Remember Me

Remember Me
I'm Enchanted



Happy Reading


***


Sama seperti dulu. Batin Cassie. Ingatannya kembali saat pertama kali bertemu Christov. Berkendara bersama di tengah hujan yang mengguyur kota. Sekarang, Cassie merasakan deja vu lagi. Dia sedih karena pria itu benar-benar tidak ingat tentang dirinya, tapi itu tidak menyurutkan semangatnya. Cassie optimis bahwa ingatan pria itu akan kembali. Keyakinannya itu diperkuat oleh Christov yang nampaknya merasakan deja vu saat melihat tatto burung miliknya.


Cassie menyandarkan kepalanya pada kaca mobil dan menatap butiran hujan yang mengalir di balik kaca. Dia mengangkat tangan kanannya dan melukis wajah tersenyum di kaca yang mengembun lalu dia ikut tersenyum kecil.


"Aku mengenal seseorang yang suka hujan," gumamnya pelan dan Christov yang tengah mengendari mobil tersebut terbatuk-batuk kecil.


"Aku merasa ini ide yang buruk, Miss De Angelis-- Maksudku, Cassie.."


Cassie memutar kepalanya ke arah pria itu dan tersenyum tipis. Dia mempereratkan mantel bulunya menutupi tubuhnya sendiri.


"Boleh aku memutar lagu di pemutar musikmu?"


Christov melirik Cassie dari ujung matanya, "Boleh.."


"Kau tahu?" tanya Cassie lagi sambil sibuk menyambungkan ponselnya ke pemutar musik.


"Yah?"


"Aku dulu mengenal seseorang yang begitu tergila-gila dengan Beethoven, Mozart, dan semacamnya. Namun.." suara Cassie semakin pelan ketika lagu berjudul I'm Enchanted itu mulai terputar kemudian dia melirik Christov, "Namun.. Sejak mendengar lagu ini, dia tergila-gila padaku.."


(NB : I'm Enchanted [Aku Terpesona] adalah lagu yang ditulis oleh Cassie untuk Christov. Check chapter 51)


"Judul lagunya, I'm Enchanted," bisik Cassie seraya menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi mobil.


Christov terdiam dan hanya mengendarai mobil dengan fokus. Cassie mulai ikut menyanyi saat akhir lagu itu akan semakin dekat. Mobil memasuki area hotel yang Cassie sarankan. Hotel di mana mereka pertama kali melakukannya. Christov menghentikan mobil di depan lobi hotel lalu menoleh ke arah Cassie yang bernyanyi dengan sepenuh hati.


"Aku terpesona..


Lagi-lagi.. Aku terpesona..


Pria pendiam yang misterius


Pria pendiam yang pergi tanpa jejak...


Lagi-lagi.. Aku terpesona.."


Mereka saling menatap dan mengirim berbagai pesan itu lagi. Cassie memejamkan matanya ketika tangan kanan Christov diarahkan padanya dan sedetik kemudian, dia merasakan usapan lembut jari jempol Christov pada pipi kirinya.


"Jangan menangis," bisik Christov dan Cassie membuka matanya lagi, "Seseorang yang sejak tadi kau bicarakan itu pasti orang yang sangat istimewa, bukan?"


"Yes.." bisik Cassie dan bola matanya kembali berkaca-kaca.


"Siapa pun itu, dia sangat beruntung bisa dicintai oleh wanita sepertimu.. Kau seorang produser musik dan penulis lagu, bukan? Apa kau menulis dan menyanyikan lagu ini untuknya?"


Andai kau tahu, Christov.. Andai kau tahu. Batin Cassie dengan luka di hati yang semakin membesar. Sangat sakit. Apa yang Cassie rasakan saat ini benar-benar sakit hingga tidak ada satu kata pun yang sanggup mendeskripsikan rasa sakit itu.


Patah hati terbesar Cassie adalah melihat orang yang dia cintai menjadi orang asing. Benar-benar menjadi orang asing.


"I'm sorry," Cassie membuang muka dari Christov dan melap sendiri wajahnya dari air mata ketika seorang parkir valet tiba-tiba muncul di kaca mobil lalu mengetuknya. Christov memutar kepala ke arah penjaga itu lalu menurunkan kaca mobil.


"Ada yang bisa saya bantu, Sir?" tanya parkir valet tersebut.


"Kami ingin menginap," ucap Christov dengan nada mantap.


"Kalau begitu, saya bisa parkirkan mobil Anda, Sir.."


Christov beralih ke arah Cassie yang sudah mengendalikan dirinya.


"Ayo," ajak Christov dengan nada lembut.


Cassie mengangguk dan beralih ke arah lain untuk membuka pintu. Mereka berdua masuk ke dalam lobi hotal dan Christov memesan satu kamar. Menaiki lift lalu berjalan sepanjang lorong menuju kamar yang Christov pesan dalam keadaan diam.


"Ini kartu pass-nya.." kata Christov setelah mereka sampai seraya menyodorkan kartu untuk masuk ke dalam kamar kepada wanita itu. Cassie menerimanya dan meneliti kartu pass itu sebentar.


"Aku akan pulang sekarang. Jika terjadi sesuatu, kau bisa menghubungiku," Cassie mengangkat kepalanya menatap pria itu, "Terimakasih untuk makan malam yang hebat, Cassie. Kuharap kita bisa bertemu di lain waktu.."


"Kau tidak ikut masuk?" tanya Cassie dengan nada santai dan itu membuat Christov segera tertawa canggung.


"A--Apa?" dia menggeleng, "Kupikir tidak, Cassie. Itu masih terlalu cepat. Maksudku.. Kita baru beberapa kali bertemu dan kau nampaknya pernah memiliki seseorang yang sangat spesial. Jadi, aku berpikir kencan buta ini benar-benar tidak akan berjalan lancar.."


"Kau tidak penasaran siapa sosok yang begitu istimewa itu?"


"Well.. Aku pikir itu bukanlah urusanku,"


Cassie mengangguk kecil dan menggesek kartu pada kunci elektronik pintu, "Jadi kau benar-benar tidak ingin masuk bersamaku?"


****


Christov menarik napas panjang ketika melihat Cassie duduk di pinggir ranjang dan dia berdiri di tengah ruangan dengan gestur canggung. Matanya menatap wanita itu menyisir rambutnya yang panjang dan lebat dengan jemarinya lalu terdengar dengan pelan dari Cassie.


"Kau hanya akan berdiri di sana?" tanya Cassie dan Christov segera berdehem.


"Well.."


Aku benar-benar tidak percaya masuk ke sini !!!


"Duduklah.." ajak Cassie seraya menepuk sisi ranjang di samping tubuhnya.


Christov menarik napas panjang lalu melepas jaket serta sepatu dan kaos kakinya. Yang terjadi, biarlah terjadi. Pikirnya. Matanya melirik ke arah Cassie yang sudah berdiri membelakanginya dan hendak melepas mantel bulu yang dia pakai.  Dengan cepat, Christov berjalan ke arahnya dan membantu wanita itu melepaskan mantel yang Cassie kenakan.


"Thank you," bisik Cassie lembut.


Christov melempar mantel ke arah ranjang lalu menatap tatto Cassie lagi dari balik helaian rambutnya yang panjang dan teb. Dengan gerakan ragu, tapi pasti, Christov mengumpulkan rambut Cassie pada bahu kirinya lalu menyentuh dan mengelus permukaan kulit Cassie yang bertatto burung tersebut.


Perasaan liar dan familiar itu muncul lagi saat tangannya bersentuhan dengan kulit Cassie. Yah.. Perasaan ini sangat familiar seolah Christov sudah pernah berada di posisi ini sebelumnya.


"Boleh aku jujur?" tanyanya.


"Hmm.."


"Apa yang kau miliki hingga kau bisa menarikku bagaikan magnet?"


"Aku punya segalanya yang membuat siapapun terpikat, Christov."


Dia benar..


Christov menahan napasnya ketika merasakan tubuh wanita itu sedikit bergetar karena tawa kecilnya. Tawa yang manis. Christov memiringkan kepalanya ke arah kanan untuk memeriksa wajah Cassie, tapi dia malah menemukan tatto yang lain di balik daun telinga Cassie.


"Ular?" ucapnya dengan tawa kecil, "Berapa banyak tatto yang kau miliki, hmm?" jempolnya mengelus tatto ular kecil yang menjulurkan lidah tersebut.


"Tiga.." bisik Cassie.


"Burung, ular, dan... Apa satu lagi?"


"Mawar.."


Mawar?


"Di mana letaknya?"


Cassie tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah Christov dan tersenyum miring.


"Kau mau melihatnya, Christov?"


Dia merasakan euforia di antara mereka berdua berubah dengan cepat. Christov mengangguk kecil dan dirinya benar-benar digerogoti oleh rasa penasaran.


Cassie mendekatkan diri ke arahnya lalu berjinjit ke arah telinga kiri Christov, "Di balik pakaian ini," bisik Cassie.


Christov menahan napasnya dan dengan berani mengangkat tangannya untuk menarik kepala Cassie ke arahnya.


"Biarkan aku menciummu, Cassie," pintanya dan tanpa ragu menarik kepala Cassie ke arahnya. Mencium bibir wanita itu dengan miliknya. Menghisap dengan lembut dan membiarkan lidah mereka saling bertautan.


Kedua tangan Christov bergerak mengikuti lekuk tubuh Cassie, sementara wanita itu melepas kancing kemejanya satu persatu. Christov membawa Cassie berbaring di atas ranjang dan menindihnya. Pa-ngu-tan mereka terlepas dan napas mereka saling beradu. Christov menatap Cassie lekat.


"Beautyful," bisik Christov lalu menegakkan tubuhnya. Kedua kakinya mengangkangi Cassie, tapi Christov berusaha menopang tubuhnya agar tidak membebankan seluruh berat tubuhnya pada Cassie.


Christov melepas kemeja dan gespernya tanpa melepaskan tatapannya pada Cassie.


"Aku bisa berhenti sekarang jika kau mau," bisik Christov sesaat melempar kemejanya di lantai.


"No.. Jangan berhenti. Never*.."


Christov tersenyum miring lalu kedua tangannya dilayangkan ke arah pangkal gaun Cassie dan menariknya turun dengan lembut. Meninggalkan wanita itu hanya dalam balutan ce-la-na dalam.


"Mawar.." bisik Christov dengan nada terkesiap saat melihat tatto mawar kecil di antara pa-yu-da-ra Cassie. Dia kembali menatap Cassie yang juga tersenyum tipis.


"Tatto terakhirmu di tempat tersembunyi," jempolnya mengelus tatto mawar tersebut lalu kembali menundukkan diri untuk mencium Cassie dalam gerakan menggebu-gebu.


Tangannya me-re-mas pa-yu-da-ra dan memilin pu-ting Cassie di antara jemarinya. Membuat wanita itu me-nge-rang kencang. Lalu menghisap benda kenyal itu secara bergantian. Menikmati dan memuja setiap inci tubuh Cassie.


"Ahk...." e-rang Cassie ketika Christov menjilat ujung pa-yu-da-ra Cassie yang menegang. Tubuhnya menggeliat dia bawah tubuh Christov yang tengah mencium tatto mawar miliknya.


Tangan Christov menarik turun pakaian dalam Cassie tanpa ragu dan menarik sendiri celana dan boxer yang dia kenakan.


"Aku tak punya pengaman.." bisik Christov dengan nada putus asa. Ujung ke-jan-ta-nannya sudah menyentuh dinding kewanitaan Cassie dan dia benar-benar ingin menguburkan miliknya dalam-dalam ke tubuh Cassie. Namun, mereka tak punya pengaman.


"Keluarkan di luar tubuhku," bisik Cassie yang melingkarkan kedua tangannya pada leher Christov.


"Yeah.."


Mata mereka saling bertemu dan Christov membuka lebar paha Cassie. Tanpa aba-aba, Christov memasukkan setengah pangkal ke-jan-ta-nannya ke dalam kewanitaan Cassie dan membuat wanita itu terkesiap oleh gerakan tiba-tiba itu.


"Sakit?" bisik Christov.


Cassie menggeleng, "No.. No.. Lagi.. Masukkan lagi," pintanya dengan nada putus asa.


Christov mendorong lagi. Lagi dan lagi hingga tidak tersisa. Dia mulai bergerak. Bergerak dalam ritme yang menghancurkan mereka mereka berdua dalam kepingan. Menghancurkan mereka dalam kenikmatan tiada tara. Berteriak, memekik, dan me-nge-rang memecahkan sunyinya malam dan membiarkan benda mati di sana sebagai saksi bisu. Terus bergerak. Semakin cepat dan terus hingga puncak kenikmatan itu datang.


****


Cassie melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi tersebut. Dalam gerakan pelan, dia bangkit dari ranjang agar Christov yang sedang tertidur tidak bangun. Cassie melihat ke arah Christov yang masih tertidur pulas lalu mulai memungut pakaiannya yang berserak di lantai. Dia juga memungut pakaian Christov dan melipatnya sedemikian rupa.


Mata Cassie menatap sekitar ruangan yang temaram lalu menemukan jaket Christov yang di taruh di atas punggung kursi. Cassie meraih jaket tersebut dan mencari keberadaan ponsel Christov. Setelah mendapatkan ponsel pria itu, Cassie menaruh kembali jaket dan pergi ke kamar mandi dengan barang-barangnya.


Menutup pintu kamar mandi, dia segera memakai kembali seluruh pakaiannya lalu mengambil posisi duduk di atas toilet. Cassie menyalakan ponsel Christov dan melihat layar ponsel yang terkunci. Dia menekan angka acak untuk sandi ponsel tersebut, tapi salah. Takut menimbulkan kerusakan pada ponsel Christov yang dapat menimbulkan kecurigaan, Cassie memilih untuk tidak berusaha membuka ponsel itu lagi.


Menyalakan ponselnya sendiri, Cassie membuka akun google miliknya dan Christov lalu menekan tombol penerimaan nomor aktivasi. Hanya beberapa detik, pesan nomor aktivasi muncul di layar ponsel Christov. Dia memasukkan nomor aktivasi tersebut dan akun itu akhirnya terbuka.


"Oh my..." bisiknya penuh kelegaan, "Akhirnya.."


Cassie menaruh ponsel Christov di atas paha lalu sibuk dengan ponselnya sendiri. Dia mencari nomor ponsel Meghan dan ketika Cassie sudah menemukannya, dia menekan tombol telepon hijau. Cassie menaruh ponselnya tersebut di telinga kiri dan menunggu sambungan panggilan tersambung.


"Halo, Cassie?" ujar Meghan dari seberang setelah panggilan tersambung. Terdengar suara musik di seberang, tanda Meghan belum tidur sampai saat ini. Cassie terdiam sejenak dan menarik napas panjang sebelum berbicara.


"Ada apa? Kenapa menghubungiku selarut ini, sialan?"


"Sorry," kata Cassie dengan sedikit tawa, "Bukannya kau selalu begadang? Kau selalu bekerja di jam seperti ini, bukan?"


"Cepat katakan tujuanmu menghubungiku selarut ini.."


Cassie berdehem, "Uhm.. Meghan, apa kau masih menyimpan file video dan foto saat pernikahanku dengan CHristov?"


Mendadak terjadi keheningan dari seberang dan Cassie yakin bawah temannya tersebut pasti terkejut.


"Ahh.. Jadi ingatanmu sudah kembali?" katanya dengan nada santai, "Sudah kuduga.. Aku tidak akan berusaha membela diriku sendiri dan menjelaskan mengapa aku menutupinya darimu, Cassie, tapi aku melakukannya karena aku tidak mau berurusan dengan masalahmu. Kau boleh marah padaku.."


Cassie menendang-nendang lembut lantai dengan ujung tumit kakinya seraya menatap kosong ke depan.


"Well.. Aku masih marah, tapi apa yang sudah berlalu biarlah berlalu.."


"Bagaimana dengan Christov? Apa ingatannya sudah kembali?"


"Belum.."


"Siapa saja yang sudah tahu ingatanmu sudah kembali?"


"Hanya kau dan Gerald.."


"Kuharap kau memberitahu Bambi sesegera mungkin, Cassie.."


"Yeah.. Aku akan menceritakannya langsung nanti.."


"Video pernikahanmu sudah aku edit dan juga beberapa foto. Aku tetap mengeditnya walau tahu kalian berdua menderita amnesia. Aku akan mengirim semuanya saat ini juga,"


"Okay.. Thank you, Meghan."


"Hmm.. Aku putuskan sambungan sekarang juga,"


Selesai dengan perkataannya sendiri, Meghan memutuskan sambungan panggilan. Cassie duduk di sana selama beberapa saat tanpa melakukan apa pun. Dia memikirkan apa yang akan terjadi saat Christov bangun nanti? Kapan ingatannya akan kembali? Apakah ingatannya akan kembali? Apa yang Clara tengah rencanakan sekarang? Siapa yang akan menjadi musuhnya nanti?


Dia mendeguys, "Setidaknya, Christov mengakui jika dia tertarik padaku.." bisiknya pelan. Ada keyakinan kuat di dalam dirinya bahwa ingatan Christov akan kembali.


Ponselnya bergetar dan Cassie memeriksa satu pesan berisi file dari Meghan.Dia membuka file itu dan menemukan ratusan foto di sana serta beberapa potongan video saat pernikahannya dengan Christov. Cassie juga menemukan video berdurasi hampir satu jam lamanya dan dia menebak bahwa ini adalah video yang Meghan telah edit.


"Aku tak ingin melihatnya sekarang atau aku akan menangis lagi," bisiknya dengan suara bergetar.


Dia menyimpan seluruh isi file ke dalam akun Google Drive CnC (Akun google Christov dan Cassie) . Siap dengan itu, Cassie berdiri, memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas, lalu merogoh satu undangan pernikahannya dengan Christov dari dalam tas. Dia memeriksa isi amplop kotak tersebut dan menemukan satu kartu undangan, satu kertas berisi ID dan password ke akun google milik mereka berdua, dan yang terakhir sebuah kunci kecil antik. Yah.. Kunci ini adalah kunci untuk membuka kotak kayu yang Cassie berikan untuk Christov sebagai hadiah ulang tahun. Dia tidak sempat memberikan kunci ini karena kecelakaan tersebut. Cassie berharap Christov sudah menemukan kotak tersebut dan membuka kotak itu dengan kunci ini.


Cassie menutup kembali amplop tersebut lalu berjalan keluar dari dalam toilet. Dia memasukkan ponsel Christov ke tempat semula lalu menaruh amplop undangan pernikahan tersebut di meja nakas. Matanya menatap Christov yang masih tertidur nyenyak bagaikan bayi lalu tersenyum tipis.


"Good bye, Christov. Mari kita bertemu di lain waktu sebagai sepasang suami isteri..."


****


"Apa itu setimpal?" tanya Madison saat selesai mendengar seluruh cerita Clara tentang kisah cintanya yang tidak berjalan lancar.


"Apa? Apa maksudmu?"


Madison mengembuskan asap rokoknya ke udara lalu menekan ujung puntung rokok ke asbak hingga mati.


"Maksudku, dengan posisi yang kau miliki sekarang, kau bisa mendapatkan seorang Pangeran Inggris untuk menikahimu.. Apakah mengejar pria biasa itu setimpal?"


"Dia bukan pria biasa, Madison. Jangan merendahkan dia.."


"Uh.. Calm down, girl*.. Okay.. Okay.. Dia bukan pria biasa.." katanya dengan nada jengkel.


(*Tenangkan dirimu)


"Toh.. Berkat pukulan darimulah yang membuat ingatan Cassie kembali.."


"Aku? Jadi kau menyalahkanku sekarang? Seriuosly*, Clara?"


(Serius*)


Clara mendengus dan menatap jengkel ke luar jendala kafe. Dia memijat pelipisnya yang terasa sakit.


"Ckck.. Kau dengan profesimu sekarang sudah cukup sibuk dan sekarang kau menambahkan beban pikiranmu dengan masalah ini? Huh.. Aku terkadang bingung kenapa kau begitu senang dengan hidup yang penuh beban pikiran dan ambisi seperti ini.. Apa kau tidak stress?"


"Aku bukan kau yang hanya ingin menikmati hidup saja," jawab Clara dengan nada tajam.


"Whoaaaa.. Whoaaaa.. Easy, girl*.. Jangan marah pada manusia yang tidak memiliki ambisi sepertiku. Kau benar-benar membuatku takut saat marah seperti ini.."


(Tenangkan dirimu*)


"Terserah.."


"Aku akan membantumu. Aku mengenal seseorang tempat Cassie bekerja. Kita bisa menghancurkannya hingga berkeping-keping jika kau mau.."


Clara menoleh ke arahnya, "Apa yang akan kau rencanakan?" tanya dia saat melihat Madison mengambil rokok yang lain.


"Entahlah," ucapnya seraya mengangkat kedua bahunya, "Aku bisa memikirkannya nanti.. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang kita miliki sekarang, menghancurkan kehidupan seseorang bukanlah hal yang sulit.."


"Aku tidak mau kau menyakitinya. Maksudku, tidak menyakitinya secara fisik. Apa kau berencana menyerangnya atau membunuhnya?"


"Apa kau pikir aku psikopath? Dibandingkan denganku, kau jauh lebih psikopat, sialan. Apa yang akan kulakukan pada Cassie adalah mengajarkan dia untuk menyadari posisinya. Untuk membuatnya sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa..."


Clara tersenyum miring, "Yah.. Sadarkan dia bahwa dia hanya pe-la-cur sialan yang cacat.."


"Pe-la-cur sialan yang cacat?!" suara Madison meninggi, "Oh my.. Aku suka sebutan itu. Sangat suka..."


****


Miss Foxxy


Dulu, Christov yang meninggalkan Cassie. Sekarang malah kebalikannya. Dua hal yang gk bakalan terjadi, aku crazy up dan bikin season kedua. Enjoy it. Bagi kopinya dong kakak.. Mawar pun bisa lah. I love you.