
Happy Birthday.
****
"Berhenti menghubungiku, Christov. Aku sedang sibuk," kata Cassie dengan tajam begitu dia menerima panggilan Christov untuk kesekian kalinya dalam minggu ini.
"Kalau kau tidak mau, aku tinggal pergi ke tempat boxing dan menyuruh mereka memukuliku,"
Cassie menarik napas lalu memijat pelipisnya yang terasa sakit karena mendengar ucapan bo-doh Christov, "Kau membaut seluruh saraf-ku menegang, Christov. Jangan bertindak bo-doh dan sudah kukatakan kita tidak akan membahas ini lagi.."
"Itu bekerja padamu dan kemungkinan itu juga akan bekerja padaku.."
"Lalu bagaimana jika itu tidak bekerja padamu dan malah membuat keadaanmu semakin parah? Oh my!" Cassie menggerakkan tangan kirinya ke udara, "Aku hanya beruntung, Christov. Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya padamu? Aku tidak mau mengobarkan keselamatanmu agar ingatanmu kembali.. Aku tidak mau karena bayangan kau berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit benar-benar memberiku mimpi buruk," Cassie menggeleng kecil dan menatap sedih ke arah bayangannya yang buram pada jendela kaca kantornya.
"Ini membuatku gila, Cassie. Rasanya aku bisa gila jika aku tidak bisa mengingat kenangan kita lagi.."
"Jangan gila.. Please.. Kita masih bisa menciptakan momen kita bersama kembali, Christov... Kita bisa memulainya kembali.."
"Namun, ini benar-benar menyiksaku.. Ingatanku yang tidak kembali membuatku tidak tenang.."
Cassie menarik napas lelah lalu menghembuskannya. Bahunya lesu dan wajahnya berubah murung. Dia pikir mereka akan baik-baik saja, tapi tidak. Cassie pikir mereka bisa memulai lagi tanpa perlu takut akan ingatan yang hilang, tapi Christov tidak mau. Dia pikir semua akan mudah, nyatanya tidak semudah yang dia bayangkan.
Christov berkata jika dia tidak sanggup mengukir kisah yang lain bersama Cassie di masa sekarang saat masa lalu yang tidak dia ingat sama sekali menghantui dirinya. Bagaimana? Bagaimana cara Cassie untuk meyakinkan Christov? Oh my... Pria itu terus memintanya agar memukulnya. Bagaimana mungkin Cassie sanggup memukul Christov?
"Berikan aku waktu untuk berpikir sebentar, Christov.. Aku perlu meluruskan hubungan kita pada keluargaku. Tidak hanya pada Mom dan saudariku, tapi juga Ayahku. Ayahku akan datang berkunjung ke LA akhir pekan ini. Setelah itu, kita mencari cara agar ingatanmu dapat kembali lagi."
Kumohon katakan yah, Christov. Kumohon.
"Kalau begitu, bawa aku besertamu menemui keluargamu.."
Cassie memijat pelipisnya saat melihat persoalan yang lain muncul, "Biarkan aku sendiri yang menemui mereka dan kita dapat bertemu mereka di hari berikutnya setelah aku menceritakan serta menyakinkan mereka tentang hubungan kita.."
"Aku ingin menemanimu, Cassie. Aku tidak mau kau menghadapinya sendirian.."
Cassie menggenggam erat ponselnya dan menahan diri untuk tidak berteriak marah. Christov benar-benar sangat keras kepala akhir-akhir ini dan Cassie tidak tahu alasan mengapa suaminya tersebut bertingkah seperti itu.
"Okay.. Okay. Kau ikut," katanya dengan nada mengalah. Cassie harus menghentikan pembicaraan ini agar dia bisa kembali bekerja.
"Kau marah jika aku ikut?"
Cassie melipat bibirnya membentuk garis keras, "No.. Tidak sama sekali, Christov.."
"Okay.. Maafkan aku selalu menghubungimu, Cassie. Namun, aku tidak punya teman atau orang lain untuk berbagai keluh kesahku. Aku sering cemas dan merasa panik setelah mendengar semua cerita tentang kita. Jadi aku kerap menghubungimu untuk membuatku merasa tenang. Aku hanya punya dirimu, Cassie."
Amarah Cassie perlahan surut dan digantikan oleh senyum haru setelah mendengar perkataan pria tersebut.
"Kau tahu? Aku akan selalu ada untukmu, Christov.. Kau tahu? Aku harus memutuskan sambungan sekarang karena aku harus kembali bekerja.."
"Yeah... Okay."
"I love you, Christov.."
"I know, Cassie.. I know.."
Sambungan ponsel terputus dan Cassie menarik ponselnya ke hadapan wajahnya. Dia menatap nama Christov yang terpampang di layar ponsel dan seluruh bulu kuduknya meremang karena jawaban Christov tadi mulai menggema dalam kepalanya.
"Perasaan apa ini? kenapa aku merasakan deja veu?" Cassie tersenyum penuh ketidakpercayaan, "Bagaimana bisa dia tidak mengatakan hal yang sama padaku? Apa perasaannya juga ikut menghilang bersama ingatannya?"
****
Cassie keluar dari mobilnya lalu berlari kecil melintasi halaman rumah Barbara, Ibunya. Dia menaruh kedua tangannya ke atas untuk melindungi matanya dari air hujan. Setelah sampai di atas teras, Cassie memperbaiki penampilannya sebelum akhirnya menekan bel pintu rumah.
Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka dan Cassie menemukan Miranda dengan piyama satin dengan sandal bulu yang empuk. Saudarinya itu jelas tengah menikmati waktu bersama ranjangnya di cuaca mendung seperti ini.
"Well.. Cassie?" tanya Miranda dengan nada bingung. Bingung karena melihat saudarinya tersebut datang berkunjung di hari biasa seperti ini.
"Mom di rumah?" Cassie masuk ke dalam rumah lalu melepas sepatunya tanpa mengucapkan sapaan terlebih dahulu.
"Yeah," Miranda menutup pintu lalu merapatkan piyamanya lagi, "Kupikir kau datang akhir pekan ini.."
Cassie menggeleng kecil lalu melepas jaketnya sembari berjalan masuk ke arah dapur, "Rencana berubah karena ada sesuatu yang perlu aku bicarakan."
"Sesuatu? Sesuatu apa?"
"Miranda? Siapa itu?" teriak Barbara dari lantai atas. Wanita paruh baya itu pasti mendengar bel rumah.
"Cassie, Mom," jawab Miranda dan ikut bergabung menuju dapur dan menemukan Cassie yang sudah duduk di kursi makan.
"Ada apa? Kau terlihat serius?"
"Cassie?" panggil Barbara saat dia sudah ikut bergabung ke dalam dapur. Wanita paruh baya itu juga mengenakan piyama satin warna hitam dan sendal bulu. Well.. Di cuaca mendung dan dingin seperti memang pilihan yang terbaik adalah menikmati waktu di atas tempat tidur.
"Hay, Mom," sapa Cassie dengan senyum tipis, "Ada yang perlu aku bicarakan dan aku tidak punya banyak waktu karena aku harus kembali ke Los Angeles.."
Miranda dan Barbara segera mengambil tempat di hadapan Cassie dan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Menginap saja. Sekarang sudah gelap dan cuaca sangat buruk. Badai bisa saja terjadi sewaktu-waktu," kata Barbara, "Miranda, buatkan kita teh..."
"Tidak perlu," cegat Cassie, "Tidak perlu, Mom.. Aku tidak bisa berlama-lama.."
"Jangan begitu. Butuh waktu tiga jam untukmu agar sampai di pusat kota Los Angeles. Mungkin lebih lama lagi karena sedang cuaca buruk seperti ini.."
"That's okay.. Kau akan baik-baik saja. Ada hal penting yang perlu aku katakan untuk Mom dan Miranda sebelum Dad datang dari itali akhir pekan ini.."
Kedua keluarga Cassie tersebut segara menatapnya dengan tatapan waspada dan curiga.
"Ada apa? Kau sakit lagi?" tanya Miranda dengan nada hati-hati dan Cassie menggeleng.
"Aku harap kau dan Mom tidak berusaha memotongku selama aku berbicara. Biarkan aku selesai berbicara dan setelahnya kau dan Mom bisa berbicara. Okay?"
"Okay.."
Cassie menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Kedua tangannya yang berada di bawah meja saling bertautan dan kakinya ikut bergerak-gerak gelisah. Cassie belum siap untuk mengatakan ini, tapi dia harus mengatakannya sekarang. Dia tidak mau memberitahukan semua ini saat kunjungannya bersama Christov akhir pekan nanti karena Cassie yakin terjadi keributan yang tidak diinginkan. Lebih baik dia membicarakannya secara pribadi bersama keluarganya terlebih dahulu sebelum mengajak Christov. Lagi pula, Cassie tidak bisa menunggu lagi hingga akhir pekan karena dia benar-benar ingin memberitahukan mereka tentang keadaannya.
"Ingatanku sudah kembali lalu aku dan Christov sudah memulai kembali hubungan kami.."
"A-apa?" ucap keduanya secara bersamaan dengan nada penuh keterkejutan.
"Namun, ingatan Christov belum kembali. Walaupun begitu, kami berdua sudah memulainya kembali," lanjut Cassie dan tetap berusaha santai saat kedua keluarganya itu tampak terkejut, cemas, dan lainnya.
"No way.." bisik Barbara penuh ketidakpercayaan.
Namun, Cassie tahu dia tidak bisa menghadapi situasi ini dengan santai karena kedua keluarganya tersebut telah membohonginya. Dia ingin marah! Marah!
"Lucu, bukan? Keluarga Christov dan keluargaku berusaha menutupi tentang hubungan dan pernikahan kami, tapi kami berdua malah menemukan jalan pulang satu sama lain," Cassie menahan diri untuk tidak menangis. Emosinya benar-benar berubah dengan cepat. Sebelumnya dia tidak merasakan apa-apa, lalu berubah ke amarah, dan sekarang dia ingin menangis. Kenapa setiap kali mengucapkan mengucapkan nama Christov, dia ingin menangis? Kenapa?
"Aku mencintainya, Mom.. Please.. Kumohon beri aku restumu.." dia mengangkat kedua tangannya lalu menggenggam tangan kanan Barbara yang berada di atas meja.
"Sudah berapa lama? Sudah berapa lama ingatanmu sudah kembali?"
"Sebulan yang lalu setelah pertengkaranku di arena boxing.."
"Lalu kenapa kau tidak langsung memberitahuku?" protes Miranda.
"Karena aku marah. Aku marah padamu, pada Mom, dan pada ketiga teman baikku.. Aku sangat marah hingga aku tidak mampu melihat wajah kalian dan memilih mengurung diri," kata Cassie dengan nada setengah histeris.
Miranda menahan napasnya dan perasaan bersalah segera menghantam dirinya. Menghantamnya dengan sangat keras. Dia tahu bahwa saat-saat seperti ini akan terjadi, tapi Miranda belum mempersiapkan dirinya. Dia belum siap melihat wajah sakit hati dari Cassie karena telah membohongi saudarinya tersebut.
Cassie menarik kedua tangannya dari tangan Barbara lalu mengusap sudut matanya yang berair.
"Aku marah karena kalian membohongiku. Aku marah karena kalian membuang semua jejak hubunganku dengan Christov. Aku marah karena orang-orang yang kupercayai membohongi diriku," hisaknya. Air matanya mulai menetes dengan tidak terkendali. Bukan seperti ini rencana awal Cassie. Seharusnya dia tidak menangis. Seharusnya dia kuat dan menahan dirinya. Namun, tidak bisa. Tetap tidak bisa. Rasa marah dan kekecewaan itu masih tetap ada. Sekeras dan sekuat apa pun dia menyembunyikan perasaannya, rasa sedih, amarah, dan kecewa itu masih tetap muncul.
"Cassie," bisik Barbara dengan nada penuh hancur. Yah.. Dia merasa hancur melihat puterinya yang menangis tersedu-sedu. Namun, hal yang semakin membuat hari Barbara hancur adalah fakta bahwa puterinya tersebut menangis karena dirinya.
"Aku pikir aku bisa membenci kalian, tapi tidak bisa, Mom.. Aku tidak membencimu, Miranda, dan ketiga sahabatku. Benar-benar tidak bisa.. Aku... Aku.." Cassie menarik napas panjang saat menemukan dirinya sendiri kesulitan berbicara karena emosinya yang muncul tidak terkendali. Pada akhirnya, dia membiarkan emosi itu meluap dan menghantam dirinya lagi. Membiarkan dirinya menangis lagi seperti yang terjadi dulu-dulu. Cassie tidak berusaha lagi menahan tangisnya sendiri. Dia sudah lelah menahan emosinya sendiri karena itu benar-benar membuatnya lelah secara mental dan fisik. Menahan emosi itu benar-benar menyiksanya.
Diangkat kepalanya untuk menatap Barbara lalu melipat bibirnya membentuk garis keras agar tidak terhisak kencang.
"Aku mencintainya, Mom.. Sangat-sangat mencintainya. Please.. Please.. Berikan aku restumu. Kumohon, Mom.."
Barbara mendorong kursinya ke belakang saat berdiri lalu berjalan ke arah Cassie. Tanpa aba-aba dan tanpa keraguan, wanita paruh baya itu memeluk puterinya tersebut dan tangis Cassie akhirnya pecah. Dia mulai menangis dalam pelukan Ibunya seperti anak kecil. Menumpahkan seluruh emosinya hingga Cassie merasakan lega. Hangat. Yah.. Pelukan Ibunya sangat hangat dan itu membuat Cassie tidak mampu lagi menahan emosinya.
"Oh my baby girl," ucapnya sembari mengelus punggung Cassie yang bergetar dengan lembut, "Maafkan Mom sayang.. Maafkan Mom yang sudah berbohong padamu. Maafkan Mom sudah membuatmu menderita sepeti ini."
Keluarga itu bagaikan cabang-cabang yang ada di pohon. Cabang itu akan tumbuh ke arah yang berbeda-beda, tapi cabang itu terlahir dari satu akar yang sama. Sejauh apa pun jarak yang memisahkan di antara anggota keluarga pergi dan separah apa pun perkelahian yang terjadi, keluarga akan diingatkan kembali bahwa mereka datang dari akar yang sama.
Tertawa bersama, menangis bersama, dan tumbuh bersama. Berkelahi, berargumen, dan akhirnya akan saling memaafkan lagi. Namun, itulah keluarga. Menjadi bagian dari sebuah keluarga artinya kau akan selalu dicintai dan mencintai selama sisa hidupnya.
****
"Kenapa?" tanya Cassie pada Ayahnya melalui sambungan ponsel. Matanya menatap Christov yang tengah memasak sesuatu di dapur.
"Margareth jatuh sakit, 'Nak.. Tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian di sini.. Tidak ada yang mengurusnya.."
Cassie mengangguk kecil, "Oh okay.. Jadi Dad tidak jadi berangkat hari ini?"
"No, honey.. I can't.. I'm sorry.."
"No problem.. Aku tidak marah. Jangan merasa bersalah, Dad. Keadaan memang kurang memungkinkan. Semoga Margareth cepat pulih dan sampaikan salamku padanya, Dad.."
"Yeah.. Okay. Terimakasih sudah mengerti, Cassie.."
"Hm.. Bye, Dad.."
"Bye.."
Cassie memutuskan sambungan lalu menutup layar ponselnya dengan kasar.
"Kenapa?" tanya Christov ketika menyajikan sup sapi yang dia masak ke atas mangkok.
"Kita tidak jadi pergi besok."
"Apa? Kenapa?"
Cassie mengangkat bahunya acuh tak acuh, "Ayahku tidak jadi datang. Isterinya sakit.."
"Ah.. Margareth adalah isteri keduanya?"
"Yapss.."
"Apa sebelumnya aku sudah tahu bahwa Ayahmu sudah menikah dua kali?"
Cassie mengangguk lagi, "Christov, Sejujurnya aku sudah mengunjungi Ibu dan saudariku tiga hari yang lalu," katanya tanpa pembukaan terlebih dahulu.
Tubuh Christov mendadak membeku dan dia mengangkat kepalanya perlahan untuk menatap Cassie.
"Apa?" tanyanya seraya menaruh kembali ladle spoon (sendok sayur) ke dalam panci sup dan menatap Cassie dengan tatapan yang tidak terbaca, "Kau tidak mengajakku?"
Cassie mengangguk kecil dan pura-pura tidak menyadari nada kekecewaan dari Christov, "Aku punya alasan melakukannya, Christov dan kau tahu? Mereka akhirnya memberi kita restu," katanya dengan nada gembira, tapi wajah Christov tetap datar. Jelas itu membuat Cassie khawatir.
"Namun, kau pergi tanpaku, Cassie.."
Cassie berdiri dan berjalan menghampiri Christov. Tangannya menyentuh lengan Christov yang hangat dengan lembut.
"Aku pikir lebih baik aku menjelaskannya sendiri terlebih dahulu lalu setelah berhasil menyakinkan keluargaku, kita berdua akan mengunjungi mereka."
"Kalau kau tidak berhasil menyakinkan Ibu dan saudarimu?" tanya Christov dengan nada skeptis dan dia melangkah menjauh dari Cassie, "Bagaimana jika kau tidak berhasil menyakinkan keluargamu Cassie? Apakah artinya kau tidak akan membiarkanku mengunjungi mereka?"
Cassie tertawa penuh keheranan, "Bukan begitu, Christov.. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap mengajakmu mengunjungi mereka... Jika aku tidak berhasil artinya aku perlu membawamu untuk meyakinkan dan meminta restu mereka," ucapnya dengan nada menyakinkan.
"Tetap saja kau tidak mengajakku saat kau sudah berjanji padaku.."
Sekarang amarah Cassie ikut terpancing. Batas kesabarannya sudah berada di ujung tanduk melihat sikap keras kepala Christov.
"Ayolah.. itu bukan masalah besar.."
"Bukan masalah besar katamu?" suara Christov meninggi, "Bagiku itu bukan masalah besar! Kau tahu kenapa aku begitu bersikeras ingin menemui keluargamu, Cassie? Itu karena aku ingin ingatanku kembali!! Aku berharap dengan cara menemui keluargamu dan teman-temanmu bisa mengembalikan ingatanku.."
Cassie menarik menjilat permukaan bibirnya yang kering ketika tidak tahu harus menjawab apa. Dia berkacak pinggang dan menatap Christov yang nampak marah. Menatap pira itu dengan tatapan menantang.
"Christov.. Aku akan mengajakmu bertemu keluargaku besok kalau begitu," katanya dengan nada enteng.
"Well.. Kau baru akan mengajakku ketika aku marah?"
"Tidak.. Tentu saja tidak, Christov. Kenapa kau marah seperti ini? Bukanlah masalah besar aku menemui keluargaku sendiri untuk menyakinkan hubungan kita, Christov! Seharusnya kau senang karena masalah restu ke keluargaku sudah selesai.."
"Namun, aku juga ingin ikut, Cassie! Aku ingin melakukannya bersamamu!! Setidaknya aku ingin berguna sebagai suamimu! Kenapa kau menganggap enteng tentang itu, huh?!"
Cassie menatapnya tajam, "Bagaimana dengan dirimu, huh? Kenapa kau selalu menuntut bertemu keluargaku saat kau tidak pernah membawaku bertemu keluargamu secara langsung?!"
"What? Aku dulu mungkin tidak mengajakmu bertemu mereka karena situasi yang terjadi. Kau sendiri yang mengatakan jika Ibuku tidak merestui kita."
Cassie memutar matanya dengan jengkel, "Sudahlah, aku tidak ingin berkelahi denganmu.. Rasanya aku tidak mengenal lagi siapa sosok yang sedang berdiri di depanku ini," kata-kata itu akhirnya keluar begitu saja. Kalimat yang tidak seharusnya diucapkan Cassie keluar begitu saja karena dorongan emosi. Cassie segera merasa bersalah ketika melihat tatapan penuh sakit hati dari Christov, tapi rasa bersalah itu hilang begitu saja ketika mendengar suara marah christov
"Apa? Apa katamu? Aku masih tetap orang yang sama Cassie!"
Cassie memelototkan matanya lalu melangkah mendekat ke arah pria itu seraya menunjuk wajah Christov dengan jari telunjuknya.
"Kau tidak! Kau bukan Christov yang sama lagi!" Cassie menggerakkan tangannya dengan dramatis dan menatap Christov dengan tatapan berapi-api, "Christov yang lama tidak akan pernah berteriak marah dan berbicara dengan nada tinggi seperti ini padaku! Christov yang lama tidak akan membuatku pusing! Christov yang dulu tidak akan bertingkah keras kepala seperti ini!! Aku pusing melihatmu, Christov! Benar-benar pusing! Kau selalu menghubungiku tanpa henti sepanjang minggu ini hanya untuk membahas pukulan bo-doh sialan! Kau pria pintar, Christov! Apa kau pikir dengan cara aku memukulmu, ingatanmu akan kembali, huh?! Anak kecil saja tahu itu tidak mungkin terjadi.."
"Apa? Jadi itu yang kau pikirkan selama ini? Jadi kau pikir aku bodoh karena memintamu untuk memukulku?"
"NO! Tentu saja tidak!! AKu-- Aku hanya muak dengan panggilanmu yang tidak henti-hentinya saat aku bekerja, Christov!"
"What? Aku memanggilku berulang kali karena aku ketakutan, Cassie! Aku takut dan aku kehilangan arah di tempat antah berantah! Hanya kau.. Hanya kau seorang yang aku kenal di tempat antah berantah itu, Cassie.. Aku frustasi! Frustasi karena ingatanku tak kunjung kembali!! Aku memanggilmu berulang kali untuk menyakinkan diriku bahwa aku tidak sendirian!!"
Cassie menahan napas melihat Christov yang berteriak dengan nada penuh keputusasaan. Pria itu menatapnya dengan mata yang memerah.
"Aku benar-benar ingin ingatanku kembali, Cassie! Oleh karena itu aku bersikeras agar kau mau memukulku! Aku benar-benar putus asa agar ingatanku bisa kembali! Aku benci.. Aku benci tidak bisa mengingat isteriku sendiri!! Apa kau tidak sadar betapa gila dan cemasnya aku memikirkan bahwa ingatanku bisa saja tidak akan pernah kembali?!"
"Aku sudah bilang berulang kali bahwa kita bisa mengulang kenangan itu kembali, Christov.. Memulai kembali," ujar Cassie dengan suara lembut ketika akhirnya amarahnya surut lagi. Amarahnya kembali surut. Dia berjalan mendekat ke arah Christov, tapi pria itu berjalan mundur menjauhinya.
"Aku tidak bisa.."
"Apa? Kenapa? Apa yang tidak bisa, Christov?" tanya Cassie dengan nada penuh kekhawatiran. Kedua matanya menatap Christov dengan tatapan cemas.
"Aku tidak bisa memulai kembali ketika potongan bayangan masa lalu sialan itu menghantuiku, Cassie! Potongan ingatan yang hilang itu membuatku muak! Membuatku sakit! Membuatku ketakutan! Bagaimana bisa aku memulai kembali saat masa lalu yang terlupakan itu menghantuiku?!!"
Cassie menutup mata dan menyerngitkan keningnya yang terasa sakit. Saat membuka matanya kembali, dia melihat Christov yang nampak masih marah. Cassie berpikir bahwa keduanya dalam posisi tidak baik secara mental dan fisik. Dia dan suaminya itu benar-benar lelah, kehilangan arah, dan putus asa. Cassie perlu menghentikan perdebatan ini dan melanjutkannya lagi dengan kepala dingin.
"Christov.. Bisa kita sudahi pertengkaran ini? Maafkan aku... Maafkan aku, Christov. Aku yang salah.. Aku yang salah. Okay? Aku tidak mau berkelahi denganmu," pintanya dengan nada penuh keputusasaan. Yah dia putus asa, takut, khawatir, dan cemas akan hubungan mereka.
"Aku tidak bisa..."
"Berhenti mengucapkan itu, sialan! Kau membuatku takut!" dan lagi, Cassie berteriak marah.
"Kau tahu?"
Cassie menggeleng dan dia melangkah mendekat ke arah Christov ketika mendengar perubahan nada mencurigakan dari Christov. Dia yakin bahwa Christov akan mengucapkan sesuatu yang akan menghancurkan hatinya dan Cassie belum siap. Dia tidak siap mendengar sesuatu yang lain. Kedua tangannya segera menggenggam tangan Christov dan menatap pria itu dengan tatapan penuh ketakutan.
"Aku tidak mau tahu. Aku tidak mau tahu. Aku tidak perduli dengan apa yang akan kau ucapkan. Jangan beritahu aku apa pun lagi. Maafkan aku, sayang.. Please.. I'm sorry, darling," katanya dengan nada penuh ketakutan.
Christov menggeleng dan melepas tangan Cassie, "Kau tahu alasan lain mengapa aku ingin ingatanku kembali, Cassie?"
Cassie menggeleng dan matanya sudah berair, "No.. Aku tidak mau tahu.. Please.. kumohon jangan memberitahunya, Christov," pintanya dengan nada bergetar yang putus asa . Sangat putus asa.
"Aku tidak yakin apakah sekarang aku mencintaimu atau tidak, Cassie. Aku ingin ingatanku kembali agar perasaan cintaku padamu kembali.."
"Tidak.. Kau mencintaiku. Aku tahu itu.. Ingatanmu boleh menghilang, tapi tidak dengan perasaanmu. Kau mencintaiku, Christov..."
Christov menggeleng lagi dan memutar tubuhnya, "Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri untuk saat ini, Cassie. Apakah perasaan yang kumiliki sekarang adalah rasa cinta atau rasa takut ditinggal oleh seseorang.."
****
Miss Foxxy
Kalau ingat di chapter" yang lalu, aku pernah singgung kalau ketakutan terbesar Christov adalah ditinggalkan. Dia takut ditinggalkan oleh orang-orang maka dari itu dia sangat patuh dan cenderung jarang menolak permintaan orang lain karena takut ditinggalkan.
Kenapa Christov gitu sih sama Cassie? Uhm.. Gimana yah jelasinnya. Chap berikutnya ajah author jelaskan dari sudut pandang Christov jadi kita paham kenapa di frustasi berat (wkwkwk)
Hmmm, apa dari sini kalian udah bisa mencium gimana bau-bau ending dari novel kita ini? Saksikan terus kisah ini hanya di Noveltoon dan Mangatoon. I love you gaissss. Jangan lupa mawar atau kopi untuk author!!
NB : Author libur Sabtu dan Minggu