
Happy Reading
***
Minggu, 3 Agustus 2021. 16.55
"Sialan.." aku menggeram kesal ketika akhirnya memarkirkan mobilku di tepi mobil Christov di lapangan rumput. Aku mengenakan sweater tipis hitamku dalam gerakan terburu-buru seraya turun dari mobil. Harusnya aku datang sekitar satu setengah jam yang lalu ke daerah pertanian ini, tapi kota Los Angeles dengan kemacetannya membuatku terjebak di jalanan.
Aku berlari kecil melewati tanaman alang-alang yang tumbuh semakin panjang sejak terakhir kalinya aku datang ke mari bersama Christov. Rasa khawatir memenuhi diriku karena sudah membuat Christov menunggu lama. Aku tidak bisa menghubunginya karena ponselku kehabisan daya. Matahari mulai tenggelam dan warna oranye lembut menghiasi angkasa. Huh.. Christov pasti sudah menunggu sangat lama.
Betisku yang tidak terlindungi apa pun tergores oleh pinggiran daun alang-alang yang tajam. Aku meringis kecil, tapi itu tidak membuat langkahku terhenti. Kakiku tetap berlari cepat hingga akhirnya mataku menatap pucuk pohon apel dan suara aliran sungai mulai terdengar. Saat melihat ujung dari lahan tanaman alang-alang, aku melompat keluar dari sana dan mendesah lega karena akhirnya bisa keluar dari tanaman alang-alang yang menyesakkan tersebut. Napasku terengah-engah dan keringat membanjiri punggungku. Aku memperbaiki posisi ujung gaun santai, sweater, dan rambutku yang tergerai acak-acakan.
"Cassie," aku menoleh ke arah sumber suara dan melihat Christov muncul dari balik pohon apel. Tanganku berhenti memperbaiki pakaianku saat melihat Christov dalam balutan setelan jas hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu. Rambutnya sekarang lebih pendek dan di sisir rapi ke arah belakang.
Aku menegakkan punggung dan menahan napas sejenak melihat Christov. Oh my.. Astaga. Aku tercengang melihat penampilan baru Christov. Dia nampak beda dan luar biasa. Well.. Christov selalu tampak luar biasa, tapi saat ini dia tengah mengenakan jas dan aku tidak pernah melihatnya dalam pakaian resmi seperti ini.
Kemeja, celana jenas, jaket, celana khaki, boots, dan sneakers adalah pakaian sehari-hari Christov. Melihatnya mengenakan setelan resmi seperti ini membuatku tercengang. Tanpa sadar, aku membuka sedikit mulutku dan menatapnya dengan tatapan penuh impian.
"Cassie.. Jangan menatapku begitu. Apa terlihat aneh?" tanya dia seraya memeriksa penampilannya sendiri, "Aku punya beberapa pasang setelan jas di apartemen, tapi tidak pernah mengenakannya. Terlihat aneh yah?"
Aku mengedipkan mata, menggeleng kepala kecil, dan kembali menutup mulut setelah kembali tersadar.
"Kau tampak luar biasa. Tidak aneh sedikit pun. Kau sangat tampan, Christov," pujiku dengan nada tulus.
Christov tertawa kecil, tampak tersipu dengan pujianku dan entah mengapa, itu membuat dadaku terasa hangat. Oh my.. Dia selalu bereaksi seperti ini setiap kali kupuji. Huh.. Bagaimana bisa aku memiliki kekasih semanis, sebaik, semenggemaskan, setampan, dan sesempurna Christov?
"Orang-orang sekitar pertanian ini mengiraku orang aneh karena memakai setelan jas ke ladang.."
Aku berjalan mendekat, "Tidak aneh. Siapa yang mengatakanmu aneh, huh?"
Christov tertawa lagi, tapi tawanya segera terhenti ketika melihat sesuatu di arah kakiku yang terbungkus dengan sepatu sneakers putih.
"Kakimu.." bisiknya
"Ada apa?" tanyaku seraya menggerak-gerakkan kakiku untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang menempel di kakiku. Kedua tanganku sedikit mengangkat gaunku ke atas agar lebih leluasa memeriksa kakiku
"Astaga, Cassie.." geramnya seraya buru-buru bersimpuh dengan satu kakinya di dekat kakiku, "Kenapa kakimu tergores seperti ini?" tanya dia dengan nada menuntut seraya tangannya sibuk mengusap goresan tipis yang diakibatkan oleh tumbuhan alang-alang di permukaan kulit betisku. Goresan tipis itu menimbulkan bercak kemerahan.
"Bukan masalah besar.. Itu bukan luka yang besar.. Toh, itu akan mengering nantinya..."
"Aku-kan sudah pernah menyuruhmu untuk tidak memakai celana pendek, rok, dan gaun ke tempat seperti ini. Lihat? Kakimu tergores seperti ini.."
Aku memegang bahu Christov, "Aku tak sempat mengganti pakaian saat datang ke sini. Ayo berdiri.. Luka goresan seperti itu bukanlah masalah besar.."
Christov menolak berdiri dan memilih menatapku dari bawah, "Kau tampak cantik dari bawah ini..."
Aku berkacak pinggang, mengangkat daguku ke atas, dan tersenyum bangga, "Tentu saja.. Aku selalu cantik dari sisi mana pun, Christov.." ujarku dengan nada penuh kebanggaan dan Christov tertawa kecil.
"Kau juga cantik luar dan dalam.."
Aku menoleh ke arahnya lagi, "Aku tidak bai--" mendadak aku menghentikan ucapanku ketika melihat Christov mengarahkan kotak beludru kecil berisi dua cincin ke arahku.
Oh my. Astaga.. Aku sudah mengantisipasi bahwa hal ini akan terjadi, tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan wajah penuh keterkejutanku. Bibirku bergetar oleh emosi yang membuncah dan mataku tiba-tiba terasa pedih.
"Aku bukan pria romantis, Cassie. Namun, bertemu denganmu pada malam itu adalah sebuah takdir, menjadi temanmu adalah sebuah pilihan, tapi jatuh cinta padamu adalah diluar kendaliku...." ucapnya dengan nada tenang yang lembut.
"Aku memiliki banyak kisah sepanjang hidupku, Cassie. Namun, kisah bersamamu adalah yang paling istimewa," suaranya bergetar dan aku tidak mampu lagi menahan air mataku yang sudah membendung di pelupuk mata. Dalam satu kedipan, air mata itu menetes dari kedua sisi wajahku dan menganak sungai di sana.. Sesaat kemudian, Christov meraih tangan kiriku dan menggenggamnya dengan lembut ujung jemariku.
"Christov.." bisikku penuh haru. Air mata itu terus membanjiri wajahku dan dia tersenyum hangat. Senyum yang begitu lembut, tulus, dan hangat.
"Saat aku bertemu denganmu, saat itu pula aku akhirnya menemukan bagian dari diriku yang hilang. Kau melengkapi diriku dan membuatku menjadi manusia yang lebih baik. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku, Cassie..."
"You make me cry, Christov*.." hisakku dengan nada menuduh. Tangan kananku yang beebas berusaha mengusap wajahku yang basah oleh air mata.
(*Kau membuatku menangis, Christov)
"Will you marry me*, Cassandra De Angelis?"
(*Maukah kau menikah denganku?)
Aku segera menjatuhkan kedua lututku ke tanah dan segera memeluk leher Christov dengan sangat erat lalu menangis dengan sangat kencang di sana
"Kenapa kau menangis?" tanya Christov seraya berusaha mendorong lembut tubuhku menjauh darinya, "Biarkan aku melihat wajahmu, sayang.."
"No!" teriakku dan semakin mempererat pelukanku padanya, "Kau membuatku menangis, sialan.." raungku.
"Aku berharap itu bukanlah tangis kesedihan dan lagi, kau belum menjawabku," ujarnya seraya mengelus lembut punggungku.
"Oh my.. Bukankah ini sudah jelas? Ini jelas tangis bahagia! Aku kau masih perlu mendengar jawabanku, sialan?"
Christov tertawa, "Yeah.. Yeah.. Aku ingin mendengarmu menteriakkan jawabanmu, Cassie.."
Aku menarik tubuh darinya dan menaruh kedua tanganku pada bahu Christov. Mataku yang sembab menatapnya yang tersenyum lebar.
"Oh my.. Kau tampak mengerikan setiap kali menangis," ucapnya seraya melap air mata dan lendir hidungku dengan ujung jasnya. Oh my.. Aku.. Aku benar-benar tidak menyangka dia yang akan menjadi takdirku.
"Aku mau dan ingin menikahimu, Christov.. Terimakasih.. Terimakasih sudah membuatku berani untuk mencintai lagi. Terimakasih sudah mau menjadi chef handalanku. Terimakasih sudah mau sabar akan sikap keras kepalaku. Terimakasih karena tidak pernah bosan dan muak padaku walau aku selalu mengumpat padamu. Thank you. Thank you for everything, my dearest Christov*.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu, sayang.."
(*Terimakasih untuk semuanya, Christovku yang tersayang)
Christov melap sudut mata kirinya, "Dan sekarang kau membuatku menangis juga," bisiknya seraya menarik kembali tangan kiriku lalu menyelipkan cincin putih berhiaskan berlian pada jari manisku.
"Dan cincin ini akan menjadi pengikat hubungan kita, Cassie.."
Ketika cincin itu sudah melingkar pada jari manisku, dengan inisiatif sendiri, aku meraih cincin lain dari bantalan kotak beludru dan memasangnya pada jari manis Christov.
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Christov. Jika itu terjadi, aku akan kehilangan teman terbaik, belahan jiwaku, senyumku, tawaku, dan semuanya. Aku akan kehilangan semuanya jika aku kehilangan dirimu. I love you.."
"I love you.."
Lalu, dia menarikku ke dalam pelukannya. Memelukku dalam dekapannya yang hangat saat hari perlahan menggelap dan mengirimkan hawa dingin. Namun, dalam dekapannya, aku merasakan kehangatan. Dalam pelukannya, duniaku terasa tenang dan aman seolah tidak ada satu pun yang dapat menyakitiku dan dalam pelukannya, aku menemukan rumah sejatiku.
Christov, my forever home...
****
Author POV
"Di mana kita akan melakukannya?" tanya Cassie pada suatu malam setelah mereka pulang dari pertanian. Kulitnya yang polos dan lengket berdempetan dengan kulit Christov. Tangan kirinya di angkat ke atas dan memerhatikan cincin yang dia kenakan dalam cahaya temaram. Berlian cincin tersebut tampak berkelap-kelip.
Tangan Christov yang melingkar di puncak Cassie mengelus lembut kulit wanita itu, "Aku sudah memikirkannya. Kupikir, lebih cepat kita melakukannya, lebih baik.."
"Di mana? Aku tidak masalah di mana pun tempatnya asalkan aku bersamamu," ujar Cassie seraya menarik tangannya kembali. Dia memiringkan tubuh agar menghadap Christov dan satu kakinya di selipkan di antara kaki Christov. Cassie mengelus dada pira itu, mengelusnya dalam gerakan melingkar lembut.
"Rhode Island.. Aku mengetahui seorang pemuka agama di sana. Ada sebuah gereja tua di dekat tebing lautan. Aku sudah pernah berkunjung ke sana dan aku benar-benar jatuh cinta.."
"Kalau begitu, mari kita pergi ke sana.. Aku akan pergi ke mana pun asal aku denganku, Christov.."
"Kau tidak keberatan jika kita melakukannya tanggal 15 Agustus, Cassie? Itu tepat di hari Sabtu. Kupikir ada baiknya mengambil waktu akhir pekan.."
Cassie mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Christov, "Tepat di hari ulang tahunmu, Christov," ucapnya dengan nada antusias.
"Well.. Begitulah," kata Christov seraya mengecup lembut pucuk hidung Cassie, "Aku mengambil waktu itu bukan karena itu hari ulang tahunku, tapi aku berpikir hanya itu waktu yang tepat.."
"Aku punya hadiah untukmu... Hadiah ulang-tahun,"
"Hmm.. Hadiah? Kau jarang memberiku hadiah.."
"Tidak masalah aku jarang memberimu hadiah, Christov karena yang terpenting adalah perasaanku padamu.."
"Jadi.. Di mana hadiahku, hm?"
"Aku akan memberikannya sebelum kita berangkat ke Rhode island.. Sebelum keberangkatan kita, aku juga akan mengurus gaun untukku, setelan jas untukmu, dan undangan.."
"Kita pakai undangan?" Christov memiringkan tubuhnya ke arah Cassie dan menumpukan kepalanya pada tangan kiri.
"Well.. Aku hanya mencetak beberapa lembar saja karena aku ingin mengundang ketiga sahabatku dan saudariku dengan resmi. Kau juga bisa melakukan hal yang sama pada Christina," pada ujung kalimatnya, Cassie menguap dengan membuka lebar mulutnya hingga rahang bawahnya bergetar. Christov tersenyum kecil dan segera menarik kepala Cassie ke arah dadanya.
"Tidurlah.." bisiknya lembut sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Hmm.. Aku sangat mengantuk. Good night, Christov.."
"Yeah.. Good night, my love.."
****
"Gerald?" panggil Cassie ketika memeriksa gaun yang tergantung pada butik Gerald.
"Yah?" jawab Gerald dengan nada acuh tak acuh seraya tetap serius dengan ponselnya.
"Seandainya aku meminta kau membuatku satu gaun mewah, apa kau bisa menyelesaikannya dalam waktu tiga hari?"
"Tentu saja.."
"Cassie... Untuk apa kau mengumpulkan kami di sini?" tanya Meghan dengan nada kesal.
Cassie memutar kepala dan menatap ketiga temannya yang duduk di sofa berwarna merah maroon. Wajah ketiganya tampak kelelahan setelah seharian bekerja.
"Ada sesuatu hal yang ingin aku beritahu dan aku berikan pada kalian. Tidak akan lama. Namun, kita harus menunggu saudariku terlebih dahulu.."
"Miranda? Kenapa? Kenapa kita harus menunggunya? Tumben sekali? Apa ini sesuatu hal yang penting? Ada apa?" tanya Bambi bertubi-tubi. Gerald dan Meghan mengangkat kepala untuk melihat Cassie, jelas penasaran kenapa mereka harus menunggu Miranda terlebih dahulu karena biasanya hanya mereka berempat saja.
"Ada apa?" tanya Gerald yang sudah menonaktifkan ponselnya, "Ada yang salah, Cassie? Tumben sekali mengumpulkan kami dengan Miranda.."
Dia tersenyum dan duduk di samping Gerald, "No.. Tidak ada yang salah. Aku tengah berbahagia dan aku ingin membagi kebahagiaan itu bersama kalian.."
"Kau nampak mencurigakan," ujar Meghan dengan mata menyipit dan Cassie membalasnya dengan kedipan mata nakal.
"Uhm.. Soal gaun itu. Apa kau benar-benar serius dapat membuatkannya untukku dalam waktu tiga hari?" bisik Cassie pada Gerald yang tengah menatapnya heran.
"Keu benar-benar terdengar mencurigakan, Cassie.."
"Oh jeez... Di mana, Cassie?" suara Miranda membuat ke-empatnya mengalihkan tatapan ke arah Miranda yang muncul dari balik baju yang bergantungan.
"Hai.." sapa Cassie setelah berdiri.
"Kenapa kau menyuruhku datang ke mari, huh?" tanyanya dengan nada marah dan melemparkan tas kerjanya ke atas sofa yang kosong
"Ada sesuatu yang ingin kuberitahu dan kuberikan untuk kalian... Duduklah terlebih dahulu, Miranda.."
Miranda memutar mata seraya berdecak lidah dengan kesal, "Jika sampai hal yang kau katakan tidak sepenting yang kupikirkan, kupastikan hidupmu tidak akan aman, Cassie," katanya dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Well, karena semua sudah berkumpul, aku akan menyampaikan alasan mengapa aku mengumpulkan kalian semua hari ini.." dia berdehem kecil, "Begini. Aku tahu kalian sangat mencintaiku, tapi setelah aku memberitahu kalian, kumohon jangan menghakimiku karena ini adalah pilihanku. Berjanjilah..."
"Argh.. Cepat katakan, sialan," geram Meghan yang nampaknya tidka sabaran lagi, "Kau membuatku mati penasaran.."
"Sabarlah, Meghan.." kata Bambi yang duduk di sampingnya seraya menepuk lembut punggung Meghan, "Kami berjanji, Cassie sayang.."
"Okay.. Janji.. Okay?"
"Cepat katakan, Cassie sebelum aku benar-benar marah.." geram Miranda.
"Okay.. Okay, guys.. Tidak bisakah kalian sedikit bersabar?" gerutu Cassie pelan lalu meraih tas tangannya yang berada di atas sofa, "Jika kalian menghakimiku, kupastikan merobek mulut kalian semua," ancamnya sembari sibuk merogoh sesuatu dari dalam tas. Tanpa keraguan, dia menaruh empat amplop berwarna biru gelap nyaris hitam berbentuk persegi di atas meja secara berjejer. Mereka tau jelas apa benda tersebut karena ke-empatnya segera menarik napas penuh ketidak-percayaan
"No way, Cassie!" teriak Miranda, "Jangan bercanda sialan!"
Cassie tersenyum, "Kalian sudah berjanji untuk tidak menghakimiku.." katanya dengan nada profesional, "Pegang kata-kata kalian, sialan.."
"Jadi ini alasanmu bertanya soal gaun pernikahan itu?" ujar Gerald dengan nada penuh ketidakpercayaan. Dia benar-benar syok melihat amplop biru gelap tersebut. Gambar dua buah cincin tercetak dalam warna silver metalik dan semakin menguatkan kerugian mereka akan isi undangan tersebut.
"Sial.." Miranda berdiri, "Kau gila yah?"
"Ini pilihanku, Miranda. My life, my choice, and my rule*.. Aku dan Christov memutuskan untuk menikah secara agama dan lagi---"
(Hidupku, pilihanku, dan aturanku*)
"Wait.. Kau bilang agama? Sejak kapan kau melakukan hal berbau agama, Cassie?" potong Meghan, "Jangan melakukan hal-hal tak penting karena sedang di mabuk cinta.."
"Ini penting.. Ini penting untukku dan Christov. Aku hanya mengundang kalian berempat sebagai sosok terdekatmu dan Christov juga akan mengundang saudarinya. Ketika keadaan sudah terkendali, kami akan umumkan pernikahan pada semua orang dan mendaftarkannya pernikahan kami secara sah ada lembaga hukum.."
"Jadi kau hendak melakukan drama sialan semacam kawin lari?" desis Miranda.
"Kau berjanji akan selalu mendukungku, Miranda. Aku bahagia dengannya. Aku.. Aku.. Oh my.. Bagaimana aku menjelaskannya?" ujar Cassie dengan nada frustasi seraya mengayunkan kedua tangannya, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Miranda. Namun, tidak bisakah kau mendukungku? Kumohon.. Please.. Aku yakin keadaan akan baik-baik saja.."
"Bagaimana jika keadaan tidak baik-baik saja dan malah bertambah buruk?" Miranda melangkah mendekat ke arah Cassie, "Apa yang akan kau lakukan, huh? Cassie yang kukenal akan selalu mempertimbangkan matang-matang pilihan hidupnya. Sekarang, aku tidak yakin apakah wanita yang berdiri di depanku saat ini adalah Cassie yang kukenal.."
Cassie menggigit daging di dalam mulutnya dan terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa pun. Dia tahu bahwa pilihan menikah diam-diam ini benar-benar berisiko dan sangat salah. Namun, Cassie tidak bisa menahan dirinya lagi. Yah.. Meghan benar bahwa dia tengah dimabuk cinta yang membuatnya tidak berpikiran jernih.
Terjadi keheningan dan kesunyian yang mencengkam di antara mereka, bahkan Cassie bisa mendengar suara detak jantungnya yang kencang. Jantungnya berdegup kuat seolah ini merobek dada Cassie dari dalam. Mereka berempat menatap Cassie dengan tatapan heran, penuh ketidakpercayaan, dan tatapan menghakimi.
"Apa kamu hamil, Cassie?" ucap Bambi pelan dan memecahkan keheningan ketika yang lainnya menarik napas penuh ketidakpercayaan.
"No way!" teriak Gerald dengan nada panik seraya bangkit dari duduknya, "Kau hamil?!"
"NO! Tentu saja tidak, sialan.. Aku tidak hamil," teriak Cassie seraya mengangkat ujung kaos yang dia kenakan dan memamerkan perutnya yang rata, "Bahkan aku masih punya otot perutku.. Sialan. Jangan membuatku seperti penjahat," dia kembali menurunkan ujung kaosnya.
"Sialan, Cassie.." Miranda menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Bersandar di sana dengan mata terpejam dan satu tangan memijat pelipisnya. Cassie segera bersimpuh di kaki Miranda dan menaruh dagunya pada paha Miranda.
"Please, Miranda. Aku tahu kau menyayangiku dan akan selalu mendukungku. Pernakah kau melihatku gagal dalam pilihanku? Aku tidak pernah gagal dalam hal apa pun dan kau tahu itu.."
"Masalah adalah Mommy dan Daddy. Mom pasti akan sangat marah dan kecewa.."
"Oleh karena itu kita harus merahasiakannya sampai pernikahan yang sebenarnya kami lakukan.. Miranda, look at me*.." pinta Cassie, "Please.."
(*Lihat aku)
Dengan ragu-ragu, Miranda membuka kelopak matanya dan menoleh ke arah Cassie. Mereka berdua saling bertatapan.
"Aku bukan lagi anak kecil yang kesulitan berbicara. Sekarang, aku adalah wanita dewasa mandiri yang kuat dan aku tahu tentang pilihan dan jalan hidupku, Miranda.. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku menginginkanmu hadir dan merestui pernikahan ini..."
"Oh my.. Kau benar-benar wanita gila yang keras kepala, Cassie.."
"Kita berdua adalah wanita gila yang keras kepala.."
"Bagaimana dengan Dad? Dia bahkan tidak tahu sedikit pun tentang semua ini.."
"Nanti... Aku akan memikirkan keluarga kita yang lain karena satu-satunya yang kuinginkan saat ini adalah restu dan kehadiranmu, Miranda.."
"Oh jeez.." Miranda menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan, "Kau tahu apa tekadku setelah menolongmu dari perundungan pada hari itu?"
Cassie menggeleng kecil dan Miranda tersenyum lembut. Tangan kanannya di angkat dan mengelus pucuk kepala Cassie dengan lembut.
"Aku akan menjagamu dan memastikanmu selalu bahagia karena kebahagiaanmu adalah kebahagianku juga.."
"Terimakasih sudah mau menjagaku dengan baik, sister.."
(Sister \= Kakak)
"Jika itu membuatmu bahagia, aku tidak akan menghalangimu, Cassie."
Cassie bangkit dari lantai dan segera memeluk Miranda dengan erat, "Thank you, sister.."
"Jangan berterimakasih padaku sebelum keadaan terkendali.."
"Aku berjanji semua akan terkendali," Cassie melepas pelukannya dan menatap ketiga temannya yang sejak tadi menonton mereka berdua dalam diam.
"Jadi? Apa drama persaudaraan kalian sudah selesai? Atau apa perlu aku membeli pop-corn sembari menunggu chapter drama terbaru kalian?" tanya Meghan dengan nada sakartis.
"Yapss. Sudah selesai.. Aku tahu kalian akan mendukungku.. Biru.. Dress code untuk pernikahanku adalah biru lembut dan sekarang, bisakah kau membuatku gaun terbagus dan termewah untukku, Gerald?"
"Apa kita tidak bisa ganti dress code nya warna pink terang?" tanya Bambi dengan nada polos.
Meghan menggeram, "Oh my.. Kenapa bisa aku berteman dengan orang sin-ting seperti kalian?" bisik Meghan seraya bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi, "Ternyata, apa yang dikatakan penyair itu benar.." dia menatap lekat bola mata biru Cassie.
"Apa yang mereka katakan, hmm?" tanya Cassie dengan nada santai.
"Kau akan kehilangan sedikit demi sedikit bagian dari dirimu demi mengejar kebahagiaanmu sendiri..
****
****
Miss Foxxy
Xixixi. Kira" gitulah Undangan nikahannya. Satu chapter lagi untuk mengetahui dibalik kecelakaan mereka dan satu chapter lagi untuk permasalah yang lain.