
Happy Reading
***
Cassie terbangun, duduk, dan menatap kosong ke arah kamar hotel. Dia menguap lebar hingga pundaknya bergetar. Diangkat tangannya untuk menggaruk leher dan saat itu juga dia menyadari bahwa dia tidak mengenakan satu helai pakaian apa pun.
"Well...." gumamnya ketika mengingat kembali apa yang terjadi kemarin malam.
"Sialan," Cassie mengumpat dengan wajah bengis saat akhirnya dia menyadari kesalahannya.
Ah.. Sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi.
Cassie menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya kembali. Dia merasa lelah, secara emosi dan jasmani. Namun, di sisi lain dia merasakan kepuasan yang diberikan kekasih satu malamnya. Yah.. Hanya satu malam dan setelahnya mereka akan kembali menjadi orang asing.
Hal yang lumrah. Tidak ada yang perlu disesalkan. Huh... Walaupun begitu, Cassie tidak pernah jatuh dalam hubungan satu malam seperti ini. Uhm.. Sejujurnya pernah. Sekali dan itu sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Dia pernah jatuh dalam hubungan satu malam karena mabuk dan hal itu terjadi lagi semalam dengan alasan yang sama.
"Lebih baik tidak mabuk lagi," gumam Cassie pelan dalam tidurnya. Dia kembali menguap lebar dan sedetik kemudian satu ujung bibir Cassie terangkat membentuk senyum tipis
"Setidaknya dia tampan.." Dia tidak terlalu menyesal.
Kini, dua ujung bibirnya terangkat ke atas, membentuk senyum yang semakin lebar.
"Dan dia juga suka tatto-ku.."
Menghabiskan waktu sepuluh menit untuk mengumpulkan kesadarannya, Cassie bangkit dari tidurnya untuk bersiap pulang. Dia bisa merasakan rasa pegal di seluruh tubuhnya, terutama di bagian pangkal pahanya. Dia menyerngit kesakitan setiap kali berusaha melangkahkan kakinya.
"Ergghh.." dia menggeram kesal. Sebanyak apa yang mereka lakukan semalam?
Kemudian matanya tak sengaja melihat pakaiannya yang terlipat rapi di atas kursi dalam ruangan tersebut. Cassie termenung sejenak dan bertanya-tanya sebelum akhirnya sadar bahwa pastilah Christov yang melakukannya.
"Hah? DIa melipat bajuku?" Cassie tertawa membayangkan pria kaku itu memungut pakaian dalam milik Cassie dan melipatnya sedemikian rupa. Gelak tawa Cassie malah menimbulkan rasa sakit di tubuhnya dan segera dia mengumpat kesal.
"F-- Sialan!"
Dia berhenti tertawa dan melanjutkan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi, Cassie mengeringkan rambut lalu memeriksa ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan dia masih belum merasa lapar. Dia menemukan bahwa tidak ada pemberitahuan penting di ponselnya.
Dia kemudian mengingat kembali bahwa mobilnya tertinggal di rumah Catherine. Cassie menyerngitkan keningnya karena mendadak dia merasakan rasa berat di bagian belakang kepala dan lehernya. Semua itu diakibatkan oleh beban pikirannya.
"Ergh.. Tidak ada satupun yang beres akhir-akhir ini," keluhnya sembari menyandarkan tubuh di punggung kursi.
Pekerjaan di perusahaan masih menunggu dan penyanyi yang dia tangani saat ini benar-benar tidak bisa diharapkan. Lalu ada Jason yang muncul tiba-tiba dan menghancurkan semua pertahanan Cassie yang sudah dia bangun dengan baik. Tidak ada jaminan bahwa Jason tidak berbuat hal bodoh seperti semalam di kemudian hari. Kemudian, Ibunya semakin sering mengomel akhir-akhir ini. Lalu... Mobil.
"Argh.. Mobilku.. Aku harus menjemput mobilku lebih dulu,"
Bangkit dari duduknya, Cassie mengenakan pakaiannya. Sejenak dia tersenyum mengingat lipatan bajunya. Uhh... Tidak bisa dia bayangkan betapa menggemaskannya seorang pria saat melipat baju.
Setelah mengenakan pakaiannya, Cassie menghubungi Bambi.
"Kau sibuk?" tanya Cassie.
"Tidak.. Ada apa?"
"Bisa kau menjemputku?"
"Yes, baby!"
Cassie tersenyum senang mendengar jawaban Bambi. Setelah dia mengatakan alamatnya, Cassie kembali duduk dalam kamar hotel dan menunggu Bambi datang. Dalam waktu 15 menit, Bambi datang dan membawa Cassie menuju rumah Catherine.
"Kau tidur bersama pria, yah?" tanya Bambi dengan nada menggoda.
"Hm.." gumam Cassie singkat.
"Siapa? Kau tidak pernah tidur bersama siapa pun sejak putus dari Ja--"
"Stop. Jangan pernah sebutkan nama si breng-sek itu lagi di depanku?"
Bambi tersenyum kaku, "I'm sorry, baby. Jadi siapa pria itu, heh? Ayo katakan."
"Fokuslah ke jalan Bambi," Cassie menyandarkan kepalanya di kaca mobil, "Bagaimana bisa kalian meninggalkanku seorang diri di pesta itu?" tanya Cassie sebagai pengalih isu dari pembicaraan mereka.
Sejujurnya, bagi Cassie tidak ada yang salah tidur bersama orang asing yang baru kau temui, tapi bagi Cassie, itu sedikit memalukan. Ini berkaitan erat dengan reputasi Cassie. Sebab dia dikenal sebagai wanita yang memiliki gengsi tinggi terkait pilihannya akan teman kencan, bahkan dia pernah menolak kencan dengan seorang aktor papan atas.
Namun, jika sampai gosip tentangnya tidur dengan pria biasa yang nama lengkapnya saja tidak diketahui Cassie akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Uhk.. Ditambah dia tidur bersama pria asing setelah bertengkar hebat dengan mantan kekasihnya. Orang-orang bisa saja mengatakannya wanita kesepian dan menyebarkan gosip yang tidak benar akannya. Ahk.. Cassie tidak sanggup mendengar gossip tentangnya lagi karena orang zaman sekarang tidak tahu lagi batasan dalam hal bergosip.
"Aku pulang lebih dulu karena kekasihku membutuhkanku," jawab Bambi setelah memakan jeda yang lama.
Cassie mengingat kembali wajah kekasih Bambi baru-baru ini. Pria berumur 50 tahun yang sudah berkeluarga. Well.. Jejak ketampanan pria paruh baya itu masih ada dan tubuhnya pun nampak kekar. Yang menjadi masalah di sini adalah fakta bahwa pria itu sudah berkeluarga.
Bambi memiliki masalah Father-issue, di mana dia lebih tertarik menjalin hubungan dengan pria-pria yang jauh lebih tua darinya. Padahal banyak pria muda dan mapan yang selalu mengejar Bambi, tapi dia lebih memilih pria-pria tua kaya yang sudah berkeluarga.
Cassie berpikir bahwa yang dihadapi Bambi saat ini adalah masalah mental dan dia berharap wanita itu mau mengunjungi seorang psikiater. Namun, tak banyak yang bisa dia lakukan. Jadi dia hanya cukup memberi saran sekali dan setelahnya selesai karena jika Cassie terlalu menasihatinya, pertemanan mereka bisa rusak. Sumber utama dari keretakan hubungan pertemanan adalah ketika kau terlalu ikut campur akan masalah hidupnya.
"Benarkah? Apa kekasihmu masih pria terakhir yang kulihat saat itu?" Cassie melirik ke arah Bambi yang selalu memiliki wajah senang yang cerah.
"No... Aku mendapatkan kekasih yang lain. Dia lebih baik dan--"
Cassie mendengarkan Bambi yang bercerita dengan semangatnya. Terlepas dari selera Bambi yang unik tentang pilihan kekasihnya, dia adalah teman yang baik untuk Cassie. Bambi memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi di bandingkan dengan dua temannya yang lain. Dia bisa membaca perasaan orang lain dengan mudah. Bambi adalah pendengar yang baik, begitu peka, dan selalu positif.
Setelah mengantarkan Cassie ke rumah Catherine untuk menjemput mobilnya, keduanya pulang ke tempat masing-masing. Cassie menyempatkan membeli sarapan, obat pengar, dan juga obat pengontrol kehamilan. Well.. Dia ingat jelas kekasih satu malamnya itu tidak pakai pengaman. Naf-su dan hasrat keduanya sudah terlalu besar hingga mengabaikan menggunakan pengaman. Walaupun Cassie melihat pria itu segera menarik kejantanannya dari dalam tubuh Cassie ketika puncaknya akan datang, dia harus waspada akan muncul kemungkinan yang tidak diharapkan. Seperti hamil dan..
"Oh my.. Kuharap dia tidak punya penyakit menular, "sekujur tubuhnya merinding membayangkan dia akan terserang penyakit menular. Namun, berkaca dari penampilan Christov yang rapi, bersih, dan necis, nampaknya kecil kemungkinan dia memiliki penyakit menular. Walaupun begitu, masih tetap adanya kemungkinan akan penyakit menular.
"Aku akan mereservasi pertemuan dengan dokter obgyn," gumamnya pelan saat membayar semua barang-barangnya.
Cassie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di apartemennya, terlebih dulu dia memberi makan ikan-ikannya. Kemudian ganti baju dan akhirnya menikmati sarapannya yang berupa sandwich serta susu segar.
"Sekarang pil sialan ini," ucapnya kesal saat menatap pil pengontrol kehamilan yang dia beli saat di apotik. Sekali dia meminum ini, hormon serta jadwal bulanannya tidak akan teratur. Ah.. Dia masih tidak menyangka akan meminum pil ini lagi setelah sekian lama berlalu.
Sehabis makan, Cassie melakukan beberapa pekerjaan rumah standart sebelum akhirnya berkutat di studio mininya. Musik.. Dia bekerja untuk musik. Cassie senang memainkan nada dan menciptakan sebuah maha karya. Sejauh ini, tidak ada satu pun lagu ciptaannya yang gagal di pasaran. Well.. Walaupun bukan dia yang menyanyikannya secara langsung, setidaknya anak asuhannya selalu sukses sebagai penyanyi.
"Argh.." dia tiba-tiba meng-geram marah dan menekan tuts piano dengan asal saat tiba-tiba mengingat Jay-Z, calon penyanyi yang tengah di asuh saat ini. Ah.. Pria itu memiliki warna suara yang unik, sayangnya dia tidak terlatih dan sulit belajar. Berapa kali pun Cassie memberitahukan kesalahannya, Jay-Z tidak bisa belajar.
"Kalau dia masih membuat kesalahan yang sama lagi, akan kurobek mulutnya," ujarnya dengan nada serius.
Cassie kembali melanjutkan menekan tuts piano untuk mengerjakan projek lagu barunya.
"Mari kita fokus lagi, Cassandra De Angelis,"
****
Aku tidak bisa fokus.
Pikir Christov untuk kesekian kalinya. Dia tidak bisa fokus kerja sejak tadi pagi, padahal dia dan anggotanya memiliki berbagai tenggat yang semakin dekat, tapi dia tidak bisa fokus.
Kenapa? Kenapa aku tidak bisa fokus?
"Yes, Sir.." Jawab Mia, Dylan, dan Josh. Setelah itu, Christov berjalan meninggalkan ruangan kerja mereka. Tangannya memijat belakang kepalanya yang terasa berat. Nampaknya aku terserang migran. Batinnya.
"Good evening, Sir.." sapa Elisabeth, sekretarisnya. Christov hanya mengangguk kecil sebagai balasan. Dia menuju basement dan masuk ke dalam mobilnya untuk berbaring sejenak di kursi penumpang.
"Apa aku pulang saja?" tanya dia pada dirinya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore yang artinya masih tersisa dua jam lagi sebelum waktu pulang. Yah.. Well. Christov memang bos di sini, tapi bukan berarti dia berhak melakukan apa yang dia inginkan. Dia tidak mau timnya menganggap Christov sebagai pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Jika dia tidak bisa bertanggung jawab, para pekerjanya pun tidak akan bisa.
Dia mendengus lalu menutupi matanya dengan tangan kanan. Sesaat kemudian, dia merasakan ponselnya yang berada di saku celana bergetar. Dia merogoh sakunya dan melihat layar ponsel.
"Erghh.." dia meng-geram saat melihat nomor kontak Ibunya tertera di layar ponsel. Oh my.. Dia tidak menginginkan gangguan apapun lagi yang bisa memperburuk keadaannya.
Christov memilih mengabaikan panggilan dari Ibunya, tapi dia tahu jelas sikap pantang menyerah dari Ibunya tersebut. Theresa, Ibunya tersebut masih berusaha memanggilnya setelah Christov mengabaikan semua panggilan Theresa.
Pada panggilan ke-empat, Christov akhirnya memilih untuk menerima panggilan dari Theresa. Ibunya tidak akan menyerah sebelum Christov menerima panggilan tersebut. Dia berharap tidak meledak sat berbicara dengan Theresa.
"Oh.. Jeez... Apa kau sekarang mengabaikan panggilan dari Ibumu?"
Christov melipat bibirnya menjadi garis keras, "Aku sibuk karena sedang melakukan rapat dengan timku," bohongnya.
"Apa yang perlu kau rapatkan dengan karyawanmu yang hanya berjumlah empat orang,"
Lagi-lagi... Lagi-lagi Ibunya seperti ini.
"Lebih baik kau membantu dan fokus bisnis keluarga kita yang tentu memberimu uang lebih banyak."
Pening. Christov merasa kepalanya semakin pening seiring mendengar celotehan Theresa yang selalu merendahkannya.
"Sejak awal aku menyuruhmu mengambil jurusan Bisnis. mengapa kau malah bersikukuh mengambil jurusan arsitektur yang malah membuatmu seperti ini?"
Jangan marah, Christov. Jangan marah. Peringat pria itu pada dirinya sendiri. Dipejamkan matanya dan menarik napas panjang. Dia sudah melewati berbagai percakapan menyebalkan seperti ini seumur hidupnya. Jadi, hal menahan amarah tidaklah sulit lagi baginya.
"Oleh karena itu, Mom ingin menyuruhmu berhenti dan--"
"Mom," panggil Christov dengan nada datar yang rendah hingga membuat Theresa berhenti berceloteh dari seberang. Dia tidak sanggup lagi mendengar suara Ibunya yang selalu mengkuliahinya dengan wejangan sialan ini. Tidak dalam keadaannya yang sedang sakit kepala karena berbagai tekanan pekerjaan dan Ibunya.
"Apa yang sebenarnya ingin Mom katakan? Jika Mom menghubungiku hanya untuk mengatakan itu, lebih baik aku menutup percakapan ini sekarang karena aku memiliki segudang kesibukan."
Dari seberang dia bisa mendengar dengusan Theresa.
"Hah.. Sudahlah. Percuma aku mengatakan ini semua. Toh kau tidak akan mendengarnya. Ibu menghubungimu terkait Clara--"
"Stop," potong Christov lagi.
Clara! Clara! Selalu Clara! Teriak Christov dari dalam kepalanya.
"Jika Ibu hanya ingin membicarakan Clara, aku akan tutup sambungannya sekarang,"
"Christov?!" suara theresa meninggi, "Kenapa kau bertingkah aneh akhir-akhir ini?"
Aneh?! Ibulah yang aneh. Saat ini Christov benar-benar ingin meledakkan amarahnya. Tidak pernah sekalipun Christov melawan Theresa. Tidak pernah. Namun, jika Christov marah, keadaan bukannya semakin baik dan malah semakin memburuk.
"Ma.." kata Christov dengan nada setengah putus asa, "Aku tidak bisa lagi melanjutkan apa pun dengan Clara. Tidak ada kecocokan apa pun antara kami berdua. Lalu tentang pekerjaanku. Aku bukan melakukan pekerjaanku hanya untuk uang. Aku melakukannya karena aku menyenanginya."
Christov berharap dengan kata-kata ini, setidaknya Ibunya tersebut bisa memahaminya bahwa Christov lelah dengan semua omongan Ibunya.
"Hah.. Okay. Ibu mengerti tenang pekerjaanmu. Namun, bagaimana bisa kau menyudahi hubunganmu dengan Clara setelah apa yang kulakukan? Ibu berusaha menjodohkanmu pada Clara adalah untuk kebaikanmu sendiri, Nak.. Christov, dengarkan Ibu. Clara adalah wanita yang tepat untukmu menjadi pendamping hidupmu. Dia berasal dari kelurga terpandang, cantik, pintar, seorang dokter--"
"Mom tidak melakukannya untuk kebaikanku," potong Christov dengan suara kecut, "Mom melakukannya utuk dirimu sendiri. Selalu. Sejak dulu.."
"A--apa?" kata Theresa dengan suara tergagap.
"Aku akan putuskan sambungannya. Sampaikan salamku pada Ayah. Bye, Mom."
"Christov, tu-tung--"
Secepat kilat Christov memutuskan sambungannya dan mem-blok nomor ponsel Ibunya untuk sementara. Sudah 27 tahun dan Ibunya tak kunjung membiarkannya sendiri. Selalu mengintervensi kehidupan Christov, mulai dari pekerjaan, hubungan asmara, kehidupan sosialnya, dan banyak lagi. Dia selalu berusaha mengikut-campuri semua urusan Christov.
Selama ini dia bisa sabar karena dia ingat bahwa Theresa adalah Ibunya. Namun, dia tahu bahwa kesabarannya ini memiliki batas dan batas kesabaran itu sudah perlahan habis. Habis dikikis oleh waktu. Huff... Inilah alasan dia menolak berkunjung ke rumah orangtuanya karena dia tidak sanggup mendengar omelan Ibunya tersebut. Ibunya tidak pernah membiarkannya menghirup udara bebas. Selalu dikekang dengan embel-embel, 'Demi kebaikanmu, Christov.'
"Pulang.." gumam Christov pelan. Dia tidak mau memikirkan tentang Ibunya lagi karena hanya membuat sakit kepalanya semakin parah.
"Aku perlu pulang..."
Bangkit dari posisi berbaringnya, Christov keluar dari mobil. Diangkat tangan kirinya untuk memeriksa jam yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Setelah sampai di dalam gedung, Christov melihat Elisabeth yang sibuk di balik meja komputer. Saat melewati meja Christov, matanya tidak sengaja melihat sebuah undangan di meja kerja Elisabeth. Dia berhenti dan membuat perhatian Elisabeth teralihkan. Dia buru-buru berdiri sesaat menyadari kehadiran Christov.
"Ah.. Sir. Ada yang bisa saya bantu?"
Christov diam dan memilih mengambil kartu undangan yang dibalut amplop cream mewah.
"Undangannya baru saya terima siang ini, Sir. Jadi saya belum sempat memberikan surat balasan ketidakhadiran serta hadiah untuk mereka,"
Christov terdiam dan menatap undangan itu dengan seksama kemudian membuka amplopnya. Dia membaca undangan tersebut berasal dari salah satu pelanggan yang pernah menyewa jasa perusahannya untuk mendesain Villa.
"Sunday Tea Party?*" tanya Christov. Pesta semacam apa ini?"
(*Sunday Tea Party adalah istilah untuk pesta minum teh di hari Minggu yang cukup terkenal di kalangan bangsawan dulu.)
"Itu semacam pesta minum teh di musim panas, Sir."
Christov menoleh ke arah Elisabeth, "Sekarang masih belum musim panas dan orang-orang tidak harus mengadakan pesta besar hanya untuk minum teh.."
Elisabeth hanya tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Well.. Orang-orang kaya sekarang sudah kebingungan bagaimana menghabiskan uang mereka dan memilih menghabiskan uangnya untuk pesta semacam ini.
"Yah, Well.." Christov memasukkan surat itu kembali ke dalam amplop, "Kau tidak perlu mengirim surat atau hadiahnya karena aku akan memberikannya sendiri,"
Senyum kaku Elisabeth perlahan memudar dan berganti ke wajah heran.
"Aku akan menghadiri pesta ini," kata Christov sembari memasukkan undangan ke balik saku celananya.
Hah? Sejak kapan boss-nya tersebut dengan sukarela menghadiri sebuah pesta? Pikir Elisabeth. Christov hanya menghadiri sebuah pesta karena dua alasan, sebuah pesta penting dan jika dia dipaksa datang oleh penyelenggara pesta seperti yang terjadi minggu lalu.
"Apa anda ingin minum teh juga, Sir?" tanya Elisabeth dengan nada basa-basi.
Christov menoleh Elisabeth dengan tatapan santai, "Tidak. Aku ingin melihat burung dan mawar."
Hah?
"Ah.. Dan juga aku ingin melihat ular..."
****
Miss Foxxy