dengan pemilihan kata  selanjutnya, "Karena mereka menganggapku berbeda dan aneh. Awalnya itu membuatku tertekan, bayangkan anak berusia 6 setengah tahun menerima perlakukan seperti ini. Aku benar-benar terkejut karena saat kecil aku berpikiran bahwa semua orang di dunia itu baik. Sayangnya, aku hanya hidup di duniaku sendiri, Italia. Namun, lambat laun, perlakuan tak adil ini membuatku sadar bahwa aku itu benar-benar berbeda hingga akhirnya timbul tekat kuat untuk berubah.."


"I'm so sorry to hear that.." kata Christov dengan nada sedih.


(*Aku ikut sedih padamu)


Cassie tertawa dan menyandarkan kepalanya pada bahu Christov, "Jangan merasa sedih. lagi pula, berkat perudungan yang kuterima tersebut, akhirnya aku memiliki kemampuan untuk berubah.."  walau itu membuatku menderita gangguan panik. Sambungnya dalam hati. Cassie berpikir untuk tidak menceritakan keseluruhan kisahnya pada Christov secara sekaligus. Bertahap. Dia ingin menceritakannya secara bertahap.


"Itu pasti berat untukmu saat gadis seusia itu untuk menanggung semua hal tersebut," kata Christov seraya melingkarkan tangannya pada bahu Cassie.


"Yeah.. Berat, tapi dari situ aku juga belajar banyak hal.. Saat di Itali aku dimanjakan dengan keramahan orang lain, membuatku hidup di zona nyaman dengan fantasi bahwa semua orang itu baik. Itu benar-benar membuatku sulit berkembang dan membuatku tidak memiliki motivasi untuk dapat berbicara secara normal. Bayangkan bagaimana nasibku jika tidak pindah ke negara ini? Mungkin aku masih tetap hidup di zona nyaman menjadi Cassie yang menderita gangguan bicara,"


"Tidak.. Aku tahu kau tidak akan begitu karena kau adalah sosok yang memiliki pemikiran untuk maju, Cassie.."


"Well.. Untuk maju pun kita perlu dorongan, bahkan tekanan dari luar. Terkadang hal sulit didatangkan dalam kehidupan untuk membentuk versi terbaik dari diri kita.."


"Kau benar.." bisik Christov lalu mengecup pucuk kepala wanita itu, "Kenapa kekasihku begitu bijak seperti ini? Kupikir kau cocok menjadi seorang motivator.."


Cassie tertawa kecil, "Aku? Mana mungkin.. Aku malah akan mengajari orang-orang ke jalan sesat.."


Christov tersenyum lebar, senang bisa mendengar suara tawa Cassie kembali.


"Well.. mari kita lihat album foto yang lain," kata dia seraya membuka lembaran album yang lain.


"Ini fotoku saat di taman kanak-kanak lalu ini saat aku duduk di bangku dasar. Sayangnya, aku harus pindah ke Amerika setelah satu tahun di bangku sekolah dasar," jelas Cassie lalu membuka lembaran lain.


"Oh.. Kau pindah ke sekolah dasar ini?" tanya Christov dengan nada sedikit terkejut ketika melihat foto Cassie kecil berdiri di gapura sekolah dasar yang dia kenal baik.


"Yeah.. Aku dan saudariku melanjutkan pendidikan sekolah dasar di sini.."


"Ibuku dulu seorang guru di sekolah ini.."


Cassie mengangkat kepalanya dari bahu Christov untuk melihat wajah pria itu secara jelas.


"Guru?"


Christov mengangguk, "Iyah.. Ibu menjadi guru matematika saat mengajar di sini. Sayangnya, surat izin mengajar Ibuku harus dicabut karena suatu hal. Itu membuatnya tidak boleh mengajar lagi di mana pun, baik di lembaga pendidikan formal atau pun lembaga informal."


Kini, Cassie merasa terkejut mendengar hal tersebut. Dia seolah tahu jelas kisah ini. Cassie menelan ludahnya dengan susah payah dan tetap menjaga ekspresi biasa wajahnya, takut membuat pria itu curiga.


"Mengapa?"


Christov mengangkat kedua bahunya, "Baik Ibu, maupun ayahku tak ada yang mau menceritakannya padaku dan Christina.."


"Memangnya kau tidak sekolah di sini?"


"Tidak.." Christov menggeleng kecil, "Aku dan Christina selalu disekolahkan di sekolah Internasional karena Ibu sangat ketat tentang pendidikan.."


Cassie menggangguk kecil, "Jadi kau tidak tahu sedikit pun informasi tentang mengapa surat izin mengajar Ibumu dicabut?"


"Ibu pernah bilang kalau dia difitnah atas perbuatan yang tidak dia lakukan, tapi aku tidak tahu bagaimana kebenaran yang sebenarnya..."


Ah.. Difitnah. Pikir Cassie. Dia yakin bahwa orang yang dia pikirkan saat ini adalah Ibu Christov. Orang yang membuat masa kecilnya bagaikan neraka. Orang yang membuatnya percaya bahwa di dunia ini hidup lebih banyak orang jahat, daripada orang baik.


"Siapa nama Ibumu kalau boleh tahu?"


"Theresa.." jantung Cassie seolah berhenti berdegup saat mendengarnya, "Nama Ibuku Theresa O'Connel.."


"Boleh aku lihat foto Ibumu? Aku belum sempat melihatnya dari kemarin.. Mungkin aku bisa ingat sesuatu tentang itu.."


Christov mengangguk, "Boleh. Aku pun sampai lupa kau belum melihatnya.." dia meraih ponsel dari meja nakas dan segera membuka galeri foto tentang Ibunya lalu menunjukkan itu pada Cassie.


"Ini.."


Cassie menerima ponsel itu dan segera dia menahan napasnya secara tak sadar saat melihat foto waja Ibu Christov. Walau ada kerut dan beberapa tanpa penuaan di wajah Theresa, tapi tatapan tajam dan bengis tersebut tak pernah berubah. Tetap sama, terlihat tajam, jahat, dan angkuh. Wajah Theresa yang selalu kelihatan tak ramah tersebut. Wajah yang menjadi karakter antagonis dalam imajinasi kecilnya.


Astaga.. Betapa sempitnya dunia ini. Pikir dia. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi?


"Apa kau ingat sesuatu tentang Ibuku, Cassie? Mungkin dia pernah mengajar di kelasmu atau tak sengaja bertemunya di sekolah..."


Bukan hanya sesuatu.. Batinnya. Aku mengingatnya dengan sangat jelas...


***


Miss Foxxy.


Ayo siapa yg tebakannya agak benar? Silakan berteori lagi. Jangan lupa beri dukungan untuk author yah. Jangan jadi pembaca gelap dong. Dan jangan lupa ikutan giveaway yahh.. Semoga beruntung. (PS; masih gk nyala udah di chapter 54 ajah.)