
Happy Reading
***
"Biarkan dia menemanimu ke rumah sakit, Christov."
Kata-kata Theresa, Ibu Christov, terngiang terus di kepalanya saat dia mengendarai mobil menuju Rumah Sakit Barlow di minggu pagi bersama Clara. Yah. Clara! Dia terbangun dari tidurnya karena mendapat panggilan dari Theresa. Setelah selesai berbicara dengan Theresa, Clara menelpon dia dan mengatakan dia sudah berada di lobi gedung apartemennya. Tidak ada alasan yang dapat dikatakan Christov untuk menolak kedatangan Clara dan memilih untuk pasrah menerima keadaan tersebut. Sejujurnya, dia selalu pasrah dengan keadaannya karena orang-orang di sekitarnya tidak pernah memberinya pilihan lain. Ingin rasanya marah, tapi Christov berpikir itu tidak akan mengubah apa-apa dan hanya merugikannya sendiri.
"Kau sudah sarapan?"
Christov tersenyum tipis, "Kau ingin membeli sesuatu?" jawabannya singkat dengan nada suara seramah mungkin.
"Yah, begitulah.. Aku tahu restoran yang menyediakan sarapan sehat di sekitar sini. Kita pernah pergi ke sana sebelumnya."
Christov menoleh sekilas ke arah Clara, "Benarkah?"
Benarkah mereka pernah pergi ke sana?
Clara tersenyum, "Yah.. Mungkin kau tidak ingat lagi. Belok ke arah kiri,"
Christov mengikuti instruksi dari Clara hingga mereka samapi di sebuah kafe yang bertema hijau. Melalui jendela kaca besar, Christov bisa melihat beberapa orang tengah menikmati sarapan pagi.
"Ayo.." ajak Clara yang sudah memegang dompet di tangan kanannya dan tangan kirinya hendak membuka pintu.
"Bagaimana jika memesan take-away saja? Waktu untuk pemeriksaanku sebentar lagi.."
Clara tersenyum kaku seraya menganggukkan kepala dalam gerakan yang berlebihan. Wajah, leher, dan telinganya memerah karena malu akan penolakan Christov. Pria itu memang ahlinya dalam hal menolak dengan gaya halus.
"Tentu.. Aku akan membe--"
"Aku saja," kata Christov dengan senyum tipis, berusaha tidak membuat Clara merasa canggung atas penolakannya. Tentu Christov sadar akan wajah Clara yang memerah karena penolakannya. Namun, apa yang dikatakan Christov benar apa adanya tentang waktu pemeriksaannya.
Clara menundukkan kepala, tidak mampu melawan tatapan dalam dari Christov yang seolah bisa menembus jiwa dan pikirannya.
"Yah.. Aku ingin pancake pisang dengan kopi americano,"
"Hanya itu?"
Clara mengangguk kecil.
"Okay.."
Mata Clara menatap tangan Christov yang menarik rem tangan. Urat tangan Christov menggembul dari balik kulitnya. Nampak begitu kaut, kokoh, dan menggoda hati. Berbagai imajinasi muncul dalam diri Clara. Bayangan tangan kokoh itu menyentuh tubuhnya lalu---Imajinasi itu seketika hancur karena dia terkejut saat mendengar detuman halus dari pintu mobil yang ditutup Christov.
Mulutnya terbuka sedikit, membiarkan dia bernapas dari sana. Dadanya naik turun karena dan dia bisa merasakan suhu tubuhnya naik hanya karena tangan Christov!
Diputar kepalanya untuk menatap belakang tubuh Christov yang kokoh melalui jendela mobil. Rambut hitam legamnya yang begitu tebal nampak berkilauan di bawah matahari. Bentuk tubuhnya nampak indah dari balik kaos hitam yang dikenakan Christov. Tanpa sadar, tangannya meremas pinggiran kursi dan pahanya dirapatkan.
"Oh my.." bisiknya seraya mengalihkan tatapannya dari sana. Ditelan ludahnya dengan susah payah. Clara menyadarkan tubuhnya ke kursi dengan satu tangannya berada di dada untuk merasakan detak jantungnya yang menggila. Matanya melirik ke arah kaca spion untuk melihat wajahnya sendiri yang memerah. Tanpa sadar, tangannya yang berada di dada naik ke arah bibirnya. Dielus lembut dan mulai mengimajinasikan bibir Christov pada miliknya.
"Hah!" dia memekik kecil ketika mendengar suara pintu mobil yang terbuka diikuti oleh suara Christov yang duduk di kursi.
"Ada apa?" tanya Christov dengan nada sedikit khawatir sembari menaruh makanan pesanan Clara di atas dasboard mobil
"Kau okay?" dia bertanya lagi ketika Clara tak kunjung menjawabnya.
Clara menarik napas pendek dan segera menguasai dirinya menjadi Clara yang profesional.
"Yah," jawabnya dengan nada penuh percaya diri, "Apa ini makananku?"
"Hmm..."
"Thank you, Christov," Clara melihat hanya ada satu kotak makan, "Kau tidak membeli juga untukmu?"
Christov menggeleng kecil sembari menyalakan mesin mobil, "Aku sudah sarapan sewaktu di apartemen,"
"Ah.. Okay," ucap Clara dengan nada kecewa. Dia sekarang tidak selera lagi untuk makan.
****
Cassie turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya dan sandal slip on menghiasi kakinya. Dia memakai sepasang pakaian olahraga berupa legging hitam dan sport bra dibalut dengan luaran crop top longgar berwarna putih yang begitu tipis.
Dia memasukkan kunci mobil serta ponselnya ke dalam tas pinggang yang melingkar di sepanjang pinggangnya. Dengan langkah penuh percaya diri, Cassie berjalan masuk menuju rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sialan yang dia benci. Dia kesal karena jadwal pemeriksaannya harus jatuh di hari Minggu!
Dengan pakaian yang cukup unik itu, hanya beberapa pasang mata saja yang melirik sebentar ke arahnya dan sebagian besar lainnya tidak peduli. Well.. Inilah kenapa dia suka tempat ini karena mereka selalu mengurus urusan mereka sendiri. Mereka tak peduli apa yang kau kenakan, kau makan, atau apa pun sepanjang itu tidak merugikan mereka.
Hanya melewati lobi dan naik eskalator, Cassie sudah sampai ke Center Point yang masih saja ramai di hari Minggu! Rumah sakit ini nampaknya tidak pernah absen akan pasien-pasien baru.
Dengan gagah, Cassie berjalan menuju sayap kiri dengan melewati orang-orang yang berlalu lalang di sana. Dia tidak berusaha menepi untuk berjalan, orang-orang itulah yang membuka jalan untuknya. Sebuah privilage yang hanya bisa diterima orang-orang seperti Cassie.
Setelah sampai di sayap kiri dan hanya melihat beberapa orang saja di sana. Cassie mengambil nomor antrian untuk pemeriksaannya dan duduk di kursi tunggu. Selagi menunggu, Cassie membuka tas pinggang miliknya untuk mengambil ponsel.
Sekarang sudah pukul sebelas siang dan dia berharap jika pemeriksaannya bisa selesai dalam waktu sejam. Pukul satu siang nanti dia memiliki janji dengan para temannya menuju tempat latihan beladiri boxing. Mereka memang selalu rutin datang untuk latihan bela diri sejak banyaknya orang sin-ting di dunia ini.
Cassie menatap kepalan tangan kirinya dan berpikir apakah tangannya akan terasa kaku saat latihan nanti? Entah sudah berapa bulan terlewat sejak latihan terakhirnya dan Cassie menyayangkan waktu yang terbuang saat perawatan di rumah sakit.
Skill dalam bela diri benar-benar penting, terutama bagi wanita karena seperti yang dikatakan sebelumnya, banyak orang sin-ting sialan di muka bumi ini. Di lepas kacamata dan menggantungkannya di leher crop top-nya. Cassie memasang sebuah earphone wireless dan menikmati beberapa musik orkestra.
Mimpinya sedari dulu menjadi seorang komposer musik orkestra, tapi sayangnya penyajian atau konser dalam musik orkestra terlalu kaku dan tidak memiliki perubahan gaya sedari dulu. Sekumpulan orang berpakaian hitam resmi memainkan musik sementara orang-orang menontonnya dalam diam. Yah memang, itulah inti dari penampilan orkestra, menikmati musik dalam hening.
Namun, darah berpesta ria Cassie begitu melekat dalam dirinya. Dia lebih senang bekerja sebagai penulis dan produser musik yang tengah dia geluti saat ini. Tidak kaku dan selalu ditampilkan dalam konser gila-gilaan yang penuh keramaian. Hanya saja, Cassie terkadang rindu suasana konser orkestra yang hening dan sepi. Di mana dia bisa menikmati, menghayati, dan mencerna musik yang dia dengar.
Cassie yang menatap kosong ke depan merasakan dadanya di tepuk lembut dan segera dia menoleh ke sumber tepukan itu. Di sana, dia melihat Christov yang berbicara, tapi dia tidak bisa mendengar suara Christov karena saking kuatnya volume dari earphone miliknya. Di lepas kedua earphone-nya dan memasukkan benda-bendanya ke dalam tas.
"Christov.." sapanya seraya berdiri dengan senyum manis. Ah.. Dia harus bertanya soal nomor ponsel itu! Betapa senangnya dia bisa bertemu dengan pria itu lagi.
Namun, senyum lebar Cassie sedikit memudar ketika melihat seorang wanita pirang muncul dari balik tubuh Christov. Menatapnya dengan tatapan garang penuh nada peringatan seolah meneriakkan Christov adalah miliknga. Di sisi lain, Cassie juga bisa melihat raut keterkejutan di wajah wanita asing itu. Well.. Mungkin dia terkejut mengetahui Chrisotv--yang mungkin saja kekasihnya-- memiliki kenalan secantik Cassie. Atau mungkin karena pakaian Cassie.
"Apa kau melakukan pemeriksaan juga?" tanya Christov dengan nada ramah.
Ah... Pria ini sangat ramah. Pikir Cassie
"Yah. Kau juga?"
Christov mengangguk kemudian memberi jalan ke arah wanita pirang tadi, "Uhm.. Ini temanku Clara Murray. Clara, ini Cassandra De Angelis. "
Cassie melihat wajah tidak senang dari wanita bernama Clara itu dan Cassie bisa mendengar teriakan penuh kemenangan dalam kepalanya. Ternyata hanya teman. Pikir Cassie dan menjabat tangan Clara sekilas. Dalam momen yang sekilas itu, Cassie merasakan jabatan kuat yang penuh percaya diri dari Clara.
Dari penampilannya, Cassie bisa tahu bahwa Clara adalah wanita kaya nan pintar yang menyebalkan. Terlihat dari caranya berpakaian kasual yang tampak profesional, rambut pirang gerai yang nampaknya sudah di salon terlebih dahulu, serta riasan tipis di wajah seriusnya. Well.. Cassie menyimpulkan bahwa Clara adalah wanita tipe serius.
"Mari kita duduk," ajak Cassie.
Ketiganya mengambil tempat duduk dengan posisi Christov berada di tengah-tengah. Sekarang hilang sudah kesempatan Cassie untuk bertanya tentang nomor ponsel dan email itu pada Christov.
"Apa kau sudah lama di sini?" tanya Christov sebagai pembuka basa-basi.
"Belum. Aku urutan ke 10 dan mungkin giliranku setelah pasien yang ada di dalam. Bagaimana denganmu? Nomor berapa nomor antrianmu?" sebuah basa-basi sialan itu terdengar aneh saat diucapkan oleh Cassie. Mereka terdengar seperti anak kecil yang berbagi informasi tentang bekal makanan yang mereka bawa saat jam waktu istirahat. Dia ingin bicara gamblang tanpa ada rasa malu-malu, tapi rasanya dia perlu menjaga sopan santun mulutnya karena berhubung ada Clara di sini. Di wanita yang tampaknya bertipe serius.
"Nomor 11," jawab Christo singkat.
Cassie mengangguk kecil setelah mendengar itu dan bingung harus menjawab apa. Setelah jawaban singkat Christov yang luar biasanya singkat itu, terjadi keheningan yang mencengkram di antara ketiganya. Christov benar-benar tidak pernah berusaha membuka topik pembicaraan, tidak pada Cassie atau pun Clara. Dari sini pula, dia bisa menarik kesimpulan bahwa Clara dan Christov tidaklah dekat. Ada aura canggung yang teramat kentara di antara keduanya.
Keheningan itu terus berlanjut hingga akhirnya Cassie dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Dia mendengus pelan karena kesal tidak bisa mengajak Christov berbincang padahal dia tidak yakin akan ada moment pertemuan seperti ini lagi. Andai.. Andai tidak ada Clara, mungkin dia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang email dan nomor ponsel itu.
Sialan. Umpatnya dalam hati atas kekesalannya yang teramat. Nanti... Nanti Cassie akan mengusahakan agar dapat bertemu Christov lagi. Namun, kapan nanti itu akan terjadi?
****
Miss Foxxy
Chap kali ini kebanyakan point" gk penting kan yah? Sabar yah sama jalannya yg masih begitu" saja. Nanti, dari chap 25 apa yang kalian tanyakan dan harapkan akan mulai muncul. Dan tolong dukung author selalu :').