Remember Me

Remember Me
First Life (2)



Happy Reading


****


"Aku sibuk hari ini, Mom, " ucap Christov untuk kesekian kalinya dengan nada penuh penolakan.


Entah sudah berapa kali Theresa menghubunginya untuk membahas pertemuannya dengan Clara Murray. Seorang wanita berusia 26 tahun yang berprofesi sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta LA. Berambut pirang, bermata biru, dan Clara dijodoh-jodohkan dengannya.


Christov kesal bukan kepalang karena hal ini. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi di abad 21 dan dia sudah cukup umur untuk mengurusi kehidupannya sendiri. Christov sudah bertemu dengan Clara. Sejauh penilaiannya, Clara adalah wanita cantik, disiplin, mandiri, dan dia memiliki semua kriteria yang diidamkan pria-pria. Namun, sayang sekali, Clara tidak bisa memikat hati Christov


"Kau kan Boss di tempat kerjamu. Kenapa kau selalu sibuk?"


Christov menahan diri tidak memutuskan sambungan ponselnya dan lebih memilih memasukkan kacamata kerjanya ke dalam tas. Diikuti beberapa perlengkapan kerjanya yang lain.


"Aku akan berangkat, Mom. Sambungannya akan kuputuskan," tangan Christov meraih ponsel yang tergeletak di meja.


"Clara akan berkunjung ke apartemenmu sore ini. Kalian sudah sering bertemu selama enam bulan belakang ini, Christov,"


Benarkah?


"Aku ada acara dengan karyawanku," kebohongan seperti kerap diucapkan Christov untuk membuat Ibunya berhenti mengganggunya terus.


"Kalau begitu bawa dia ke acaramu sebagai teman kencan,"


Christov menggesek-gesek gigi atas dan bawahnya sehingga berbunyi. Dia melakukan ini untuk menahan rasa kesalnya yang semakin memuncak. Ah.. Entah kenapa mulutnya terasa gatal ingin berbohong dengan mengatakan bahwa dia penyuka sesama jenis.


"Mom.." katanya dengan nada rendah dan Theresa yang berceloteh tiba-tiba berhenti, "Aku akan pergi kerja. Katakan padanya dia datang di lain waktu saja. Bye, Mom.." tanpa menunggu balasan dari Theresa, Christov memutuskan sambungan ponsel. Dia menghela napas panjang dan membuangnya dengan kencang, berharap beban pikirannya berkurang.


"Si--" Christov menahan dirinya tidak mengumpat dan hanya meneriakkan umpatan itu dalam pikirannya. Setelah itu, dia melangkahkan kaki keluar dari unit apartemennya, berjalan di sepanjang lorong, masuk ke dalam lift, dan terakhir berjalan di basement menuju mobilnya.


Christov menyalakan mesin mobil setelah duduk di kursi pengemudi. Matanya melihat kakinya yang sedikit kaku setelah dua bulan lebih tidak mengendarai mobil. Namun, ini bukanlah kegiatan yang sulit karena ingatannya akan pengalaman mengemudi masih tetap ada.


Perlahan, tapi pasti, Christov melajukan mobilnya meninggalkan basement apartemennya. Rasa canggung dan tidak biasa tadi perlahan hilang seiring semakin jauhnya Christov mengendari mobil. Musik Tchaikovsky ikut membuat ketegangan dan kekesalan dalam dirinya hilang.


Namun, rasa tenang itu hilang saat sebuah panggilan masuk dalam ponselnya dan membuat musiknya berhenti. Di layar GPS mobil ada nomor tidak dikenal. Christov terpaksa mengurus nomor ponsel lamanya yang hilang dalam kecelakaan dengan nomor yang sama karena jika mengganti dengan nomor baru, kesulitan lain akan muncul. Walau harus mengeluarkan banyak uang untuk mengurus ini, setidaknya para klient dan siapa pun yang menyimpan nomornya masih tetap bisa menghubunginya. Walaupun Christov harus menyimpan data kontak ponselnya dari awal.


 Setelah berpikir sejenak, Christov menerima panggilan itu dan diam, menunggu lawan bicara berbicara terlebih dahulu.


"Halo?" suara wanita, "Apa ini Christov?"


"Christover," tegas Christov, orang yang tidak dia kenal dengan baik tidak perlu bersikap sok akrab dengannya, "Ini Christover O'Connel. Dengan siapa saya bicara?"


"Ah.. Ini Clara Murray. Jadi kau tidak menyimpan nomorku, yah?" katanya dengan nada kecewa yang dibumbui sedikit canda dan Christov hanya melihat layar GPS itu dengan wajah datar.


"Maafkan aku. Seluruh kontak dalam ponselku hilang karena kecelakaan itu,"


"Begitukah? Uhm.. Ibumu berkata bahwa kau mengijinkanku berkunjung ke tempatmu.."


Mulut Christov jatuh ke bawah, membuatnya menganga kecil. Sekarang dia benar-benar ingin mengumpat keras. Ibunya selalu saja mengatakan sesuatu sesuka hatinya.


"Benarkah?" Christov tertawa kecil palsu, "Ibuku selalu berkata sesuka hatinya. Sejujurnya aku tidak bisa, Miss Murray. Namun, kita bisa bertemu di akhir pekan," sekarang dia harus mengelak seperti ini demi sopan santun. Ahk! Clara, sejujurnya Christov tak ingin melihatmu baik hari ini, maupun akhir pekan.


"Aku memiliki segudang kesibukan setelah kembali dari rumah sakit, Miss Murray."


"Panggil aku Clara..."


Oh.. Okay. Nada Clara penuh nada perintah.


"Kita bisa makan siang bersama akhir pekan," saran Christov karena jika makan malam, mereka bisa berakhir di tempat yang tidak seharusnya.


"Okay, baiklah.."


"Aku akan tutup panggilan. Bye.."


"Bye, Christov..."


Christov menutup panggilan dan musik itu kembali berjalan. Hanya menunggu beberapa saat, dia sudah sampai di gedung tempat kerjanya. Setelah memarkirkan mobil di basement, dia memasuki lift dan menuju lantai dua belas, tempat lokasi kerjanya berada.


Saat keluar dari lift dan berjalan di sepanjang lorong, Christov menyadari bahwa beberapa ruangan di sana sudah ditutup. Whoa.. Berapa banyak yang dia lupakan? Persaingan bisnis yang ketat membuat banyak para pengusaha kecil di gedung ini harus gulung tikar. Dia bersyukur masih bisa bertahan. Setidaknya, para pekerjanya tidak menjadi pengangguran.


Christov sudah lama bekerja di gedung ini dan masih bertahan hingga saat ini. Salah satu mimpinya adalah bisa pindah ke tempat yang lebih besar, tapi dia memikirkan nasib-nasib para Office Boy/Girl dan penjaga yang bekerja di sini. Setidaknya, Christov bisa membantu mereka dengan bisa mempertahan diri di gedung ini.


Dia berjalan ke arah ruangannya yang berada di belokan gang dan melihat meja kerja Elisabeth ada di sana. Dia tengah bekerja di balik meja. Saat mendengar langkah kaki Christov, dia mengangkat kepalanya dari berkas-berkas yang tengah dia kerjakan dan buru-buru berdiri.


"Good morning, Sir.."


Christov tersenyum, "Good morning."


"Senang melihat anda bisa kembali bekerja,"


"Thank you. Apa mereka sudah di dalam?" dia berusaha melihat pekerjanya dari balik dinding kaca yang buram.


"Yes, Sir.."


Christov mengangguk sekali dan beralih ke arah pintu kaca lalu mendorongnya. Dia menatap ketiga pekerjanya yang sudah mulai bekerja sebelum waktunya di meja bulat yang luas. Sadar akan kehadiran Christov, ketiganya segera bangkit untuk melihatnya.


"Good morning, Sir.."


"Welcome back, Sir.."


Christov mengangguk kecil dengan senyum hangat, "Duduklah.." Christov mengambil posisi di kursi di tempatnya yang biasa. Matanya melihat meja bulat yang dipenuhi oleh kertas dan alat gambar lainnya sementara ketiga pekerjanya menatapi dia, kagum dengan ketampanan Bos mereka.


Christov melihat ketiganya, "Kalian sudah siap bekerja kembali denganku?"


"Yes sir!" jawab ketiganya serentak dengan penuh semangat dan Christov senang mendengar. Akhirnya, setelah sekian lama, Christov bisa melanjutkan hidup normalnya.


***


Miss Foxxy


Maaf tidak update semalam yah >_< Author ketiduran waktu ngedit. Hikss..Aku bakal usahain update setiap hari, tapi untuk Minggu enggak yah 😬🙂 Hope you'll like it. Maaf ceritanya berjalan lambat yah. Jangan lupa dukung author. Thank you. <3