Remember Me

Remember Me
Die For You



Happy Reading


****


"Aku pasti sudah gila," gumam Christov pelan saat menyadari bahwa dia membawa dirinya ke jalan lalu lintas tempat dia dan Cassie kecelakaan. Christov menggeleng kecil dan merasa bo-doh dengan apa yang dia lakukan. Seharusnya dia berada di pengadilan dan bukannya di tempat ini.


"Gila.. Gila," bisiknya dengan nada penuh ketidakpercayaan seraya kembali menyalakan mesin mobil dengan gerakan panik. Dia takut jika berlama-lama di tempat ini akan membuat Christov kehilangan akal sehatnya sendiri. Namun, tangannya malah mendadak berhenti saat kembali mengingat pembicaraannya dengan Cassie di hari pertengkaran Cassie dengan Clara.


"Kau akan membenciku, bukan? Terutama di keadaanmu sekarang.."


"Karena Christov yang lama mengenalku dengan baik. Dia tahu semua rasa sakit yang kurasakan. Dia tahu semua ceritaku. Dia tahu semua tentangku.."


Dua kalimat di atas terus menghantuinya. Terus terngiang di kepala seolah enggan meninggalkan pikirannya dan tanpa disadari, Christov membentuk jarak antara Cassie. Jarak yang dibangun dengan dinding tak kasat mata. Terkadang dia berusaha menghancurkan dinding tak kasar mata itu, tapi tetap tidak bisa. Malah, Christov merasa dia membangun dinding yang lebih tebal setiap kali dia berusaha menghancurkannya.


Kalimat yang Cassie katakan tersebut benar-benar menyakiti perasaannya hingga ke ulu hati seolah-olah Christov bukan lagi orang yang sama. Seolah-olah Cassie menganggap Christov adalah pribadi lain yang tak Cassie kenal, padahal dia tetaplah orang yang sama walau ingatan tentang kenangan mereka hilang.


Cassie juga menyadari jarak yang dia buat dan berulang kali bertanya padanya, tapi Christov menolak menjawab dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Terus berbohong dan membuat dinding tak kasak mata itu menebal dan membuat jarak di antara mereka semakin luas. Christov berusaha berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, tapi nyatanya tidak. Christov terus dihantui perasaan bersalah karena takut tidak bisa memahami isterinya itu dengan baik. Dia takut tidak mampu memahami Cassie karena ingatannya yang hilang.


Dengan perasaan bersalah, rasa sakit hati, dan rasa takut yang memenuhi dirinya, Christov sadar bahwa selama ini dia begitu menginginkan ingatannya kembali bukan karena untuk dirinya, tapi untuk Cassie. Dia bersikukuh menginginkan ingatannya kembali karena Cassie. Christov takut wanita itu akan meninggalkannya karena tidak bisa menjadi pria yang Cassie kenal seperti dulu.


Pada akhirnya, rasa bersalah, sakit hati, dan ketakutan itu membawanya ke mari. Christov membawa dirinya kembali ke tempat dia dan Cassie kecelakaan yang membuat keduanya kehilangan ingatan. Ide buruk, tapi perasaan itu membuatnya putus asa akan ingatannya yang hilang.


Namun, Christov menyadari bahwa idenya ini adalah ide buruk. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Menunggu mobil dari arah seberang lalu menabrakkan mobilnya? Lalu berharap ingatannya akan kembali? Christov tertawa geli dengan pemikiran gilanya tersebut. Jika Cassie tahu dia datang ke tempat ini, isterinya tersebut pasti akan kecewa berat.


"Benar-benar gila," katanya lagi dengan gelak tawa geli, "Aku benar-benar sudah gila,"


Christov menggeleng-gelengkan kepala kecil dan kembali menyalakan mesin mobilnya. Dia mengarahkan mobilnya dari pinggiran jalan menuju jalan utama, tapi Christov tidak menyadari sebuah mobil sedan putih melaju kencang dari jalur yang sama. Mobil sedan putih itu berusaha memberhentikan mobilnya hingga terdengar decitan keras dari ban yang beradu dengan aspal sehingga memunculkan bekas gesekan di sana. Christov yang mendengar decitan serta klakson mobil yang saling beradu tersebut segera menoleh ke kaca spion dan wajahnya berubah terkejut dengan kedua mata yang terbuka lebar.


"SIAL!" dia berteriak dan memutar stir mobil untuk menghindari mobil sedan putih yang nampak kehilangan kendali, tapi ekor mobilnya tidak sempat menghindar sehingga mobil sedang putih itu menghantam ekor mobilnya dengan sangat keras.


"SIAL!" Christov mengumpat lagi saat mobilnya melaju tak terkendali dan menabrak pagar pembatas di jalan tersebut. Airbag mobilnya segera muncul detik sebelum mobil berhenti dan menyelamat Christov dari benturan keras. Namun, dia tetap merasakan benturan keras di kepalanya dari bantalan kursi dan airbag.


"Fvck," umpatnya dengan nada kesakitan yang tertahan. Christov hendak menggerakkan tangan tangannya untuk memegangi kepalanya yang terasa pening, tapi dia segera berteriak penuh kesakitan ketika merasakan sakit luar biasa di tangan kanannya.


"Argh! Sakit! Sial! Sial!" Christov tidak berusaha menggerakkan tangan kanannya lagi dan memilih menggunakan tangan kirinya untuk mendorong airbag agar kempis, tapi airbag tersebut tak kunjung kempis. Christov melipat bibirnya membentuk garis keras untuk menahan rasa sakit yang teramat di tangan kanannya dengan tetap menggerakkan tangan kiri untuk membuka pintu dengan penuh keputusasaan.


Namun, dia tidak mampu lagi melakukannya ketika kegelapan perlahan mencuri paksa kesadarannya. Christov menggeleng dan memaksakan dirinya untuk tetap sadar, tapi tarikan ke pusar kegelapan itu tak tertahankan. Menariknya dengan paksa hingga akhirnya kegelapan melingkupi dirinya.


****


"Baju yang bagus," komentar Christov dengan nada canggung pada Cassie yang mengenakan baju tahanan warna oranye. Kedua duduk di ruang temu bersama tahanan yang sepi. Pria itu akhirnya datang berkunjung tiga hari setelah kecelakaan kecil yang menimpanya. Datang dengan tangan kanan yang dipasang gips.


Cassie menghela napas panjang dengan mata tertutup, berusaha menahan diri untuk tidak marah. Kedua tangannya yang dipasang borgol dilipat di antara kedua pahanya. Setelah pengadilannya selesai, berita kecelakaan Christov sampai di telinganya, tapi tak banyak yang Cassie bisa lakukan karena dia harus mendekam di dalam penjara.


Tiga hari dia uring-uringan dan menangis tak henti saat berada di sel tahanan hingga menganggu seluruh tahanan yang lain. Keluarga dan teman-temannya sudah berkata bahwa Christov baik-baik saja dan hanya menderita cidera ringan, bahkan membawakan foto terbaru keadaan Christov padanya. Namun, Cassie tidak bisa berhenti menangis dan mengkhawatirkan Christov sebelum melihat pria itu secara utuh dan langsung.


Saat akhirnya bisa bertemu Christov yang tidak menderita cidera berat,kecuali tangan kanannya membuat Cassie kembali bisa bernapas lega. Terlampau lega hingga membuat air matanya turun lagi. Bibirnya bergetar dan dadanya bergemuruh oleh emosi yang membuncah. Dia merasa keadaan mereka sangat menyedihkan. Suaminya masuk ke rumah sakit karena berusaha mendapatkan ingatannya kembali sementara dia mendekam di penjara. Begitu kacau.


"Apa kau tahu betapa khawatirnya aku, Christov?" tanya Cassie dengan nada lirih dan wajah yang berurai air mata.


"Maafkan aku, Cassie.. I'm sorry," Christov hendak berdiri dan berpindah ke tempat duduk Cassie, tapi dia tahu itu tidak diperbolehkan. Christov akhirnya menahan diri dan menatap Cassie dari tempatnya.


"Aku hampir mati ketakutan mendengar kabarmu kecelakaan, Christov. Aku.. Aku seolah hidup di neraka karena perbuatanmu, sialan.."


Christov mengangkat tangan kirinya ke atas meja dan mengarahkan telapak tangannya ke arah Cassie.


"Aku baik-baik saja.. Berikan aku tanganmu.. Aku ingin mengenakannya.."


Cassie menatapnya dengan tatapan tajam dan berusaha menolak permintaan pria itu, tapi Christov tersenyum lembut. Senyum lembut yang tulus dan menenangkan.


"Please?" pintanya, "Aku tidak bisa duduk di sisimu karena penjaga akan memarahi kita berdua jika aku melakukannya.."


"Kau be-de-bah sialan," hisak Cassie sembari tetap memberikan tangannya yang diborgol ke dalam genggaman Christov.


"Maafkan aku menjadi be-de-bah sialan, Cassie," gumam Christov dengan tangan yang menggenggam erat tangan Cassie, "Kumohon, jangan menangis.. Kau membuatku ingin berpindah dari dudukku agar aku bisa memelukmu.."


"Kau sengaja melakukan ini, bukan? Sudah kukatakan tidak masalah jika ingatanmu tidak kembali.. Kenapa? Kenapa kau datang ke lokasi kecelakaan kita, huh? Kau pikir itu akan mengembalikan ingatanmu?"


Christov tersenyum kaku dan kembali menyadari ke-bo-do-hannya sendiri.


"Aku tidak melakukannya dengan sengaja," sanggahnya, "Tapi kau benar, aku memang berpikiran untuk mencelakai diriku agar ingatanku kembali.."


Cassie menangis semakin kencang dan Christov menggenggam erat tangannya. Kedua mata Christov ikut berkaca-kaca dan air mata yang memenuhi pelupuk matanya akhirnya menetes dan mengaliri wajahnya. Hatinya ikut terasa perih melihat hisakan dari Cassie.


"Maafkan aku.. Please.. Jangan menangis lagi. I'm sorry, Cassie.. Aku janji tidak akan melakukannya. Kumohon... Maafkan aku, sayang.."


"Sialan! Kau tahu betapa takutnya aku? Jika kau berani melakukannya sekali lagi, aku akan menceraikanmu, breng-sek.."


"Aku tidak akan melakukannya.. Aku berjanji.. Aku berjanji," balas Christov dengan nada cemas. Dia tahu bahwa Cassie tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Sebulan... Tinggal sebulan lagi aku ada di sini, Christov.. Kumohon.. Kumohon jangan melakukan hal bo-doh seperti itu lagi karena aku tidak sanggup hidup jika aku kehilanganmu, Christov.." ujar Cassie dengan nada lirih yang putus asa.


"I'm promise,my love.. Aku berjanji hal seperti itu tidak akan terjadi.."


"Tunggu aku keluar dari tempat terkutuk ini. Jangan pernah berani-beraninya melepas cincinmu. Jangan pernah berusaha menyakiti dirimu hanya untuk mendapatkan ingatanmu kembali. Sudah kukatakan itu tidak masalah untukku, Christov. Aku menerimamu apa adanya.... Jadi kumohon, jangan lakukan hal bo-doh seperti itu lagi. Kemudian, jika ada wanita yang mendekatiku selama aku di sini, teriakkan pada mereka jika kau sudah memiliki isteri. Kau mengerti, sialan?"


"Aku tahu dan mengerti.. Bagaimana bisa aku selingkuh saat aku memiliki sosok sepertimu?" goda Christov dan berharap itu bisa mencarikan suasana di antara mereka, tapi Cassie tetap menatapnya keras dengan wajah berurai air mata.


"Tunggu aku," peringat Cassie.


"I will wait you.. Aku akan selalu setia menunggu sampai kapan pun.. Jaga dirimu baik-baik selama di sini. Makanan di penjara mungkin tidak enak, tapi kumohon tetaplah memakannya.. Aku akan berkunjung selalu.. Jaga dirimu baik-baik, okay?"


"Kau juga, Christov.. Jangan lakukan hal gegabah seperti itu lagi.."


"Yes, my love.. I promise.."


****


Sebulan kemudian...


Christov memarkirkan mobilnya sesaat sampai di tempat proyek di pagi hari menjelang siang. Dia mengenakan rompi kuning lalu diikuti masker, penutup wajah, dan terakhit topi kuning keamanannya. Ini adalah pekerjaan terakhir untuk hari ini sebelum nanti menjemput Cassie dari penjara


Well.. Masa tahanan Cassie sudah selesai dan hari ini adalah hari kepulangannya. Satu bulan terasa sangat lama karena dia dan Cassie tidak bisa bertemu setiap hari. Hari-harinya cukup berat karena ketidakhadiran Cassie dan itu semakin berat karena ingatannya tak kunjung kembali. Namun, pada akhirnya Christov berhasil melewati masa-masa sulit itu hingga ke titik ini.


Selama satu bulan ini, banyak hal yang terjadi. Theresa kembali menghubunginya beberapa kali dalam sebulan ini dan meminta dia untuk menceraikan Cassie, tapi Christov kekeuh tidak mau. Ibunya tersebut tentu sangat marah karena Christov memiliki pasangan seorang manta narapidana. Namun, Christov tidak keberatan. Toh.. Cassie tidak melakukan kejahatan yang berat dan sejujurnya, wanita itu dijebak dan membuat posisinya terjepit. Cassie dipenjara bukan karena kejahatannya, tapi kejatahan orang lain.


"Mama tidak akan mengerti dan hanya Cassie yang bisa mengerti dan memahamiku," dengan kalimat demikian, Theresa akhirnya berhenti menghubungi Christov. Kedua orangtuanya tidak lagi tinggal bersama, tapi surat perceraian di antara mereka tak muncul juga datang. Christov bingung kenapa orangtuanya masih belum melakukan perceraian? Apa yang mereka tunggu?


Lalu keadaan Clara. Christov menjenguk Clara beberapa waktu lalu untuk melihat keadaannya. Sehat, tapi tidak dengan tangan kanannya. Ketika mereka bertemu, Christov tidak berusaha meminta maaf atas perbuatan Cassie dan Clara pun tidak berusaha mengangkat topik pertengkaran mereka.


Clara tidak berada di negara ini lagi karna wanita itu akan melakukan terapi di Swiss untuk waktu yang Christov tidak tahu. Sejak kepergiannya itu pula, mereka kehilangan kontak. Baik dia maupun Clara tidak ada lagi yang berkirim kabar lagi. Jadi, Christov menyimpulkannya bahwa mereka sudah menjadi orang asing satu sama lain. Rasanya itu jauh lebih baik. Toh.. Mustahil rasanya membangun hubungan pertemanan dengan Clara dalam keadaan seperti ini.Christov pikir itu pilihan paling bijak bagi mereka berdua. Clara akhirnya sadar bahwa Christov bukanlah takdirnya.


Lalu, Madison? Well.. Sebagai pihak pemberi sponsor, Madison tidak dikenai hukuman penjara karena dinilai tidak bersalah. Bagaimana dengan Laura dan rekan kerja Cassie yang menghianatinya? Semuanya menerima hukuman penjara selama satu tahun dan karier mereka pun ikut hancur. Termasuk perusahaan tempat Cassie bekerja.


Cassie juga berkata bahwa kariernya pun pasti ikut hancur karena nama baiknya pasti sudah tercoreng dan perusahaan mana pun tidak akan mau menerima mantan narapidana bekerja untuk mereka. Mungkin, butuh beberapa tahun agar nama baik isterinya itu bersih. Setelah keluar dari penjara nanti, Cassie harus memulai kembali dari awal dan Christov akan selalu mendukung isterinya itu apa pun yang terjadi.


"Anda tampak senang hari ini, Connel.." komentar salah satu rekan kerja tim-nya ketika mereka berjalan menuju konstruksi bangunan untuk melakukan pemeriksaan rutin.


"Well.. Begitulah," balas Christov seadanya dengan suara setengah berteriak untuk melawan suara bisik dari proyek kontruksi. Belum banyak yang mengetahui hubungannya dengan Cassie dan keduanya memilih menyimpan itu untuk sementara waktu sebelum memberitahukannya ke publik.


Dia berjalan bersama tim-nya menaiki tangga untuk memeriksa jalannya proyek. Tidak ada dinding di sana dan hanya ada pagar pembatas seadanya dari besi tipis.


Aneh. Batin Christov ketika merasakan deja vu melihat suasana poyek itu. Tempat ini seolah mengingatkannya pada kenangan yang sudah berlalu. Dia menggeleng kecil untuk mengembalikan fokusnya kembali. Namun, Christov tetap kehilangan fokusnya sendiri. Kaki kirinya tidak berpijak penuh pada lantai beton hingga membuatnya kehilangan keseimbangan tubuhnya. Christov memegang pembatas pagar seadanya itu, tapi dia tetap tidak bisa menemukan keseimbangannya.


"MR. CONNEL!" seseorang berteriak saat Christov akhirnya terjatuh. Tangannya di arahkan ke depan seorang berusaha meraih sesuatu. Jarak jatuhnya tidak jauh, tapi entah mengapa Christov merasa waktu berjalan dengan lambat. Tubuhnya seolah-olah bergerak dalam gerakan yang lambat dan deja vu itu muncul lagi. Kenangannya yang jatuh di proyek bangunan beberapa bulan lalu muncul bersama kenangan yang lain. Tarikan deja vu itu menariknya masuk ke dalam kubangan kenangan yang Christov miliki.


Matanya terpejam dan membiarkan seluruh kenangan yang hilang itu muncul satu per satu. Senyum tipis bahagia muncul di bibirnya melihat wajah Cassie yang memenuhi potongan kenangan yang terasa sangat nyata tersebut dan--


"FVCK!" umpatnya kencang ketika tubuh bagian belakangnya mendarat di tumpukan pasir. Dia membuka mata dan menyerngit kesakitan.


Seluruh mata tim-nya dan beberapa pekerja konstruksi yang berada di atas melihat ke arahnya dan buru-buru berjalan turun, bahkan ada yang melompat langsung untuk memeriksa keadaan Christov.  Semua memanggil-manggil namanya dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Christov menatap bingung pada orang-orang itu dan memilih melihat langit biru yang indah. Kemudian, tanpa alasan yang jelas, Christov mulai tertawa. Tertawa bahagia dan mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Lucu.. Dia merasa lucu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Kejadian yang sama yang akhirnya membawa sesuatu yang hilang itu muncul kembali


"Kembali.." katanya dengan gelak tawa yang kencang, "Ingatanku kembali..."


****


"Jangan cemberut begitu.. Sudah untung kami mau menjemputmu," gerutu Barbara, "Suamimu bilang dia sibuk. Teman-temanmu juga..."


"Lalu, kenapa kau tidak sibuk, Miranda?" tanya Cassie pada Miranda yang duduk di kursi kemudi.


"Aku sibuk, sialan. Aku juga terpaksa melakukan ini.."


Cassie memajukan bibir bawahnya dan melipat kedua tangannya dengan gaya cemberut.


"Kenapa kalian tidak terlihat bahagia melihatku akhirnya bebas?"


"Cassie.. Kau hanya dipenjara satu bulan.. Itu bukanlah waktu yang lama.. Malah aku berharap kau dipenjara lebih lama lagi," kata Miranda seraya melajukan mobil meninggalkan tahanan.


Barbara yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang lalu meraih tangan kanan Cassie, "Kami bahagia, sayang.." ucapnya dengan nada lembut, "Aku dan saudarimu hanya tidak mau meneteskan air mata di hari bahagia seperti ini..."


Cassie tersenyum lalu mengecup punggung tangan Barbara sekilas, "I love you, Mom."


"I love you too, my dearest Cassie*.."


(*Cassie-ku tersayang)


"Kau tidak mau mengatakan hal yang sama padaku?" tanya Miranda.


"Tidak sudi," kata Cassie seraya melepas tangannya dari genggaman Barbara, "Boleh aku mendapatkan ponselku kembali?"


"Ada di ransel hitam. Mom juga sudah menaruh dompetmu di sana. Christov menyuruh Mom menyimpannya beserta surat-surat kependudukanmu padaku karena dia takut menghilangkannya."


Cassie mengangguk kecil dan meraih ransel hitam yang ada di sampingnya. Dia membuka ransel lalu mencari keberadaan ponselnya. Menekan tombol aktif ponsel, Cassie tersenyum lebar melihat ponselnya bisa menyala.


"Kalian bahkan mengisi daya baterai ponselku," gumamnya pelan


"Christov yang melakukannya," ucap Miranda, "Suamimu benar-benar penyayang.. Beruntungnya dirimu punya suami sekaya dan sebaik dia.."


"Apa-nya yang beruntung? Dia saja tidak datang menjemputku. Apa Christov tidak keterlaluan? Bagaimana bisa dia tidak menjemput isterinya?" kata Cassie dengan nada kecewa seraya menunggu ponselnya aktiv kembali.


"Dia sibuk karena ada urusan proyek," balas Barbara, "Kau harus mengerti, sayang.."


"Tapi, aku merindukannya.."


Ponsel Cassie akhirnya menyala dan puluhan pemberitahuan masuk ke dalam ponselnya.


"Oh my.. Banyak sekali pemberitahuan ini,"


Dia mulai memeriksa pemberitahuan satu per satu dan tiba-tiba, tangannya yang menggeser-geser layar ponsel berhenti saat melihat pesan dari Christov. Pesan itu dikirim beberapa menit yang lalu. Jantungnya segera berdegup kencang dan pupilnya membesar sesaat membaca isi pesan.


"Stop... Hentikan mobilnya!" katanya setengah berteriak dan Miranda segera menepikan mobil,


"Kau gila, sialan? Kenapa kau berteriak?!" ucap Miranda dengan nada kesal.


"Boleh aku memakai mobilmu, Miranda?"


"Apa? Apa yang kau katakan, huh?"


"Aku perlu menggunakan mobilmu sekarang juga. Penting.. Kumohon.. Ini sangat genting.. Bisakah kau dan Mom pulang menggunakan taxi?"


Miranda menahan napas dan menatap Cassie dengan tatapan penuh ketidak percayaan.


"Please.." pinta Cassie dan Miranda segera mendengus kesal karena berhasil terbujuk oleh Cassie. Miranda menoleh ke arah Barbara dan berharap Ibunya tersebut mau menolak permintaan Cassie, tapi sayangnya, Barbara pun nampak tidak kuasa menolak permintaan Cassie.


"Dasar setan sialan," umpatnya pada Cassie seraya keluar dari mobil.


Hanya dalam waktu lima menit, Miranda dan Barbara sudah berdiri di pinggir jalan raya dan menatap mobilnya yang melaju menjauh dari posisi mereka.


"Menurutmu di mau ke mana, Mom? Apa dia berencana bu-nuh diri? Atau hendak membu-nuh orang lain? Kenapa pula kita mau memberi mobilku, Mom?"


"Entahlah.. Panggil saja taxi agar kita bisa pulang.."


"Mom tidak khawatir?"


Barbara menggeleng kecil, "Dia akan baik-baik saja.."


"Bagaimana bisa Mom tahu?"


"Karena Mom percaya pada Cassie. Apa kau tidak percaya padanya?"


Miranda menarik napas dan mengangguk kecil, "Yah.. Aku percaya padanya.."


***


Cassie turun dari mobil yang dia kendari sesaat sampai di pertanian gandum saat hari semakin menggelap. Dengan tangan memegang ponsel, Cassie berlari masuk ke dalam tanaman alang-alang. Dia berlari dengan penuh semangat dan napas yang terengah-engah. Terus berlari seolah-olah ada mahluk jahat yang mengejarnya dan berusaha menangkapnya. Adrenalin memacu dirinya untuk berlari semakin cepat. Terus dan terus hingga dia sampai di ujung tanaman alang-alang.


Udara sore pertanian yang sejuk segera membelai wajahnya dengan lembut dan menerbangkan helaian rambutnya. Cahaya oranye sore membuat aliran sungai nampak cantik dan suasana di sana masih tetap sama seperti yang Cassie ingat seperti yang dulu.


Di sana, dia melihat Christov berdiri di bawah pohon apel dengan senyum manis. Mereka saling bertatapan, Cassie dengan napas terengah-engahnya dan Christov dengan senyum tenangnya. Cassie menutup matanya dan membiarkan suara aliran sungai memenuhi dirinya untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelah merasa tenang, Cassie membuka mata dan melihat Christov masih berdiri di sana.


"Christov?" panggilnya, "A--apa maksud pesanmu itu?"


Christov melebarkan kedua tangannya, "Come*. Aku merindukanmu, Cassie?"


(*Kemarilah)


Cassie menahan napas, "Ingatanmu kembali?" katanya dengan suara tercekat.


"Yah.. Aku sekarang ingat bahwa nama mantan kekasihmu adalah Jason. Kenapa kau tidak pernah memberitahuku jika kau punya mantan kekasih, huh?" ucap Christov dengan nada pura-pura kecewa.


"Serius? Jangan bermain-main denganku, Christov..."


Pria itu mengangguk penuh semangat, "Ayolah.. Aku ingin memeluk isteriku setelah sekian lama..."


Cassie tertawa haru lalu berlari menghampiri Christov. Berlari lalu melompat ke dalam pelukan pria itu. Kedua kakinya dilingkarkan pada pinggul Christov dan air mata bahagia Cassie dan Christov akhirnya pecah.


"Kau benar-benar ingat?" hisaknya


"Hmm.. Apa perlu aku menceritakan semuanya padamu, huh?"


Cassie tertawa lagi lalu menggeleng, "Aku bahagia.. Sangat bahagia.."


"Sekarang, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi dari pelukanku untuk selamanya. Tidak akan pernah.."


"Jangan pernah melepaskanku lagi.. Jangan pernah.."


"Forever.."


"Yeah.. Forever..."


***


15.45


--Cassie, aku sekarang ingat jika nama mantan kekasihmu adalah Jason. Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku tentang si sialan itu saat aku kehilangan ingatan? Ayo.. Datanglah ke pertanian dan jelaskan ini semua...--


***


Miss Foxxy


Yeeyyyyy.. Sudah hampir di penghujung cerita. Seharusnya skenario pertamaku bukan seperti ini. Harusnya ada yg perlu dibahas lagi, tapi karena melihat banyak yang darting karna byk masalah mulu, akhirnya author mengambil jalan pintas seperti ini. Tapi begitulah gaya cerita author.


Tinggal tiga hari lagi sebelum bulan satu berakhir dan denagn bersamaan itu pula, kebersamaan kita bareng Cassie dan Christov akan selesai. Fyuhhhh. Waktunya beres-beres untuk perpisahan. Love you. Tunggu chapter epilog.