
Happy Reading
****
Di tengah malam yang dingin dan mencengkam, aku berusaha memanggilmu, tapi kau tak pernah muncul.
****
Cassie membuka matanya ketika mendengar suara dering ponselnya yang memekakkan telinga. Dia menggeram dan menutup kepalanya lagi dengan selimut dan berharap dering ponsel itu berhenti. Cassie mengubah taktik dengan cara menarik bantal dan menutup telinganya dengan benda itu untuk meredamkan suara yang ribut tersebut, tapi tetap saja.
"Sial!" dia mengumpat kencang dan dengan terpaksa bangkit duduk di atas ranjang. Matanya yang masih setengah terbuka berusaha mencari keberadaan ponselnya dan menemukan benda itu berada di bawah kolong ranjang.
"Di sini kau benda sialan," Cassie memeriksa nama pemanggil di layar ponsel dan wajah suramnya semakin kentara sesaat melihat nama Lina di sana.
"Ada apa, Lina? Ini hari minggu dan kenapa kau memanggilku sepagi ini?"
"Ah.. Miss. Good morning.. Maafkan saya menganggu hari libur Anda, tapi saya harus menghubungi Anda karena ada hal mendafsk yang perlu saya beritahukan.."
Cassie melempar tubuhnya lagi ke atas ranjang, "Cepat katakan.."
"Manajer Produksi menyuruh saya untuk mangabari Anda terkait kantor cabang yang kita buka di New York.."
"Lalu?" tanya Cassie dengan nada malas dan berusaha menahan diri untuk tidak marah. Baginya, membicarakan pekerjaan saat hari libur adalah ilegal.
"Beliau menyuruh Anda untuk melakukan kunjungan kerja selama dua minggu di sana dimulai dari besok, Miss," kata Lina dengan nada khawatir yang teramat, "Saya benar-benar tidak tahu kenapa Anda yang diperintahkan, Miss. Saya sudah berusaha mencegah hal ini terjadi dan juga sudah menjelaskan bahwa--"
"Okay aku akan pergi. Jadi aku ahrus berangkat malam ini, bukan?" potong Cassie tanpa pikir panjang. Di keadaannya sekarang, lebih baik menyibukkan diri dengan pekerjaan, dari pada mengurung diri sendirian di kamar. Cassie takut dia kehilangan kewarasannya sendiri jika berlama-lama lagi di kota sialan ini.
"Anda pergi? Anda benar-benar mau?"
"Yah," jawabnya pendek, "Itu bukan karena aku mau, tapi aku sedang merasa benci pada kota sialan ini.."
Seseorang membuatku membenci kota ini. Pikirnya.
"Ah.. Begitu. Penerbangan dan penginapan untuk Anda sudah disiapkan jadi Anda benar-benar tidak perlu khawatir terkait biaya hidup Anda selama di New York. Saya akan menemui Anda di kota New York sebelum tengah malam--"
"Kau ada di mana Lina? Bukannya kau berkata pulang ke kediaman orangtuamu sepanjang hari libur ini?"
"Yes, Miss. Saya memang sedang ada di rumah orangtua saya di Kanada. Namun, saya bisa mencari penerbangan ke New York untuk--"
"Kau tidak perlu ikut, Lina. Biar aku saja.."
"A-Apa? Miss.. Saya benar-benar tidak keberatan ikut bekerja. Sebagai asisten Anda, sudah kewajiban saya untuk menemani Anda bekerja, Miss.."
"Tidak perlu. Nikmati saja hari liburmu bersama keluarga. Namun, kau harus memastikan anda untukku selama 24 jam setiap harinya. Artinya, aku bisa memanggilmu kapan saja untuk keperluan kerja. Okay?"
"Saya bisa, Miss. Namun, apakah Anda yakin pergi sendirian, Miss?"
"Yah.. Kau pikir aku anak kecil? Siapkan saja tiket penerbangan untukku. Aku akan berangkat siang ini. Lalu, pastikan aku mempunyai mobil yang bisa kusewa selama di New York."
"Yes, Miss. Thank you so much, Miss. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih saya untuk Anda.."
"No problem*.."
(*Tidak masalah)
"Baiklah, Miss. Kalau begitu, saya akan tutup panggilan."
"Okay.. Happy Holiday, Lina*.."
(Selamat Liburan, Lina)
"You too, Miss.."
(Anda juga)
Setelah sambungan ponsel terputus, Cassie memeriksa ponselnya lalu menemukan satu pesan singkat dari Christov yang berbunyi "I'm okay". Hanya kedua kata itu untuk membalas seluruh pesan Cassie selama beberapa hari ini. Bukankah itu keterlaluan?
"Dasar be-de-bah sialan," umpatnya seraya memilih menu untuk memblokir nomor ponsel Christov, "Entah berapa lama lagi yang dia butuhkan untuk berpikir.. Fvck you, Christov," dan dengan umpatan kasar itu, Cassie membanting ponselnya ke atas ranjang lalu bangkit berdiri untuk bersiap-siap melakukan kunjungan kerja mendadak.
"Kuharap aku mendapatkan ikan segar saat di New York. Dia pikir hanya dia pria di dunia ini, huh?"
****
Christov melihat layar ponselnya yang berisi pesan-pesan yang Cassie kirim untuknya. Dia membalas pesan tersebut dengan pesan singkat untuk mengatakannya baik-baik saja. Tidak banyak yang Christov bisa ketik di sana karena baginya, lebih baik bertemu Cassie dan berbicara langsung.
Sejujurnya, sampai saat ini dia belum tahu dan belum memahami apa yang dia inginkan, tapi satu yang Christov sadari selama beberapa hari tanpa kehadiran Cassie, dia merasakan kekosongan yang aneh. Kekosongan yang membuatnya tidak merasa nyaman. Kekosongan yang membuat malamnya terasa mencengkam dan mengerikan.
Christov mengabaikan perasaan kosong itu dan mengikuti egonya sendiri yang berkata bahwa kekosongan itu bukan diakibatkan oleh ketidakhadiran Cassie di sisinya, tetapi karena masalah kesehatannya. Dia mengabaikan setiap pesan dan panggilan Cassie untuk membuktikan bahwa perasaan aneh itu bukan karena Cassie. Namun, semakin dia mengabaikan setiap panggilan dan pesan itu, semakin dia merasa tersiksa oleh perasaan aneh tersebut..
Seiring waktu berjalan dan setelah menghabiskan malam-malamnya yang terasa dingin dan sepi, Christov akhirnya sadar bahwa kekosongan itu bukan karena masalah kesehatannya, tapi karena ketidakhadirannya Cassie di sisinya. Akhirnya Christov mengakui bahwa dia memiliki perasaan yang tidak terjelaskan dengan kata-kata terhadap Cassie. Dia masih belum yakin dengan perasaan tersebut, tapi satu yang Christov yakini bahwa dia membutuhkan Cassie di sisinya.
Sekarang, di sinilah dia, berdiri di depan lemari etalase yang berisi perhiasan di Toko Swarovski di sebuah pusat perbelanjaan LA. Christov datang lagi ke tempat di mana dia membeli cincin pasangan dengan Cassie untuk memesan barang yang sama untuk kedua kalinya. Setidaknya, Christov ingin memiliki cincin pasangan bersama Cassie untuk menyakinkan wanita itu bahwa dia tidak akan pergi ke mana-mana.
"Aku pernah membeli sepasang cincin dari toko ini sekitar bulan delapan awal tahun ini. Apakah aku bisa memesan cincin yang sama?" tanya Christov pada karyawati toko perhiasan Swarovski.
"Apa Anda memiliki gambar contoh dari cincin yang Anda katakan, Sir?"
"Itu masalahnya. Aku tidak punya. Terjadi insiden antara aku dan isteriku yang membuat cincin kami berdua hilang," jelas Christov.
"Apa Anda tidak ingat bentuknya, Sir?"
Christov tersenyum kaku saat mendengar pertanyaan karyawati itu.
"Aku tidak terlalu mengingatnya. Namun, aku masih menyimpan bukti pembayarannya. Apakah data saya tidak bisa diproses dengan bukti pembayaran? Mungkin dari data itu bisa mengarahkan ke gambar dan bentuk cincin yang saya pesan?"
"Bisa saya lihat nota pembayarannya, Sir?"
Christov mengangguk kecil dan membuka ponselnya untuk menunjukkan nota pembayarannya.
"Hmm.. Saya ragu kami bisa memprosesnya hanya dengan nota pembayaran Anda. Kami selalu memberi sertifikat kepemilikan terhadap barang yang sudah dibeli dan di sana terdapat kode unik. Dengan kode itu, kami mungkin bisa memproses bentuk dari cincin yang anda beli sebelumnya. Apakah Anda memiliki, Sir? Kami selalu memberi benda itu dalam bentuk soft copy dan hard copy. Mungkin anda menyimpan salinan hard copy-nya di ponsel Anda.."
Christov mengangguk paham, "Kalau begitu saya akan periksa sebentar.."
"Baik, Sir. Saya akan menunggu," kaya karyawati dan berlalu dari hadapan Christov menuju pelanggan lain.
Christov menunduk dan mulai mencari satu per satu isi file di dalam ponselnya. Namun, hal yang pertama dia lakukan adalah mencari keberadaan sertifikat kepemilikan itu di akun google miliknya dengan Cassie. Christov memeriksa setiap file dari bulan Agustus awal hingga akhirnya, dia menemukan benda itu. Senyumnya merekah lebar melihat gambar sertifikat tersebut.
"Permisi.." panggil Cassie pada karyawati yang melayaninya sebelumnya. Karyawati itu datang dan menghampirinya.
"Anda sudah menemukannya, Sir?"
"Yeah. Ini.." Christov memberi ponselnya dan karyawan tersebut meneliti layar ponsel Christov dalam diam.
"Bisa Anda kirim salinan benda ini pada nomor ini, Sir?" ujar karyawati seraya menunjukkan rangkaian nomor ponsel
"Yes, of course,*" Christov mengirim salinan file dari sertifikat ke nomor yang karyawan sebut.
(Yah, tentu saja.)
"Kami akan memeriksanya, Sir, tapi itu mungkin membutuhkan waktu kerja selama 1-2 hari."
"Kemungkinan besar yah, Sir.."
Christov mengangguk senang, "Sesaat kalian menemukannya, bisakah kalian membuatkan cincin yang sama persis?"
"Tentu saja, tapi kami akan menghubungi Anda terlebih dahulu untuk membicarakannya jika Anda menginginkan perubahan permak dari cincin tersebut.."
Christov menggeleng kecil, "Sepertinya tidak. Isteriku suka bentuk yang lama. Jadi aku tidak berpikir untuk mempermak atau mengubahnya."
Karyawan itu tersenyum tipis, "Isteri Anda sangat beruntung mendapatkan Anda, Sir.."
"Benarkah? Aku malah berpikiran sebaliknya," katanya dengan nada malu-malu yang canggung, "Uhm.. Apakah kalian memiliki kalung?"
"Tentu saja, Sir. Kalung untuk isteri Anda?"
"Ahh yeah.."
Karyawan tersebut memberikan katalog toko, "Katalog ini berisi beberapa bentuk yang tersedia dalam toko atau Anda juga bisa memberikan model sendiri dari kalung yang Anda inginkan.."
Christov mengangguk paham dan mulai membuka satu per satu halaman katalog yang berisi berbagai bentuk kalung. Hingga jemarinya berhenti menyibakkan lembaran katalog saat melihat sebuah kalung emas putih yang memiliki liontin berbentuk burung yang menyibakkan sayapnya seolah-olah ingin terbang. Liontin burung terbang tersebut mengingatkannya dengan salah satu tatto burung Cassie. Liontin burung itu pun nampak mewah dan elegan dengan berlian-berlian kecil di sepanjang bentuknya dan membaut Christov yakin benda itu akan berkilauan di bawah cahaya matahari.
"Apakah bentuk yang ini masih ada?"
"Yeah, Sir. Anda menginginkan yang ini?"
Christov mengangguk kecil, "Begitulah.."
"Anda beruntung datang hari ini karena kalung dengan liontin burung ini tinggal satu buah lagi," karyawan tersebut menunjukkan Christov bentuk asli dari kalung tersebut dan langsung merasa terpesona. Benda itu jauh lebih indah dari pada yang Christov pikirkan.
"Boleh aku menyentuhnya?"
"Yes, Sir. Kalung ini terbuat dari emas putih murni dan liontin burung tersebut memiliki lima puluh butir berlian kecil asli," jelas karyawati.
Christov mengangkat liontin burung itu ke arah atas sehingga benda itu nampak berkilauan di bawah cahaya lampu. Kalung itu mengingatkannya pada Cassie.
Sangat cocok untuk Cassie. Pikirnya. Liontin burung ini seolah menjelaskan kepribadian Cassie yang bebas dan berlian yang berkilauan itu menjelaskan Cassie adalah sosok yang selalu bersinar serta menarik perhatian setiap orang. Yeah.. Cassie memang memiliki aura unik yang membuat siapa pun terpikat padanya. Cassie selalu bersinar ke mana pun dia melangkah.
"Burung apa ini?"
"Burung Phoenix yang memiliki filosofi sebagai sosok yang penuh semangat kebangkitan dan dapat menyembuhkan dirinya sendiri saat ia dalam keadaan terpuruk.
Christov mengangkat kepala untuk menatap karyawati itu, "Benar-benar melambangkan sosok isteriku. Saya ingin membeli yang ini.."
"Of Course, Sir.."
****
Christov menghubungi nomor Cassie saat malam sudah menjemput di hari minggu. Namun, sambungan ponselnya tidak tersambung kepada nomor ponsel Cassie.ย Christov mengirim pesan kepada Cassie, tapi pesan tersebut tidak bisa terkirim.
"Ada yang salah dengan ponselku?" tanyanya pelan seraya mengirim pesan kembali, tapi tak kunjung bisa. Dia memilih menutup ponselnya dan menoleh ke arah gedung apartemen Cassie dari jendela mobilnya. Christov mempertimbangkan diri apakah pergi masuk ke apartemen Cassie atau menunggu isterinya itu aktiv kembali di ponsel.
Dia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dan menatap wiper kaca mobil yang bergerak membersihkan kaca mobil dari air hujan yang turun. Lalu, matanya melirik ke arah dua paper bag berisi hadiah kalung untuk Cassie dan makanan yang dia beli dari restoran. Rencananya, Christov akan memakan makanan itu bersama Cassie.
"Dia pasti di sana, bukan? Kurasa aku harus pergi ke apartemen Cassie atau makanan yang kubeli menjadi dingin," katanya dengan nada pembelaan.
Christov mematikan mesin mobil, membuka pintu, lalu pergi dari dalam mobil dengan payung dan kedua paper bag dalam satu tangan. Sesampainya di depan pintu lobi, Christov menekan rangkaian seri sandi yang Cassie berikan padanya. Hingga akhirnya sampai di apartemen Cassie, yang dia temukan adalah apartemen yang gelap, dingin, dan kosong.
"Cassie?" panggilnya seraya menaruh paper bag yang dia bawa ke atas meja. Dia mencari keberadaan stop kontak lampu dan setelahnya, seluruh ruangan tersebut di terangi oleh lampu.
"Cassie?" dia memanggil lagi dan berjalan masuk setelah melepas sepatunya. Apartemen Cassie yang tidak terlalu luas mempermudah proses pencarian Christov dan pencarian itu hanya membawa kekecewaan karena dia tidak menemukan wanita itu di mana pun.
"Di mana dia?"
Christov menemukan sebuah telepon pesawat di ruangan tersebut dan tanpa menunggu lebih lama, dia menekan rangkaian nomor ponsel Cassie lalu memanggilnya. Christov menunggu dan menunggu. Sayangnya, panggilan tersebut malah tersambung ke voice mail (pesan suara).
"Aneh.." pikirnya. Dia merogoh ponselnya sendiri dan menghubungi Cassie dari sana, tapi betapa terkejutnya Christov karena panggilannya tidak tersambung ke voice mail.
"Loh? Ada yang salah dengan ponselku?" tanyanya, "Kenapa nomorku tidak tersambung ke nomor ponsel Cassie?"
Christov berdehem kecil dan berusaha tetap positif. Dia menyakinkan dirinya sediri bahwa yang salah itu adalah ponselnya. Christov memilih menghubungi Cassie melalui telepon pesawat sekali lagi. Sambungan tersambung ke voice mail lagi dan Christov menekan angka satu untuk mengirim voice mail-nya sendiri.
"Halo, Cassie. Ini Christov. Kenapa aku tidak bisa menghubungimu? Bisa kau hubungi aku? Ada hal yang perlu kubicarakan dan satu lagi, aku sedang ada di apartemenmu dan aku tidak menemukanmu di mana pun. Apa kau sedang berada di rumah orangtuamu atau di tempat lain? Kumohon hubungi aku kembali, Cassie. Aku me--.." Christov menarik napas dan berharap bisa mengatakan ucapan cinta itu pada Cassie, tapi tidak bisa. Bibirnya tiba-tiba terasa kelu dan pada akhirnya, dia memilih untuk tidak mengatakannya. Christov menekan tombol satu dan mengirim pesan suara itu pada Cassie.
"Later. Maybe later.."
(Nanti. Mungkin akan kuucapkan nanti saja)
****
Cassie menatap suram ke arah jendela kamarnya. Tiga hari berlalu sejak kedatangannya di New York dan di sinilah dia, duduk sendirian di atas ranjang seraya memandang pemandangan kota New York malam yang tengah dituruni salju. Sesekali, kembang api menghiasi langit malam karena hari sudah semakin dekat menuju pergantian tahun. Sedih.. Begitu menyedihkan karena besok Cassie harus merayakan pergantian tahun seorang diri saja.
Namun, dia tidak terlalu peduli. Perayaan pergantian tahun bukanlah sesuatu yang besar. Hanya karena Cassie tidak merayakan pergantian tahun, bukan berarti kehidupan Cassie menyedihkan. Dia hanya merasa sedih karena tahun 2020 akan berlalu, tetapi tidak dengan masalahnya. Masalahnya yang berada di tahun 2020 masih tetap mengikutinya ke tahun 2021
Cassie duduk bersila lalu memejamkan mata untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia memutuskan untuk membeli ponsel baru yang khusus dia pakai selama melakukan pekerjaannya di New York dan nomor ponsel itu hanya diketahui oleh rekan kerja serta ketiga temannya. Cassie bahkan tidak mau repot-repot memberikan nomor ponselnya pada keluarganya, bahkan pada Christov.
Akan tetapi, ketenangannya selama tiga hari ini akhirnya terusik. Sesaat sebelumnya, dia melakukan makan malam sendirian di sebuah restoran yang dipadati oleh para pasangan yang dimabuk cinta dan itu benar-benar mengusiknya. Tidak sampai di situ, sepanjang perjalanan ke hotel tempat dia menginap, Cassie tidak henti-hentinya melihat timbunan pasangan di setiap sudut kota. Dari hatinya yang terdalam, Cassie berharap bisa menikmati malam pergantian tahun bersama Christov.
"Sial," umpatnya sesaat membuka kedua matanya dengan kesal karena tidak berhasil menenangkan dirinya sendiri.
Dia melompat dari ranjang dan berjalan menuju pot bunga yang tidak jauh dari perapian. Setelah mengenakan sarung tangan, Cassie mengangkat pot bunga tersebut menuju balkon. Dia bahkan tidak merasa kesulitan mengangkat pot bunga yang besar tersebut dan tidak juga merasa kedinginan dengan cuaca yang membekukan tulang. Tanpa berpikir panjang, Cassie mencabut akar tanaman dari dalam tanah kemudian menumpahkan seluruh tanah ke atas lantai untuk mengambil ponselnya yang dia tanaman di sana.
"Gila.. Aku benar-benar sudah gila," celotehnya ketika mengingat dirinya sendiri yang sudah berjanji tidak akan membuka ponsel itu lagi selama di New York. Huh.. Kehidupan memang begitu. Sesuatu lebih mudah saat diucapkan, tapi tidak dengan pelaksanaannya.
Setelah menemukan ponselnya, dia memperbaiki posisi tanaman itu kembali dan mengangkatnya masuk ke dalam ruangan. Cassie melepas sarung tangannya yang kotor lalu meriah ponselnya yang dibungkus dalam plastik. Dalam gerakan perlahan, dia mengeluarkan ponselnya tersebut. Sangat perlahan dan berhati-hati seolah itu adalah barang yang sangat rapuh. Namun, momen yang sakral tersebut harus dihancurkan oleh dering ponsel baru sialannya.
"Argh! Fvck!" Cassie mengumpat dan berjalan ke arah ponselnya yang lain. Dia mengisi daya dari ponsel lamanya sebelum akhirnya menerima panggilan dari Lina.
"Halo, Lina?" ucapnya dengan nada kesal yang tidak ditutup-tutupi.
"Miss.. Ada kabar buruk.. Kabar buruk," kata Lina dari seberang dengan nada cemas yang kentara.
"Ada apa? Kabar buruk apa?" tanya Cassie masih dengan gaya santainya.
"Anda harus memeriksa akun musik YT milik perusahan kita saat ini juga, Miss.."
"Ada apa? Ada apa di sana?" tanpa menutup panggilan, Cassie memeriksa aplikasi YT milik perusahannya dan menemukan satu video musik baru yang ditayangkan sekitar tiga jam yang lalu. Agar dapat memutar video, Cassie memutuskan sambungan panggilan dengan Lina.
Nama Kimberly, si penyanyi asuhan Laura beserta judul lagu yang tidak senonoh terpampang di sana. Ketika dia menekan tombol putar, video klip untuk lagu itu akhirnya muncul dan menampilkan Kim dalam video klip yang benar-benar jauh dari kata sopan. Remaja berusia 16 tahun yang berpakaian sangat terbuka menari dengan tarian ero-tis bersama pada penari latar belakang.
Bibir Cassie bergetar dan dadanya bergemuruh oleh rasa marah. Tangannya yang gemetar memeriksa informasi tentang video klip tersebut dan menemukan namanya ada di sana sebagai salah satu pemberi izin terbit dari video tersebut.
"Fvck, Laura! Fvck!"
****
Miss Foxxy
Sedih banget liat yg kasih komentar semakin dikit karna masalah dalam cerita semakin pelik wkwkw.
Tapi kan harus gitu. Gk mungkin diceritakan cuman adegan yg manis" ajah. Just remember, everything's gonna be alright. Trust me ๐โฅ๏ธ๐งก๐๐