Remember Me

Remember Me
First Life



Happy Reading


****


"Surprise!"


Beberapa staf, rekan kerja, dan asisten Cassie yang bersembunyi di balik pintu ruangan kerja Cassie mengejutkannya dengan confetti dan terompet.


"Oh my!" Cassie berteriak terkejut dan saat menyadari bahwa itu adalah pesta kejutan untuknya, dia tertawa riang setelah sekian lama cuti.


(Oh my & Oh Jeez adalah ungkapan terkejut atau semacamnya)


"Oh jeez!!" Cassie tertawa dengan tangan kanannya berada di dada, seolah memastikan jantungnya masih tetap ada di sana.


"Welcome back, Miss Cassandra De Angelis!" Lina, asisten Cassie mengalungkannya sebuah kalung bunga dengan tarian ala-ala bersama yang lain. Itu membaut Cassie tertawa semakin kencang.


"Kalian membuatku malu, guys," walaupun begitu, Cassie tetap menerima kalung bunga itu agar tergantung di lehernya dan memakainya dengan rasa bangga. Rekan kerjanya yang lain memberi dia botol champagne dan buket bunga besar. Secara bergantian, mereka melakukan 'cipika-cipiki' kepada Cassie.


"Welcome back, Miss Universe," kata yang satu dan Cassie terkekeh kecil mendengar embel-embel Universe (Semesta).


"Selamat datang kembali, artis perusahaan kami yang sesungguhnya.."


"Jangan berlebihan," balas Cassie dengan nada canda.


Pesta kecil-kecilan itu berjalan singkat, tapi penuh kebahagian. Cassie menikmatinya dan merasa bersyukur dengan rekan kerjanya yang begitu ramah. Setelah berlalu, staf dan rekan kerja Cassie pamit pergi dari sana untuk kembali bekerja sehingga meninggalkan Lina dan Cassie sendirian.


"Welcome back, Miss.."


"Thank you, Lina.." dia berjalan ke meja kerjanya dan menaruh tas, buket bunga serta botol champagne tadi di atas meja. Diputar kursinya dan melihat ada dua karangan bunga besar di sana dengan tulisan 'WELCOME BACK' dan tiga buket bunga dalam bentuk keranjang.


"Wow..." bisik Cassie, bahkan saat ulang tahun dia tidak pernah menerima bunga sebanyak ini.


"Karangan bunga ini dari Direktur dan satu lagi dari wakil direktur," jelas Lina, wanita berdarah Asia, dengan senyum sumringah.


"Direktur? Wakil Direktur?" kata Cassie dengan nada penuh ketidakpercayaan.


"Ketiga keranjang buket bunga ini dari artis yang anda tangani selama enam bulan belakang ini.."


"Benarkah?" sejujurnya, Cassie tidak ingat siapa yang dimaksud Lina.


Lina yang sadar dengan raut wajah Cassie segera paham, "Jay Z, Mels Foy, dan May Purple."


Cassie tersenyum hangat mendengar penjelasan Lina, "Apa kau memberitahu orang lain tentang..?" ditunjuk jemarinya ke arah kepala dan Lina segera paham maksud boss-nya tersebut.


"No.. Aku menjaganya dengan baik, Miss..."


"Thank you, Lina." Cassie memutar kursinya ke arah meja dan Lina bergeser untuk berdiri dihadapannya, "Sejauh apa pekerjaanku yang tertinggal selama dua bulan belakangan ini?"


"Tidak ada, Miss. May Purple adalah proyek terakhir anda dan sudah selesai tepat sebelum anda mengalami kemalangan itu, Miss..."


Wow.. Bukankah itu terdengar seperti keberuntungan? Padahal dia berpikir bahwa dia meninggalkan banyak proyek sejak dia kecelakaan, tapi nyatanya tidak.


"Well.. Bagus sekali,"


"Namun, Wakil Direktur ingin anda menangani album untuk seorang model wanita."


Cassie mengangguk, "Pantas dia memberiku karangan bunga besar.."


Lina Tertawa kecil.


"Bisa kau berikan riwayat hidup model itu?"


Lina berjalan ke luar ruangan dan mengambil berkas berkas tentang Foy, wanita yang akan mereka debutkan. Dia kembali ke ruangan dan memberikannya pada Cassie.


"Dia awalnya seorang penyanyi di platform online kemudian bergabung menjadi model pakaian,"


Cassie mengangguk kecil melihat riwayat hidup Foy White. Cantik, berkulit eksotis, dan tinggi. Wajahnya begitu khas dengan model-model Victoria Secret. Pantas dia menjadi seorang model.


"Apa perusahaan kita yang memintanya bergabung?"


"Yes, Miss..."


"Aku akan mendengar musiknya dulu,"


Lina menyambungkan ponselnya ke speaker dalam ruangan itu untuk memainkan lagu Foy. Cassie mendengarnya dalam diam. Warna suaranya tidak membuat Cassie terpesona karena jenis suara seperti ini sudah banyak di pasaran.


"Mainkan genre pop yang tidak melow,"


Lina memindahkan ke lagu lain dan Cassie mendengarnya. Mata Lina melirik ke arah kaki Cassie, berharap melihat gerakan kaki Cassie yang mengikuti irama musik. Namun, sayangnya dia tidak melihat itu. Well, dari sini Lina bisa tarik kesimpulan bahwa Cassie tidak terkesima dengan suara Foy padahal dia berpikir suara Foy cukup bagus.


"Stop," Lina menghentikan lagu Foy saat dimintai Cassie.


"Dia juga mengirim beberapa naskah lagu ciptaannya sendiri," kata Lina cepat dan berharap ini bisa jadi pertimbangan bagi boss-nya.


Cassie mengangkat kepalanya, tertarik dengan apa yang dikatakan Lina. Itu tentu membuat Lina senang.


"Benarkah?"


"Saya akan mengirim filenya ke email anda, " Lina membuka tablet kerjanya dan mengirim 10 file ke email Cassie.


"Sepuluh lagu?" ada nada terkesan pada Cassie, "Mari kita dengar isi lagunya."


"Apa anda ingin teh, Miss?"


Cassie tersenyum, "Tentu. Teh paper mint yang biasa.."


"Yes, Miss. Bagaimana dengan kalung bunga Anda? Apa perlu saya pindahkan?"


Cassie menatap kalung bunga itu, "Aku ingin memakainya sebentar lagi.."


"Okay, Miss.."


***


Cassie mulai mendengar lagu yang dibuat oleh Foy White dan mengulangi itu untuk kesekian kalinya, tapi ada beberapa lirik lagu yang terlalu klise, sedikit dipaksakan, terlalu terbuka, dan ada lagu yang benar-benar tidak hidup. Dari sini, Cassie bisa memahami bahwa Foy adalah seorang petualang cinta, terlihat dari seluruh lagu yang dia tulis bertema cinta yang menggebu-gebu dan patah hati.


Cassie pun sering menulis lagu seputaran ini, tapi menulisnya dari sisi kelam. Dia jarang bahkan tidak pernah menulis lagu bertema keindahan cinta. Baginya, tema seperti itu terlalu klise dan tidak masuk akal. Namun, bukan berarti Cassie tidak menyukai lagu bertemakan seperti itu. Dia hanya tidak bisa menulis lagu semacam itu.


Cassie berpikir bahwa bekerja dengan Foy mungkin akan cukup sulit karena perbedaan cara berpikir dan sudut pandang keduanya pada tema lagu seperti ini. Dari sepuluh lagu, hanya ada tiga yang dapat diterima akal sehat dan hati Cassie. Secara umum, itu adalah jumlah yang cukup banyak.


Telepon pesawat yang berada di meja kerjanya berdering dan dia menerima panggilan itu.


"Dengan Cassandra De Angelis,"


"Miss, It's Lina."


Cassie melepas earphone dan menaruh kertas kerjanya.


"Yah?"


"Saya ingin memberi kiriman dari saudari Anda,"


"Miranda?" tanya Cassie dengan nada keheranan.


"Yes, Miss.."


"Masuklah ke ruanganku,"


Sambungan telepon di putus dan tidak lama kemudian Lina muncul dengan paper bag besar.


"Di mana Miranda?"


"Makanan ini diberi oleh penjaga jadi nampaknya beliau pergi setelah memberikan ini," Lina menaruh paper bag itu dan Cassie bisa mencium wangi kuat makanan dari dalam sana.


"Tumben sekali dia melakukan ini," Cassie mengintip ke dalam lalu mengeluarkan makanannya ke atas meja.


"Kalau begitu, saya permisi, Miss.."


"Wait.. Mari kita makan bersama,"


Line tersenyum lebar, "Bolehkah?"


"Tentu saja.. Duduklah. Makanan yang dibawa cukup banyak."


"Saya akan mengambil air minum,"


Lina membawa nampan yang di atasnya terdapat dua gelas dan satu teko keramik. Disajikannya air itu untuk keduanya sebelum akhirnya duduk dihadapan Cassie.


"Selamat makan."


"Selamat makan, Miss..."


Keduanya menikmati makanan yang di bawa oleh Miranda, berupa salad, daging ayam panggang, kentang tumbuk dengan kacang polong, dan potongan buah. Cassie yakin bahwa Miranda-lah yang memasak ini.


"Apakah ada lagu Foy yang anda sukai, Miss?"


Cassie menelan kacang polongnya dan mengangguk kecil.


"Hanya tiga,"


"Bagaimana dengan tujuh lagu lainnya?"


"Kau sudah mendengar lagunya, bukan?"


Lina mengangguk.


"Temanya hanya seputaran keindahan cinta dan patah hati.. Terlalu klise dan dipaksakan.."


Lina tahu bahwa boss-nya tidak pernah menulis lagu seputaran keindahan cinta.


"Padahal anda baru-baru ini menulis lagu tentang kisah cinta dan itu terdengar bagus, Miss."


Tangan Cassie yang memegang garpu berhenti dan menatap Lina, "Baru-baru ini?"


"Yah. Mungkin sekitar tiga bulan lalu," Lina mengangguk, "Anda menulis sekitar 20 puluh lagu, tapi sayangnya Miss hanya membiarkan saya mendengar dua lagu."


"Dua puluh lagu?! Kau terdengar melebih-lebihkan.."


Lina menggeleng, "No, Miss.. Saya serius. Aku masih ingat anda menunjukkan filenya padaku."


"Kau tahu di mana aku menyimpan file itu?"


"Seingat saya, Anda mengatakan bahwa anda tidak menyimpannya di email perusahan, tapi di penyimpanan rahasia agar tidak ditemukan orang lain..." Lina menatap ke atas atap, mengingat-ingat percakapannya dengan Cassie tiga bulan lalu.


"Penyimpanan rahasia? Apa aku memberitahumu sumber inspirasi lagu itu?"


Lina melihat kembali ke arah Cassie, "Miss tidak memberitahunya padaku. Anda mengatakannya sebagai rahasia.."


Cassie menulis 20 lagu tentang kisah cinta. Sekali lagi, 20 lagu?!!


"Mungkin anda menyimpan filenya di rumah atau di suatu tempat.."


Cassie mengangguk seraya menyendokkan potongan daging ke mulutnya. Dia memaksa kepalanya bekerja, mencoba mengingat kembali. Sayangnya tidak ada sedikit pun yang terlintas dalam benaknya. Namun, hal itu tak lantas membuatnya kebingungan. Dia yakin bahwa dia menyimpannya di suatu tempat di apartemennya.


"Kau benar, Lina Ling. Aku pasti menyimpannya di suatu tempat,"


****


Miss Foxxy