
Happy Reading
****
"Dia tidak akan senang jika aku memberitahumu, Mr. Connel" kata Gerald untuk kesekian kalinya dengan nada jengkel.
"Panggil aku Christov saja dan please.. Beri tahu aku di mana keberadaan Cassie? Please..."
Gerald menggeleng ketika dia mengenakan mantelnya, "No, baby.. Aku harus menutup butikku sekarang. So, kau harus pergi dari tempat ini.."
Christov menarik napas panjang dan membuangnya dengan frustasi, "Please.. Kumohon, Gerald. Dia isteriku dan aku tidak tahu di mana keberadaannya. Besok adalah hari terakhir untuk tahun ini. Aku ingin melewatkan pergantian tahun dengan Cassie.."
"Oh, Christov..," Gerald menggeleng-gelengkan kecil kepalanya dan menatapnya sedih, "Aku tidak yakin kau bisa melewatkan pergantian tahun baru bersamanya, Christov.."
"Kenapa? Kenapa kau berkata seperti itu, huh? Apa isteriku tidak mau, huh?"
Gerald menutup mata lalu mengusap wajahnya dengan kasar, "Tolong berhenti memanggil Cassie isterimu. Apa kau pernah memanggilnya dengan sebutan Mrs. O'Connel sebelumnya, huh?"
"Aku pasti pernah, tapi aku melupakannya. Sekarang, bisakah kau beritahu aku di mana dia? Please. Gerald.."
"Kau tidak akan bisa, Christov karena dia sedang tidak berada di kota ini.."
"Apa? Apa maksudmu.."
"Dia ada di New York untuk urusan pekerjaan,"
Ekspresi wajahnya dengan cepat berubah, "Apa? Kenapa dia tidak memberitahuku? Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahuku," ucapnya dengan nada masam.
"Oh my.. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu saat kau tidak menerima panggilannya selama beberapa hari belakangan ini, Christov. Apa kau tidak tahu betapa kejamnya dirimu? Mengabaikan setiap panggilannya dan pesan yang Cassie kirimkan. Aku tidak pernah melihat keadaan Cassie yang seperti itu sebelumnya.. Tidak pernah."
Sekarang, Christov kehilangan kata-katanya sendiri.
"Aku.. Aku.." kata Christov terbata-bata.
"Sudahlah.. Kau tidak tahu jelas bagaimana penderitaan yang harus dia rasakan saat harus menunggu pria yang tidak memiliki kepastian sepertimu. Sekarang, keluar," kata Gerald seraya mengarahkan jari telunjuk kananya ke arah pintu.
"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya, Gerald. Kumohon.. Kumohon beritahu aku cara menghubunginya," pinta Christov dengan nada setengah putus asa dan Gerald yang berhati lemah tidak kuasa melihat wajah sedih dari Christov.
"Kau tahu? Kau sangat tampan dan kaya, tapi sayangnya menyedihkan. Aku masih bingung kenapa wanita se-spektakuler Cassie mau berkencan denganmu," gerutunya, "Aku akan mengirim nomor ponsel Cassie yang bisa kau hubungi. Sekarang, keluar.."
Christov menarik napas panjang, "Aku memang selalu menyedihkan. Thank you, Gerald.. Thank you so much.."
"Okay, babe.. Just go now*.."
(Sekarang pergilah)
Christov tersenyum tipis lalu melangkahkan kaki meninggalkan butik itu menuju mobilnya. Dia duduk di sana selama beberapa saat sembari menunggu pesan dari Gerald. Tidak berapa lama kemudian, satu pesan dari Gerald muncul di kolom pemberitahuan. Christov memeriksanya dan melihat rangkaian nomor ponsel pada kolom pesan.
"Apa Cassie membeli nomor ponsel baru hanya untuk menghindariku?" bisiknya dan tanpa keraguan menekan nomor itu untuk dipanggil. Saat panggilan pertama, sambungan tersebut ditolak dari seberang. Christov tidak menyerah dan mencoba untuk kedua kalinya dan tetap juga ditolak. Christov berspekulasi bahwa wanita itu tidak mau menerima panggilannya karena nomornya adalah nomor tidak dikenal. Dia mengubah strategi dengan cara mengirimi pesan singkat untuk Cassie.
--Cassie, ini aku Christov. Kumohon terima panggilanku.--
Setelah mengirimnya, Christov menunggu pesan itu terbaca oleh Cassie. Hingga sepuluh menit berlalu, pesan itu tidak kunjung di baca. Apa dia sibuk? Batinnya. Christov kembali menghubungi nomor itu dan lagi-lagi tidak tersambung. Lagi dan lagi hingga total panggilannya sudah mencapai delapan kali.
"Sial.. Apa dia mengenali nomorku dan memilih tidak menerimanya?" katanya dengan nada cemas dan kembali menghubungi nomor Cassie. Menunggu dan di dering ketiga, Christov terkejut bukan main karena panggilan itu akhirnya tersambung. Senyum senang merekah dan jantungnya berdegup kencang oleh perasaan gugup yang menggelitik dadanya.
"Ha..Halo--"
"Fvck! Siapa ini, huh? Berhenti memanggilku!"
****
"Aku butuh penerbanganku ke Los Angeles sekarang juga, Lina," geram Cassie dengan nada marah. Dia berjalan mondar-mandir di dalam hotelnya dengan perasaan cemas dan marah setelah melihat video musik Kim yang sudah ditonton lima belas juta kali dalam waktu empat jam. Itu bukanlah sebuah prestasi karena lagu itu berisi hujatan dan ujaran kebencian yang diarahkan pada Kim dan agensi perusahaan mereka.
"Saya sudah mencari penerbangan tercepat, Miss dan itu tersedia sekitar satu minggu lagi. Tidak ada penerbangan menuju Los Angeles karena badai salju yang akan melanda New York."
"Sial! Sial!" teriak Cassie ke arah ponsel, "Mereka sengaja mengirimkanku ke tempat ini! Bisa-bisanya mereka menyertakan namaku tanpa seizinku!"
"Mohon maafkan saya, Miss. Saya sudah berusaha menghubungi tim produksi untuk menghapus nama Anda, tapi mereka terus menunda. Sa-Saya akan mencari informasi penerbangan yang ada.."
Ponselnya kembali bergetar tanda ada panggilan masuk dan Cassie memilih mengabaikannya karena satu-satunya yang dia pikirkan saat ini adalah keributan dan masalah yang ditimbulkan oleh Laura.
"Fvck! Fvck!" dia mengumpat kencang dan memukul-mukul kepalanya, "Aku benar-benar bisa gila!"
"Saya akan mencari penerbangan atau perjalanan apa pun yang bisa membawa Anda pulang ke Los Angeles.."
"Carikan aku pengacara sesegera mungkin, Lina," geramnya dengan nada rendah, "Aku memiliki firasat buruk tentang ini.."
Ponselnya kembali bergetar dan itu membuat Cassie naik darah. Mengabaikan panggilan itu untuk kesekian kalinya, tapi sialnya panggilan itu terus datang. Terus-menerus seolah sengaja membuat darah Cassie semakin mendidih. Cassie memutuskan sambungan ponselnya dengan Lina dan detik sambungan terputus, panggilan itu muncul lagi. Tanpa berpikir lebih lama, Cassie segera menerima panggilan tersebut dan siap menumpahkan seluruh kemarahan dan kekesalannya.
"Fvck! Siapa ini, huh? Berhenti memanggilku!" teriak Cassie ke arah ponsel dengan sangat kencang, "Apa kau penguntit atau salah satu orang yang bersekongkol dengan Laura?! Beri tahu aku, be-de-bah!!"
"Cassie.. It's me.. It's me, Cassie... Ini aku.. Christov.."
Cassie terkesiap dan seluruh amarahnya seolah hilang begitu saja ketika mendengar suara takut-takut dari Christov.
"Si--Siapa?" tanya dia kembali untuk memastikan kembali bahwa suara itu adalah suara Christov.
"Christov.. Your husband.." jawab dia dari seberang dengan suara kalem yang lembut.
Cassie melipat bibirnya membentuk garis keras lalu mengambil posisi duduk di pinggiran rajang. Tangan kirinya memegangi ponsel di telinganya dan satunya lagi memegangi kepalanya yang terasa berat. Cassie memejamkan mata, menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.
"Cassie.. Kau okay?"
"Not really*," balasnya singkat, "Ada apa, Christov?"
(*Tidak juga)
"Kau nampaknya sedang marah. Ada yang salah, Cassie?"
"Masalah pekerjaan. Tidak perlu khawatir.."
"Aku mendengar kau di New York.."
"Yeah.. Ada pekerjaan mendadak. Maaf aku tidak memberitahumu.."
"Ah.. No.. No.. Aku yang salah karena mengabaikan semua panggilan dan pesanmu, Cassie. Namun, aku melakukannya karna aku benar-benar butuh waktu sendiri.."
Cassie menahan diri untuk tidak meledak dan memilih untuk bersabar. Entah kenapa, dia merasa kesal dengan jawaban pria itu.
"Lalu?" tanyanya dengan nada malas.
"Lalu? Apa maksudmu?"
"Lalu kenapa kau menghubungiku? Bukannya kau harusnya menikmati waktu sendirianmu? Aku sengaja mengganti ponselku agar aku tidak terus kepikiran denganmu.."
Cassie bisa mendengar tarikan napas panjang Christov dari seberang sebelum dia akhirnya kembali berbicara.
"Aku sudah selesai walau aku belum yakin dengan keinginanku sendiri tentang hubungan kita. Lalu--"
"Stop.."
"Aku bilang stop," Cassie mencengkram kuat ponselnya, "Aku sedang tidak ingin membicarakan itu sekarang, Christov terutama melalui ponsel seperti ini. Bisakah kita membiarkannya di lain waktu saja.."
"Aku tidak berencana mengatakannya sekarang. Aku ingin membicarakan tentang ini langsung denganmu.. Kau di New York, bukan? Aku akan mencari penerbangan malam ini juga agar kita bisa melewati pergantian tahun abru bersama.."
Cassie menggeleng dengan gerakan frustasi.
"Kau tidak akan bisa karena ada badai salju," jelas Cassie dengan nada letih. Rasanya, dia tidak sanggup lagi untuk marah pada pria itu.
"Aku akan mencarinya," kata Christov dengan nada optimis.
Cassie mengingat kembali kemarahan Christov padanya karena dia lebih memilih pekerjaan dibandingkan pria itu. Rasanya, tidak mungkin menyuruh Christov untuk tidak menghubunginya sementara dengan alasan masalah pekerjaan. Jika dia mengatakannya, itu hanya akan membaut hubungan keduanya semakin renggang.
Sebelumnya, Cassie benar-benar ingin Christov berada di sisinya. Dia ingin menghubungi pria itu untuk berbincang ria, tapi tidak setelah masalah pekerjaan yang menghantamnya. Cassie benar-benar tidak ingin berbicara dengan Christov atau siapa pun untuk saat ini kecuali para rekan kerjanya. Dia malah menginginkan waktu sendiri untuk memastikan masalah pekerjaannya selesai.
Dia tidak seperti dulu lagi yang bisa membedakan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Sekarang, Cassie benar-benar kacau. Dia tidak bisa menguasai emosinya sendiri. Dia tidak mampu lagi membedakan masalah pribadi dengan masalah pekerjaannya. Cassie mencampuradukkan keduanya dan membuat dirinya sendiri menjadi kacau. Bagian yang terburuk adalah saat kedua masalah itu muncul di waktu yang bersamaan. Seolah maslaah pribadi dan pekerjaannya bekerja sama agar muncul bersama lalu menghancurkan mental dan fisik Cassie secara perlahan.
"Christov," panggilnya dengan suara lirih.
"Yeah? Ada apa, Cassie.."
Bibirnya bergetar dan dadanya bergemuruh, "A--Aku.. Aku.." dada Cassie terasa sesak karena merasa tidak sanggup mengatakan permintaannya sendiri karena takut menyakiti Christov.
"What's wrong? *Kau okay, Cassie? Please, tell me**. Kau kenapa?"
(*Apa yang salah. **Kumohon beritahu aku)
Cassie memejamkan mata, "Aku pikir aku butuh waktu sendiri juga," ucapnya dengan nada sedih. Sesaat dia mengucapkannya, keheningan yang mencengkam terjadi di antara keduanya. Keheningan yang terdengar sangat keras. Begitu keras dan mencengkam.
"Christov? Apa kau masih di sana? Aku.. Aku benar-benar kacau saat ini. Masalah keluarga yang belum terselesaikan, masalah pekerjaan, lalu masalah ketika berdua muncul di waktu yang bersamaan, Christov. Aku benar-benar kewalahan dan ini benar-benar bisa membuatku kehilangan kewarasanku sendiri. Aku butuh waktu untuk hanya sebentar. Sebentar saja, Christov," pintanya dengan nada putus asa dan berharap pria itu mengerti dengan posisinya.
"Okay, Cassie.. Kau memberiku waktu untuk sendirian dan aku akan memberikannya juga untukmu, Cassie. Aku berharap kita bisa sesegera mungkin bertemu dan berbicara mata ke mata.."
Cassie mengembuskan napas leganya, "Aku akan berbicara denganmu lagi setelah aku kembali dari New York. Aku berjanji. Aku akan mengaktifkan ponsel lamaku sehingga kita tetap saling berkirim pesan. Okay?"
"Okay.. Aku berharap semua masalah kita bisa terselesaikan, Cassie. Jangan bekerja terlalu keras. Ingat untuk beristirahat dan makan makanan yang sehat. Satu lagi, jika ada yang berusaha menggodamu saat di sana, beritahu mereka jika kau sudah punya suami. Okay?"
"Okay, babe," ujar Cassie dengan senyum tipis, "Aku mencintaimu, Christov. Benar-benar mencintaimu.."
Keheningan terjadi lagi dan Cassie sudah tahu bahwa Christov belum siap mengucapkan hal yang sama untuknya. Dia tidak marah dan memaklumi hal tersebut. Tidak sepatutnya dia merasa marah dan menyalahkan Christov karena pria itu pun tersiksa karena ingatannya yang belum kembali.
"Okay, babe.. Aku akan menutup panggilannya. Good nig--"
"I love you, Cassie," potong Christov dnegan cepat, "Good night, my love..."
Cassie tidak mampu mengatakan apa pun karena dia terlampau terkejut mendengar ucapan cinta tersebut. Hatinya terasa hangat dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jantung Cassie berdegup kencang bukan karena amarah, tetapi karena cinta.
"Bye, Mrs. Connel.."
Cassie tertawa kecil mendengar panggilan barunya, "Ini kedua kalinya kau memanggilku seperti itu."
"Kalau begitu, jika kau suka aku akan memanggilmu seperti itu seterusnya.."
Cassie melipat bibirnya menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan berbaring miring dengan wajah konyol menghiasi wajahnya. Huh.. Betapa cepatnya perasaan Cassie berubah-ubah hanya dalam hitungan menit saat ketika bersama Christov.
"Aku lebih suka kau memanggil namaku," bisiknya pelan.
"Kenapa, Cassie?" balas Christov dengan nada rendah yang menggoda.
"Karena terdengar se-xi.."
"Aku berharap kau ada di sampingku saat ini. Aku merindukan mawarmu, Cassie"
Wajah Cassie memanas dan tanpa sadar dia merapatkan pahanya, "Later, baby.. Later*.."
(*Nanti sayang.. Nanti..)
****
Satu hari berlalu dan penonton musik video musik Kim sudah mencari 45 juta penonton dengan total pendengar di semua aplikasi streaming mencapai seratus juta, sedangkan komentar hujatan terus berdatangan tanpa henti. Cassie tidak bisa menghubungi Laura atau siapa pun yang ikut terlibat dalam proyek lagu itu. Dia sudah berusaha menghubungi petinggi untuk menarik video dan lagu itu dari seluruh aplikasi streaming karena komentar kebencian itu bisa mempengaruhi Kimberly dan reputasi perusahaan. Namun, mereka berkata Cassie terlalu bersikap berlebihan dan menolak menarik lagu itu dari internet karena jumlah pembelian dan pendengar lagu itu naik setiap detiknya.
Dau hari berlalu dan surat petisi untuk penarikan lagu Kimberly dari internet muncul. Cassie berusaha menghubungi Kimberly untuk bertanya kabar wanita itu secara langsung, tapi sayangnya, Kimberly tidak dapat dijangkau. Lina bahkan terpaksa pulang dari Canada dan pergi menuju Los Angeles pagi tadi karena masalah ini, sedangkan Cassie masih menunggu badai berlalu agar dia mendapatkan penerbangan pulang menuju Los Angeles.
Hari ketiga, tinggal seperempat suara lagi, petisi untuk penarikan lagu Kimberly dari internet akan terpenuhi. Lina sudah ada di Los Angeles dan berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin terkait masalah yang ada untuk Cassie. Namun sayangnya, tidak banyak informasi yang Lina dapatkan dan Laura si be-de-bah sialan itu tak kunjung bisa dihubungi.
Hari ke-empat, jumlah tanda tangan petisi itu akhirnya terpenuhi dan hanya menunggu waktu lima jam setelah jumlah suara petisi terpenuhi, video lagu Kimberly ditarik dari seluruh aplikasi streaming dan muncul larangan agar tidak memasang lagu itu di siaran televisi dan radio mana pun.
Hari ke-lima, Cassie mulai kehilangan arah dan akal sehatnya ketika melihat inisial namanya dan beberapa inisial nama rekan kerjanya yang lain muncul di berita acara. Banyak masyarakat menuntut perusahaan mereka ke Lembaga Perlindungan Anak karena mengeksploitasi anak dibawah umur secara se-xu-a-li-tas demi kepentingan pribadi.
Hari ke-enam, inisial nama Cassie dan orang yang bekerja di proyek perekaman lagu Laura sudah muncul di berbagai berita acara, platform berita, bahkan televisi. Keluarga, teman-temannya, bahkan Christov terus menghubungi nomor ponselnya dan Cassie tidak mau menerima satu panggilan pun. Dia mengubur dua ponsel itu ke dalam pot bunga dan membeli ponsel baru yang hanya boleh dihubungi oleh Lina.
Hari ke-tujuh, badai di New York terus berlangsung dan Cassie benar-benar tidak sadar jika tahun 2020 sudah berlalu. Tubuhnya lemah karena dia tidak kunjung mengonsumsi makanan apa pun. Pikirannya kosong karena inisial nama dan wajahnya yang diburamkan muncul di mana-mana. Internet benar-benar digemparkan oleh masalah ini dan hujatan demi hujatan masih terus berdatangan. Bayangannya mendekam di penjara terus menghantuinya setiap saat, terutama ketika gelap meliputi dunia.
Hari ke-delapan dan itu adalah puncak dari komedi dari permasalahan Cassie, Lembaga Perlindungan Anak menyetujui untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap kasus eksploitasi anak di bawah umur yang dilakukan terhadap Kimberly yang masih berusia 16 tahun.
Hari ke-sembilan dan untuk pertama kalinya setelah dua hari tidak memakan apa pun, Cassie memakan sup sapi yang terasa hambar di lidahnya. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk memakan sup tersebut. Sampai saat ini pula, dia belum mengaktifkan dua ponsel lamanya dan membiarkan keluarga, teman-temannya, dan Christov tanpa kabar apa pun.
Hari ke-sepuluh, badai berhenti dan pengacara Cassie mulai menghubungi dan membicarakan masalah yang Cassie hadapi. Berdiskusi selama berjam-jam melalui skype bersama Lina dan pengacaranya terkait pasal hukum apa yang akan menjerat Cassie. Melalui diskusi panjang itu, Cassie mengetahui bahwa sponsor yang membiayai proyek Laura tersebut ternyata milik keluarga Madison Clayton sehingga dia sadar bahwa apa yang dia curigai itu benar apa adanya. Sejak awal dia sudah merasa proyek yang dipegang Laura benar-benar mencurigakan.
Pada hari itu pula, dia mulai bersiap-siap untuk kembali pulang. Cassie memaksakan diri untuk memakan makanannya hingga habis. Lalu pergi bersantai di spa berlanjut ke salon dan terakhir berbelanja. Menghabiskan ribuan dollar untuk memanjakan dirinya sendiri dan berharap itu akan membuatnya lebih tenang, tapi nyata, tetap saja. Dia masih tetap Cassie yang letih, lelah, frustasi, dan ketakutan.
Hari ke-sebelas dan hari terakhirnya di New York, Cassie sudah berpakaian dan berpenampilan rapi, mewah, dan elegan. Wajahnya nampak sedikit tirus karena kehilangan beberapa pon berat badannya. Matanya menatap penampilannya sendiri di cermin. Nampak segar dan luar biasa, seolah-olah keadaannya baik-baik saja . Seolah-olah tidak ada hal yang terjadi selama beberapa hari ini. Namun, di dalam dirinya, Cassie saat ini benar-benar letih, hancur, kacau, dan kehilangan arah.
Pukul satu siang tepat, Cassie akhirnya sampai di Bandara Internasional LA. Mengenakan kaca mata hitam, dress mini hitam, mantel hitam, dan boots tinggi hitam, Cassie berjalan dengan penuh percaya diri di bandara menghampiri aparat kepolisian yang sudah menunggunya. Di sana juga sudah ada Lina dan Pengacaranya.
"Miss De Angelis?" tanya seorang pria berbadan tegap dan berkepala botak yang mengenakan setelan jas. Cassie langsung tahu dia adalah salah satu anggota dari Lembaga Perlindungan Anak.
Cassie berhenti di hadapan mereka lalu menaruh tas tangannya di atas koper. Dia menyibakkan rambutnya kemudian melepas kaca matanya untuk menatap enam orang yang sudah menunggu kedatangannya.
"Yes. It's me," katanya dengan nada penuh percaya diri.
"Anda tentu sudah tahu terkait surat penangkapan Anda sebagai salah satu saksi dari kasus Eksploitasi Remaja berinisial KM?"
"Yeah. I know,"
(*Yeah, aku tahu)
"Kalau begitu, kami akan membawa Anda ke gedung pemeriksaan bersama kami.."
Cassie tersenyum miring lalu mengarahkan kedua tangannya pada aparat kepolisian tadi.
"Yapss.. Silakan borgol tanganku, tuan-tuan dan yah.. Tolong hati-hati saat memasang borgolnya karena aku baru saja memanikur jemariku."
Lina, pengacaranya, dan aparat kepolisian yang ada di sana menatapnya terheran-heran. Semuanya kehilangan kata-kata melihat Cassie yang nampak baik-baik saja, padahal wanita itu ditangkap dan kemungkinan besar akan ditahan terkait kasus yang menimpanya.
"Jangan heran. Harga manikur kuku sangat mahal. Aku tahu aku menuju kantor polisi, tapi aku harus tetap berpenampilan luar biasa, tuan-tuan gagah-perkasa yang tampan."
****
Miss Foxxy