Remember Me

Remember Me
Tragedy



Happy Reading


****


Kamis, 13 Agustus 2020. 16.00


"Apa kau sudah menyelesaikan animasi dan gradiasi warna pada rumah yang kuminta, Josh?" tanya Christov pada Josh yang tengah sibuk dengan iPad miliknya. Josh mengangkat kepala untuk melihat ke arah Christov.


"Sudah selesai, Sir.."


"Anda ingin melihatnya, Sir?" tanya Mia dengan senyum lebar, "Saya sudah selesai membuat warna 'Dream House' tersebut.."


Christov tersenyum, "Thank you.. Aku akan melihatnya setelah itu selesai.."


"Siapa pun yang akan menjadi calon isteri anda suatu saat, dia akan sangat beruntung mendapatkan Anda, Sir.." kata Mia dengan tatapan penuh impian.


Christov membalasnya dengan senyum tipis. Dia tidak sedikit pun memberitahukan tentang pernikahannya yang akan dilaksanakan Sabtu ini pada ketiga pekerjanya. Satu-satunya orang yang dia undang adalah saudarinya sendiri. Awalnya, Christina menolak untuk datang, tapi Christov bersikeras meminta saudarinya itu untuk datang hingga akhirnya Christina mau datang.


Christov berencana membawa Cassie liburan ke Maldives setelah pernikahan itu selesai, tapi sayangnya, dia dan Cassie dikejar oleh deadline pekerjaan. Keduanya memutuskan pulang di hari berikutnya setelah pernikahan selesai dan melakukan liburan mereka saat keduanya tidak sibuk lagi.


Dibandingkan rasa gugup dan rasa cemas, Christov merasakan semangat yang menggebu-gebu dalam dirinya. Dia benar-benar tidak sabar melihat Cassie berjalan menuju altar dan memanggil wanita itu sebagai isterinya, miliknya seorang.


Gila. Pilihan untuk menikah diam-diam ini benar-benar gila dan Christov belum pernah membuat pilihan seberisiko ini seumur hidupnya. Namun, cinta membuatnya buta akan segala hal. Terdengar klise dan murahan, tapi itulah yang terjadi. Christov tidak pernah menyangka akan berada di titik ini, titik di mana dia tergila-gila pada Cassie. Terkadang, hal yang tidak pernah kau sangka akan terjadi padamu dengan cara yang unik.


Huff.. Gila dan berisiko, tapi Christov menyukainya.


"Aku akan pulang terlebih dahulu untuk memeriksa sesuatu," ujar Christov seraya bangkit dari duduknya, "Besok aku tidak datang karena beberapa alasan jadi bekerjalah tanpa aku.."


"Yes, sir.." jawab ketiganya dan Christov berjalan ke ruang kerjanya untuk membereskan barang-barang miliknya. Mengenakan jaket dan membawa tas kerja untuk bersiap pulang. Setelah berada di basement, Christov masuk ke dalam mobil dan melajukan benda itu menuju jalan besar.


Dia menghentikan mobilnya untuk membeli makan malam serta beberapa macam roti untuk Cassie. Christov kembali melajukan mobil menuju apartemen setelah semua keperluannya terpenuhi. Sesampainya di apartemen, Christov menghubungi Cassie dan wanita itu mengatakan bahwa dia akan datang sebelum pukul enam sore. Sembari menunggu Cassie, Christov membereskan barangnya dan memilih untuk mandi.


Di sisi lain, Cassie tengah berada di apartemennya seraya membereskan barang-barangnya ke dalam koper. Dia dan Christov akan bepergian besok dengan penerbangan pagi ke Rhode Island dan mereka hanya bepergian selama tiga hari dua malam karena di hari minggunya, dia dan Christov akan pulang untuk menghadapi dunia kerja di Los Angeles.


"Aku berharap bisa liburan bersama Christov," gerutunya pelan saat memasukkan beberapa set make-up ke dalam koper. Ketika sudah selesai, Cassie berdiri di tengah kamarnya dan menatap sekitar ruangan tersebut untuk memeriksa apakah dia melupakan sesuatu atau tidak. Kepalanya berhenti bergerak saat melihat kotak kayu coklat yang berada di atas rak bukunya.


"Astaga.. Untung aku tidak melupakannya," ucapnya penuh kelegaan seraya melangkah meraih kotak kayu tersebut. Dia memasukkan kotak kayu berisi hadiah ulang tahun pada Christov di dalam paper bag. Cassie mandi dengan cepat lalu berpakaian nyaman sebelum akhirnya membawa barang-barangnya menuju mobil yang terparkir.


Sebelum pukul enam sore, Cassie sudah sampai di kediaman Christov dan melihat kekasihnya itu tengah memanaskan makanan di dapur. Dia menarik kopernya masuk dan Christov menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.


"Kita hanya bepergian selama tiga hari dua malam, Cassie.." ucap Christov pelan saat Cassie menaruh koper di sudut dinding dan membawa serta paper bag saat berjalan ke arah kekasihnya tersebut.


"Memang," Cassie duduk di kursi bar dan menaruh paper bag tersebut di atas meja.


"Tapi, kau membawa barang seolah kita bepergian selama seminggu penuh.."


Cassie memutar mata dan menolak melanjutkan pembicaraan tentang kopernya.


"Ini untukmu," dia mendorong paper bag itu mendekat ke arah Christov dengan tangan kanannya.


"Apa ini?" tanya christov sembari menilik isi di balik paper bag tersebut. Saat melihat isinya, Christov menarik kotak kayu dengan ukiran unik tersebut keluar dari dalam paper bag.


"Hadiah ulang-tahun.."


"Hmm.. Aku tersentuh karena kau memberiku hadiah, Cassie. Thank you.."


"Kuharap kau suka..."


Christov tersenyum tipis lalu mengusap lembut lubang kunci kotak kayu tersebut lalu memeriksa kembali isi paper bag untuk mencari kunci kotak kayu tersebut. Saat tidak menemukannya, dia kembali melihat ke arah Cassie.


"Di mana kuncinya?"


Senyum Cassie perlahan hilang dan digantikan dengan raut wajah penuh keheranan lalu berganti lagi ke ekspresi penuh kekesalan saat menyadari keteledorannya.


"Oh sial," umpatnya seraya memukul permukaan meja bar dengan tangan kanan, "Aku melupakan kuncinya. Apa aku perlu menjemputnya sekarang? Jika besok mungkin tak akan sempat.."


Christov tertawa, "Tidak apa.. Setidaknya hadiah utama sudah ada di sini. Kuncinya bisa kita ambil setelah pulang dari Rhode Island."


"Namun, kita pulang di hari Minggu, sedangkan ulang tahunmu di hari Sabtu..." ucap Cassie dengan nada sedikit sedih.


"Tak apa. Aku bisa menunggu. Memangnya apa isi kotak kayu ini, hm?" dia mengelus lembut dagu Cassie.


"Rahasia... Biarkan itu menjadi rahasia sampai kau membukanya sendiri dengan kunci..."


"Aku tidak sabar," dia menarik tangannya dari dagu Cassie dan memasukkan kotak kayu itu kembali ke dalam paper bag, "Kau sudah makan?" Christov membuka lemari pendingin dan mengeluarkan dua sandwich buah, "Mau?"


Cassie menggeleng, "Aku tidak makan kue semacam itu. Kue dengan buah dan cream bukanlah perpaduan yang cocok untuk lidahku.."


"Ah benarkah? Aku tidak pernah tahu itu, padahal aku suka roti semacam ini," Christov memasukkan kembali sandwich buah itu kembali ke dalam lemari pendingin. Dia beralih ke arah microwave dan membuka benda itu setelah pemutar waktunya berhenti. Christov mengeluarkan dua mangkok putih berukuran sedang berisi sup.


"Aku membeli sup daging domba tadi. Ini bagus untuk membuatmu agar selalu bertenaga,"


"Bertenaga di ranjang maksudmu?" ujar Cassie dengan nada santai saat melihat sup daging domba dengan potongan sayuran dadu di dalamnya.


Christov terkekeh kecil dan ikut duduk di hadapan Cassie, "Kuat saat di ranjang dan kuat saat melakukan aktivitas sehari-hari. Selamat makan, babe.."


"Selamat makan.."


"Aku tidak sabar menunggu hari Sabtu.." bisik Christov dan Cassie tersenyum tipis. Saat dia menyendokkan sup ke dalam tubuhnya, Cassie merasakan seluruh bulu kuduknya meremang kemudian timbul perasaan tak nyaman dalam dirinya dan Cassie tidak tahu mengapa perasaan aneh itu tiba-tiba muncul.


Aneh.


****


Rhode Island. Sabtu, 15 Agustus 2020. 12.00


Cassie menatap lautan biru yang membentang dari balik jendela mobil. Ombaknya beriak-riak dan menghantam tebing tanpa ampun. Cahaya matahari nampak malu-malu muncul dari balik awan hitam dan membuat lautan bagaikan potongan kristal dalam wadah. Cantik. Batin Cassie. Dia membuka sedikit jendela mobil dan mengeluarkan tangannya untuk merasakan angin sejuk.


"Jangan buka terlalu lebar, itu akan merusak riasan wajah dan rambutmu, Cassie," ucap Bambi yang duduk di sampingnya dengan nada lembut.


Cassie menoleh ke arah Bambi yang mengenakan dress biru lembut dan tengah tersenyum tipis padanya.


"Gugup?" tanya Gerald yang tengah membawa mobil menaiki jalanan di pinggiran tebing menuju tempat pemberkatan pernikahan Cassie dan Christov.


Yah.. Dia merasa takut dan ragu akan pernikahan ini.


Awalnya dia berpikir itu adalah perasaan gugup yang normal dirasakan oleh siapa pun sebelum hari pernikahan. Namun, seiring waktu berlalu, rasa gugup yang dia rasakan itu tidak terasa normal. Perasaan itu membuatnya mengalami mual, muntah, dan pening hebat. Tangannya mulai bergetar hebat dan mimpi buruk menghantui malam sebelum pernikahan. Beruntung dia tidak tidur satu kamar bersama Christov. Cassie tidak bisa bayangkan apa reaksi kekasihnya tersebut jika melihatnya tampak kacau sehari sebelum pernikahan.


Semalam dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar hotel seraya menatap gaun putih panjang yang akan dia kenakan untuk pernikahan. Melihat gaun itu membuatnya tidak nyaman oleh karena alasan yang tidak dia ketahui. Ketika dia berusaha untuk tidur, bayangan wajah Theresa saat menghinanya kembali menghantuinya. Wajah kekecewaan kedua orangtuanya karena Cassie menikah diam-diam pun ikut membuat malamnya terasa panjang. Hal yang terburuk adalah saat Cassie merasakan mimpi itu terasa sangat nyata.


Ini tidak normal. Batinnya. Perasaan ini tidak normal.


Cassie menggenggam erat tangkai buket bunga mawar putih yang ada di tangannya dengan harapan jemarinya berhenti bergetar. Dari balik gaun putih yang dia kenakan, Cassie bisa merasakan aliran keringat dari balik punggungnya dan jantungnya berdegup dengan kencang seolah ingin merobek dadanya. Dia memindahkan tangan kanannya ke dada kiri, memegangi dadanya sendiri seolah takut jantungnya bisa keluar dari balik tubuhnya.


"Gerald, boleh kau nyalakan pendingin? Aku gugup dan membuatku sedikit berkeringat," katanya dengan senyum kaku. Dia tidak mau menunjukkan perasaan yang dia rasakan saat ini karena tidak mau membuat sahabatnya tersebut khawatir.


"Bisa-bisanya kau berkeringat di cuaca sejuk dan dingin seperti ini.."


Cassie tertawa kecil.


"Makan ini, sayang," tawar Bambi seraya mengarahkan tangan kanannya yang memegang bungkusan coklat putih yang sudah terbuka, "Makanan manis bisa membantumu mengurangi rasa gugupmu," ucapnya dengan nada lembut dan Cassie memakan coklat itu tanpa ragu. Menghisapnya dan berharap itu akan membuatnya lebih baik.


Namun, rasa takut dan ragu itu semakin membesar saat akhirnya mobil mereka memasuki daerah Gereja tua tersebut. Sebuah gereja kecil yang dibangun dari kayu ber-cat putih. Gereja yang berdiri sendirian di lahan hijau yang luas dan lautan biru membentang sebagai latar dari tempat itu. Sebuah pohon  yang tidak memiliki dedaunan berdiri kokoh di samping gereja. Itu indah, tapi, pemandangan itu membuat Cassie mual.


Lari.. Aku harus lari, bukan? Tanya dia pada dirinya sendiri.


Mobil berhenti di depan bangunan gereja dan mata Cassie mulai berkabut. Dia menatap kedua temannya keluar dari mobil dan dalam pandangannya, semua kegiatan itu berjalan dalam gerakan cepat. Gerald membuka pintu dan Cassie hanya bergerak bagaikan robot.


Satu tangannya dilingkarkan pada tangan Gerald, sedangkan tangan kiri memegang buket bunga tadi. Di hadapannya, Bambi berjalan lebih dulu sebagai best woman Cassie. Mereka menaiki anak tangga menuju teras dan saat sudah berada di atas, kedua pintu bangunan tersebut terbuka lebar.


Lari... Lari, Cassie. Teriak suara kecil dari dalam dirinya.


Cassie menatap orang-orang yang berada di ruangan itu. Miranda duduk seorang diri bangku depan di sebelah kiri dan Christina di sebelah kanan. Di ujung altar, Christov dengan setelan jas hitam berdiri dengan seorang pemuka agama. Di sisi kiri Altar, Cassie bisa melihat Meghan yang mengenakan gaun biru memegang kamera untuk dokumentasi kegiatan ini. Kosong. Tempat ini begitu kosong, dingin, dan mengirimkan berbagai aura aneh.


Cassie bergerak bagaikan robot. Langkahnya terasa lunglai, matanya semakin kabur, dan kepalanya terasa berat. Pada titik ini, Cassie sudah berpikir akan jatuh pingsan. Namun, nyatanya tidak. Dia sampai di altar dan tangan kanannya dipindahkan Gerald pada Christov yang tersenyum manis padanya.


"Cassie.." panggil Christov dengan suara lembut. Cassie memaksa dirinya untuk tersenyum dan berusaha menggerakkan kakinya yang bergetar hebat. Christov meremas lembut kedua tangannya yang berada dalam genggaman pria tersebut dan Cassie hanya tersenyum, bingung harus bereaksi apa.


"Hadirin sekalian.." pemuka agama tersebut mulai berbicara, "Pada kesempatan yang berbahagia ini, kita akan menjadi saksi hidup untuk pernikahan suci, Christovel O'Connel dan Cassandra De Angelis..."


No.. No..


Suara pemuka agama tersebut terdengar bergema dalam gedung.


"Cassandra O'Connel, apakah kamu bersedia menerima pria ini menjadi suamimu untuk hidup bersama dalam pernikahan yang suci. Untuk mencintainya, menghormatinya, menghiburnya, dan menjaganya dalam keadaan sakit atau sehat selama kalian hidup?" tanya pemuka agama setelah bertanya hal yang sama pada Christov.


Cassie memejamkan mata selama beberapa saat. Bibirnya terasa kelu dan rahangnya terasa sulit untuk diangkat. Kedua tangannya yang digenggam oleh Christov diremas lembut lagi oleh pria itu seolah memberinya semangat. Saat dia membuka mata, matanya bertemu dengan mata Christov yang berbinar-binar.


Oh my.. Bagaimana bisa Cassie sanggup mengatakan bahwa dia tidak siap untuk pernikahan ini jika Christov menatapnya seperti itu?


"Yah, aku bersedia.." bisiknya setelah pergerumulan hebat dalam dirinya.


"Sekarang, silakan ucapkan janji Anda masing-masing di mulai dari pengantin pria.."


Cassie mengedipkan mata dalam gerakan lambat. Matanya kembali berkabut dan dia tidak bisa mendengar suara Christov yang tengah mengucapkan janjinya dengan jelas. Sayup-sayup dia mendengar suara Christov dan ketika sudah gilirannya, Cassie mengucapkan janji yang telah dilatihnya selama beberapa hari ini. Keluar begitu saja dan Cassie tidak yakin dengan apa pun yang dia katakan dan sesaat dia selesai, Christov menyelipkan cincin bertahtakan berlian pada jari manis di tangan kanannya dan Cassie pun melakukan hal yang sama pada CHristov.


"My wife*.." bisik Christov, "I love you.."


(*Isteriku)


"I love you too, Christoval.."


Pria itu menariknya mendekat dan Cassie tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dia memejamkan kedua matanya, melingkarkan kedua tangan pada leher Christov, dan membiarkan bibirnya bertautan dengan bibir Christov. Cassie benar-benar pasrah dalam pelukan dan ciuman Christov. Pasrah dan kembali menyakinkan diri bahwa perasaannya itu adalah rasa gugup biasa. Menyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Berakhir. Batinnya. Semuanya akan baik-baik saja, Cassie..


****


Bandra Internasional Los Angeles. Minggu, 16 Agustus 2020. 20.46


Dia sangat diam. Pikir Christov ketika memasukkan barang mereka ke dalam bagasi mobil di malam hari yang diguyur oleh hujan deras. Pria itu memperhatikan wajah lesu Cassie yang memasuki mobil dan dia mengikut setelahnya. Christov melajukan mobil meninggalkan parkiran bandara dan keduanya terdiam. Dia melirik wanita itu dari ujung matanya, tapi Christov tak bisa melihat wajah Cassie dengan jelas karena topi Hoodie besar yang menutupi kepala Cassie.


"Ada yang salah?" tanya Christov dengan suara sedikit keras untuk melawan suara hujan yang menetes di badan mobil. Dia memulai pembicaraan tersebut ketika tidak tahan lagi dengan kesunyian di antara mereka.


Cassie menoleh ke arahnya dengan senyum tipis, "Tidak. Tidak ada yang salah, babe. Aku hanya merasa kurang enak badan dan jadwal mens-tru-a-siku membuatnya semakin buruk.."


"Kau nampak tidak bahagia.." ucap Christov dengan nada penuh kehati-hatian.


Cassie menggeleng dalam gerakan lemah dan Christov melihat kedua tangan Cassie meremas perutnya. Dia memejamkan mata dan keningnya berkerut tebal seolah tengah menahan rasa sakit yang teramat. Wajah Cassie berubah warna menjadi pucat dengan sangat cepat dan itu membuat Christov berubah was-was.


"Kau okay, Cassie?" tanya Christov dengan nada khawatir.


"Perutku.." erang Cassie dalam nada kesakitan, "Perutku, Christov.. Sakit.. Sangat sakit.."


Christov mengarahkan satu tangannya pada dahi Cassie yang dibanjiri keringat. Tubuh Cassie benar-benar dingin. Terlampau dingin. Bibir Cassie yang kering bergetar hebat dan matanya menatap tidak fokus ke sembarang arah. Christov akhirnya sadar bahwa ada yang tidak beres. Dia memindahkan tatapannya secara bergantian antara jalanan yang sepi dan Cassie.


"A-argh.. Please.. Sakit.. Sangat sakit, Christov.." raung Cassie dalam suara penuh kesakitan. Urat-urat kecil di dahinya bahkan muncul. Jantung Christov berdegup kencang dan rasa takut mulai menghinggapi dirinya


"Kita akan ke rumah sakit, sayang.. Bertahanlah.. Bertahanla--"


"Christov! Watch out!!" Cassie berteriak kencang ketika melihat cahaya lampu mobil yang terang mengarah ke arah mobil mereka.


(Watch out \= awas)


Christov menoleh ke arah depan dan matanya terbuka lebar ketika melihat cahaya terang itu semakin dekat. Suara klakson mobil yang kuat menandakan bahwa mobil yang melaju cepat ke arah mereka adalah mobil truk. Jelas truk itu berusaha berhenti, tapi kecepatan yang kencang membuat truk tersebut tampak kehilangan kendali di jalanan yang basah dan licin karena air hujan.


"FVCK!" Christov mengumpat kencang dan memutar stir mobil ke arah berlawanan hingga terdengar decitan ban dengan aspal yang sangat keras. Dia berhasil menghindar, tapi tidak dengan bagian ekor mobil yang akhirnya tertabrak oleh bagian depan mobil truk. menghantam mobil mereka dengan kuat hingga membuat mobil Christov terguling di jalanan sejauh lima puluh meter jauhnya. Berguling terus hingga akhirnya berhenti dalam posisi terbalik dan meninggalkan kedua insan tersebut dalam keadaan mengerikan.


****


Miss Foxxy


Selamat Tahun Baru semuanya. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia author sepanjang 2021 ini. Sepanjang tahun ini, author berhasil menamatkan dua cerita. Bukan angka yang besar, tapi author benar-benar bersyukur karena kedua cerita itu bisa saya tamatkan berkat dukungan kakak" semua. Terimakasih untuk kakak-kakak yang selalu setia menunggu cerita saya, menyempatkan diri memberi dukungan berupa like, komentar, vote, poin, koin, bahkan event serta giveaway. Author benar-benar tidak menyangka bisa berada di titik ini dan itu berkat kalian semua. Sebuah kehormatan bisa memberi kalian hiburan kecil di waktu senggang sepanjang 2021 ini. Terimakasih untuk tahun 2021 yang penuh cerita dan cinta. Semoga tahun 2022 memberikan cerita lain yang lebih berwarna.


-Mia G. B.-