
Happy Reading
***
"Cassie!" pekik Bambi dengan suara girang sesaat melihat temannya itu bergabung dengan mereka di sebuah bar. Cassie tersenyum dan melakukan kecupan pipi pada ketiga temannya tersebut. Setelahnya, dia ikut duduk bergabung bersama ketiga temannya tersebut di sofa yang berbentuk melingkar.
"Aww.. My baby.. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau sehat-sehat saja 'kan?" kata Gerald seraya memeriksa tubuh Cassie, "Apa kau diet? Kau nampak kurus sekali.."
"Jika diet, wajahnya tak akan sesuram itu. Banyak pikiran, yah?" tebak Meghan dengan nada santai.
Cassie menegak beer yang ada di meja, "Ahhhh... Nikmat," ucapnya penuh kenikmatan setelah sekian lama tidak minum alkohol, "Aku banyak pikiran karena kekasihku.." lanjutnya seraya meminum sisa beer-nya hingga habis. Saking santainya, ketiga temannya tersebut membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna perkataan Cassie.
"Apa?!" teriak ketiga temannya secara bersamaan.
"Kekasih?"
"Kau punya kekasih? Sejak kapan?"
"Siapa? Siapa orangnya dan apa namanya?"
"Kenapa kau tidak memberitahu kami, huh?"
"Apa pekerjaannya? Berapa usianya?"
Cassie tertawa kecil dan menyandarkan tubuh ke sofa melihat antusiasme ketiga temannya yang menyerbu dia dengan berbagai pertanyaan. Namun, tawa itu berubah menjadi senyum kecut. Kedua matanya menatap kosong ke arah depan dan itu membuat Gerald, Bambi, dan Meghan terdiam. Ketiganya seolah tahu bahwa wanita itu tengah menghadapi masa sulit.
"Aku punya kekasih.." ucapnya dengan suara bergetar dan bayangan wajah tampan Christov terbayang lagi. Berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak secara berulang kali. Kekasihnya tersebut adalah pria yang memiliki senyum yang manis. Pria yang begitu baik hati dan juga sosok pria yang membuatnya berani lagi menjalin sebuah tali asmara.
"Di.. Dia.." suaranya semakin bergetar dan emosi di dalam dirinya semakin membuncah.
"Cassie.." panggil Gerald, "Apa kau baik-baik saja, darling?"
Cassie menggeleng. Dia benar-benar tidak baik-baik saja. Seluruh pertahannya hancur kerena pertanyaan sederhana itu. Pertahannya hancur hingga membuat air mata yang sudah ditahannya sejak beberapa hari ini belakangan ini tumpah begitu saja tanpa diundang.
"Aku tak baik-baik saja.." hisaknya seraya menggeleng kepala penuh putus asa lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, "Aku tak baik-baik saja.."
"Oh my baby.." bisik Bambi dan menarik tubuh Cassie dalam pelukannya.
"I'm not okay, guys*.." hisaknya terus, "Aku tak mampu menahannya lagi.. Tidak lagi.."
(*Aku tidak baik-baik saja, teman-teman)
"Aku tak tahu harus berbuat apa," bisik Meghan di telinga Bambi, dia benar-benar tidak terbiasa di dekat orang yang menangis karena Meghan tak tahu bagaimana harus menghibur seseorang yang menangis.
"Menangislah, Cassie..." kata Gerald dengan suara lembut seraya menepuk-nepuk punggung wanita tersebut dengan lembut.
"Di-dia sangat baik.. Sangat tampan.. Sangat jenius... Sangat... Sa-sangat..." hisak Cassie dengan suara terbata-bata, "Oh my.. Kenapa? Kenapa aku selalu merasa mencintai orang yang salah? kenapa Gerald? Kenapa?"
Dua meraung kencang akan betapa sesaknya yang dia rasakan saat ini. Begitu sakit hingga Cassie kehilangan kata-kata untuk menjelaskan keadaanya sekarang.
"Menangis-lah dan tumpahkan semua rasa yang menyesakkan dada itu, Cassie.." timpal Meghan.
"Yah.. Menangis-lah, Cassie.." bisik Bambi yang mengelus-elus punggung Cassie dalam pelukannya, "Kami bertiga akan tetap ada di sini menunggumu.."
"Kami tak akan pergi ke mana-mana, darling.."
Ketiganya mungkin tak tahu masalah seperti apa yang tengah dihadapi oleh Cassie, tapi mereka tahu bahwa sahabat baik mereka tersebut memberikan dukungan dan bukannya penghakiman.
"Christov.. I miss, Christov.. Aku merindukannya... Aku sangat merindukannya, Bambi.. Perasaan ini benar-benar akan membunuhku secara perlahan..." raung Cassie dengan suara kencang dan air matanya terus mengalir hingga membasahi seluruh wajahnya.
Kedua tangannya memeluk tubuh Bambi dengan erat dan membayangkan itu adalah tubuh Christov. Namun, itu tak sama. Benar-benar tak sama. Sekuat apa pun dia mencoba. Malam-malamnya yang dingin hanya dipenuhi kesunyian dan kerinduan akan Christov. Kerinduan yang membuatnya hancur.
Cassie berusaha melawan rasa rindunya yang teramat menyiksa itu dengan memakai kaos milik kekasihnya tersebut dan mendengar suara Christov melalui voice mail secara berulang-ulang hanya untuk membunuh rasa rindu, tapi itu malah hanya membawa rasa sakit yang semakin besar. Rasa sakit yang memberi goresan semakin dalam di hatinya.
Ingin dia berlari menuju pelukan Christov untuk membunuh kerinduan yang seolah membesar setiap detiknya, tapi tak bisa. Cassie tak bisa. Kakinya menolak melangkah pergi menghampiri pria itu. Menolak pergi karena rantai masa lalu tiba-tiba muncul dan kembali membelenggunya. Membelenggu dia dalam keraguan, ketidakpastian, kesedihan, dan ketidakberdayaan.
"Sakit.. Rasanya sangat sakit.. I miss him.. Aku merindukannya melebihi apa pun..."
***
"Apa?" tanya Miranda dengan suara terkesiap setelah mendengar seluruh cerita Cassie.
"Maka tak heran Mom merasa marga Christov serasa tak asing saat pertama kali mereka bertemu," kata Cassie dengan suara serak.
Sabtu malam kemarin, Cassie menangis sejadi-jadinya saat bersama ketiga temannya di bar. Dengan sedikit bantuan alkohol, Cassie bisa mengendalikan diri dan membuat dirinya mampu menceritakan semua hal yang terjadi padanya. Setelah selesai bercerita, Cassie kembali menangis dalam rasa mabuk yang memperdayainya. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya karena saat terbangun tadi, dia sudah berada di rumah Ibunya. Cassie menduga jika dia kehilangan kesadarannya saat di bar karena kelelahan dan ketiga temannya membawa dia kemari. Itu membuat Cassie merasa bersalah karena jarak rumah Ibunya dari pusat kota cukup jauh.
Pagi ini dia bangun dengan mata dan pipi bengkak. Perutnya mual sehingga membuat dia memuntahkan seluruh isi perutnya bersama dengan alkohol yang belum tercerna. Dia benar-benar kacau dan sangat mengerikan.
"Apa yang harus kulakukan, Mom? Apa yang harus kulakukan, Miranda?" tanya dia sedih seraya menatap kosong pada cangkir teh mint-nya yang masih tersisa setengah lagi
Barbara menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kerutan di wajahnya seolah bertambah dua kali lipat saat melihat ketiga teman Cassie mengantar puterinya tersebut dalam keadaan mengerikan. Tak pernah sekalipun Barbara melihat Cassie sekacau ini setelah masa traumatis itu berakhir.
Lalu sekarang, dia dikejutkan lagi dengan cerita Cassie. Barbara benar- benar terkejut mendengar latar belakang Christov yang ternyata adalah putera Teresa O'Connel, mangan pengajar yang ikut andil dalam masalah mental yang dihadapi oleh Cassie.
Barbara tidak tahu harus mengatakan apa pun. Rasanya tidak adil jika langsung menghakimi Christov atas kesalahan yang dilakukan oleh Ibunya. Namun, di sisi lain, sebuah hubungan akan terasa sulit dijalani jika satu pihak dari keluarga yang bersangkutan tidak menyetujui hubungan tersebut. Secara pribadi, Barbara tidak keberatan jika puterinya memilih melanjutkan hubungan dengan Christov karena secara harfiah, Christov tidak salah. Namun, bagaimana dengan Teresa O'Connel? Barbara sendiri tidak mau membayangkan jawaban atas pertanyaan itu karena dia belum mengetahui bagaimana perangai dari Ibu Christov sekarang. Apakah masih tetap sama seperti dulu atau masih tetap sama?
Barbara mengangkat satu tangannya dan menggenggam tangan kanan dingin Cassie yang berada di atas meja.
"Mom selalu menginginkan yang terbaik untukmu, Cassie.." ucapnya lembut, "Rasa amarah Ibu pada Ibu Christov masih tetap ada hingga saat ini, terutama dirimu. Mom pun bingung harus bereaksi seperti apa. Namun, hanya ada satu yang ingin Mom katakan, sebuah kesalahan di masa lalu tak seharusnya diturunkan pada orang lain.. Ibu tidak akan menghalangimu atas pilihan apa pun selama itu tidak menyakitimu, Nak. Walau sulit diterima, tapi kesalahan di masa lalu tak boleh membelenggu kita untuk melangkah ke masa depan..."
Cassie melipat bibirnya, merasa terharu mendengar perkataan Ibunya tersebut. Ingin dia menangis, tapi nampaknya seluruh air mata Cassie sudah habis terkuras.
"Aku akan bertemu dengannya besok.." ucapnya dengan suara parau, "Entah bagaimana aku akan menghadapinya dengan semua kebohongan dan masa lalu sialan ini.."
"Coba saja dulu.. Cara menghadapi sesuatu terkadang tak bisa ditemukan saat dipikirkan, malah caranya baru bisa didapat saat kejadian itu terjadi.. Aku sependapat dengan Mom.. Kau adalah wanita dewasa yang bijak, Cassie, bahkan aku berpikir kau jauh lebih bijaksana dariku. Aku akan mendukung apa pun pilihanmu, Cassie..."
Dia mengangkat kepalanya, menatap dua sosok manusia yang begitu berharga untuknya. Cassie tersenyum tipis, merasa bersyukur memiliki anggota keluarga yang selalu mendukungnya penuh. Tak pernah sekalipun keluarganya menentang pilihan Cassie selama itu tidak menyakiti diri atau orang lain. Bahkan pilihan ketika dia akhirnya keluar dari sekolah kedokteran. Beberapa orang menyayangkan dan menghakimi pilihan Cassie, tapi tidak dengan keluarga kecilnya tersebut. Mereka selalu mendukung dan selalu ada di sana di saat dia memerlukan pertolongan.
"Apa Mom berpikir aku bisa menghadapi ini?"
Barbara tersenyum, "Kau sudah menghadapi berbagai masalah yang puluhan kali lebih sulit dari ini, Cassie. Mom tahu kau pasti bisa melakukannya..."
"Percayalah pada dirimu sendiri, Cassie karena kau-lah yang paling mengetahui tentang perasaanmu dan bukan orang lain.."
****
"Apa lama lagi?" tanya Christov pada saudarinya melalui ponsel. Dari seberang, dia bisa mendengar suara deru mesin novel bersatu dengan suara klakson mobil.
Christov tersenyum dan kepalanya bergoyang-goyang kecil mengikuti irama lagu Cassie tentang dirinya. Entah sudah berapa kali dia mendengar lagu dengan judul 'Enchanted' tersebut. Huff.. Christov benar-benar tak sabar lagi untuk mendengar lagu lain yang dituliskan Cassie tentangnya.
"Sesuatu.." balasnya dan bertepatan dengan itu ponselnya bergetar lembut, menandakan ada panggilan lain yang masuk, "Aku punya panggilan masuk yang lain. Hubungi aku ketika kau sudah sampai. Okay?"
"Yeah..."
Tanpa berlama-lama lagi, Christov memutuskan sambungan dan menerima panggilan masuk tanpa memeriksa terlebih dahulu nomor masuk yang memanggilnya.
"Halo? Saya penjaga gedung apartemen. Apa ini unit apartemen 201?"
Senyumnya sedikit memudar saat mendengar suara asing di ponselnya. Ternyata bukan, Cassie.. Ucapnya dengan nada sendu.
"Yah. Ada yang bisa saya bantu?"
"Anda baru saja mendapatkan sebuah paket kiriman, Sir.."
Paket? Dari siapa?"
"Anda bisa mengambilnya di meja lobi.."
"Baiklah.. Thank you. Nanti akan saya ambil sendiri."
"Baik, Sir. Thank you.."
Christov menaruh ponsel di atas meja bar setelah sambungan terputus. Dia sudah melangkah pergi ke arah pintu keluar untuk mengambil paketnya, tapi bunyi TING keras dari oven membuat perhatiannya teralihkan. Dengan cepat, Christov berlari ke arah dapur untuk memeriksa masakannya tersebut.
Lasagna. Yah.. Dia memasak Lasagna dalam ukuran besar untuk makan siangnya bersama dengan Cassie. Yaps.. Kekasihnya tersebut akan datang tidak akan lama lagi. Wanita itu tidak menginformasikan secara jelas kapan dia akan datang, tapi dia menyakinkan Christov bahwa dia akan datang sebelum pukul tiga sore.
Sekarang sudah pukul dua siang dan Christov masih juga belum mendapatkan kabar apa pun dari Cassie. Dia ingin menghubunginya lagi, tapi Christov menahan diri dan memilih memercayai Cassie akan datang. Dia membaca jajak pendapat di internet bahwa menghadapi kekasih yang tiba-tiba diam adalah bersikap sabar dan membiarkan dia berbicara terlebih dahulu. Itulah yang Christov lakukan saat ini, membiarkan Cassie membicarakan apa yang salah terlebih dahulu
Dia juga memasak Lasagna karena sebelum kejadian bohong dan diamnya Cassie terjadi, wanita itu menyinggung tentang makanan ini. Kekasihnya tersebut rindu masakan khas Italia tersebut. Lalu, Christov juga akan mengundang Salmon dan Nugget.
"Dia suka Salmon dan Nugget.." bisiknya saat memindahkan Lasagna dari oven ke meja. Semoga.. Semoga dengan kehadiran Salmon dan Nugget serta makanan ini membuat keadaan di antara mereka membaik. ketika sudah membaik, Christov akan bertanya dan meminta wanita itu menceritakan apa yang terjadi. Pasti dia punya alasan kuat di balik kebohongan, Cassie dan Christov juga yakin dia tidak akan diputuskan oleh wanita itu. Christov tahu bahwa Cassie mencintainya walau dia merasa rasa cinta Cassie tidak sebesar rasa cintanya.
"Aku yakin kami akan baik-baik saja.." bisiknya seraya melepas sarung tangan oven dari kedua tangannya. Tepat saat dia menaruh kedua sarung tangan itu pada tempatnya, ponsel Christov berdering dan itu adalah dering khusus untuk Cassie. Dengan cepat dia menerima panggilan tanpa pikir panjang.
"Halo?" sapanya dengan suara sebiasa mungkin, dia tidak boleh menunjukkan rasa antusiasmenya pada wanita itu untuk sekarang. Nanti. Dia akan menunjukkannya nanti.
"Aku sudah sampai..." suara Cassie terdengar serak, tapi Christov tak mau bertanya lebih lanjut tentang itu sekarang. Dia bisa menanyakannya sendiri nanti secara langsung setelah kekasihnya itu datang.
Kekasihku.. Pikirnya senang. Kekasihku akan datang. Akhirnya, setelah seminggu yang begitu menyakitkan, Christov bisa melihat kekasihnya kembali untuk melepas rindu.
Christov tersenyum lebar dan dia harus menjauhkan ponsel dari telinga untuk menyerukan 'Yes' penuh kemenangan dengan suara kecil sebagai bentuk rasa bahagia kehadiran Cassie. Dia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya untuk berbicara kembali.
"Baguslah.. Di mana posisimu sekarang?"
"Di basement.."
Tiba-tiba, Christov teringat dengan paket miliknya tersebut yang masih ada di lobi.
"Cassie?" panggilnya.
"Yah?"
"Kau keberatan jika mengambil paketku yang ada di meja lobi? Aku akan menginformasikan pada penjaganya jika kau yang mengambilnya untukku..."
"Boleh. Aku akan mengambilkannya untukmu.."
"Thank you, Cassie.."
"Mmm.. Akan kututup sambungannya.."
"Jangan lama-lama. Aku punya kejutan untukmu, Cassie. Bye.."
Dan dengan itu, Christov memutuskan sambungan ponsel mereka dengan senyum merekah.
****
Kejutan? Pikir Cassie sesaat memutuskan sambungan. Kejutan apa? Dia memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya dan melangkah keluar dari lift menuju meja lobi. Cassie melihat seorang penjaga pria tengah duduk di balik meja.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?"
"Aku ingin mengambil paket atas nama Christover O'Connel.." entah mengapa, bibirnya tiba-tiba terasa kelu sesaat mengucapkan marga tersebut.
"Kamar 201?"
"Yah.."
Si penjaga tersenyum seraya memberikan sebuah paper bag hitam kecil, "Jadi anda kekasihnya?"
"Ah.. Yes. Thank you," kata dia dengan suara kaku setelah menerima paper bag tersebut. Dia melangkah pergi dari sana dan memutar posisi paper bag ke posisi lain yang tercetak dengan tulisan SWAROVSKI dan logo angsa.
"Swarovski?" jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Itu-kan sebuah brand perhiasan. Apa ini kejutan yang dimaksud oleh Christov? Apa pria itu membelinya perhiasan? Apa hal itu pula yang membuat Christov menyuruhnya mengambil sendiri paket ini?
Cassie menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Dia merasa aneh dan tidak tahu harus bereaksi apa tentang ini. Seandainya keadaan mereka baik-baik saja seperti biasa, Cassie pasti senang bukan main. Namun, sayangnya sekarang bukanlah waktu yang baik-baik saja.
Dia memeriksa isi paper bag dan menemukan sebuah amplop cream mewah dan kotak beludru hitam. Cincin. Pikir Cassie. Ini pasti cincin karena kotak sekecil ini dirancang untuk cincin. Namun, hal yang paling membuatnya penasaran adalah surat tersebut.
"Apa aku baca saja?" tanyanya pada diri sendiri. Cassie menghentikan langkah kakinya dan melihat sekitar seperti pencuri untuk memastikan dia sendirian di sana. Menurut Cassie, membuka hadiah sebelum waktunya adalah sebuah kejahatan. Menggigit bibir bawahnya, Cassie menarik keluar amplop tersebut dan membukanya. Dia menemukan secarik kertas di sana. Wanita itu membuka lipatannya dan mulai membaca isi surat tersebut dengan penuh keterkejutan. Surat itu begitu singkat, tapi bisa menimbulkan kehancuran.
Ini cincin pertunangan kita, Christov. Kuharap kau suka.
-Clara Murray-
"Apa?!" suara Cassie meninggi dan tangannya mencengkram kertas itu dengan kuat, "Apa-apaan ini?!"
****
Miss Foxxy
Suksesnya hubungan ini ada ditangan kalian berdua, Nugget dan Salmon. Jangan lupa ikutan giveaway yah. Jangan patah semangat liat jumlah poin orang lain karna setiap poin kamu untuk author benar-benar berharga loh.. I love you gaissss