
Happy Reading
****
"Christov..."
Christov membuka matanya secara mendadak ketika mendengar suara bisikan wanita yang memanggil namanya tersebut dalam tidurnya. Matanya menatap kosong ke langit-langit bangunan dan berusaha mencerna apa yang telah terjadi. Telinganya menangkap suara ponselnya yang bergetar tidak jauh darinya. Christov bangkit dan mencari sumber suara tersebut.
Saat bangkit dari tidurnya, Christov menyadari bahwa tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Dia membelalakkan mata dan segera ingat tentang keberadaannya sendiri. Christov menatap sekitar kamar dan tidak menemukan Cassie di mana pun.
"Sial," dia mengumpat karena tidak tahu harus bereaksi apa. Tidur bersama wanita yang harus dia temui beberapa kali dan berakhir di tinggalkan sendirian di dalam kamar hotel. Bukankah itu terasa aneh?
Christov buru-buru mencari keberadaan ponselnya yang masih saja berdering. Setelah menemukannya, Christov memeriksa jam pada ponsel terlebih dahulu dan menemukan sekarang sudah hampir pukul delapan pagi.
Astaga!
"Halo?" sapa dia setelah sambungan tersambung.
"Selamat Pagi, Sir. Apakah Anda datang ke kantor hari ini?" ujar Elisabeth, asisten Christov dari seberang.
Christov berjalan ke arah jendela dan melihat hujan deras kembali mengguyur kota. Dia memijat pelipisnya yang terasa berat. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman karena berbicara dengan asistennya dalam keadaan te-lan-jang.
"Apa aku punya pertemuan penting hari ini?"
"Anda memiliki beberapa agenda yang harus dilaksanakan hari ini, Sir. Bertemu pihak klient dari proyek Z, lalu mengunjungi lokasi pembangunan proyek A serta B."
Sial. Bagaimana bisa aku melupakannya?
"Kapan pihak klient proyek Z akan datang?"
"Mereka baru saja menghubungi kantor dan memberitahu akan datang sebelum pukul sembilan, Sir.."
"Aku akan di sana sebelum mereka datang. Thank you, Elisabeth."
"Yes, Sir.."
Setelah sambungan ponsel terputus, Christov menatap sekitar dan menemukan pakaiannya terlipat rapi di atas kursi sofa.
"Setidaknya dia melipat pakaianku," gumamnya pelan lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selesai dengan mandi, Christov mengenakan pakaiannya yang dia pakai kemarin malam. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin dan dia nampak rapi. Tak lupa juga dia untuk menyisir rambutnya. Pulang ke apartemennya di kondisi seperti ini tidak akan membuatnya datang tepat waktu ke kantor.
Christov mengenakan jaketnya dan menatap sekitar kamar hotel untuk mencari apakah dia meninggalkan sesuatu. Matanya berhenti bergerak ketika menemukan amplop hitam di atas meja nakas. Dengan langkah perlahan, Christov berjalan ke arah amplop itu. Saat sudah memegang amplop hitam berbentuk kotak tersebut, dia hendak memutar amplop tersebut, tetapi menghentikan gerakannya sendiri ketika mendengar ponselnya kembali berdering.
"Sial," dia memasukkan amplop itu ke dalam saku jaket tanpa memeriksanya terlebih dahulu lalu menerima panggilan dari Elisabeth yang mengatakan klient mereka sudah hampir sampai.
Pukul setengah setengah sembilan tepat, Christov sudah di dalam mobilnya dan siap pergi menuju tempat kerja. Dia menikmati sandwich serta kopi panas sebagai sarapannya. Christov harus melewati jalan tikus agar terhindar dari kemacetan parah. Menit-menit terakhir sebelum jam sembilan tepat, Christov sampai di kantornya.
Setelah memarkirkan mobil, Christov berlari kencang setelah keluar dari lift menuju kantornya. Elisabeth berdiri di tempat biasanya seolah tengah menunggu kedatangan Christov. Wanita tersebut segera mendesah penuh kelegaan setelah melihat bos-nya tersebut.
"Mereka sudah datang?"
"Yes, Sir.. Mereka baru saja sampai," ucap Elisabeth seraya memberikan berkas materi untuk pertemuan Christov nanti.
"Thank you," Christov melihat hidung Elisabeth yang mengerut, "Ada yang salah?"
Elisabeth tersenyum canggung canggung, "No, Sir.. Tidak ada yang salah."
Bau badanku-kah? Batin Christov.
"Apa bau badanku?"
"No, Sir," Elisabeth menggeleng lagi, "Anda terlihat hebat.."
Christov mengangguk kecil dan memilih mempercayai Elisabeth. Dia segera masuk ke dalam kantornya dan menemukan ketiga pekerjanya sudah ada di sana. Christov masuk ke ruang kerjanya dan menemukan dua orang dari pihak proyek Z sudah duduk di sofa, tengah menunggu kedatangan Christov. Mereka berdua segera berdiri sesaat Christov muncul dan tersenyum.
"Good morning. Maafkan atas keterlambatan say"
"No problem*. Kami baru sampai di sini.."
(*Tidak masalah)
"Kalau begitu, bisa kita mulai?" tanya Christov dengan suara profesional.
"Yes, Of Course.."
****
Sudah hampir pukul dua belas siang dan Cassie tak kunjung mendapatkan panggilan apa pun dari Christov. Matanya tidak henti-hentinya memeriksa ponsel setiap sepuluh menit dan terus berharap mendapat panggilan dari pria itu. Namun, tetap saja tidak ada.
"Apakah dia tidak melihat amplop itu atau dia sedang sibuk?" tanya Cassie pada dirinya sendiri dengan nada skeptis. Dia berdecak lidah dan menutup layar ponselnya dengan kesal.
Memikirkan ini hanya memperburuk kesehatanku. Batinnya
Cassie berdiri dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku blazer yang dia kenakan lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.
"Aku akan pergi melihat sekitar," ucapnya pada Lina.
"Yes, Miss," kata Lina dari balik meja kerjanya.
"Apakah proyek yang kupegang sebelumnya sudah dilaksanakan?"
Lina berdiri, "Proyek untuk penyanyi pendatang baru W?"
"Yeah.."
Lina menggeleng kecil, "Proyek itu tiba-tiba ditunda untuk waktu yang tidak diberi tahu, Miss"
"Apa? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu tentang kabar ini?"
"Saya tidak tahu tentang itu, Miss. Namun, beredar gosip bahwa proyek itu ditunda karena sponsor tidak mau membiayai proyek karena Anda tiba-tiba mengundurkan diri sebagai ketua proyek."
"Tidak mungkin. Aku tahu aku hebat, tapi aku tidak memiliki pengaruh sekuat itu di perusahaan ini. Toh, bukan hanya aku produser yang berbakat di perusahaan ini.."
"Begitulah, Miss. Namun, gossip sudah beredar dan beberapa pihak mulai menyalahkan Anda.."
Cassie membelalakkan mata, "Tidak masuk akal... Orang-orang di perusahaan ini tahu pasti bahwa aku tidak memiliki pengaruh sekuat itu hingga sponsor berhenti membiayai proyek kita.. Aku berhenti juga karena alasan yang jelas."
"Namun, Miss.." suara Lina tiba-tiba berubah kecil dan menatap menatap ke sana- ke mari, "Produser Laura mendapatkan sponsor dari suatu perusahan besar untuk menangani proyek pada gadis remaja berusia 16 tahun.."
"Produser Laura?"
Produser Laura Will adalah wanita berusia 35 tahun yang selalu menganggap Cassie sebagai musuh. Yah.. Wanita itu begitu terobsesi untuk mengalahkan Cassie, tapi sayangnya, momen itu tidak pernah terjadi karena keahliannya masih jauh di bawah standar Cassie. Saat Cassie selalu mendapatkan proyek besar, Laura hanya akan mengurus proyek kecil saja. Itu-lah alasan yang membuat Laura membenci Cassie dan seluruh karyawan perusahaan tahu akan fakta itu. Namun, Cassie tidak peduli dan tidak mau tahu tentang keberadaan Laura. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang membencinya selama itu tidak merugikan dirinya.
"Yes, Miss.. Bayangkan perusahaan besar memberi sponsor pada produser Laura, padahal semua orang tahu bahwa beliau bukanlah produser yang berbakat. Semua bertanya-tanya mengapa Produser Laura yang dipilih disaat lebih banyak produser lain yang lebih berbakat di perusahaan ini."
Cassie melipat bibirnya membentuk garis lalu memikirkan kejanggalan ini.
"Aneh.." ucapnya, "Jadi kapan mereka memulai proyek ini?"
"Hari ini.. Mereka sudah memulainya hari ini, Miss.."
"Apa? Secepat itu?" Cassie tidak bisa menutupi nada penuh keterkejutan di suaranya sendiri karena normalnya, untuk mulai mengerjakan proyek, dibutuhkan waktu minimal tiga bulan saja untuk merencanakan proyek, "Bagaimana dengan lagu-nya?"
"Entahlah, Miss.. Beberapa orang mengatakan jika Produser Laura menyimpan ratusan lirik lagu yang dia ciptakan sendiri, tapi saya tidak terlalu percaya. Ratusan?" Lina tertawa remeh, "Setidaknya seseorang harus tetap menggunakan akal sehatnya dalam menyebarkan gossip."
"Aneh.." kata Cassie lagi.
"Yes, Miss.. Ini sangat aneh. Proyek yang produser Laura tangani sebelumnya saja gagal di pasaran karena lagu ciptaannya tidak menarik dan hanya tersedia beberapa lagu saja. Jika beliau punya ratusan lagu ciptaan sendiri, seharusnya produser Laura menggunakannya pada proyek sebelumnya. Bukankah gossip itu terlalu berlebihan? Ratusan? Benar-benar omong kosong."
"Ah.. Good morning, Sir," sapa Cassie dan Lina secara bergantian saat pria paruh bayah itu berdiri di dekat mereka
Ada apa gerangan datang ke mari?
"Senang melihat Anda kembali bekerja, Miss De Angelis. Apakah keadaan kesehatan Anda sudah membaik?"
"Well.. Begitulah. Semuanya terkendali.."
"Uhm.. Aku akan menyampaikan tujuanku datang ke mari karena aku masih memiliki apat penting setelah ini. Kau tahu proyek yang ditangani Produser Laura?"
Cassie mengangguk kecil, "Gossip menyebar dengan cepat jadi yah.. Aku sudah mendengarnya.."
"Ini," kata pria itu seraya memberikan dokumen pada Cassie. Dia menatap dokumen itu dengan tatapan bingung dan menerimanya dengan gerakan ragu.
"Boleh saya tahu, ini apa?"
"Program Rencana Proyek yang ditangani Laura. Sponsor benar-benar memberikan jumlah yang sangat besar untuk proyek ini jadi kau ikut diajukan untuk ikut andil dalam proyek ini.."
Cassie tertawa canggung, "Wow.. Well.. Terimakasih, Sir. Namun, saya berpikir itu bukanlah ide yan bagus.."
"Jangan begitu.. Aku tidak menyuruhmu untuk mengerjakan pekerjaan utama. Aku hanya ingin kau mengawasi jalannya proyek dan membantu mereka dengan keahlianmu. Semua tahu bahwa kau jauh lebih hebat dari Laura. Hanya saja, pihak sponsor ini Laura yang menangani proyek ini. Namun, terlepas dari itu, beberapa pihak ini kau ikut bergabung dalam proyek ini. Semua pihak ingin proyek ini berjalan lancar.."
Mengapa pihak sponsor memilih Laura langsung? Bukankah itu aneh?
Cassie tertawa canggung lagi, "Apakah produser Laura tahu tentang ini?"
"Yah.. Dia juga ikut mengajukan Anda untuk ikut andil dalam proyek ini.."
What the hell?
"Jangan ragu.. Pergilah memeriksa mereka di studio sekarang. Kau hanya perlu datang sesekali dan memeriksa perkembangan perekaman yang ada. Kau tahu berapa banyak bonus yang akan kita terima seandainya proyek ini berhasil, Miss De Angelis?" ujarnya dengan suara yang kikir.
Dasar manusia serakah.
"Well.. Saya cukup terkejut karena nama saya ditulis tanpa persetujuan saya. Namun, ini merupakan tawaran yang hebat. Thank you.."
"Tentu saja ini tawaran yang hebat. Pergilah, okay?"
Cassie mengangguk, "Yes, Sir.."
Manajer Produksi tersebut mengangguk sekali dari beralih dari sana dengan langkah girang. Cassie mengikuti arah kepergian pria itu hingga hilang di balik lorong lalu memutar kepalanya ke arah Lina yang juga terkejut.
"Wow.." kata Cassie dengan nada sakartis.
"Miss, mengapa Produser Laura menginginkan Anda dalam proyeknya? Apakah beliau ingin menyombongkan diri?"
"Sepertinya," Cassie membuka lembaran dokumen tersebut, "Perusahaan ini semakin aneh saja," katanya saat melihat profil penyanyi pendatang baru tersebut. Seorang gadis remaja berusia 16 tahun bernama Kimberly. Foto yang tertera dalam dokumen membuat Cassie heran karena riasan tebal dari Kimberly.
"Apakah ini penampilan anak remaja zaman sekarang?" ucapnya melihat pakaian Kimberly dalam foto.
"Begitulah, Miss. Banyak remaja yang berpenampilan seperti wanita dewasa zaman sekarang dan melakukan hal-hal bo-doh di Internet."
Cassie mengangguk kecil dan membuka lembaran yang lain. Tangannya mendadak berhenti membuka lembaran yang lain saat melihat salah satu lirik lagu dalam dokumen ini.
"What the fvck?" umpatnya penuh nada ketidakpercayaan.
"Ada apa, Miss? Ada yang salah?"
Cassie menunjukkan lirik lagu yang berisi kata-kata tak senonoh di sana pada Lina dan asistennya tersebut bereaksi sama seperti dia. Cassie lalu membuka lembaran yang lain dan membaca konsep untuk video klip dari lirik lagu tersebut.
"Apa? Apa-apaan ini? Apa mereka benar-benar menyuruh gadis remaja yang belum legal menyanyikan lirik sampah seperti ini?"
***
Madison menghembuskan asap rokoknya ke udara dan menilai wanita yang duduk di hadapannya. Jadi dia? Pikir Madison. Tidak se-wow yang kupikirkan
"Good Morning, Miss.. Direktur perusahaan mengatakan jika Anda ingin bertemu dengan saya.. Ada yang bisa saya bantu?"
Madison menaruh puntung rokoknya di pinggiran meja lalu berdehem sekali.
"Dari informasi yang kudapat, kau membenci Cassie, bukan?" ucapnya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"A-Apa? Apa yang sedang Anda bicarakan?"
"Aku akan memberikanmu kesempatan untuk mengalahkannya," ucapnya seraya merogoh kartu bisnis dari dalam sakunya, "Aku sudah membicarakan ini dengan direktur perusahaan ini dan dia menyetujui untuk melakukan perekaman lagu pada seseorang yang kukenal. Aku ingin kau yang memimpin proyek ini.."
Wanita yang duduk di depannya tersebut menerima kartu bisnis Madison.
"Kau tahu perusahaan manufaktur itu, bukan? Perusahan itu akan memberikan sponsor besar jika kau mau menyetujui program ini.."
"Namun--"
"Jangan khawatirkan yang lain, lirik lagunya bahkan sudah ada. Aku akan memindahkan hak ciptanya padamu. Ini adalah momenmu untuk mengalahkan Cassie, Miss Laura Will.."
"A-apa?" ucap Laura dengan suara terbata-bata karena belum bisa mencerna informasi yang ada.
"Aku tidak akan berbicara banyak lagi. Informasi yang perlu akan dijelaskan oleh boss mu secara langsung," Madison berdiri dari duduknya dan mengambil putung rokok untuk dihisap lagi. Matanya menilai Laura lagi dan tahu bahwa wanita itu tidaklah berbakat.
Sedikit uang di sana-sini maka urusan segera terselesaikan.
"Pakai kesempatan ini dengan baik, Laura Will..."
****
"Ingatan Cassie kembali," ucap Clara tanpa pembuka apa pun pada Theresa yang duduk di hadapan meja kerjanya.
"A-apa? bagaimana kau tahu itu?"
"Ceritanya panjang, tapi aku tahu dia tidak akan tinggal diam."
"Kalau begitu kita harus menyuruh Chris--"
"Tidak," potong Clara, "Tidak, Mrs. Connel. Dari pada memaksa Christov terlibat dalam pertunangan yang tidak masuk akal, lebih baik kita mengganti strategi kita.."
"Strategi? Strategi apa?"
Clara mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuknya pada meja dan menatap lekat Theresa yang berwajah panik.
Kuharap dia setuju.
"Berpura-puralah Anda mengindap penyakit kronis Mrs Connel.."
"A-apa? Penyakit kronis?"
"Yah.. Penyakit kronis dan sisanya akan ku-urus, Mrs. Connel.."
****
Miss Foxxy.
Ada yang bingung, kenapa Cassie gk langsung ngomong ajah sama Christov? Menurutku lebih baik membiarkan Christov melihat buktinya terlebih dahulu lalu menyimpulkannya dari pada mendengar Cassie bilang "Aku isterimu" saya otaknya masih nge-blank.
Kemudian, kenapa Cassie gk rahasian ajah ingatannya sudah kembali dari Clara? Cepat atau lambat, orang bakalan tahu kok ingatan Cassie udah kembali. Terlebih, sifat Cassie itu menggebu-gebu dan terkesan tdiak sabaran.
Aku pengen lanjut jelasin terkait dua hal tadi, cuman gitulah.. aku malas (hehehe). Mari kita ikuti saja alur ceritanya. Namanya juga novel, dunia fantasi. Harus dibuat ribet. Kalo gk dibuat ribet, bukan novel namanya