Remember Me

Remember Me
Extra Part -Family-



Happy Reading


****


26 September 2026


Nama mereka berdua Beatrice O'Connel dan Harmione O'Connel. Kembar tapi tidak identik. Keduanya memiliki banyak perbedaan hingga orang yang baru pertama kali menemui kedua puteriku tidak menyangka jika mereka berdua adalah saudara kembar, bahkan mereka berdua lahir di hari yang berbeda. Yah. Hari yang berbeda walau hanya terpisah jarak waktu selama lima belas menit.


Beatrice terlahir lebih dahulu pada 19 September 2024 pada pukul 11.46 malam dan tidak lama kemudian diikuti oleh Harmione yang lahir pada 20 September 2024 pada pukul 00.05. Unik dan aku tidak pernah menyangka bahwa mereka akan terlahir di hari yang berbeda.


Itulah perbedaan pertama. Perbedaan kedua terletak pada fisik mereka berdua. Harmione mewarisi manik mata biruku dan Beatrice memiliki manik berwarna hijau yang diwarisi dari Neneknya, yaitu Ibu Christov. Itu pun hal yang tidak pernah kuduga. Bagaimana bisa? Lucu, bukan?


Ah.. Terkait Theresa, Ibu Christov. Setelah perceraiannya dengan Robert, Theresa pindah ke Australia dan menikah lagi di sana dengan duda kaya. Setelah kelahiran Beatrice dan Harmione, Theresa kerap datang berkunjung ke kediaman kami di Los Angeles. Kami masih saling diam satu sama lain, tapi aku tahu tidak ada lagi rasa benci di antara kami. Dia memang tidak banyak bicara padaku, tetapi Theresa selalu mengirimiku beserta kedua puteriku berbagai hadiah setiap bulannya.


Setiap menerima hadiahnya, aku terkadang mengingat kenangan dahulu saat dia benar-benar membenciku hingga tidak merestui hubunganku dengan Christov. Namun, pada akhirnya kami bersatu, padahal aku tidak pernah membayangkan bisa memiliki hubungan yang baik dengan Theresa. Pada akhirnya kami semua saling berdamai dengan masa lalu.


Bagaimana Madison Clayton? Setahun yang lalu, perusahaan keluarganya terlilit hutang dan kasus korupsi yang menyebabkan cabang perusahaan mereka satu per satu ditutup. Madison menjadi pecandu nar-ko-ba yang membuatnya dirawat di pusat rehabilitasi. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, tapi dari seorang sumber yang kukenal mengatakan bahwa Madison juga menerima perawatan kejiwaan. Uhm.. Dia memang memerlukannya sedari dulu.


Walaupun perusahaan keluarganya bangkrut, bukan artinya keluarganya benar-benar jatuh miskin. Mereka masih tetap kaya dengan berbagai investasi yang mereka miliki, tapi harga diri dan martabat keluarga sudah tercoreng. Bagi beberapa orang, lebih baik kehilangan seluruh hartanya daripada harga diri dan martabatnya.


Lalu dengan Clara, dia sudah kembali bekerja sebagai dokter di cabang rumah sakit keluarga mereka yang ada di San Fransisco setelah sekian lama melakukan therapi pada jemarinya. Baru-baru ini dia sudah menikah dengan taipan kaya asal Jepang. Yah.. Begitulah kehidupan, si kaya akan menikah dengan si kaya. Si kaya dan si miskin hanya terjadi pada saru kasus dari jutaan pasangan di dunia ini.


Pernah sekali aku tidak sengaja berjumpa dengan Clara di pusat perbelanjaan kota, tetapi kami hanya saling berpapasan tanpa mengatakan sepatah kata pun, bahkan tidak dengan lirikan mata. Kami akhirnya menganggap satu sama lain sebagai orang asing.


Itu yang terbaik, menjadi orang asing karena masalah di masa lalu. Walau kami berdua tidak memiliki rasa dendam itu lagi, tetapi kami memang tidak ditakdirkan untuk memiliki hubungan baik. Aku pikir itu adalah keputusan yang baik bagi kami berdua. Dia dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku.


kehidupanku bersama Christov dan kedua puteri kami yang sudah menginjak usia dua tahun beberapa hari yang lalu. Kami melakukan pesta ulang tahun selama dua hari dan seluruh keluargaku dan keluarga Christov datang. Beatrice dan Harmione adalah bayi pertama di keluarga kami berdua setelah sepuluh tahun lebih terjadi kekosongan kelahiran dan kedua keluarga kami begitu menyambut kedua puteri kami dengan penuh sukacita.


Beatrice dan Harmione mendapatkan berbagai kasih sayang yang melimpah dan kehidupan mereka tergolong masuk kategori sangat mewah. Yah. Sangat mewah. Itu bukan pilihanku dan Christov, tapi kedua belah pihak keluarga kami membanjiri Beatrice dan Harmione dengan berbagai hadiah yang luar biasa tidak masuk akal.


Untuk ulang tahun kedua mereka, Ayah Christov memberi mereka masing-masing 5% saham perusahaan keluarga. Lalu nenek-ku memilih mewariskan tanah dan bangunan miliknya di Itali atas nama mereka setelah nanti Beatrice dan Harmione sudah legal secara usia. Masih banyak lagi hadiah yang kurasa tidak penting untuk dua bayi yang masih berusia dua tahun seperti emas batangan contohnya. Saudari Christov, Christina memberikan emas batangan pada dua bayi yang bisa berbicara. Bayangkan? Namun, siapa yang datang menghentikan mereka? Padahal, aku dan Christov hanya memberi mereka hadiah berupa mainan seharga 100$ dari pusat perbelanjaan. Itu pun aku dapatkan setelah diskon besar-besaran.


Gila memang, tetapi begitulah cara keluarga besar kami menyambut kedatangan Beatrice dan Harmione, dua bayi lucu yang begitu menggemaskan dan juga begitu kaya. Dengan berbagai hadiah yang terus datang, kupikir mereka berdua akan jauh lebih kaya dariku.


"Snack bayi macam apa ini?" tanya Christov padaku dan aku yang tengah memasak puding memutar tubuh untuk melihat Christov yang berdiri di depan lemari pendingin dengan tangan kanan memegang kotak makanan bayi.


"Itu Snack Beatrice dan Harmione," ujarku dengan nada santai.


"Yah aku tahu itu. Namun, snack bayi macam apa yang dihargai $189,99 per kotaknya?"


Aku memutar tubuh lagi lalu mengangkat bahu, "Paman-mu yang memberikannya. Dia berkata itu Snack bayi dari jepang yang kaya vitamin, serat, dan semacamnya.."


Christov menggeram, "Oh my.. Mereka harus berhenti memberikan barang-barang mahal pada Beatrice dan Harmione. Mereka baru berusia dua tahun.."


Aku melepas apronku setelah menuangkan larutan puding ke dalam cetakan lalu memindahkannya ke dalam lemari pendingin. Kukecup pucuk kepala Christov yang tengah duduk di kursi lalu ikut bergabung dengannya. Kulingkarkan tanganku pada  lengannya lalu menyandarkan kepala di sana.


"Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.. Jangan marah.. Begitulah cara mereka mengekspresikan rasa sayang mereka pada kedua puteri kita. Ingat, itu adalah bayi pertama setelah sepuluh tahun lebih di keluarga besar kita.. Jadi wajar.."


Christov mendengus, "Orang mana yang memberikan emas batangan sebagai hadiah pada anak dua tahun, Cassie? Aku benar-benar habis pikir.. Lihat, akhir bulan ini pasti akan ada yang mengirim hadiah lagi. Itu akan membuat si kembar tumbuh menjadi anak manja.."


Aku memutar wajahnya ke arahku dengan kedua tangan lalu mengecup sekilas bibirnya.


"Apa kau tahu, kau tampak menyeramkan saat marah," jemariku mengelus dahinya yang berkerut, "Ayolah.. Senyum.."


"Mereka membuatku kesal, Cassie.."


"Aku juga, sayang. Aku juga," jemariku mere-mas rambut Christov yang tebal dan hitam legam lalu memijat kulit kepalanya dengan lembut, "Keluarga kita memang memiliki cara unik mengekspresikan rasa sayangnya. Seperti kau padaku..."


Senyum Christov perlahan muncul dan dia menatapnya dengan tatapan sayang itu. Tatapan yang sama seperti dulu dan tidak pernah berubah. Kedua tangannya di arahkan pada wajah dan leherku lalu menarik kepalaku ke arahnya. Bibir kami saling tersentuh dan terjalin. Christov me-lu-mat bibirku dengan penuh kelembutan. Tidak tergesa-gesa dan menggebu-gebu, tetapi pelan, lembut, dan pasti.


Tanganku me-re-mas rambut Christov. Kepala kami saling beradu ke kanan-kiri dan ritme dari ciuman itu semakin meningkat. Satu tangan Christov turun ke bawah lalu menelisik masuk ke balik kaosku. Sengatan lembut terjadi saat tangannya yang dingin menyentuh kulit perutku. Seluruh bulu kudukku meremang seiring semakin naiknya tangan Christov.


"Umm.." aku melenguh pelan pada pa-ngu-tan tersebut saat tangan Christov masuk ke balik braku. Melingkarkan tangannya pada pa-yu-da-ra-ku, me-re-masnya lembut, dan mencubit pucuk pa-yu-da-raku sendiri hingga membuatku me-nge-rang tertahan. Aku merapatkan kedua pahaku saat cairan putih itu membanjiri kewanitaanku. Sangat basah. Aku benar-benar ba--


"Woah.. Dude? What the f*ck?"


Aku segera mendorong tubuh Christov menjauh dariku dengan kencang dan buru-buru memperbaiki posisi kaosku dengan panik. Wajahku pucat pasi dan dadaku naik turun dengan cepat. Otakku tak bisa bekerja dengan singkron karena cepatnya perubahan situasi padaku. Aku menatap panik ke arah Miranda yang berdiri di ambang pintu dengan stroller bayi di depannya. Ada Beatrice dan Harmioner, menatap kami berdua dengan mata meeka yang bulat. Sial.. Wajahku dan wajah Christov memerah hebat.


"U--U... Miranda. Kenapa kau tidak mengetuk pintu?" ucapku dengan nasa suara tinggi.


Dia memutar mata, "Dapurmu tidak punya pintu dan lagi, orang mana yang mengetuk pintu ke dapur, huh?"


Aku berdiri, "Apa yang kau lakukan di sini?"


Dia berjalan lalu menyambar kotak snack bayi tadi, "Untuk ini.. Pergilah ke kamar, sialan.."


"Miranda. Bahasamu. Beatrice dan Harmione bisa mendengarnya..."


"Oh my.. Kau yang membuatku begitu. Bisa-bisanya kalian berdua mela--"


"Stop. Sekarang bisakah kau keluar?"


"Okay.. Okay..."


Miranda berlalu dari sana dengan snack bayi tadi lalu mendorong stroller keluar dari dapur. Aku berjalan dan mengintip ke arah pintu untuk memastikan mereka sudah jauh. Helaan napas penuh kelegaan keluar dari mulutku saat akhirnya mereka pergi. Saat aku hendak memutar tubuh, aku dikejutkan oleh Christov yang berdiri sangat dekat di belakang tubuhku. aku hampir kehilangan keseimbangan tubuhku sendiri sebelum Christov dengan sigap memegang pinggulku.


"Christov.. Kau mengejutkanku," suaraku sedikit meninggi karena jantungku kembali berbapu kuat.


"Haruskah kita ke kamar seperti yang Miranda katakan?"


Aku membelalakkan mata.


"Oh my, Christov.. Kau banyak berubah setelah bersamaku.." aku tertawa dan melingkarkan kedua tanganku pada leher Christo. Mataku menatapnya dengan tatapan penuh cinta lalu kukecup bibirnya sekilas.


"Ayo.."


****


"Cassie?"


"Hmm?"


"Boleh aku bertanya?"


"Boleh," jawabku diikuti dengan uapan lebar.


"Siapa pria pertamu?"


"Cinta pertama maksudmu?"


"Hmm.."


Aku merapatkan diri pada tubuh Christov lalu mengusap-usap dadanya yang sedikit berbulu dengan tangan kiriku.


"Hanya penasaran.."


"Entahlah.. Aku tidak ingat."


"Sedikit pun tidak ingat?"


"Emm.. Mungkin cinta pertamaku adalah Elvis Presley."


Christov terkekeh dengan suara bertanya, "Dia-kan artis."


"Yah.. kupikir dia cinta pertamaku.."


"Padahal aku berharap jawaban yang lain.."


"Entahlah.. I have no idea.. Aku tidak terlalu memiliki banyak kenangan tentang hal seperti itu. Aku kebanyakan menghabiskan waktuku di rumah sakit,"


Kenangan keluar-masuk rumah sakit demi perawatan psikolog kembali muncul lagi. Masih tersimpan jelas dalam ingatanku ketika psikiater-psikiater yang merawatku bertanya tentang hal yang sama selama berulang kali. Bagaimana perasaanmu, ceritakan keseharianmu, bagaimana pandanganmu tentang ini, apa kau masih marah, bagaimana mimpimu, dan segudang pertanyaan lain yang ditanyakan secara berulang kali.


Aku tidak berpikir bahwa psikiater-psikiater yang merawatku dulu tulus untuk merawatku. Mereka hanya peduli pada uang di dompet orangtuaku dan tidak peduli dengan kondisiku. Dengan kondisi keluar masuk rumah sakit berulang kali membuatku tidak punya banyak kenangan semasa sekolah dulu. Itu diperburuk dengan sikap protektif dari kedua orangtuaku.


Seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya fisik serta pemikiran membuatku sadar bahwa tidak ada satu pun di muka bumi ini yang dapat menolongku. Tidak orangtua, tidak sahabat, tidak saudari, dan tidak siapa pun, kecuali diriku. Satu-satunya yang dapat menolongku keluar dari keterpurukan adalah diriku sendiri. Berkat pemikiran itu pulalah yang membuatku memiliki ambisi untuk menjadi wanita yang kuat, tangguh,dan tidak berkegantungan pada siapa pun.


"Maafkan aku sudah menanyakan hal tersebut.."


Aku tersenyum tipis lalu mengecup sekilas lengan Christov, "That's okay.. Itu bukanlah kenangan pahit. Semua itu adalah bagian dari pembelajaran yang membuatku tumbuh menjadi versi terbaik diriku sendiri.."


"Aku suka mendengarmu berbicara hal seperti itu.."


"Kau memang suka segala hal tentangku. Ayo.. Tanyakan hal lain. Akan aku jawab.."


"Bolehkan?"


"Tentu saja, Christov.. Ayo, tanyakan.."


"Uhm. Kita sudah pernah membicarakan ini sewaktu kita masih menjalin hubungan sepasang kekasih.. Tentang pria mana--"


"Pria mana yang memasuki lubang va-gi-na-ku untuk pertama kali?" ucapku ceplas-ceplos dan seperti yang kuduga, Christov menatapku dengan tatapan penghakimannya. Aku tertawa kecil.


"Kau ingin bertanya itu, hm?"


"Yeah.. Namun, aku berencana bertanya dengan bahasa yang lebih halus tentunya.."


Aku tertawa kecil lagi lalu menatap langit-langit kamar untuk menerawang kenangan masa dulu. Ingatanku tentang kenangan itu buram, tapi aku masih ingat beberapa kejadian lucu yang masih bisa terkenang hingga hari ini.


"Aku bahkan tidak ingat wajah dari pria itu, Christov.. Itu merupakan kenangan paling memalukan dalam hidupku.."


"Namun, kau pasti ingat sesuatu, bukan?"


"Sedikit.. Senior kampus mengadakan pesta penyambutan anak baru dan aku datang tentunya untuk menikmati bir gratis.. Namun, sialnya, rasa bir di sana seperti air seni yang dicampur dengan soda.."


Christov tertawa, "Kau pernah minum air seni?"


"Bukan.. Aromanya. Huekkk.. Masih teringat jelas bau sialan dari minuman itu. Sialnya aku meminum benda itu uuga."


"Okay.. Lanjutkan ceritamu, sayang.."


"Jadi, aku meminum bir murahan itu dan itu adalah pengalaman pertamaku meminum alkohol. Dengan mudahnya aku mabuk," potongan ingatan aku berjalan menaiki tangga di rumah pesta itu muncul, "Aku ingin buang air kecil setelah meneguk segelas bir itu dan mencari ruangan yang akhirnya.. Boom! Aku berakhir setengah te-lan-jang bersama pria asing.. Selesai.."


"Kau tak punya ingatan spesifik tentang pria itu?"


"Uhm.. Entahlah. Dia lembut saat melakukannya, bahkan aku tidak merasa sakit sedikit pun. Padahal semua orang mengatakan bahwa se-x untuk pertama kalinya benar-benar sakit. Uhh.. Ada satu lagi. Saat aku hendak pergi, pria asing itu memegang tanganku dan memintaku untuk tidak pergi.."


"Lalu?"


"Apa? Lalu apa? Aku tidak tahu.. Aku hanya mengenakan pakaianku kembali dan tidur bersamanya selama beberapa jam sebelum akhirnya aku bangun dengan kondisi sendirian.. Argh.. Si breng-sek itu. Bisa-bisanya dia menyuruhku menemani dia dan pada akhirnya pergi juga," kataku dengan nada berapi-api mengingat kenangan memalukan sialan tersebut.


"Apa aku masih pria seperti itu?"


Aku melirik ke arahnya, "Apanya?"


"Apa aku masih seperti dulu?"


Aku terdiam. Menatap dan berusaha mencerna perkataan Christov.


"Apa sih yang kau bica-- Wait! Apa!" aku bangkit dari dudukku hingga selimut yang menutupi bagian tubuh atas terekspos, "Itu kau?!"


Christov menyengir lebar.


"Jadi.. Jadi selama ini kau mengingatnya?"


"Aku sudah ingat sebelum kita menikah, tapi aku mengurungkan niat menceritakannya.."


"What? What? Benarkah? Astaga... Aku masih belum percaya.."


Christov menarik tubuhku untuk berbaring lagi di dalam pelukannya.


"Intinya kau sudah tahu.."


"Namun, bagaimana bisa kau tidak menceritakannya padaku?"


"Aku menunggumu mengingatnya, tapi nyatanya kau perlu diingatkan.."


"What the--"


"Stt.. Ayo tidur.. Aku sudah mengantuk.."


"Christov.. Aku masih belum percaya,"


"I love you. Sekarang tidurlah.."


"Ta-tapi.."


"Tidak ada tpai-tapi.. Aku yakin kau akan mengingatnya suatu saat. Good night love.."


"Uh.. Good night.."


****


Miss Foxxy


Enaknya epilog pake sudut pandang siapa? Satu lagi dan semuanya akan siap. mueheheheh. Yang mau tanya sesuatu silakan drop pertanyaan di kolom komentar. I love you guys...