Remember Me

Remember Me
It's Start



Happy Reading


****


Christov menaruh kembali ponsel Cassie di atas meja nakas setelah mendengar percakapan kekasihnya tersebut bersama Clara dan Ibunya. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar tiga kali percakapan tersebut. Itu benar-benar percakapan yang sangat sengit. Namun, ada satu hal yang dapat Christov simpulkan bahwa Ibunya lebih jahat dari pada yang dia bayangkan.


Aneh, bukan? Yeah.. Christov merasa aneh karena mengatakan Ibunya sendiri sebagai orang jahat. Dia tahu bahwa di hati yang paling dalam, Christov menyimpan rasa cinta dan kasih sayang pada Ibunya tersebut. Namun, rasa kasih sayang dan cinta tersebut tersamarkan oleh rasa amarah.


"Kau sudah selesai?" bisik Cassie parau dengan mata yang tetap terpejam. Christov memindahkan tatapannya pada Cassie yang berbaring di sisinya.


"Belum tidur?" tanya dia seraya mengelus bahunya yang polos.


Cassie tersenyum tipis dan merapatkan wajahnya semakin dekat pada dada Christov.


"Aku terbangun karena mendengar itu..."


Christov mengecup pucuk kepalanya, "Sorry,"tangannya mulai mengelus punggung Cassie lalu berpindah pada tatto burung yang terletak di punggung kanan atas.


"Aku suka tatto-mu.." bisiknya.


"Kalau begitu buat tatto-mu sendiri.."


Christov tetap menggeleng walau Cassie tidak melihatnya, "Aku selalu rutin ikut donor darah. Jika aku buat tatto, aku tidak bisa mendonorkan darahku lagi..."


Cassie tiba-tiba membuka mata dan mengangkat kepala untuk menatap Christov, "Dam-n*.." umpatnya dengan nada penuh keheranan, "Aku tidak pernah berpikiran sampai sejauh itu.. Astaga.. Apa jangan-jangan kau adalah jelmaan malaikat, Christov?"


(*Semacam umpatan)


Christov terkekeh dan menarik kepala Cassie mendekat ke arah tubuhnya, "Tidak juga.."


"Huff... Aku tidak pernah memikirkan orang lain di hidupku. Mendengar perkataanmu tadi hanya membuatku semakin sadar bahwa kau sangat-sangat baik dan aku sangat egois.."


"Berhenti melakukan perbandingan tak masuk akal seperti itu..."


"Tapi aku mendengar jika orang bertatto tetap bisa mendonorkan darah kok.."


"Yah benar. Itu peraturan yang baru, tapi tetap saja, aku tidak ingin..."


Cassie melingkarkan satu tangannya pada tubuh Christov lalu mengelus punggungnya "Iyah.. Aku lebih suka melihat tubuh polosmu tanpa tatto.."


"Tubuh polos?"


"Yaps.. Polos, tanpa sehelai benang pun.." katanya dengan tawa jahat.


Christov terkekeh lagi, "Aku melihat mantan kekasihmu hari ini.." ujar dia ketika mengingat Jason, mantan kekasih Cassie. Christov tidak sengaja melihat Jason saat perjalanan pulang tadi.


"Tidak penting.."


"Boleh aku tahu apa pekerjaannya?"


"Dia punya banyak pekerjaan. Peselancar, penjaga pantai, seniman tatto, tindik, dan semacamnya.."


"Tatto?" suara Christov tiba-tiba meninggi. Dia memundurkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah Cassie.


"Seniman tatto?" ulang dia lagi seraya mengingat kembali letak tatto mawar Cassie.


Wanita itu berdecak lidah seolah sadar apa yang tengah Christov pikirkan.


Cassie mendekat diri lagi ke dada Christov, "Bukan dia yang melukis tatto-ku. Aku punya sepupu perempuan yang bekerja sebagai seniman tatto di New York. Dia yang membuat semua tatto-ku. Tenang saja..."


Christov menghembuskan napasnya dengan penuh kelegaan, "Aku hampir terserang stroke ringan.."


Cassie tertawa geli, "Karena kau berkata seperti itu, aku kembali mengingat Clara dan Ibunya.."


"Aku sedang tak ingin membicarakan mereka," dia melingkarkan tangannya pada tubuh Cassie, "Berapa lama kau menjalin hubungan dengan Jason?"


"Aku sedang tak ingin membicarakannya," ulang Cassie dengan nada yang sama seperti Christov gunakan.


Christov terkekeh saat menyadari nada bicara Cassie yang menirunya, "Tapi, aku penasaran. Beri tahu aku..." pintanya dengan nada memelas.


Cassie berdecak lidah lagi, "Sekitar satu tahun dua bulan.."


Christov mendadak cemberut mendengarnya, "Lama juga..."


"Yeah.. Aku membuang waktuku selama satu tahun lebih karena berpikir aku mengenalinya, tapi teryata tidak. Ckck.. Betapa sia-sianya aku menghabiskan waktu bersama seseorang yang pada akhirnya akan menjadi orang asing.."


"Aku tidak mau kita berada di tahap itu, Cassie," bisik Christov, "Tahap di mana kita menjadi orang asing. Errrr.. memikirkannya saja sudah membuatku takut.."


"Kau tahu, Christov?"


"Yah?"


"Kau tahu kenapa aku benci sebuah janji?"


"Kenapa?"


"Karena kita tidak bisa memastikan masa depan.. Itu alasanku tak suka mendengarmu mengucapkan sebuah janji.."


Christov mengeratkan pelukannya, "Kalau begitu, mari kita jalani masa sekarang dengan baik agar tidak ada penyesalan di masa depan, Cassie.. Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Benar-benar tak ingin.."


"Tapi, bagaimana jika pada akhirnya kita hanya akan menjadi orang asing saja, Christov?"


"Jangan berpikiran seperti itu karena itu tidak akan terjadi..."


"Kenapa kau sangat yakin begitu?"


"Jika hal itu terjadi, aku merasa jika kau-lah yang pertama akan menganggapku sebagai orang asing.."


"Mana mungkin. Lagian, kenapa kau berkata seperti itu?"


Mata Christov menatap ke arah depan. Menatap kamarnya yang terselimuti dengan cahaya temaram. Senyum tipis dengan sort mata sendu menghiasi wajahnya. Dia menghela napas dan mengembuskannya perlahan.


Karena aku jauh lebih mencintaimu, Cassie..


****


Cassie memasukkan jurnal yang berisi coretannya selama menulis lagu tentang Christov bersama satu Compact Disc (CD/kaset) yang tercetak pemandangan pertanian, tempat favorit Christov ke dalam kotak kayu yang pernah dia beli dari toko antik. CD tersebut berisi dua puluh lagu tentang Christov.


Matanya menatap kedua benda itu lalu menolah ke arah kalender lipat yang berada di atas meja kerjanya. Masih lama lagi. Pikirnya seraya melihat bulatan merah pada angka 15 Agustus, hari kelahiran Christov. Dia berencana memberikan dua puluh lagu yang sudah selesai ini pada Christov, tapi masih tersisah sekitar lima minggu lagi.


Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuannya dengan Theresa dan Clara, tapi sampai saat ini belum terjadi apa-apa. Hidupnya sepanjang minggu ini terasa tenang, bahkan terlampau tenang. Ini malah membuatnya khawatir.


Dia jarang bertemu Christov akhir-akhir ini karena pria itu sibuk melakukan perjalanan ke negara bagian untuk melakukan pekerjaan, sedangkan Cassie hanya menghabiskan waktunya bersantai-santai karena tidak punya proyek apa pun dalam waktu dekat.


"Aku merindukannya.." bisiknya pelan. Dia sudah berbicara dengan Christov saat makan siang tadi, tapi dia sudah kembali merindukan kekasihnya tersebut.


Cassie menarik napas panjang lalu menutup kotak tersebut dan menguncinya. Dia menyalakan ponsel lalu memainkan lagu pertama yang dia tulis tentang Chritov, 'Enchanted'. Saat di pertengahan lagu, seseorang mengetuk pintu dan dia menyuruh seseorang itu masuk.


(Enchanted\=Terpesona)


Lina, asistennya tersebut muncul dari balik pintu dengan sebuah amplop putih gading di tangannya. Senyum manis menghiasi wajah Lina.


"Lagu yang bagus, Miss," komentarnya saat berjalan masuk, "Apa ini lagu untuk proyek selanjutnya?"


Cassie menggeleng, "Bukan. Ini koleksi pribadi. Apa memang sebagus itu?"


Lina mengangguk, "Yah. Anda selalu menciptakan lagu yang luar biasa.. Di tambah, Anda sendiri yang menyanyikannya. Biasanya, Anda tidak pernah bernyanyi..."


"Well.." Cassie menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, "Itu karena lagu ini kutulis untuk seseorang.."


"Seseorang?" suara Lina naik satu oktaf, "Anda punya kekasih?"


Cassie tertawa kecil, "Semacam itu lah.."


"Anda menulis lagu tentang kekasih anda? Oh my.. Itu benar-benar romantis. Berapa banyak lagu?"


"Sekitar dua puluh..."


"No.. Kau cukup mendengar yang ini saja.."


Lina menunjukkan wajah cemberutnya dan Cassie tertawa kecil.


"Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Cassie terkait kedatangan Lina.


"Yes, Miss," dia memberikan amplop putih gading persegi yang cukup mewah, "Pengantar pos memberikan ini. pengirimnya dari Theresa O'Connel. Apa anda mengenalnya, Miss?"


Senyum Cassie perlahan memudar dan digantikan dengan ekspresi wajah kaku.


"Well.. Tidak juga," katanya dengan nada sesantai mungkin seraya menarik amplop tersebut mendekat ke arahnya, "Terimakasih, Lina.."


"Yes, Miss. Kalau begitu, saya permisi.."


"Okay.."


Sesaat pintu tertutup, Cassie mematikan pemutar musik di ponselnya lalu menatap undangan yang terbuat dari kertas tebal nan mewah tersebut.


Apa lagi kali ini? Pikirnya. Tanpa rasa curiga apa pun, Cassie membuka amplop persegi tersebut dan detik dia menarik lipatan kertas berukuran persegi dari dalam amplop, jantungnya seolah mendadak berhenti membaca tulisan yang tercetak tebal dengan tinta warna emas. Gambar dua cincin serta nama Christov dan Clara tercetak jelas di sana.


"What the f--*" bisiknya penuh kengerian ketika membuka lipatan tersebut dan membaca isinya. Sebuah undangan pertunangan. Yah! Sebuah undangan pertunangan dan Cassie tidak salah baca. Nama Christov dan Clara ada di sana berserta tempat dan waktu pelaksanaan.


(*Semacam umpatan)


"Fvck!" Cassie tidak bisa menahan dirinya untuk mengumpat dan tanpa pikir panjang meremas undangan itu menjadi bentuk bola kertas yang tak beraturan.


(Fvck\=umpatan)


"Fvck!" dia mengumpat lagi semakin kencang. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memerah hebat oleh amarah yang menumpuk dalam dirinya. Urat-urat kecil muncul di dahinya dan kedua tangannya terkepal kuat.


"Lelucon macam apa lagi ini?" bisiknya dengan nada penuh kemarahan, "Lelucon macam apa lagi yang tengah mereka lakukan?!"


Dia menyambar ponselnya dan segera menghubungi Christov, tapi sayangnya panggilan tersebut tersambung ke pesan suara. Dia mencoba menghubunginya sekali lagi, tapi tak kunjung bisa. Hal tersebut membuatnya frustasi dan semakin panik. Cassie akhirnya memilih mengirim pesan. Kembali dia membuka gulungan bola undangan tersebut dan mengambil gambarnya untuk dikirim pada CHristov.


-Apa kau tahu tentang ini?-


-Mereka menggila, Christov!-


-Aku tidak akan tinggal diam-


-Kumohon hubungi aku sesegera mungkin-


Cassie menaruh ponselnya kembali di atas meja dengan kasar. Kedua tangannya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Mendadak, ponselnya berdering dan Cassie segera menerima panggilan tersebut tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Dia sudah berharap akan mendengar nama Christov, tapi yang dia dengar adalah suara Miranda, saudaranya.


"Cassie? Kau sibuk?"


Dia berdecak lidah, "Ada apa? Aku sibuk.." jawabnya dengan nada kesal. Well.. Tidak seharusnya dia menumpahkan kemarahannya pada orang lain, tapi Cassie tidak bisa menahan dirinya.


"Gawat, Cassie.. Gawat.."


Sekarang, rasa tegang yang lain datang menghinggapi dirinya, "Ada apa?"


"Pulanglah ke apartemenmu saat ini juga karena Mom akan datang ke sana. Ini tentang Ibu Christov, dia mendatangi Mom hari ini di rumah kita..."


"Apa?!" suara Cassie meninggi dan dia segera berdiri dengan segala rasa panik.


"Aku sedang dalam perjalanan ke apartemenmu. Situasinya benar-benar gawat, Cassie..."


"Sial!" suaranya bergetar dan matanya nanar oleh rasa amarah yang membuatnya kebingungan, "Apa? Apa yang terjadi, Miranda?" bisiknya.


"I don't know, Cassie*.. Untuk sekarang, pulanglah.."


(*Aku tidak tahu, Cassie)


Sambungan panggilan terputus dan detik itu juga tubuh Cassie ambruk ke lantai. Bibirnya bergetar oleh emosi yang bercampur dalam dirinya. Matanya melotot lebar dan napasnya berderu dengan cepat.


"Mereka melakukan perang secara terbuka," bisiknya dengan penuh kemarahan, "Akan kuhancurkan mereka semua.. Semuanya..."


****


Cassie membuka pintu apartemennya dan melihat kedatangan Miranda beserta Barbara, Ibunya. Wajah masam Barbara yang tak pernah Cassie lihat sebelumnya sudah menjelaskan betapa peliknya masalah yang dihadapinya saat ini.


"Hai, Mom.." sapanya dengan suara kecil dan Barbara hanya melewatinya tanpa mengatakan apa pun. Saudaranya menatap dia dan menghela napas panjang sebelum akhirnya menepuk lembut pundak Cassie sebagai bentuk penyemangat.


Miranda dan Barbara duduk di kursi meja makan lalu menatapnya seolah tengah menuntut penjelasan. Cassie mendengus dan ikut duduk di hadapan Barbara. Ibunya tersebut menghela napas panjang seolah dia baru saja melewati hari yang sangat melelahkan. Bahkan Barbara tidak mau repot-repot untuk melihat Cassie. Ibunya tersebut seolah menghindari kontak mata dengan Cassie.


"Putuslah.." ucapnya dengan nada lemah. Cassie yang mendengarnya hanya bisa melipat bibir membentuk garis keras dengan kedua tangan terkepal kuat. Dia sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi.


"Aku tidak mau.."


Barbara berdecak lidah, pertanda kejengkelannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Cassie, "Beri aku alasan kenapa aku harus memutuskannya?"


"Ibunya.. Karena Ibunya.."


"Mom berkata tidak akan mempermasalahkannya. Mok berkata bahwa kesalahan orangtua tak boleh diwariskan pada anaknya yang tidak tahu apa-apa. Kenapa sekarang begini?" suara Cassie meninggi, tak bisa menutupi rasa kemarahannya sendiri. Dia merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri.


Lalu, Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang tersirat rasa sakit hati. Seluruh bulu Cassie meremang merasakan deja vu. Yah.. Dia merasakan deja vu. Tatapan Barbara saat ini mengingatkannya kembali dengan kejadian yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Saat Ibunya melihat Cassie terbaring tak berdaya di rumah sakit karena perundungan yang Cassie alami.


Tatapan itu.. Tatapan itu benar-benar menusuknya hingga ke ulu hati.


"Mom.." bisiknya dengan suara parau. Dia mendadak merasakan kesedihan teramat besar hanya melihat ekspresi kesedihan Ibunya.


"Mom... Apa yang terjadi?"


Barbara menggeleng, "Ibu Christov tidak pernah berubah, Cassie. Dia hanya tumbuh menjadi manusia yang semakin jahat," air mata yang sudah ditahannya sejak tadi akhirnya menetes dan mengaliri wajahnya. Miranda buru-buru melingkarkan tangannya pada Barbara untuk menghibur Ibunya tersebut.


"Mom.. Jangan menangis.."


"Aku tak bisa..." hisak Barbara, "Aku tidak sanggup menahannya lagi sejak dia datang dan menghina Cassie sebagai pe-la-cur.."


"Apa?" bisik Cassie penuh ketidakpercayaan, "Apa yang terjadi, Mom? Apa yang terjadi?"


Barbara menggeleng lagi dan menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak terisak semakin kencang. Lagi dan lagi, hati Cassie remuk melihat tangisan Ibunya tersebut. Wanita paruh baya tersebut tampak rapuh.


"*Mom.. Please.. Please, tell me.." pinta Cassie dengan nada frustasi.


(Ma, kumohon beri tahu aku..)


"Ibu Christov datang ke kediaman kita dan memberi semacam undangan pertunangan," ujar Miranda, menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Apa?!" suara Cassie meninggi. Dia benar-benar terkejut karena undangan itu ternyata dikirim juga pada Barbara.


"Lalu dia memberikan Mom uang agar--"


"Stop," potong Barbara, "Jangan.. Jangan katakan itu.." cegatnya.


Mata Cassie yang sebelumnya berkaca-kaca segera berganti ke tatapan tajam penuh kemarahan.


"Katakan, Miranda.. Katakan apa yang terjadi.."


Miranda melipat bibirnya dan memutuskan kontak mata dengan Barbara untuk menatap Cassie, "Si sialan itu memberikan uang pada Mom agar menyuruhmu meninggalkan Christov. Mom tak mau dan wanita tua sialan itu marah lalu menuduhmu sebagai pe-la-cur cacat yang memperdaya anaknya yang sempurna untuk tidak menikah dengan puteri konglomerat.." kata Miranda penuh kemarahan, "Itu belum semua, Cassie.. Dia mengatakan berbagai perkataan yang menyakitkan hati.."


Cassie memejamkan mata. Jantungnya berdetak cepat, kedua tangannya terkepal kuat, dan kepalanya terasa berat oleh pergantian emosi yang cepat.


"Si wanita tua sialan itu tidak akan pernah berhenti untuk menginjak-injak harga dirimu dan harga diri kita hingga kemauannya tercapai.." ujar Miranda penuh nada kebencian


"Aku takut jika kau bertahan lebih lama dengan Christov, kau akan kembali ke masa-masa di mana kau menjadi wanita rapuh yang terkekang oleh rantai trauma, Cassie. Aku dan Mom benar-benar tidak mau. Oleh karena itu putuslah, Cassie.. Kumohon.."


****


Miss Foxxy


Jangan lupa like,vote, love,koment, kasih poin dan koin kamu yah walau event udah siap. Jangan jadi pembaca gelap, sobat ๐Ÿ™ Dan yah, kita semakin dekat ke inti masalah. Siapkan dirimu dengan badai yg akan menghantam Cassie. I love you and see you ๐Ÿงก