Remember Me

Remember Me
C&C



Happy Reading


***


Christov melihat wanita itu lagi untuk ketiga kalinya. Duduk dengan santai di kursi tunggu dalam pakaian yang cukup unik jika dikenakan ke rumah sakit. Pakaian olahraga dengan sandal slip on. Wajahnya tampak acuh tak acuh ketika beberapa pasang mata melihat penampilannya. Rambutnya diikat dalam gulungan yang tidak rapi.


Cassie tetap tidak menyadari kehadiran Christov , bahkan saat dia mengambil nomor antrian.


"Kau mengenalnya?" tanya Clara dan hal itu membuat Christov sadar bahwa dia datang bersamanya. Dipindahkan arah pandangnya pada Clara.


"Tidak juga.. Dia mantan pasien yang di rawat di rumah sakit ini jadi kami sempat bicara sekali," Christov menolak menjelaskan pertemuannya di luar rumah sakit.


"Benarkah?"


"Begitulah.. Ayo," Christov mengantongi nomor antrian dan berjalan ke arah Cassie. Saat sudah dekat, Christov memanggilnya, tapi sayangnya Cassie tetap tidak mendengarkannya. Sebuah earphone bertengger dikupingnya dan Christov bisa mendengar suara musik dari earphone-nya. Seberapa besar volume yang dia setel?


Christov mengambil posisi berdiri di sampingnya dan menepuk lembut bahunya untuk menyadarkan Cassie akan kehadirannya. Di momen tersebut, Christov bisa mencium wangi lembut darinya dan... Ah, tatto?Ada sebuah tatto ular kecil di belakang telinga Cassie. Ikatan rambut Cassie memampukan Christov untuk menyadari tatto ular yang menjulurkan lidah itu.


Ular? Kenapa Christov merasa tak asing dengan hewan itu?


Cassie tersadar dengan kehadiran Christov. Pandangannya langsung difokuskan dari tatto ke wajah Cassie


"Christov..." ucapnya dengan nada sedikit tercekat karena terkejut melihat Christov ada di sini.


Suaranya begitu lembut saat mengucapkan namaku. Pikir Christov.


Dia berbasa-basi dan tentunya Christov mengenalkan Clara pada Cassie. Kemudian mereka bertiga mengambil posisi duduk dengan Christov berada di antara mereka. Hening, tidak ada yang berusaha membuka pembicaraan. Dari sudut matanya, Christov bisa melihat wajah kesal Clara dan dia tidak tahu alasan mengapa Clara terlihat kesal.


Rasanya sulit jika Christov membuka pembicaraan saat dua orang di antaranya tidak saling mengenal. Lirikan matanya dipindahkan ke arah Cassie yang terasa tidak terganggu. Wajahnya nampak santai, biasa, dan acuh tak acuh. Dia menumpukan dagunya di atas tangan kanannya dan menatap lurus ke depan. Christov penasaran apa yang tengah dipikirkan Cassie.


Seolah menyadari tatapan itu, Cassie melirik ke arah Christov. Itu membuat Christov terkejut sejenak, tapi dia tidak berusaha mengalihkan lirikannya karena sekali dia melakukannya, keadaan akan terasa canggung setelahnya. Sesaat kemudian, Cassie tersenyum miring dan mengedipkan satu matanya ke arah Christov.


"Ehem.." Christov berdehem dan memutuskan lirikannya dengan Cassie.


"Kau okay?" tanya Clara saat menyadari Christov bergerak tidak nyaman di tempat duduknya.


Christov mengangguk kecil, "Aku okay..." dia tersenyum tipis ke arah Clara yang menatapnya khawatir. Diperbaiki posisi duduknya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sehingga dia memiliki kesempatan untuk melihat bagian belakang tubuh kedua wanita yang tidak sedang menyandarkan tubuh itu. Dia melirik ke arah Clara, memastikan wanita itu tidak melihatinya lagi kemudian ke arah Cassie yang tetap menatap lurus ke depan.


Apa yang dia pikirkan?


Sejenak dia berpikir bahwa perbuatan Cassie sebelumnya saat mengedipkan mata itu adalah sebuah kebiasaan. Nampaknya Cassie melakukan itu pada siapa pun. Ini mengirimkan sinyal kepada Christov bahwa Cassie adalah wanita yang tampaknya suka gonta-ganti pasangan. Siapa pun akan terpikat dengan wajah cantik itu.


"Nomor antrian sepuluh? Cassandra De Angelis?" seorang perawat berpakaian biru muncul dari balik pintu dan Cassie berdiri. Dalam posisi duduk seperti ini, Christov baru menyadari betapa tingginya wanita itu. Cassie memutar tubuhnya dan tatapan mereka sempat bertemu dalam waktu yang begitu singkat.


"Senang bertemu kalian berdua. Good day," ucapnya dan Christov mengangguk kecil sebagai balasannya. Dia ingin mengucapkan salam perpisahan, tapi dia bingung bagaimana melakukannya.


"Yes. Senang bertemu anda, Miss De Angelis," Clara berbicara dengan nada santun yang penuh kepercayaan diri.


Cassie mengangguk sekali dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan memasuki ruangan CT Scan. Walau hanya sekilas, Christov melihat tatto lain di punggung kanan atas Cassie . Christov tidak yakin itu tatto apa karena gambarnya cukup kecil dan terhalang oleh luaran yang dipakai oleh Cassie. Dia suka men-tatto tubuhnya, yah? Tanya Christov pada dirinya sendiri.


Christov melipat tangannya dan diam mendengar ucapan Clara yang penuh nada penghakiman dengan sedikit bumbu nada canda-ramah yang malah membuat itu terdengar dua kali lebih menyebalkan. Sama seperti Ibuku. Pikir Christov.


Saat menatapi belakang tubuh Clara, dia baru menyadari betapa wanita itu berpakaian kasual yang begitu necis. Handbag merek terkenal, sepatu berhak sedang, atasan serta bawahan yang tampak mahal, aksesoris yang tidak berlebihan untuknya, dan rambut pirangnya di gerai.


Cantik. Pikir Christov. Sayangnya tidak cukup untuk memikat hati Christov. Clara kemudian menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.


"Kau tidak mau pindah perawatan ke rumah sakit tempat aku bekerja? Jika di sana, kau tidak perlu menunggu seperti ini.."


"Tidak apa. Lagian, pemeriksaan ini hanya tertinggal beberapa pertemuan lagi,"


"Kapan kau mengenal perempuan tadi jika boleh tahu?"


Dia tampaknya penasaran tentang Cassie. Cemburu, mungkin? Christov sadar benar bahwa wanita itu menyukainya.


"Aku baru bertemu dia sekali saja saat di rumah sakit ini. Itu pun sudah sangat lama,"


Clara tersenyum, tampak senang. Kenapa dia tampak senang? Pikir Christov lagi.


"Kau mengenalnya?"


Senyum Clara sedikit pudar dan dia menggeleng kecil, "Tidak. Aku baru pertama kalinya bertemu dia sekarang,"


"Begitu.."


"Christov? Apa kau punya acara hari ini?"


Siapa pun akan tahu bahwa Clara berdandan dan berpakaian seperti itu agar dapat memikat Christov.


"Aku memiliki janji jam empat sore nanti dengan kolega bisnisku," sebuah kebohongan lain yang diucapkan Christov.


"Benarkah? Kau tampaknya selalu sibuk,"


"Yah.. Begitulah. Bertahan hidup di Los Angeles bukanlah hal yang mudah,"


"Sebenarnya, aku dan temanku memiliki rencana ke museum hari ini dan sudah membeli tiketnya. Sayangnya, temanku tersebut sedang berlahangan," pertama, seseorang akan mengucapkan alasan klasik seperti ini. Kami sudah beli tiket, tapi seseorang berhalangan. Embel-embel yang sudah ribuan kali Christov dengar saat zaman bangku kuliah dulu dari wanita-wanita yang berusaha mengajaknya kencan.


"Kupikir sayang jika tiket itu tidak digunakan. Jadi, apa kau mau pergi bersamaku ke museum dan makan siang bersama? Kurasa kita masih sempat melakukan itu sebelum pukul empat.." lalu, alasan klasik itu akan diakhiri dengan ajakan seperti ini. Begitu klasik. Well.. Padahal, Christov tidak berharap wanita se-kelas Clara tidak mengatakan hal seperti ini. Christov mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari Clara.


Clara menatapnya dengan tatapan yang penuh harap. Ingin rasanya dia menolak, tapi sikap tak enakan Christov sudah melekat kuat dalam jiwa Christov. Akhirnya, dia menganggukkan kepalanya. Dari awal dia sudah menduga akan berakhir melakukan kencan dengan Clara dan itu tidak masalah selama wanita itu tidak melewati batas wajar. Batas wajah apa? Batas wajar tentang semuanya...


"Tentu. Mari kita pergi,"


***


Miss Foxxy.


Halo, maaf pendek bgt dan sedikit yg bisa ditangkap dari chapter kali ini demi kelancaraan kontrak novel author T_T. Sampai jumpa di hari Senin dengan masalah dan inti cerita yang sebenarnya. See you