Remember Me

Remember Me
Songs, Colours, and Box



Happy Reading


***


"C&C?" bisik Cassie pelan saat membaca nama file di layar laptopnya. Tangannya memindahkan panah kursor ke file itu dan secara mengejutkan kotak peringatan besar dan berwarna merah muncul di layar laptop.


NEED KEYS REQUIRED


(Dibutuhkan Sandi Masuk)


"Sandi?" matanya berpindah ke kotak kecil, tempat di mana dia harus memasukkan enam digit sandi dari file itu.


"F--" dia mengumpat kencang, "Sejak kapan aku membuat sandi bo-doh seperti ini?"


Cassie yakin bahwa sepuluh lagu itu ada di sini, tapi sayangnya tidak ada sedikit pun sesuatu yang terbersit dalam ingatannya tentang hal ini.


"Apa file ini benar-benar sangat rahasia sampai aku menyimpannya seperti ini?"


Tangannya hendak mengetik enam digit sandi, tapi diurungkan niatnya. Bagaimana jika salah? Batasnya percobaan memasukkan sandi ini hanya tiga kali dan jika semuanya salah, file ini tidak akan bisa terbuka lagi.


"Apa file seperti ini bisa ku diperbaiki ke tempat service?"


"C&C? Inisial nama? Kenapa aku membuat nama filenya C&C?"


Dia menghela napas. Rasa penasarannya tumbuh dengan cepat dan itu benar-benar menganggu Cassie. Menggelitik dadanya dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


"Mungkin aku menyimpan sandinya di suatu tempat..."


Mencari. Lagi-lagi dia harus melakukan hal sialan ini untuk kedua kalinya.


Cassie membuka laci meja dan mengambil note-book miliknya . Dia biasanya selalu menyimpan semua hal penting di dalam seni. Dia juga menulis lagu di dalam note book ini, sayangnya dia mempunyai empat note-book tebal dan terisi penuh.


"Harusnya tidak sulit.. Aku tinggal mencari tulisan terakhir selama enam bulan."


Harapan pupus saat melihat bahwa tidak ada catatannya selama enam bulan ini belakangan ini. Benar-benar tidak ada padahal Cassie berharap menemukan sesuatu di sana. Mungkin dia menulis lagunya di sini atau semacamnya, tapi sayangnya tidak ada. Malah, di hanya melihat catatan-catatan yang tidak penting.


Dia memeriksa setiap buku dan tetap tidak menemukan apa-apa. Rasa pening di kepalanya muncul dan semakin sakit seiring dia memikirkannya. Diangkat satu kakinya ke atas kursi, siku tangan kirinya di atas lutut, dan tangannya mulai memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Ayolah... Kumohon ingat sesuatu Cassie.."


Matanya menatap lurus ke arah dinding yang berwarna kuning pastel pucat nyaris seperti warna putih. Melihat dinding itu dengan tatapan penuh hayalan. Jika lampu LED pintar miliknya disetel ke cahaya kuning, dindingnya akan nampak bercahaya dalam warna lembut yang menenangkan. Cassie benar-benar suka warna-warna pastel lembut.


Tersadar dengan hayalannya, dia buru-buru menggeleng kepalanya, "Kenapa aku jadi memikirkan dinding ini?"


Kepalanya ditolehkan lagi ke arah layar laptop dan dengan kesal dia menutupnya dengan kasar.


"Lebih baik tidur dari pada memikirkan hal sialan itu,"


***


Christov duduk di ruang kerjanya dalam cahaya kuning yang temaram. Sebuah lampu LED putih ada di atas mejanya untuk membantu pencahayaannya saat bekerja. Ruangan itu didominasi perabot kayu coklat. Sepanjang kanan-kiri dinding ruangan terdapat rak buku kayu coklat yang memanjang dari bawah lantai hingga ke atas atap.


Rak-rak itu penuh dengan buku dan gulungan-gulungan kertas kerjanya. Di dalam ruangan itu terdapat berbagai hiasan berupa gramofon antik, maket-maket mobil jadul, lukisan bergaya ghotic dan romantisme, serta aliran musik Erik Satie-Gymnopedia bermain dari piringan hitam di gramofon memenuhi ruangan.


Entah sudah berapa lama dia menatapi kotak kayu seukuran buku yang memiliki ukiran unik di tutup serta badan kotak. Tangannya sedari tadi mengelusi ukiran di permukaan kotak untuk membantunya mengingat sesuatu tentang kotak itu. Sayangnya, dia tidak pernah ingat memiliki kotak kayu seperti ini.


Dielus dagunya dengan jemarinya dengan lembut. Rasa kesalnya karena tidak bisa mengingat sesuatu tentang kotak itu semakin besar saat mengetahui bawah kotak itu terkunci dengan gembok besi kecil antik yang kuat. Dia sudah mencari kunci itu ke segala sudut ruangan apartemennya, tapi tak kunjung mendapati kunci dari kotak ini.


Sebenarnya, ada sebuah skenario muncul dalam otaknya. Dia ingin merusak gembong atau kotak kayu itu untuk mengetahui isi dari kotak itu. Namun, sayangnya dia tidak mau melakukannya. Kotak antik itu terlalu bagus untuk di rusak hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.


Akan kupikirkan nanti saja. Tangannya mendorong kotak kayu itu ke pinggiran meja dan menarik iPad ke hadapannya. Saatnya bekerja. Tangan kirinya sudah memegang pen elektronik dan sudah bersiap untuk kerja, tapi tangan kanannya malah memberontak untuk membuka file proyek Dream House.


Hanya sebentar. janji Christov pada dirinya sendiri. Aku akan melihatnya sebentar.


Sayangnya, Christov menghabiskan 30 menit waktunya untuk melihat Dream House itu, mulai dari denah, bentuk, dan video animasinya. Untuk beberapa alasan, dia menyadari bawah beberapa ruangan memiliki gaya dan warna ruangan yang sangat berbanding balik dengan gaya dan seleranya.


Beberapa ruangan memiliki warna pastel lembut yang pastinya bukan selera Christov. Sementara beberapa ruangan lain memiliki warna kuat, gelap, dan kaku persis seperti seleranya. Dia menyisir rambutnya yang tebal dengan jemarinya.


Apakah Clara? Tebaknya, tapi dengan cepat Christov menepis pikiran itu.


Rasanya tidak mungkin. Christov berdebat kepada dirinya sendiri dalam pikirannya.


Jika tidak dia, siapa lagi kemungkinannya?


Christov menarik tubuhnya dari meja dan bersandar ke kursi hingga membuat kursinya sedikit bergoyang. Ujung matanya melirik ke arah kotak kayu dan tanpa ragu meraihnya. Dia mengarahkan kotak itu ke dekat telinganya dan mengoyang-goyangnya kotak itu hingga isi dari kotak itu terdengar. Suara dari dalam kotak tersebut cukup berat yang artinya benda di dalam sana bukanlah benda-benda kecil semacam perhiasan atau lainnya.


Apa sebenarnya isi kotak ini? Apa perlu Christov menyinggung hal ini pada Clara. Digelengkan kepalanya dan menaruh kotak itu lagi. Dia tidak suka dengan idenya itu. Jadi dia harus melakukan apa?


Kursinya yang memiliki roda itu diputarnya hingga berputar berulang kali. Biasanya dia selalu mendapat ide atau gagasan baru setiap melakukan ini, tapi sayangnya itu tidak bekerja kali ini walau sekeras apa pun Christov memutar-mutar kursi itu.


"Oh my.. Apa aku memiliki orang penting yang terlupakan?"



***


Miss Foxxy?


Yg mau tahu apa itu gramofon, lukisan romantisme boleh di internet ajah wkwkw. Jangan lupa dukung author. Sedikit demi sedikit, benang merahnya udah mulai tampak, tapi akan ada kejutan di chapter" berikutnya. Jadi bersabarlah hehe