Remember Me

Remember Me
He is My Husband



Happy Reading


****


"Wow.. Kalian saling kenal?" ucap Gerald dengan nada heboh yang sedikit berlebihan. Cassie mengangguk kecil dan mengambil posisi duduk di sofa. Dia duduk menghadap Christov yang masih berdiri dan menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Ada apa, Cassie? Ada keperluan apa?" tanya Gerald dengan senyum kaku.


"Duduklah," ujar Cassie seraya menepuk sisi sofa yang kosong dengan tangan kirinya, "Ada hal yang perlu kubicarakan. Aku akan menunggu di sini sembari menunggu kalian berdua selesai berbicara. Kau tidak keberatan-kan, Christov?"


Christov tersenyum dan menggeleng kecil, "Aku tidak keberatan," dia mengambil posisi duduk kembali.


"Kau ingin memesan gaun, yah?" tanya Cassie, "Gaun untuk kekasihmu?" pancingnya.


Gerald berdehem dengan suara keras dan ikut duduk tegang di tempatnya.


"Kekasih? Aku tidak punya kekasih..."


"Jadi, wanita pirang yang bersamamu saat di rumah sakit itu bukan kekasihmu?"


Gerald terbatuk-batuk lagi dan Cassie segera memicingkan mata dari sudut matanya. Gerald buru-buru membuang muka dan buru-buru meneguk teh-nya.


Christov tertawa kecil, "No.. Dia hanya teman,"


Cassie tersenyum dan tiba-tiba merasa lega.


"Aku datang kemari hanya ingin bertanya tentang transaksi yang kulakukan sekitar beberapa bulan yang lalu di butik ini."


"Transaksi?"


"Uhm.. Cassie. Kupikir kau jangan bertanya lebih banyak lagi. Kau membuat Mr. Connel merasa tidak nyaman.."


"Aku tidak keberatan," jawab Christov cepat.


"Ah.. Mr. Connel. Anda bisa meninggalkan email atau kontak yang bisa saya hubungi di kemudian hari. Mustahil rasanya mengingat tentang pesanan Anda saat ini. Saat kami tahu, saya berjanji akan memberitahunya pada Anda.."


Christov merogoh sesuatu dari balik saku jaketnya dan memberikan kartu bisnisnya yang berwarna hitam mewah.


"Anda bisa menghubungi saya di kontak yang tertera.."


Cassie menatap jemari Gerald yang dimanikur tersebut meraih kartu bisnis Christov.


"Thank you, Mr. Connel.."


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang," Christov berdiri dari duduknya, "Thank you, Mr.Gerald," dia memindahkan tatapannya ke arah Cassie yang sedari tadi menatapnya lekat dan entah mengapa hal itu membuat Christov merasa gugup.


"Sampai jumpa lagi, Cassie.."


"Kau masih menyimpan nomorku, bukan?"


Christov mengangguk ragu.


"Aku tidak keberatan jika kau menghubungiku untuk menikmati secangkir teh bersamamu.."


Pria itu tertawa kecil, "Bolehkan?"


"Tentu saja. Aku menunggu panggilanmu, Christov. Sampai jumpa."


"Well.. Okay.. Sampai jumpa," Christov berjalan meninggalkan tempat itu dan menghilang dari balik gaun yang tergantung. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum dan melayangkan tangan kanannya untuk menyentuh punggung lehernya yang memanas.


Di sisi lain, Cassie menatap Gerald yang tersenyum kaku dan berpura-pura meningkat teh jasmine-nya. Namun, Cassie bisa melihat rasa gugup dari Gerald. Terlihat jelas dari jemarinya yang bergetar hebat.


"Kenapa kau melihatku seperti itu, baby?" tanya Gerald sembari menaruh teh-nya kembali di atas meja.


"Kenapa kau berbohong?"


Wajah Gerald dengan cepat berubah pucat pasi dan dengan cepat dia tertawa kencang untuk melarikan diru dari situasi yang mencengkam.


"Kapan aku berbohong, hah? Kenapa pula aku berbohong padamu..."


"He is my husband.."


Senyum dari wajah Gerald menghilang dan setiap inci tubuhnya seolah kehilangan seluruh tulangnya ketika dia menjatuhkan diri ke atas sofa dan menatap Cassie dengan wajahnya yang pucat pasi. Tubuhnya lemas seketika mendengar ucapan Cassie tersebut. Jantungnya berdegup kencang dan jemarinya basah oleh keringat.


"Dia suamiku.. Aku mengundangmu ke pernikahanku karena aku percaya padamu, Gerald. Bahkan kau yang mengantarku ke altar. Aku dan kau sudah berteman sejak kita berusia enam tahun. Kenapa? Kenapa kau tega membohongiku saat aku memercayaimu sepenuhnya?" ucapnya tanpa emosi, "Dia suamiku.. Sampai kapan kalian akan membohongi dan menutupi semua fakta yang ada? Sampai kami berdua mati? Atau sampai aku Datau dia menikah dengan orang lain?"


"Ca--Cass--" suara Gerald terbata-bata dan dia benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan apa pun.


"Aku kecewa.."


"A-aku.. Aku... So--Sorry"


Cassie menarik napas dan memilih menyandarkan punggungnya di sofa. Dia memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan kasar.


"Aku bahkan tidak bisa marah padamu setelah menghabiskan malam-malamku untuk menangis dan berteriak marah ketika mengetahui penghianatan dari teman-teman baikku. Padahal, sepanjang perjalanan ke sini, aku sudah mempersiapakan pidato kemarahanku padamu dan sudah membayangkan betapa marahnya aku padamu ketika bertemu denganmu..."


"Cassie.."


"It's okay.. Aku sadar itu bukanlah kesalahanmu karena berada di posisimu juga pasti sulit. Ibuku pasti memaksamu melakukannya, bukan?"


"My baby.." Gerald menegakkan punggungnya dan memeluk leher Cassie, "My dear Cassie*.. Maafkan aku, darling.. Maafkan aku.." tangisnya.


(Cassie-ku tersayang)


Cassie membuka mata dan menepuk-nepuk lembut punggung Gerald, "Kau beruntung karena memiliki teman sepemaaf aku..."


"Maafkan aku.. Maafkan aku.."


"Jangan menangis lagi, boodooh.. Karyawan dan pelangganmu bisa mendengar suara tangismu yang mengerikan.."


Cassie tertawa kecil dan tetap menepuk-nepuk punggung Gerald, "Aku merasakan deja vu lagi saat kita duduk di bangku sekolah dasar. Kau menangis dalam pelukanku karena anak-anak sial itu merusak barangmu," kenangnya dengan suara lembut, "Kau adalah teman baikku, Gerald. Aku tidak akan bisa marah padamu. Tidak akan bisa..."


****


Belum ada panggilan. Batin Cassie seraya menatap layar ponselnya dengan tatapan kecewa. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket dan menyandarkan punggung ke dinding seraya menatap beberapa orang yang menunggu giliran untuk melakukan konsultasi.


Well.. Cassie tengah berada di salah satu rumah sakit swasta dan duduk menunggu gilirannya untuk melakukan konsultasi. Ini bukanlah rumah sakit tempat dia pernah di rawat sebelumnya, melainkan rumah sakit lain. Cassie memutuskan melakukan perpindahan perawatan karena satu alasan penting.


"Nomor antrian 37?" panggil seorang perawat yang muncul dari balik pintu.


Cassie buru-buru berdiri dan melangkah melewati orang-orang di sana dengan langkah percaya diri.


"Nomor antrian 37?" tanya ulang si perawat untuk memastikan setelah Cassie berdiri di dekatnya.


"Yes. It's me*," katanya seraya menunjukkan kertas antrian bertuliskan angka 37.


(Itu aku)


"Okay.. Silakan masuk, Miss."


Cassie tersenyum miring ketika pintu dibukakan untuknya. It's a show time (Waktunya pertujukan). Batinnya.  Dia berjalan masuk dan melihat wanita pirang tersebut dalam balutan jas putih tengah menunduk untuk memeriksa kertas kerjanya.


"Cassandra De Angelis," ucap wanita pirang itu dengan nada pelan ketika membaca kertas kerja pada pasien  berikutnya. Ada jeda keheningan yang terjadi ketika dokter tersebut berusaha mencerna nama yang tertera pada kertas tersebut. Sadar bahwa dia mengenal penilik nama itu, dokter itu buru-buru mengangkat kepala dan matanya segera bertemu dengan mata Cassie.


Cassie bisa melihat tatapan penuh keterkejutan di sana, tapi wanita pirang itu dengan cepat menguasai dirinya.


Jelas dia mengenalku.


"Miss De Angelis. Selamat pagi. Silakan duduk.."


Cassie mengambil posisi duduk di hadapan dokter tersebut dan tersenyum tipis.


"Selamat pagi, Dokter Clara Murray.."


Clara mengangguk kecil dan berdehem, "Well.. Menurut data di sini, Anda adalah pasien yang pernah di rawat di Rumah Sakit Los Angeles dan memilih pindah perawat ke rumah sakit ini," ujarnya seraya mempelajari kertas kerja berisi data kesehatan Cassie.


"Well.. Saya mendengar rumah sakit ini memiliki seorang dokter bedah saraf yang hebat.."


Clara tersenyum tipis, "Dari data yang saya terima, keadaan saraf otak anda sudah baik dan saya tidak menemukan keanehan apa pun. Namun, demi keamanan dan kebaikan Anda, kami akan melakukan pemeriksaan ulang. Kita akan melakukan CT scan dan beberapa pemeriksaan standar yang lainnya. Perawat di sini akan membantu anda untuk melakukan CT scan hari ini jika anda tidak keberatan.."


"Yeah.. Aku tidak keberatan melakukannya sekarang,"


Sampai kapan kau berpura-pura, breng-sek!


"Perawat dan dokter resident saya akan membantu dan mengarahkan Anda. Hasil pemeriksaan Anda akan keluar sekitar tiga sampai empat hari lagi. Saat itu pula, Anda perlu datang kemari. Apakah sebelumnya Anda mendapatkan obat resep?"


Cassie mengangguk, "Semacam obat saraf seperti ini," dia memberikan botol kosong obatnya dari dalam tas dan Clara meraih botol itu untuk memeriksanya sebentar.


"Oh.. Obat ini? Anda bisa mendapatkan ini pada apotek rumah sakit ini. Namun, sebelum hasil pemeriksanaan Anda keluar, saya menyarankan Anda untuk tidak meminum obat ini dulu. Apakah anda mengkonsumsi obat-obatan yang lain?"


Cassie menggeleng, "Tidak ada. Aku jarang mengkonsumsi obat-obatan,"


"Bagus. Saya akan meresepkan obat yang lain ketika hasil pemeriksaan sudah keluar. Lalu, apakah Anda pernah merasakan gejala sakit yang lain? Semacam rasa pusing atau sakit yang tidak tertahankan? Atau keinginan untuk muntah?"


Yah.. Aku ingin muntah saat ini tepat di wajah sialan-mu.


"Uhm.. Ada. Baru-baru ini kepalaku terbentur keras hingga aku harus dilarikan ke rumah sakit," Cassie memulai ceritanya dan tangan Clara yang tengah menulis sesuatu di kertas kerjanya tiba-tiba terhenti.


Dia nampaknya tahu sesuatu. Pikir Cassie.


Clara berdehem dan menatap Cassie, "Bisa Anda ceritakan detailnya? Kami memerlukan detail kejadian tersebut untuk keperluan pemeriksaan. Apakah terbentur pada benda keras atau semacamnya?"


"Aku terlibat pertengkaran kecil dengan orang asing di tempat boxing dan dia memukulku dengan sangat kuat hingga kepalaku terbentur dengan sangat keras ke lantai.."


"Artinya pemeriksaan CT scan memang harus kita lakukan. Apakah anda masih merasakan sakit?"


"Terkadang, tapi masih bisa tertahankan. Biasanya aku akan menggunakan kompres dengan kantong es untuk mengurangi rasa sakit, Dokter. Namun, kau tahu aku mengalami amnesia, bukan?"


"Yes. Itu tertulis dalam kertas ini. Anda mengalami amnesia sehingga membuat Anda melupakan kejadian kehidupan Anda selama enam bulan belakangan sebelum kecelakaan Anda terjadi. Ada apa? Apakah amnesia Anda semakin parah?"


Tentu saja tidak, sialan!


Cassie tersenyum miring, "Ingatan yang sempat terlupakan akhirnya kembali, Dokter Clara.."


****


Christov memutar pena elektroniknya sembari mempertimbangkan pilihannya kembali, apakah dia mengirim pesan pada Cassie atau tidak. Dia sudah memikirkan isi pesannya sejak ucapan Cassie dua hari yang lalu di butik tentang ajakan minum teh bersama.


Betapa pe-cun-dangnya aku. Batinnya


Christov menarik napas panjang dan menghentikan gerakan jemarinya yang memutar-mutar pena elektroniknya. Tangannya meraih ponsel yang sudah terisi pesan untuk dikirim pada nomor ponsel Cassie.


"Kita harus mengirimnya sekarang, bukan?"


Dia memejamkan mata dan menekan tombol kirim dengan jari jempolnya. Dalam gerakan perlahan, Christov mengintip dan melihat pesan itu sudah terkirim.


"Sudah terkirim.. Sudah terkirim.." bisiknya penuh kelegaan. Christov membuka kedua matanya dan membaca pesan singkat tersebut sekali lagi.


"Kuharap aku mendapat balasan. Kuharap kau membalasnya, Cassie.."


-------


--Cassandra. Ini Christoval O'Connel. Aku ingin mengajakmu minum teh sembari menikmati makan malam bersama malam ini. Apa kau punya waktu?--


*****


Miss Foxxy