
Happy Reading
****
Sialan. Umpat Christov sesaat melihat ke-empat manusia tersebut. Rasa kesal semakin menumpuk pada hati dan pikirannya saat tatapannya berpindah pada Clara yang tengah berjalan menghampirinya dengan senyum lebar yang sangat menyebalkan.
Christov melipat bibir membentuk garis keras, dahinya berkerut, dan kedua matanya menatap tajam ke arah Clara. Tanpa pikir panjang, tangannya yang bebas segera menggenggam lengan kanan Clara dengan kasar lalu menariknya keluar.
Persetan. Persetan dengan pikiran orangtua Clara setelah melihat ini. Persetan dengan Ibunya yang selalu sesuka hati. Pemberontakan... Christov akan melakukan pemberontakan pada Theresa, Ibunya. Wajah kerasnya tetap ditahan hingga akhirnya mereka berdua berada pada lorong yang sepi, di mana hanya ada merea berdua. Dia melepas tangan Clara yang hanya diam saja sejak tadi dengan kasar.
"Apa-apaan ini?" tanya Christov dengan nada tajam, mencegat Clara bicara lebih dahulu, "Permainan apa yang sedang kau lakukan, Clara?"
Clara tersenyum lalu tertawa kecil, "Kau bawa cincinnya?" kata dia dengan nada acuh seraya bergerak hendak meraih paper bag hitam dari tangan Christov. Namun, pria itu dengan cepat membanting paper bag itu ke lantai dengan sangat keras hingga membuat tubuh Clara membeku karena terkejut.
"Jangan pura-pura seolah-olah keadaan baik-baik saja. Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sengaja menjebakku, huh?" suaranya semakin meninggi dengan keacuhan Clara.
Wanita itu terdiam lalu mundur selangkah untuk melipat kedua tangannya di dada, "Aku tidak menjebakmu. Aku memang menyuruhmu membawa cincinnya ke mari dan kau mengiyakannya. Di mana letak jebakanku, huh?"
Christov bisa merasakan kemarahannya bertambah berkali-kali lipat hanya mendengar itu. Perkataan tadi telah menggambarkan kepribadian Clara secara jelas. Kepribadian yang begitu menipu, acuh, dan tak mau peduli dengan sekitarnya. Tidak pernah.. Tidak pernah Christov bertemu sosok semanipulatif Clara.
"Kau memanipulasiku.." katanya dengan nada rendah, menahan diri untuk tidak mengumpat, "Kita? Kau berteriak di mana cincin kita? Semua orang yang mendengarnya akan salah sangka.."
"Salah sangka? Kenapa salah sangka? Bukankah kita memang ditakdirkan satu sama lain? Orangtuaku dan orangtuamu sudah membicarakannya. Usia kita berdua saat ini adalah usia yang tepat untuk menikah.."
"Arghhh!" meledak. Yah.. Christov menggeram marah seraya mengacak-acak rambutnya. Matanya menatap Clara penuh kemarahan. Dia tidak tahan lagi menghadapi orang semenjijikkan ini.
"Seharusnya kau bersyukur karena orangtuaku memberi restu akan hubungan kita.." ucap Clara lagi membabi buta tanpa rasa bersalah dan hal itu hanya membuat Christov semakin marah. Wanita itu seolah-olah tak mau ambil pusing dengan perasaan Christov.
Tanpa pikir panjang, Christov melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah wanita itu. Clara yang melihatnya hanya bisa terdiam dan membelalakkan mata, menunggu kepalan tangan besar itu menghantam wajahnya. Ketika hanya tersisa jarak beberapa senti saja, Clara memejamkan mata, pasrah akan pukulan mentah yang akan segera dia rasakan dan suara pukulan keras terdengar, tapi dia tidak merasakan rasa sakit sedikit pun.
Di sana.. Pada dinding, Christov melayangkan kepalan tangannya tersebut pada dinding dengan sangat keras hingga dia bisa merasakan kulit jemarinya terluka. Kepalan tangannya benar-benar begitu dekat dengan wajah Clara yang gemetaran. Wanita itu membuka mata, menatap Christov dengan sorot mata ketakutan.
"Dengarkan aku selagi aku masih memiliki kesabaran. Aku tidak peduli asal-usul keluargamu, tidak peduli seberapa banyak uang yang kalian miliki, dan tidak peduli seberapa terpandangnya keluargamu, Clara.." bisiknya dengan nada rendah, "Dan aku juga tidak peduli denganmu.. Jika kau masih berharap aku ingin menikah denganmu maka cukup dalam mimpimu saja karena itu tidak akan pernah terjadi.. Tidak sekarang.. Tidak untuk selamanya..."
Clara tanpa sadar menahan napas dan bisa merasakan kakinya gemetaran. Namun, dengan cepat dia dapat mengendalikan dirinya sendiri. Kembali bernapas lalu berdehem kecil. Dia bergeser sedikit menjauh dari kepalan tangan Christov lalu menyingkirkan tangan pria itu dari dinding.
"Kau akan menyesali pilihan ini, Christov..." kata Clara setelah menemukan kembali rasa percaya dirinya.
Pria itu mendengus, "Kau tidak tahu apa pun tentangku.."
"Apakah tidak pernah terbersit di pikiranmu betapa beruntungnya kau bisa menikahiku?"
Christov berdecak lidah dengan senyum penuh cemooh, "Malang sekali.." ucapnya pelan, "Kau pikir hidup hanya tentang kekayaan, ketenaran, kesuksesan?"
Clara terdiam.
"Aku telah memiliki wanita. Wanita yang akan menjadi istriku. Kami sudah memiliki komitmen, Clara.." gertak Christov dengan sedikit bumbu kebohongan. Dia tidak mampu lagi menahan diri dan ingin mengucapkan berbagai perkataan yang dapat membuat Clara mundur dan berhenti mengusiknya. Clara terdiam dan itu membuat Christov yakin bahwa perkataannya telah melukai perasaan wanita itu.
"Kau wanita pintar dari keluarga terpandang, Clara. Kau memiliki segudang prestasi dan mengemis seperti ini tidaklah cocok untuk dirimu. Aku yakin ada ratusan pria kompeten yang menginginkan dan mengejarmu.."
Clara melipat bibir dan membuang muka dari Christov.
"Jika Ibuku yang memaksamu, kau punya hak untuk menolaknya. Mulai detik ini, kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Aku harus pergi. Terserah dengan apa yang akan dipikirkan oleh orangtuamu setelah ini. Jika kau ingin memutuskan kontrak kerja yang hendak kita jalankan, aku tak keberatan," Christov memutar tumitnya, hendak meninggalkan Clara.
"Aku tidak peduli dengan pria kompeten yang mengejarku.." ucap Clara dari balik tubuhnya dan itu membuat Christov berhenti, "Aku mencintaimu.. Aku benar-benar tulus.. Terlepas dari dorongan kedua orangtua kita, aku benar-benar murni mencintai dan menginginkanmu, Christov..." lanjutnya dengan suara gemetar.
Christov terdiam selama beberapa detik sebelum menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
"Tidak ada yang melarangmu untuk mencintaiku, tapi tidak dengan menginginkan. Jangan pernah menginginkan sesuatu yang sudah dimiliki orang lain, apalagi berusaha mengambilnya secara paksa.. Buka matamu lebar, Clara. Bukan hanya aku pria di muka bumi ini.."
"Aku tidak mau!" Clara berteriak, "Aku tidak mau mereka. Aku menginginkanmu..."
"Sayangnya, kau bukan wanita pertama yang mengucapkan hal sepeti ini padaku. Kau hanyalah satu dari sekian banyak wanita. Aku anggap pembicaraan terakhir kita sebagai omong kosong semata..." tanpa panjang lebar lagi, Christov melangkah lebar di sepanjang lorong meninggalkan Clara sendiri.
Dia menarik napas dan jantungnya tiba-tiba berdegup. Akhirnya pemberontakan itu terjadi setelah sekian lama Christov hanya mematuhi semua perkataan Ibunya. Ini bukanlah akhir. Pikir Christov. Ini masih permulaan. Dia yakin bawah Clara dan Ibunya pasti tak akan berhenti sampai ini saja. Mereka akan tetap memaksakan perjodohan sialan in.
"Untuk mengalahkan orang licik, kau harus lebih licik lagi, Christov.." perkataan Cassie terdengar mendengung dalam pikirannya dan hal itu membuat dia mengangguk sekali, setuju akan suara Cassie di kepalanya. Dia benar. Pikirnya. Untuk mengalahkan mereka semua, Christov haruslah jauh lebih licik, bijak, kuat, dan jauh lebih pintar.
"Mari kita singkirkan semua orang-orang ini, Christov...."
***
"Kau pulang larut nanti malam?" tanya Cassie sekali lagi dari seberang.
Christov tersenyum tipis seraya menyandarkan tubuh samping kirinya pada pinggiran jendela untuk menatap halaman belakang rumah orangtuanya yang luas.
"Yah.. Jangan rindu dan jangan menungguku. Tidur saja.."
"Rindu? Jangan rindu katamu? Eww... kau membuatku ingin muntah. Jangan pakai kata-kata seperti itu.. Membuatku merinding.."
Christov terkekeh, "Ya. Yah...."
"Kenapa pulang larut? Ada urusan pekerjaan, yah?"
"Hm... Sejujurnya, aku sedang ada di rumah orangtuaku.."
"Apa? Untuk apa?"
Christov melipat bibir, "Aku akan menceritakan semua sesaat kita bertemu.."
"Apa terjadi hal serius? Apa Ibumu sudah tahu tentang kita?" Christov bisa mendengar nada khawatir Cassie dari seberang.
"Belum, tapi Ayah sudah tahu. Aku sudah menceritakannya.."
Terjadi keheningan di antara mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya Cassie kembali berbicara, "Apa Ayahmu sudah tahu tentang kejadian di masa lalu?" tanyanya dengan nada takut-takut.
"Belum, tapi aku akan menceritakan semuanya hari ini. Setelah urusan di rumah selesai, aku akan berkunjung ke rumah Christina untuk menceritakan hal yang sama..." walau nantinya dia tidak peduli. Lanjut Christov dalam hati. Saudarinya itu benar-benar tak peduli dengan urusan orang lain.
"Berjanjilah untuk menceritakan semuanya dari awal hingga akhir padaku. Tanpa cela..."
"Yah.. Aku berjanji, sayang.."
"Hm. Aku berharap bisa ngobrol lebih lama lagi, tapi aku harus kembali bekerja. Love you, Christov.."
"Love you too.."
Christov memutuskan sambungan lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Dia memutar tubuh dan berjalan ke arah ruang tamu, tempat Ayahnya tengah duduk menunggu dia.
"Ibumu akan sampai di rumah beberapa saat lagi.." ucap Robert, Ayah Christov.
Dia mengangguk dan mengambil posisi duduk di kursi sofa yang ada dihadapan Robert.
"Mama pasti sangat marah, bukan?"
"Ibumu memang selalu marah, Nak. Dia bertanya kenapa nomormu tidak bisa dihubungi melalui ponselnya.."
"Aku memblokir nomor Mama dari ponselku.."
Robert mengangguk kecil lalu meneguk wine miliknya dari gelas kecil, "Aku tidak heran.."
"Papa tidak marah?" tanya Christov, "Papa tidak marah aku melawan pada Mama seperti ini?"
Robert menggeleng, "Itu bukanlah melawan, Christov. Kau hanya tengah mempertegas apa yang kau inginkan dan apa yang yang menjadi hak-mu. Itu karena kaulah yang paling mengerti dan paling mengetahui apa yang kau inginkan.."
"Apa Papa akan marah jika aku berkata aku membenci Mama?"
"Not only you, son*.. Aku tahu tidak ada satu pun orang di rumah ini yang menyukai Ibumu.."
(*Bukan hanya dirimu, nak)
Robert tertawa kecil dan menaruh gelas wine-nya, "Aku pun tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Itu adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Aku berusaha mencari jawaban atas pertanyaan itu, tapi tak kunjung menemukannya.."
Apa karena Papa takut sendirian? Apa karena Papa takut orang lain berpaling dari sisimu? Sepertiku? Tanya Christov dalam dirinya.
"Aku yakin kekasihmu pasti bukanlah wanita biasa sehingga kau berani menentang Ibumu.."
"Well.. Christina sudah bertemu dengannya. Mungkin, jika keadaan sudah reda, aku akan membawa kekasihku berkunjung ke mari.."
"Ide bagus..."
"Tapi, ada satu hal tentang dia yang perlu kuberitahukan, Papa..."
"Apa itu?"
Ini saatnya memberitahu tentang masa lalu antara Cassie dan Ibunya.
"Sejujurnya--"
"Di mana?! Di mana dia?!" suara pintu yang dibuka kasar diikuti teriakan Theresa membuat Christov dan Robert menoleh ke arah pintu, melihat Theresa masuk dengan wajah marah.
"Mama.." ucap Christov dengan suara pelan seraya berdiri.
"Kau? Kau! Kau membuatku kecewa, Christov.. Kekasih?! Clara bilang kau punya kekasih?!"
"Theresa.. Tenanglah.." ujar Robert yang juga ikut berdiri.
Wanita paruh baya itu menggeleng, "Aku membesarkanmu dengan susah payah, Christov. Kenapa? Kenapa kau mengecewakan Ibu? Apa yang salah dengan Clara? Siapa? Memangnya sudah sebagus apa kekasihmu, huh?"
"Mama. Berhentilah.." ujar Christov dengan nada tenang yang mengintimidasi, "Mari kita bicarakan ini kepala dingin.."
Theresa melangkah maju ke arah Christov, "Kepala dingin?! Kepala dingin katamu?! Setelah kau mempermalukan Ibu di keluarga Murray!"
"Theresa. Duduklah dan mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin.."
"Diamlah, Robert.." kata Theresa sesaat memutar kepalanya pada Robert, "Aku sudah mengatakan padamu untuk mendukung pernikahan ini. Namun, kau hanya menghabiskan waktumu bermain golf dengan kolega bisnis sialanmu. Kapan kau memiliki waktu untuk anak-anak kita? Lihat.. Lihat kedua anak kita tumbuh sebagai pembangkang.."
Ini.. Inilah salah satu alasan yang lain membuat Christov tidak suka Ibunya. Theresa selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya sendiri.
"Kapan aku membangkang sebelum kejadian ini terjadi?" potong Christov dan itu membuat Theresa memutar kepalanya pada dia lagi, "Kapan aku pernah membangkang pada Ibu?"
"Apa? Apa kau tengah menantangku, Christov? Kenapa kau sangat berubah seperti ini? Apa karena kekasihmu, huh? Siapa kekasihmu itu? Apa dia mencuci otakmu? Siapa? Cepat putuskan dia.. Cepat!!" teriak Clara dengan kemarahan yang membabi-buta.
"Aku tidak mau.."
"Apa? Tidak mau? Tidak mau katamu?! Siapa wanita murahan itu, huh?!"
"Theresa, kecilkan suaramu.."
"Dia bukan wanita murahan, Mama. Dia wanita baik-baik," geram Christov, "Namanya Cassandra De Angelis. Berusia 26 tahun. Seorang produser musik yang sukses. Aku mencintainya dan dia membuatmu bahagia, Mam--"
Belum sempat Christov menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan keras dari Theresa melayang ke arah pipi Christov. Sangat keras hingga membuat telinga pria itu berdengung. Namun, Christov tetap mempertahankan otot lehernya agar tidak bergerak dari posisi awalnya.
"Ibu tak butuh mendengar penjelasan tentang wanita sial itu. Jika ibu bilang putus maka putus.."
Christov menarik napas, "Aku tidak peduli apa Mama akan membenciku. Aku tidak melakukan penolakan ini hanya karena kekasihku, tapi aku melakukannya karena sudah muak dengan semua perlakuan Mama. Kau memaksaku, mengintervensi setiap kegiatanku, menghina pekerjaanku, menetapkan standar hidup tak masuk akal padaku hingga membuatku tertekan dan sekarang, Mama menyuruhku menyudahi hubungan yang membuat hidupku terasa lebih hidup dan bahagia untuk pertama kalinya?"
"Jadi kau lebih memilih wanita yang baru kau kenal sebentar dibanding Ibu yang sudah merawatmu sejak kecil?!"
"Ibu tidak pernah merawatku sebagai anak, tetapi sebagai investasi. Ibu hanya memandangku sebagai investasi untuk membuat nama baik Ibu semakin dikenal orang lain. Ibu hanya memandang anak-anakmu sebagai thropi untuk menyombongkan diri pada orang lain. Aku lebih suka Ayah yang diam, tapi tetap peduli dari pada seperti Ibu yang pura-pura peduli, tapi nyatanya melakukan itu semua hanya demi dirimu sendiri..."
"Christov.. Jaga ucapanmu," ujar Robert.
"Mama bertanya apakah aku memilih Mama atau kekasihku? Aku dengan bangga akan memilih Cassie, kekasihku. Dia membuatku bahagia dan Ibu hanya membuatku tertekan dengan kehidupanku.."
"Apa kau sedang berhalusinasi, Christov? Apa kau pikir kebahagiaan yang kau rasakan saat ini akan bertahan lama, huh?! Jangan bersifat naif.."
"Bertahan lama atau tidak, tak ada yang tahu itu karena aku hanya ingin menikmati rasa bahagia ini. Mulai saat ini, akulah yang bertanggung jawab akan kebahagiaanku. Bukan Mama dan bukan orang lain..."
"Kau akan menyesalinya.. Tidak akan ada yang mendukungmu!"
"Christina mendukungku. Papa juga.. Mama-lah yang bermasalah. Kenapa Mama selalu memaksaku dan menetapkan standar tak masuk akal padaku? Apa Mama tidak pernah menyadari betapa tertekannya kehidupanku karena itu? Aku hanyalah manusia biasa, Mama dan bukannya seonggok daging bernyawa yang dapat Mama perlakukan sesuka hati.."
Theresa terdiam dan hanya menatap Christov penuh kekecewaan.
"Aku akan tetap berterimakasih dan menghargai Mama atas segala dukungan yang pernah Mama berikan. Ketika keadaan sudah mereda, aku akan membawa kekasihku ke rumah dan memperkenalkannya secara resmi pada Mama dan Papa..."
"Tidak perlu.." Theresa mengibaskan tangannya, "Kau tidak perlu lagi datang ke mari sebelum kau memutuskan wanita itu.."
Christov melipat bibirnya, menahan diri tidak meledak. Setelah menjelaskan panjang lebar, inikah yang Christov dapatkan? Sama saja. pikirnya. Clara dan Ibunya sama saja. Sama-sama tidak mau tahu dengan perasaannya.
"Linda!" panggil Theresa seraya berjalan meninggalkan ruang tamu itu menuju tangga, "Linda!" panggilnya lagi.
"Yes, Ma'am?" Linda, pekerja di rumah mereka muncul.
"Bawakan aku air hangat.."
"Yes, Ma'am.."
Christov menarik napas, dia tidak tahu bagaimana menghadapi sikap acuh Ibunya tersebut. Dia mengalihkan tatapannya pada Robert yang sejak tadi tak banyak bicara. Wajahnya datar dan tidak terbaca. Christov benar-benar tidak pernah paham cara berpikir Robert, tapi dia tahu bawah Ayahnya tersebut berada di pihaknya.
"Maafkan aku telah membuat keributan, Papa.." ucapnya dengan nada tulus.
Robert tertawa, "Well.. Aku tidak marah karena akhirnya suasana di rumah ini terasa lebih hidup walau hanya sebentar.."
Christov tidak yakin apakah itu sebuah sindiran atau lelucon.
"Aku hanya bisa memberimu satu nasihat. Jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri hanya karena mengejar kebahagiaanmu.."
"Apa aku nampak seperti orang yang kehilangan jati diri?"
Robert menggeleng, "No, kid*.. Kau baru saja menemukan jati dirimu yang sesungguhnya. Aku akan mendukungku karena aku yakin dengan dirimu."
(*Tidak, nak)
Christov tersenyum dan merasa terenyuh. Dia memang tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Ayahnya tersebut, tapi Christov yakin bawah Robert selalu mendukungnya dalam diam. Entah mengapa, Christov merasa tenang mendengar Ayah berada di sisinya.
"Thank you, Papa.. Thank you.."
****
"Cassandra De Angelis..." gumam Theresa dengan suara pelan. Dua pelayan tengah memijat bagian kaki dan kepalanya.
"Hah.. Astaga.. Sudah dibesarkan dengan susah payah, tapi kedua anakku mengkhianati Ibunya..."
"Cassandra... Cassandra... Ergh. Entah kenapa aku merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat.. Setelah ini pijatkan bagian punggungku, Linda.." lanjutnya dengan tetap memikirkan nama wanita yang diucapkan Christov saat pertengkaran mereka.
"Yes, Ma'am.."
"Huh.. Oh my.. Aku yakin pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tapi di mana? Siapa gerangan yang berani membuat Christov menjadi anak pembangkang seperti ini? Argh.... Sampai mati pun, mereka berdua tak akan kuberi restu. Sampai kapan pun."
****
Miss Foxxy
Setelah 4 hari libur. Hehe. Terimaaci sudah menunggu dan maaf juga hehe. Yuk, jangan lupa ikutan giveaway. Dukung author yah dengan like, vote, love, poin, atau pun koin kamu xixixi. I love you guys.