Remember Me

Remember Me
New People, New Problem



Happy Reading


****


Clara turun dari mobilnya yang terparkir di depan lobi apartemen Christov. Wajahnya yang terpoles riasan tipis menunjukkan senyum sumringah. Hah.. Dia sudah menunggu kesempatan seperti ini untuk bertemu dengan Christov sejak kepulangannya ke Los Angeles, tapi sayangnya Clara tidak punya waktu yang pas karena urusan pekerjaan yang mendadak.


Hari ini adalah hari minggu dan merupakan waktu yang pas untuk bertemu dengan Christov. Well.. Dia yakin akan ada pertengkaran dan penolakan dari Christov seandainya dia muncul begitu saja dan memberikan paper bag berisi cincin yang tengah Clara bawa sekarang. Tepat saat dia menaiki anak tangga teras terakhir, seorang penjaga apartemen muncul dan keluar dari dalam lobi.


"Selamat siang, Miss. Ada yang bisa sayang bantu?" kata si penjaga apartemen pria yang nampak berusia 50 tahunan ke atas.


Clara sudah membuka mulutnya dan hendak bicara, tapi ponselnya yang di dalam tas tiba-tiba berdering dan dering yang terdengar adalah dering ponsel yang dia setel khusus untuk pekerjaannya. Senyumnya mendadak hilang, menandakan dia akan dapat panggilan kerja.


"Tunggu sebentar.." katanya seraya merogoh ponsel dari dalam tas tangannya. Clara memeriksa nama pengguna yang menghubunginya dan menemukan nomor dari salah satu perawat di rumah sakit, tempat dia bekerja.


"Halo?" jawabnya setelah menerima sambungan dan hal yang pertama kali dia dengar adalah suara riuh dan teriakan 'Kode Kuning', yang menandakan ada hal yang tak beres di rumah sakit.


"Halo, Miss Murray? Maafkan saya memanggil anda di hari libur seperti ini, tapi kami butuh bantuan di rumah sakit karena adanya pasien massal dari kecelakaan di jalan raya.."


Sudah kuduga. Pikirnya dengan jengkel.


"Okay.. Okay.. Aku akan di sana sesegera mungkin," tanpa menunggu lebih lama rekan kerjanya berbicara kembali, Clara memutuskan sambungan ponsel. Dia memasukkan ponsel kembali dalam tas lalu mengambil kartu dan paper bag hitam untuk diberikan pada penjaga itu.


"Tolong berikan pada Christover O'Connel, unit apartemen 201. Saya adalah orang yang dia kenal dengan baik. Anda bisa menghubungi saya pada nomor yang tertera di kartu itu setelah barangnya sudah diterima oleh Christov.."


Penjaga itu menerimanya dengan tatapan heran. Awalnya dia ingin menolak karena mencurigai Clara adalah wanita aneh, tapi setelah melihat penampilan dan kartu yang diberikan oleh Clara tadi membuat keraguannya hilang. Seorang Dokter. Pikirnya.


"Yes, Miss.."


"Thank you," tanpa berlama-lama lagi, Clara menuruni anak tangga dan segera memasuki mobilnya menuju rumah sakit. Selama perjalanan, wajahnya berubah ke mimik keras. Marah. Yah.. Dia marah karena situasi dan kondisi tidak pernah mendukungnya untuk bertemu dengan Christov.


"Sialan.." geramnya seraya memukul setir mobil, "Tidak ada yang berjalan lancar akhir-akhir ini..."


****


"Kekasihnya?" ulang Clara dengan senyum penuh kemenangan, "Kekasihnya yang menerima barang yang kuberikan tadi?"


"Yes, Miss.." ucap penjaga apartemen Christov melalui ponsel.


"Ah.. Okay.. Okay.. Thank you, Sir.."


"Your welcome*, Miss..."


(*Sama-sama)


Sambungan terputus dan Clara mengumandangkan tawa penuh kemenangan seraya menatap ponsel. Tubuhnya yang sebelumnya menegang berubah menjadi rileks hanya setelah mendengar informasi tersebut. Disandarkan pada dinding lorong rumah sakit yang sepi.


"Astaga.. Kebetulan macam apa ini?" tanya dia dengan nada masih tak percaya, "Bagaimana bisa kekasih Christov yang menerima paper bag itu? Oh my.. Ternyata selalu terselip sedikit keberuntungan di waktu yang buruk..."


Dia melipat bibirnya untuk menahan senyum penuh kemenangannya, "Past India memeriksa isi paper bag itu. Pasti... Aku penasaran apa yang terjadi di antara mereka sekarang?"


Clara mulai membayangkan berbagai skenario pertengkaran hebat Christov dan kekasih sialannya itu.


"Ah.. Senangnya.. Sekarang aku bisa merebut kembali posisiku dengan sangat cepat.." gumamnya pelan.


"Miss Murray?" suara panggilan seorang wanita dari ujung lorong membuat Clara menoleh dan menemukan perawat di sana.


"Ada pasien darurat lain yang sudah datang.."


Clara menegakkan tubuh seraya menutup mulut dan hidungnya dengan masker, "I'm coming!*"


(*Aku datang)


Yah... Clara akan datang. Datang untuk menyelesaikan semua kesalahan dan masalah ini.


****


Christov mengecup lembut tatto burung di punggung kanan Cassie yang polos. Tangan kanannya berada pada salah satu pa-yu-da-ra kekasihnya yang berbaring miring tersebut. Me-re-mas-nya lembut dan mencubit pucuknya dengan nakal. Lekukan tubuh mereka saling menyatu dengan sempurna dan kejantanan Christov semakin mendesak bo-kong Cassie.


"Ah.." e-rang Cassie dengan nada tertahan. Kakinya bergerak gelisah dan kedua tangannya meremas seprai dengan kencang merasakan gerakan intens dari Christov pada dadanya.


Pria itu menghisap punggung Cassie dan tangan kanannya perlahan turun dari dada menuju pusat tubuh wanita itu. Jemarinya masuk ke dalam sela se-lang-ka-ngan Cassie dan detik itu pula kekasihnya tersebut menjerit kencang.


"Argh!"


"Ahk!" Cassie memekik kencang dan tubuhnya menegang merasakan dua jemari Christov memijat lembut permukaan kewanitaannya yang basah.


Christov menggeram, menggila mendengar de-sahan kencang kekasihnya tersebut. Christov menarik jemarinya dari se-lang-ka-ngan wanita itu dan berpindah pada paha Cassie yang berada di posisi atas.


"Aku akan melakukannya dari belakang ini," bisik Christov dengan napas terengah-engah pada Cassie yang menggeliat.


Christov mengangkat paha Cassie ke atas pahanya. Kejantanannya yang sudah menegang sempurna diarahkan-nya pada kewanitaan Cassie dengan instingnya.


"Ke bawah.." bisik Cassie, membantu Christov mengarahkan kejantanannya. Ketika ujung milik lelaki tersebut menyentuh permukaan kewanitaannya, kedua tangan Cassie meremas seprai semakin kencang.


"Yah.. Yah. Di sana..." desah wanita itu dengan suara tertahan. Satu tangan Christov berpegangan pada pangkal ranjang selagi dia berusaha mendorong masuk. Dia menggeram gemas saat kejantanannya tak kunjung masuk. Christov menjauhkan sedikit pinggulnya ke arah belakang dan dengan cepat dan dia kembali mendorong hingga setengah pangkal kejantanannya akhirnya masuk.


"AH!" Cassie memekik dan Christov menggeram penuh rasa lega.


"Oh. My," ucap Christov kata per kata dengan nada rendah, "Aku akan mendorong masuk lagi, sayang.."


"Yeah.."


"Katakan jika itu sakit.."


"Mmm..."


Christov melipat bibir bawahnya dan kembali mendorong pinggulnya hingga seluruh kejantanannya masuk ke dalam kewanitaan Cassie.


"Huh.." Cassie men-de-sah dengan napas terengah-engah "Rasanya... Sangat.. Enak.."


"Mmm.." Christov menggeram dan mulai bergerak dengan ritme yang santai. Dia menarik keluar setengah batang kejantanannya lalu mendorong masuk lagi dengan kuat. Keluar. Masuk. Begitu dan terus dalam ritme yang teratur.


"Argh.." dia me-nge-rang dengan suara tertahan dan menarik paha Cassie semakin lebar untuk memberinya akses lebih luas. Kewanitaan Cassie melingkupinya dalam kehangatan yang haqiqi.


"Huh.. Huh.. Ce-pat... Kumohon.."


Bibir Christov berpindah pada lengkungan leher Cassie dan gerakannya semakin cepat. Sangat cepat hingga membuat ranjang ikut bergeser sedikit demi sedikit dari posisinya. Kejantanannya berkedut semakin kencang, semakin memanjang, dan semakin mengembang seolah ingin meledakkan Didi di dalam tubuh Cassie.


"Christov.. Yeah.. Please... Ah.." Cassie memejamkan mata dengan satu tangan berpegangan pada pinggul Christov agar kejantanan pria itu tidak terlepas.


Christov mengangkat paha Cassie semakin lebar dan terus bergerak tanpa ampun. Bibirnya terlipat, urat-urat pada dahinya muncul dan keringat membanjiri tubuh Christov. Di sisi lain, dia merasakan tubuh Cassie mulai bergetar halus dan menegang hebat, pertanda puncaknya akan datang.


"Huh! Ah! AH! Oh.. Oh.. Christov," Cassie meraung semakin kencang. Pria itu memutar pinggulnya dalam gerakan lambat dan saat mendorong masuk sekali lagi dengan kekuatan penuh, Cassie akhirnya mendapatkan pelepasannya. Dia memekik kencang, kakinya menegang hebat, dan tubuh bagian atasnya bergetar menerima kenikmatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya.


Christov di sana, masih berusaha mendapatkan pelepasannya. Dia mendorong lagi. Satu. Dua. Tiga. Lima kali dan di dorongan ke enam, cairan yang sudah menumpuk pada pangkal kejantanannya menyembur masuk hingga tumpah pada lipatan di antara se-la-ka-ngan Cassie.


"Argh.." e-rang Christov dengan suara tertahan dengan kaki yang menegang hebat.


Cassie menarik diri, menjauh dari Christov agar kejantanan pria itu terlepas. Setelahnya, dia membaringkan tubuhnya ke arah langit-langit ruangan. Matanya menatap kosong ke atas dengan dada yang naik turun dengan cepat.


"Itu terasa nikmat.." bisiknya.


Christov mendekatkan diri pada Cassie lalu mengecup pundak wanita itu, "Boleh kita lakukan lagi?" pintanya.


Cassie memutar kepala ke arah kekasihnya tersebut dan tersenyum, "Biarkan aku mengumpulkan kembali tenagaku untuk beberapa saat..."


Christov tertawa, "Hm.. Aku merasa tak akan pernah puas akan dirimu, Cassie. Aku terus menginginkanmu. Terus dan menerus,. Seolah aku ingin melakukannya lagi dan lagi hanya denganmu saja..."


Cassie memiringkan tubuh ke arah pria tersebut lalu menempelkan satu tangannya pada Christov, "Aku juga... Aku juga, Christov..." bisiknya dan dengan gerakan cepat, Cassie sudah berada di atas perut Christov dalam posisi mengangkangi. Senyum miring menghiasi wajah Cassie dengan kedua tangan di taruh pada permukaan dada Christov.


"Siap dengan ronde kedua, Mr. O'Connel?"


Christov tertawa lagi, "I'm ready*, Miss De Angelis.."


(*Aku siap)


****


"Kenapa kau menolak Clara?" tanya Cassie pada Christov seraya melakukan gerakan melingkar pada dada pria itu.


"Membicarakan lawan jenis pada kekasihmu sehabis se-x adalah ilegal.."


Dia tertawa kecil dan semakin mendekatkan diri pada Christov, "Kau benar.. Itu ilegal, tapi aku penasaran.. Maksudku, saat aku melihatnya sendiri dalam acara televisi yang sudah berlalu itu memberiku penilaian bahwa Clara adalah sosok yang pintar, cerdas, dan cantik tentunya.."


"Kau juga adalah sosok yang pintar, cerdas, dan jauh lebih cantik darinya. Di tambah, kau punya sesuatu yang tidak Clara miliki.." jelas Christov seraya memutar-mutar ujung rambut Cassie pada jemarinya.


Wanita itu mengangkat kepala untuk melihat Christov yang juga tengah menatapinya, "Apa itu?" tanya dia.


"Memuji kekasihmu setelah se-x adalah ilegal juga.."


Christov terkekeh dan memiringkan tubuh agar dapat memeluk tubuh Cassie.


"Jadi? Aku harus apa? Menghinamu?"


"Uhm.. Boleh. Coba hina aku.."


"Aku tidak bakat menghina orang lain.."


"Sedih sekali hidupmu...."


"Kenapa sedih?"


"Ckckc.." Cassie berdecak lidah, "Apa kau tahu betapa menyenangkannya meng-gossip, Christov?"


"Jadi kau topik gossipmu dengan temanmu adalah hinaan pada orang lain, huh?"


"Uhm.. Bagaimana aku mengatakannya yah? Ada beberapa orang di muka bumi ini yang kadang pantas untuk dibicarakan.. Kau tahu? Semacam orang menyebalkan yang selalu angkuh.."


"Aku tak paham akan semacam itu.." bisik Christov seraya mengelus rambut Cassie.


"Itu karena kau tidak terlalu peduli pada sekitarmu.."


"Hm... Itu karena aku hanya peduli padamu.."


Cassie menarik kepalanya menjauh dari dada Christov, "Sudah kubilang memuji setelah se-x adalah ilegal..."


Pria itu menarik kepala kekasihnya kembali mendekat ke arahnya, "Memangnya kenapa itu ilegal?"


"Tidak ada alasan.." Cassie menguap di ujung kalimatnya.


"Itu karena kau memang tak suka dipuji, bukan?"


Cassie menguap lagi, "Mungkin.."


"Tidurlah.." bisik Christov dan mata Cassie perlahan terpejam.


"Aku ingin mendengarmu bernyanyi, Christov.." gumamnya pelan.


"Lagu apa yang harus kunyanyikan?"


"Apa saja.."


"A dream is a wish your heart makes...... When you're fast asleep... In dreams you will lose your heartaches.... Whatever you wish for, you keep..." Christov mulai menyanyi dengan suara pelan dan terus melanjutkan nyanyian tersebut hingga membuat Cassie masuk ke dalam dunia mimpi.


Have faith in your dreams and someday


Your rainbow will come smiling through


No matter how your heart is grieving


If you keep on believing


The dream that you wish will come true


****


Christov melihat ponselnya yang berada di atas meja kerja bergetar. Dia membalikkan ponsel sehingga posisi layar mengarah ke atas dan sesaat dia melihat nama penelpon yang menghubungi, wajah Christov berubah masam. Kenapa dia menghubungiku?! Teriaknya dalam hati.


"Aku akan menerima panggilan ini sebentar" ucap dia pada ketiga pekerja seraya berdiri dan berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Mengapa kau mengirim benda bo-doh seperti itu padaku, huh?" ucap Christov dengan nada tajam, tanpa repot-repot terlebih dahulu mengucapkan salam.


"Ah.. Jadi tebakanku benar. Terjadi sesuatu yah dengan kekasihmu?"


Dahi Christov berkerut semakin tebal. Dia tahu aku punya kekasih? Batinnya. Dari mana? Dia mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya.


"Kau adalah wanita berpendidikan, Clara. Mengapa kau mengirim cincin tunangan sialan itu? Apa kau sedang berhalusinasi, huh?"


Dari seberang, dia bisa mendengar suar tawa Clara yang terdengar menyebalkan.


"Halusinasi? Uhm.. Aku tidak menyangka seorang Christov bisa mengatakan hal sekasar ini.."


"Hentikan permainan ini dan barang sialanmu itu akan kubuang.."


"Jangan gila. Cincin itu kuberi seharga ribuan dollar. "


"Aku tak peduli!" suara Christov meninggi, kesal dengan kesantaian Clara yang menjengkelkan.


"Nanti siang, datang dan berikan cincin itu secara langsung padaku.."


"Huh.." Christov membuat napasnya dengan kasar, "Aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk memberikan benda sialan itu.."


"Aku berjanji, setelah kau memberikannya, keadaan akan berubah. aku tidak akan mengganggumu lagi..."


"Cincin itu akan kukirim melalui kurir.."


"Kalau begitu, akan kukirim kembali cincin itu lagi. Aku akan terus mengirimnya sebelum kau sendiri yang mengantarkannya padaku.."


Christov memejamkan mata dan tangan yang bebas memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat. Gila. Wanita ini gila dan keras kepala seperti Ibunya sendiri. Sabar, Christov.. Batinnya. Untuk menghadapi orang sial seperti haruslah sabar.


"Di mana?" tanya dia akhirnya dengan nada menyerah.


"Akan kukirim alamat dan waktunya melalui pesan. Tidak perlu protes dan cukup datang saja dengan cincin itu. Okay, Christov?"


"Terserah.." tanpa berbasa-basi lebih lama lagi, Christov menutup sambungan dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Huh.." dia mengembuskan napas lelahnya dengan keras. Matanya menatap langit-langit ruangannya dan bertanya-tanya mengapa ada orang seperti Clara di muka bumi ini? Dia pernah menanyakan itu pada Cassie dan dia mengatakan, 'Dunia akan membosankan tanpaa orang-orang yang menyebalkan'.


Tak berapa lama kemudian, ponselnya yang masih berada di genggamannya bergetar. Dia menyalakan layar ponsel dan melihat pesan singkat dari Clara.


-Datanglah ke Restoran W di 15th street. Aku akan ada urusan di sana pada pukul satu siang. Katakan saja meja atas nama Clara Murray. Tidak perlu banyak tanya Christov, datang saja.-


Dia mengambil posisi duduk dan memeriksa jam pada ponselnya. Tinggal 30 menit lagi. Pikirnya. Lalu, Christov memeriksa jarak lokasi tersebut dengan posisinya saat ini melalui aplikasi dalam ponselnya. Tidak jauh dan hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk sampai ke restoran tersebut jika seandainya tidak macet. Sayangnya.. Sayangnya kota ini selalu-lah macet.


Christov memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, meraih jaket kulit, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya. Saat dia keluar, ketiga pekerjanya menoleh ke arahnya dalam gerakan yang sama.


"Aku akan pergi sebentar," jelasnya seraya mengenakan jaket miliknya, "Kalian sudah boleh memulai makan siang sekarang.."


"Okay, Sir.." jawab mereka dan Christov mengangguk sekali sebelum akhirnya pergi dari gedung tersebut menuju mobilnya yang terparkir di lantai basement. Dia mulai berkendara menuju tempat yang Clara katakan dan seperti dugaannya, Christov sampai di tempat itu dalam waktu 25 menit. Setelah memarkirkan mobil, Christov membuka laci dasboard untuk mengambil paper bag milik Clara tersebut.


Dia sudah berjanji akan menyelesaikan semua kegilaan ini setelah aku memberikan cincin sialan ini. Batinnya saat memasuki restoran tersebut. Seorang pelayan yang bekerja di balik meja lobi kecil menyapanya dan menanyakan tujuan Christov.


"Saya ingin mencari meja atas nama Clara Murray.."


"Anda Tuan Christover O'Connel?"


"Yeah.."


Pelayan  tadi memanggil pelayan yang lain dan memerintahkannya untuk mengantar Christov.


"Meja 25," katanya pada pelayan yang lain dan dia mengangguk patuh.


"Mari, sir.." ajak pelayan pada Christov. Dia menurut dan mengikuti pelayan yang akan membawanya ke tujuan tersebut. Mereka berjalan melintasi beberapa meja, tempat beberapa orang tengah menikmati makanan mereka. Hal itu, membuat perhatian Christov teralihkan. Dia melihat menu-menu yang tersaji di atas meja dan membayangkan Cassie. Apa dia suka makanan dengan tema mewah seperti ini. Batinnya?


"Christov?"


Dia mengangkat kepalanya pada sumber suara yang memanggil namanya dan saat itu pula Christov melihat Clara yang berdiri, tersenyum, dan melambaikan tangan ke arahnya. Namun, hal yang membuatnya semakin terkejut adalah melihat kedua orangtua Clara ikut duduk di meja bersama Ibunya.


"Apa kau sudah bawa cincin kita?" tanya Clara dengan nada polos yang menyebalkan. Tubuhnya membeku sejenak dan dia benar-benar tak tahu harus bereaksi apa.


Kenapa? Kenapa mereka semua ada di sana? Tidak beres. Ini benar-benar tidak beres.


Astaga.. Apa-apaan semua ini?


***


Miss Foxxy


yuk ikutan giveaway