
Happy Reading
***
Dia di sini juga rupanya.
Pikir Cassie saat tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Christov. Cassie kembali memfokuskan perhatiannya pada grup-nya yang tengah berbincang ceria. Dia akhirnya memilih datang karena dia tidak bisa lagi berkonsentrasi bekerja. Bagaimana bisa dia berkonsentrasi jika hati dan pikirannya tertuju ke pesta ini?
Suasana di sini tidak se-formal yang Cassie pikirkan. Lokasinya semi terbuka di lapangan golf, musik jazz lembut terdengar, ada teh tentunya dengan beberapa cemilan, dan tentu saja minuman alkohol mahal. Huh... Orang-orang kaya selalu tahu bagaimana cara menghabiskan uangnya degan baik.
Namun, untuk hari ini Cassie memilih tidak minum setetes pun alkohol atau dia bisa berakhir mabuk. Dia masih berharap bisa mengerjakan pekerjaannya setelah pulang dari pesta ini. Well.. itu rencana awalnya, tapi rencana itu bisa berubah sewaktu-waktu. Di tambah, dia menemukan hal yang menarik saat ini. Sesuatu yang benar-benar menarik dan beda dari yang lain.
"Hey.. Cassie. Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tanya Bambi seraya menyikut perut Cassie untuk menyadarkannya.
Cassie tersadar dan menggeleng kecil, "Tidak ada.. Ayo kita main golf," katanya seraya menggandeng tangan Bambi dan Gerald.
"Memangnya kau tahu main golf?" tanya Meghan.
"Memangnya harus paham dulu baru bisa memainkannya? Tidak kan? Ayo.. Olahraga mahal seperti ini jarang kita coba secara gratis,"
"Kau tampak ceria sekali hari ini..." kata Bambi seraya melepas gandengan tangan Cassie untuk mengambil tongkat golf.
Cassie menyisir kuncir kudanya dengan jemarinya dan tersenyum miring, "Benarkah?" matanya melirik ke arah kiri, tempat Christov tengah bermain golf bersama grupnya. Beberapa wanita tampak menempel di sekitarnya. Well.. Cassie tidak heran. Pria itu memiliki karismatik yang unik dan menonjol.
Namun, dia terlalu kaku. Batin Cassie.
Hari ini, Christov mengenakan kaos berkerah warna biru yang ujung blouse-nya dimasukkan ke dalam celana khaki panjang. Tentunya dengan sepatu sneakers putih dan jam tangan silver. Standar. Gaya dan selera berpakaiannya cukup standar, tapi terlihat mewah saat dipakai oleh Christov.
"Siapa pria itu? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?" tanya Bambi dengan suara pelan yang pertanyaannya tertuju pada Christov yang semakin dikerubungi oleh wanita-wanita.
Seperti semut saja.
Cassie diam dan berpura-pura tidak tertarik. Dia menyibukkan diri menggoyang-goyang tongkat golf-nya di udara.
"Christover O'Connel," jawab Meghan dan itu membuat Cassie terkejut. Dia mengenal Christov? Di sisi lain, Cassie akhirnya mengetahui siapa nama asli pria itu. Bukan Christoval, tetapi Christover. Aneh. Pikir Cassie. Meghan bisa mengetahui nama pria yang bahkan tidak diketahui oleh grupnya. Biasanya, Meghan tidak mengingat nama seseorang dengan mudah. Cassie berani bertaruh hingga sekarang, Meghan tidak tahu nama lengkap presiden yang tengah menjabat sekarang.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya, Meghan? kamu suka dia?" tanya Bambi lagi dengan nada ceria.
"Suka? Gila... Dia arsitek yang pernah bekerja dengan perusaan kami untuk membuat denah game online,"
"Kalian menyewa jasa arsitek untuk membuat denah game? Kupikir kalian bisa membuat sendiri atau memindah gambaran kota kita ke dalam denah game.." kata Cassie untuk bergabung ke pembicaraan itu secara alami.
"Itu bisa melanggar originalitas dan lagi, memindahkan gambar kota ke denah game tidak akan menarik. Itu membuat yang memainkannya cepat bosan karena denahnya jadi mudah ditebak. Dia cukup hebat. Sesekali mainkanlah game X. Dia yang menciptakan denah serta bentuk bangunannya,"
Game X. Pikir Cassie. Meghan merupakan karyawan yang bekerja sebagai game development. Perusahaan tempat dia bekerja selalu meluncurkan game online yang begitu digemari banyak kalangan, tapi tidak dengan Cassie. Dia tidak suka bermain game karena itu hanya akan menghabis-habiskan waktu secara sia-sia. Namun, sekarang dia tertarik untuk memeriksa Game X yang tengah mereka bicarakan.
"Berkatnya, Game X luncuran perusahaan tempatku bekerja terkenal hingga ke penjuru dunia. Aku akui, dia benar-benar jenius. Perusahaanku berencana melakukan kerja sama dengannya lagi," sambung Meghan, "Hey.. Gerald. Sekarang giliranmu memukul bola..."
Genius. Cassie kembali memikirkan kata-kata itu. Meghan bukanlah tipe yang memuji orang lain dengan mudah. Jika dia sudah memuji seseorang, artinya Meghan serius akan perkataannya dan bukan sekadar melebih-lebihkan. Diangkat tangan kanannya untuk memegang leher bagian belakangnya.
Cassie melangkah ke depan dan bersiap melakukan pukulan menuju layar proyektor. Dia mengambil posisi dan mengayun-ayunkan tongkatnya untuk bersiap memukul bola golf kecil tersebut.
"Kau harus melebarkan kakimu selebar pundak," seorang pria mengomentari posisi Cassie yang nampak tidak pas.
Cassie menoleh ke sumber suara dan melihat seorang pria yang dia kenal. Uhm.. Dia ingat jelas bahwa pria pernah mendekatinya sekitar sebulan yang lalu. Sayangnya, Cassie tidak mengingat nama pria tersebut. Parah, bukan?
"Pundakmu harus tegap dan lurus. Kemudian biarkan hanya tanganmu yang bergerak saat mengayunkan tongkat.."
"Okay.." Cassie mengikuti arahan pria tersebut untuk memperbaiki posisinya.
"Bagus.. Sekarang, tarik tongkatmu hingga kebelakang dan ayunkan dengan kekuatan dalam ke arah bola,"
"Ayo. Cassie..." Bambi memberi semangat pada Cassie.
Diikutinya arahan pria tersebut. Tongkat diayunkan ke belakang dan dengan penuh kekuatan, Cassie mengayunkan tongkat itu tepat pada bola yang langsung terbang ke arah layar proyektor. Dalam beberapa detik, muncul skor dari pukulannya dan namanya berada di urutan pertama.
"Whooo..." ucap Cassie penuh keterkejutan. Ada rasa kebanggan tersendiri dalam dirinya.
"Bagaimana kau melakukannya, Cassie?" tanya Gerald yang namanya berada di posisi bawah, "Hei. Bisa kau ajarkan aku juga?"
"Aku juga.." Bambi mengikut.
"Kau hebat," kata Cassie, "Terimakasih atas nasihatmu,"
Pria asing yang masih tidak diketahui namanya tersebut tersenyum, "Tentu. Senang membantu."
***
Christov melihat dari posisinya ke arah Cassie yang berbincang riang dengan seorang pria yang nampaknya baru mengajari Cassie tentang golf.
"Well.. Anthony selalu tahu bagaimana cara menggoda wanita," kata seorang teman Christov terkait pria yang tengah berbicara dengan Cassie.
"Anthony juga salah satu dari daftar panjang pria yang pernah Cassie tolak. Dia benar-benar kekeuh mengejarnya, bukan?"
"Ah.. Andaikan aku yang berada di sana,"
Christov mendengar dalam diam perbincangan teman-temannya.
"Kenapa kalian begitu terobsesi pada Cassie?" seorang wanita yang bergabung dalam grupnya berbicara dan itu membuat Christov termenung. Yah.. Kenapa? Kenapa semua perhatian seolah tertuju padanya? Karena cantik? Tidak.. Bukan karena itu sebab ada banyak wanita yang jauh lebih cantik dari Cassie di tempat ini.
"Karena sulit didapatkan?" jawab salah satu pria dan Christov tidak setuju akan itu. Buktinya dia bisa tidur bersama Cassie dengan sangat mudah. Namun, Christov harus mengakui bahwa jawaban temannya tersebut ada benarnya karena Cassie saat itu dalam keadaan mabuk. Jika Cassie tidak mabuk, mungkin Christov akan ditolak pula. Benarkah wanita itu benar-benar sulit didapatkan?
"Yah.. Mungkin karena itu."
"Sulit didapatkan? Gila, yah? Semua orang juga tahu jika dia membuka pahanya ke semua orang.." wanita lain menimpali dengan nada bengis dan bisik-bisik itu terdengar lagi.
Christov menggeleng kecil, jengah dengan gosip ini. Dia melangkah maju menuju bola golf dan bersiap mengambil giliran melempar bola. Sesaat kemudian terdengar suara riuh dan tepukan yang berasal dari kelompok Cassie. Matanya melihat ke arah tempat itu dan melihat bahwa Anthony mendapatkan skor yang sangat tinggi. Dibandingkan skor Anthony, Christov kalah jauh. Dia juga melihat Cassie yang nampak terkagum-kagum.
"Whoa.. Skornya lebih tinggi darimu, Christov," timpal temannya.
"Walaupun begitu, kau tetap yang terbaik, Christov," seorang wanita berkata dengan nada menggoda.
Christov mendengus kecil. Jika hanya begitu, aku pun bisa melakukannya. Pikirnya dan mengambil posisi untuk melakukan pukulan lain. Dia menggesek-gesekkan kakinya ke rumput sintetis untuk mencari posisi yang pas. Tangannya mengayun-ayunkan kecil tongkat golf di udara dan ketika dia siap, Christov menarik tongkat ke belakang dan mengayunkannya penuh tenaga ke arah layar monitor.
Terdengar bunyi 'TAK' keras saat bola terlempar dan Christov merasa percaya diri akan mendapat skor yang tinggi kali ini. Beberapa detik berlalu dan skor Christov muncul dengan skor yang melampaui skor Anthony walaupun perbedaan skor keduanya benar-benar tipis.
"Whoa.. Christov!" grupnya memberinya tepukan, siulan, dan suara keras atas skor tinggi Christov. Suara ribut itu tentu menarik perhatian grup lain yang tengah main golf, salah satunya grup Cassie. Christov hanya tersenyum tipis dan menolak untuk berbangga diri. Ditolehkan kepalanya ke arah grup Cassie dan lagi.. Untuk kedua kalinya, tatapan mereka bertemu lagi. Wanita itu lagi-lagi tersenyum miring dan menatapnya dengan tatapan lekat.
Kenapa dia tersenyum seperti itu? Pikir Christov.
"Ahh... Christov," seorang wanita memekik dan memeluk lengan Christov dengan gaya manja.
"Kau sangat hebat," wanita lain memeluk lengannya di sisi lain dan sengaja menempelkan dada mereka pada Christov.
"Hei.. Kalian membuatnya tidak nyaman," kata teman Christov seolah bisa membaca wajah tidak nyaman dari Christov.
"Uhm.. Ladies-ladies.. Permisi.. Aku butuh ke kamar mandi," Christov menarik kedua tangannya terlepas dari kedua wanita tersebut dan berjalan pergi dari grup-nya. Mata Christov kembali melirik ke arah grup Cassie dan dia tidak menemukan Cassie di sana.
Di mana dia? batinnya.
Cassie dan Anthony tidak ada di sana yang artinya.. Christov mendengus dan menolak memikirkan hal itu. Huh.. Sialan. Tiba-tiba dia merasa kesal. Kenapa? Kenapa dia datang ke pesta ini? Kenapa dia repot-repot menciptakan skor tinggi? Kenapa pula dia berusaha membuat seseorang terkesan?
"Menyebalkan," katanya pelan. Pulang. Lebih baik Pulang. Toh.. Sekarang sudah hampir pukul enam sore. Dia tidak memiliki alasan lain untuk berlama-lama di sini. Ditolehkan kepalanya ke arah kerumunan dan berusaha mencari keberadaan Cassie untuk sekali lagi.
Dia melangkah dengan langkah alami ke kanan-kiri, berusaha mencari wanita berkuncir kuda tinggi dengan gaun biru. Di mana? Di mana dia? Apakah tengah berduaan dengan Anthony? Christov berhenti berjalan dan berdiri tegak di sana. Kakinya sedikit dijinjitkan dan matanya disipitkan.
"Andai aku punya teropong.." gumamnya pelan saat menyadari matanya sedikit kesakitan karena dipaksa bekerja.
"Sedang mencari siapa?"
"Seseo--" Christov berhenti bicara kerena tersadar. Siapa? Siapa yang berani-beraninya mengajak dia berbicara? Christov menoleh ke sumber suara dan melihat Cassie ada di sana dengan senyum tipis.
"Siapa yang sedang kau cari, hm?" ulang Cassie.
Christov merasa terkejut bukan main, bahkan membuat dia harus menjauh satu langkah dari Cassie yang muncul entah dari mana. Hantu! Dia hantu! Pikir Christov. Jantungnya berdegup kencang. Dia merasa seperti penguntit yang ketangkap basah mengintip wanita yang tengah mandi.
"Kenapa kau butuh teropong?"
Christov segera mengendalikan dirinya. Berdehem dan menegakkan tubuhnya. Kendalikan dirimu, Connel.
"Bukan urusanmu," jawab Christov ketus dan itu hanya mengundang senyum Cassie semakin lebar.
"Aku bisa membantumu mencari sesuatu yang hendak kau cari tersebut jika kau tidak keberatan..."
"Aku tidak sedang mencari apa pun,"
"Benarkah?" suara wanita itu naik sedikit lebih tinggi saat diujung nadanya yang menandakan bahwa Cassie sadar bahwa Christov tengah berbohong.
Wanita sesat! Pikir Christov. Gila, sesat, dan seperti hantu!
"Aku bisa membantumu. Mengingat kau pernah menolongku minggu lalu,"
"Kau tidak perlu repot-repot untuk membantuku. Permisi."
Apa?! Apa ini, Christover Connel! Kenapa kau malah pergi?!!
Christov menyadari sendiri kesalahannya dan segera menyesali perkataannya sendiri. Bo-doh! Dia sudah melangkah pergi mendahului Cassie dan sekarang tubuhnya membeku. Sial! Keraguan. Keraguan ini. Jangan ragu, Connel! Ditarik napasnya dan dengan keberanian penuh, Christov memutar tubuhnya dan tidak menemukan Cassie lagi di sana.
"Sial.." umpatnya. Dia memutar tumitnya dan mencari keberadaan Cassie. Dari tempatnya, dia bisa melihat pucuk kepala Cassie yang berada tidak jauh darinya. Dia melangkah lebar, tapi dia tidak bisa mempercepat langkahnya karena kerumunan orang-orang. Matanya terus ditujukan pada pucuk kepala Cassie yang berada di antara kerumunan agar tidak hilang dari jarak pandangnya.
Dia menahan diri untuk tidak berteriak memanggil Cassie karena jika dia melakukannya, Christov akan menjadi pusat perhatian di tempat ini. Dari posisinya, Christov bisa lihat Cassie berbelok ke arah kiri, menuju lorong kamar mandi.
Dipercepat langkahnya untuk menyusul Cassie. Christov bisa merasakan adrenalin dalam dirinya. Saat dia berbelok, dia malah tidak menemukan Cassie di lorong tersebut. Di mana dia?
"Sedang mencari sesuatu?"
Christov terkejut bukan main saat mendengar suara Cassie yang bersembunyi di balik dinding. Dia bisa membayangkan wajah konyolnya saat ini. Sial. Wanita itu sudah tahu sejak awal bahwa Christov mencari dia dan sekarang dia tertangkap basah oleh Cassie yang tengah bersandar santai di dinding. Bagaimana bisa Christov tidak sadar wanita itu ada di sana?
"Sudah kubilang, aku bisa membantumu.." ucapnya dengan nada penuh arti. Ada senyum miring itu lagi di sana.
"Kau membuatku terkejut. Kupikir kau han--" Christov berhenti berbicara dan memilih untuk tidak mengatakan apa yang tengah dia pikirkan.
Cassie melangkahkan kakinya selangkah lebih dekat ke arah Christov. Dia menggigit jari telunjuk kanannya dengan senyum misterius.
"Apa yang sedang kau cari, Christov?"
Huh.. Kenapa dia suka jika namanya disebut wanita tersebut? Christov menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," kata Christov dan menolak menjawab pertanyaan Cassie. Dia harus keluar sesegera mungkin dari keadaan canggung ini. Well.. Wanita itu sudah tahu apa yang hendak dicari Christov dan dia hanya bertanya untuk membuat Christov merasa malu.
"Kau boleh bertanya jika kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Apa yang sedang kau cari?"
Christov membuang muka dari wanita itu lalu menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"You..." bisiknya pelan. Sangat pelan. Diliriknya wanita itu yang masih saja tersenyum aneh.
"Aku senang mendengar jawabanmu. Namun, jika kau bertanya untuk mengajakku berkencan maka jawabannya adalah tidak.."
Christov membelalakkan mata dan tiba-tiba merasa kesal dengan tingkat rasa percaya diri Cassie yang terlampau tinggi.
"Aku tidak bertanya hal itu.." bantah Christov.
Cassie mengangguk seolah paham, "Jadi.. kau ingin bertanya apa?"
Sekarang, Christov kehilangan kata-kata. Apa yang hendak dia tanya? Tidak mungkin rasanya langsung bertanya untuk tidur bersama? Gila! Gila sekali! Sopan santun.. Tidak ada sopan santun di sana jika Christov bertanya hal seperti itu.
"Huh.." Cassie mendengus, "Lihat? kau kehilangan kata-kata lagi," Cassie menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Lalu melangkah maju semakin dekat ke arah Christov dan menatapnya garang.
"Katakan ya jika ya. Katakan tidak jika tidak. Kau harus jujur pada dirimu sendiri. Kenapa kau menahan diri, huh?"
Christov kembali mengingat bayangan Cassie yang menampar habis-habisan mantan kekasihnya tersebut. Apa dia akan mendapat tamparan maut itu juga?
"Terkadang, terlalu jujur bisa membuatmu terjatuh dalam kondisi yang sulit," kata Christov dengan tenang dan itu membuat Cassie tersadar. Wanita itu mengangguk-angguk kecil dengan menaruh dagunya diantara jari jempol serta jari telunjuknya.
"Benar.. Kau benar.." Cassie mengalihkan tatapannya ke arah Christov lagi, "Jadi apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa kau mencari-cariku? Sedari awal, aku tahu kau tidak bisa melepaskan tatapanmu dariku..."
Christov menggeleng kecil dan memilih mengakhiri kegilaan ini sesegera mungkin. Boleh percaya diri, tapi jangan berlebihan seperti Cassie. Lebih baik tidak berurusan dengannya. Pikir Christov.
"Lupakan saja. Toh kau tidak ingin berkencan.."
"Aku memang tidak mau berkencan, tapi aku mau menjadi temanmu..." suaranya memelan dan senyum misterius itu muncul lagi.
"Teman?"
Cassie maju selangkah dan segera mengarahkan kedua tangannya pada kerah kaos Christov.
"Kau tahu maksudku, Tuan Jenius.." Cassie menaruh telapak tangannya di atas dada Christov.
"Aku juga butuh teman. Nampaknya kau juga. Bukan begitu, Christover Connel?" bisik Cassie, "Jadi katakan apa yang ingin kau katakan..." dia memundurkan sedikit punggungnya dari Christov sehingga bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
Christov menarik napas panjang dari sela bibirnya yang sedikit terbuka dan membuangnya perlahan dari hidung.
"Aku ingin melihat mawar.." katanya dengan suara parau.
Cassie menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk senyum miring seraya menggigit bibir bawahnya.
"Mawar?"
Senyum nakal Cassie seolah menular ke arah Christov. Dengan berani, dia melingkarkan tangan kanannya pada pinggul Cassie agar wanita itu semakin mendekat ke arahnya.
"Okay.. Mari kita lihat mawar bersama-sama, Mr. Connel."
****
Miss Foxxy
Halo. Bagi yang mau masuk grup silakan sebutkan dua tokoh antagonis dari antara 3 novel author. Bebas yang mana. Lalu, setidaknya, follow author dan pernah memberikan like dan komentar di karya author yah. Kalo berkenan, bagi yg punya byk relasi di MT tolong ajak teman" kamu baca novel author hehehe. Direncanakan juga bakalan ada event di novel ini dengan hadiah menarik 🤩🥰 Hope you want to help me. Love you from the moon to the earth and back.