Remember Me

Remember Me
A Box, Email, and Rings



Happy Reading


****


Jumat, 12 Juni 2020.


"Miranda suka barang antik.." kata Cassie pada Christov yang tengah mengendarai mobil.  Setelah jam kerja mereka selesai, Cassie dan Christov memutuskan mencari hadiah untuk diberikan pada Miranda sebagai kado ulang tahun di hari Sabtu ini.


"Aku tahu toko yang menjual barang antik, tapi jauh dari pusat kota.." ucap Christov "Barang antik seperti apa yang disukai saudarimu?"


"Banyak.. Dia suka segala yang berbau antik. Namun, aku pernah tak sengaja melihat histori penelusuran internetnya, dia nampak tengah mencari kotak musik yang antik.."


Christov mengangguk kecil, "Mungkin kita akan menemukannya di toko yang kukatakan sebelumnya. Lalu, kau?"


"Apa?" tanya Cassie tanpa menoleh ke arahnya dan sibuk memilih lagu di ponsel.


"Apa yang kau sukai?"


Cassie mengangkat kedua bahunya, "Uang, mungkin.."


Christov memutar bola matanya, "Aku serius.."


Dia menolehkan kepalanya pada pria itu, "Aku juga serius. Dengan uang aku bisa membeli berbagai macam barang.."


"Kau tau maksud dari pertanyaanku, Cassie.." kata Christov dengan suara jengkel.


"Memangnya jika kau tahu apa yang kusukai, apa yang akan kau lakukan, huh?"


"Menghadiahkannya.."


"Jangan repot-repot melakukannya.. Kau tetap setia di sisiku saja sudah lebih dari cukup,"


"Kau tahu aku akan terus berada di sisimu. Aku hanya ingin menghadiahkanmu sesuatu. Tak sekalipun aku pernah memberimu hadiah..."


"Pernah.." Cassie mengarahkan rambutnya yang dijepit dengan jepitan rambut, "Kau memberiku jepitan rambut ini, lalu buket sayuran, anggur, lalu memberiku makan enak selama beberapa waktu belakangan ini lalu--"


"Aku akan mencari tahu sendiri nanti," potong Christov dengan nada menyerah, "Apa kau tahu kapan tanggal lahirku?" tanya Christov tanpa menoleh ke arah Cassie. Tak bisa dipungkiri, Christov penasaran akan jawaban pertanyaan ini karena selama menjalin hubungan, Christov merasa hanya dia seorang yang paling antusias dalam hubungan mereka. Sedangkan Cassie, tampak acuh tidak acuh dengan sekitarnya, terutama Christov.


"Tentu saja.. Itu hal standar yang wajib diketahui ketika menjalin hubungan.."


"Kalau begitu, coba beritahu aku,"


"15 Agustus 1993 di Santa Monica.."


Senyum Christov melebar, "Aku pikir kau tidak mengetahuinya..."


"Bagaimana denganmu, Christov? Apa yang kau sukai?"


"I like Cassandra*.." jawabnya dengan nada santai dan senyum tipis.


(*Aku suka, Cassandra)


"Ada begitu banyak Cassandra di dunia ini..."


"Aku hanya suka Cassandra yang tengah duduk di sampingku saat ini..."


Cassie yang mendengar itu hanya dapat membuka mulutnya, keheranan.


"Segitu cintanya kau padaku?"


Dia mengangguk, "Yeah.. Kupikir aku jauh lebih mencintaimu dari pada diriku sendiri.."


"Jangan begitu.. Di dalam hidup ini, kau harus menempatkan dirimu sebagai prioritas utama.."


Christov meliriknya dari ujung mata, "Jadi prioritas utamamu adalah dirimu sendiri?"


Cassie mengangguk, "Bukan keluarga, bukan pekerjaan, dan bukan orang lain, melainkan diriku sendiri... Di kehidupan yang singkat ini, aku menjadikan diriku sendiri sebagai prioritas utama. Menjadikan orang atau hal lain menjadi prioritas di dalam hidupmu hanya akan membuatmu lebih sering dikecewakan."


"Aku juga," jawab Christov cepat, "Aku juga menetapkan diriku sendiri sebagai prioritas utama.."


Christov berpikir, secara tak langsung Cassie seolah mengatakan bahwa wanita itu akan mengecewakannya suatu saat nanti.


"Serius?" tanya Cassie dengan nada tinggi, "Kau yakin dengan perkataanmu itu?"


Christov berdehem, "Bagaimana dengan lagumu? Kau berkata sudah mengerjakan 10 lagu tentangku..."


Pengalihan isu. Batin Cassie. Dia melepaskan kedua kakinya dari sepatu lalu menaikkannya ke atas kursi mobil. Cassie memutar tubuhnya ke arah Christov agar dapat melihat pria tersebut dengan leluasa.


"Aku baru merekam beberapa saja.."


"Kalau begitu, biarkan aku mendengarnya. Kau hanya membiarkanku mendengarkan satu lagu saja.."


"Nanti saja.."


"Kapan?"


"Mungkin saat ulang tahunmu,"


"Dua bulan lagi.. Itu masih lama sekali.."


"Dasar.. Kau pikir menulis, merekam, dan mengomposisi nada itu mudah? Itu membutuhkan waktu dan kerja keras yang banyak..."


Christov berdecak lidah, "Tetap saja aku ingin mendengar apa yang sudah kau kerjakan.."


"Nanti.. Kau harus bersabar. Biarkan ini menjadi kejutan tersendiri untukmu.. Untuk sekarang, mari kita dengar musik piano dari pemusik favoritmu ini.."


"Kau pemusik favoritku sekarang.."


"Kau terlalu mengelu-elukanku, Christov sayang..."


"Tidak kok.." sanggahnya.


"Aku penasaran bagaimana rupa dari orangtua dan saudaramu.."


"Kau bisa memeriksanya di ponselku. Aku punya beberapa foto saat bersama mereka.."


Cassie mencari di dasboard dan beberapa sudut mobil, tapi tak menemukan ponsel pria itu.


"Di mana?"


Christov tersenyum miring, "Di saku celanaku.." bisiknya dengan nada aneh.


"Lihat? Astaga.. Kenapa kau tersenyum miring seperti itu, huh? Otakmu jauh lebih ca-bul dariku.."


Pria itu terkekeh dan merogoh saku celana dengan satu tangan lalu memberikan ponsel itu pada Cassie dan dia menerimanya.


"Wallpaper yang bagus.." gumam Cassie sesaat dia menekan tombol on-off ponsel. Pada layar ponsel Christov, terpampang foto Cassie yang tersenyum lebar. Dia ingat momen ini, saat makan malam bersama Christov. Pria itu memasak daging ayam kalkun besar. Cassie benar-benar bahagia saat itu karena kekasihnya tesebut memenuhi permintaan isengnya yang ingin makan daging kalkun.


"Sudah tentu karena dia kekasihku.."


"Aku tidak sadar kau mengambil gambarku di sini," bisiknya lembut saat melihat foto lain saat dia tengah bermain piano, "Apa sandi ponselmu ini?"


"Tanggal jadian kita.."


Cassie terdiam dan sejenak dia berpikir, apakah Christov tengah dimabuk cinta? Apakah perasaan Christov akan berubah dengan cepat? Bisa saja saat ini pria itu tergila-gila padanya, tapi bagaimana dengan di hari-hari berikutnya. Apakah akan tetap sama.


"Kau tidak tahu?" tanya Christov, membuyarkan lamunannya.


"Tahu.. tentu saja. Minggu, 10 Mei 2020. Saat kau menjemputku di bandara..." ujarnya seraya mengetik susunan angka 100520 pada kotak sandi.


"Kupikir kau tidak tahu.."


Cassie menatap tajam pada Christov, "Kau pikir aku seacuh itu? Walau aku terlihat acuh padamu, tapi sejujurnya, tidak begitu.."


"Aku tahu.."


Dia mendengus dan memilih fokus pada ponsel Christov yang terlihat polos. Hanya ada beberapa aplikasi di sana. Well.. Christov menggunakan sosial media, tapi dia hanya gunakan untuk berbagi semua hasil kerjanya di perusahaan. Selain itu, tidak ada. Hanya gambar bangunan, sketsa, dan semacamnya. Kaku. Sangat kaku. Pikir Cassie.


"Whoa.." dia terkejut, "Kenapa galerimu penuh dengan fotoku? Kenapa pula aku tidak sadar kau mengambil gambarku?"


"Karena kau cantik dan karena kau tidak sadar..."


"Penguntit.."


"Aku hanya merasa kau sangat cantik jadi tanpa pikir panjang, aku mengambil gambarmu.."


"Masalahnya, hampir setengah jumlah foto di ponselmu adalah aku.."


"Kau marah?"


Cassie mengangkat kepala dari ponsel, "Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut. Aku pun terkadang mengambil fotomu. Di ponselku juga penuh dengan foto kita berdua karena kau benar-benar tampan..." ujarnya seraya menatap serius satu- per satu isi galeri ponsel Christov. Beberapa ada foto tempat tinggal Cassie, lokasi kencang mereka, foto ayunan, menu makan malam, dan banyak lagi dan semua foto di sana berisi tentang kebersamaan mereka.


"Huh.. Kita harus berbagi foto seperti ini dan menyimpan kenangan kita pada suatu tempat. Jadi, apa yang kau foto dan apa yang kufoto dapat kita lihat satu sama lain.."


"Maksudmu?"


"Boleh aku daftar aku akun email google baru di ponselmu?"


"Boleh.. Bebas.. Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku ingin daftar akun goggle yang baru jadi, gambar yang kau ambil kau simpan di google drive agar aku bisa melihatnya juga. Aku daftar menggunakan nomor ponselmu, yah?"


Christov mengangguk.


"Aku akan login dengan akun ini di ponselku juga, jadi kenangan kita saat mengunjungi suatu tempat bisa tersimpan di sini..."


"Ah.. begitu. Jadi akun ini untuk menyimpan kenangan kita?"


Cassie mengangguk, "Yaps.. Aku suka melihat gambar-gambar yang kau ambil. Tanganmu terambil sekali. Kupikir kau cocok menjadi fotografer.."


"Singkatan nama kita. cnc081593@gmail.com..." ujarnya.


"Itu tanggal lahirku?" suaranya sekarang semakin meninggi karena rasa senang. Christov benar-benar bahagia melihat Cassie-nya itu membuat hal semacam ini. Dia merasa berharga...


"Yaps.. Agar kita berdua bisa mengingatnya dengan mudah," jawab Cassie yang masih serius pada layar ponsel, "Password? Apa kau punya saran?" dia menoleh pada Christov.


"Uhm.." Christov menatap jalanan seraya berpikir untuk password akun ini, "cnc091995. Pakai huruf kecil saja.."


"Well.. Ide bagus. Tanggal lahirmu untuk ID dan tanggal lahirku untuk password... Aku akan mengatur foto bandara yang kau ambil sebagai profil."


"Kenapa? kenapa tidak foto kita berdua saja?" pinta Christov.


Cassie menggeleng, "Aku ingin tempat kita pertama jadian sebagai profil sebagai pengingat di masa depan.."


Christov tertawa kecil, "Kau jauh lebih romantis dari pada yang kupikirkan.."


"Tentu saja.. Taa-daaaa.. Selesai.. Aku sudah memindahkan semua foto di ponselmu ke dalam penyimpanan Google-Drive ini.." Cassie menaruh ponsel Christov di atas pahanya lalu merogoh ponsel miliknya dari tas "Sekarang aku harus login juga di ponselku sendiri.."


"Jangan lupa pindahkan foto tentang kita yang ada di ponselmu juga.."


"Okay.. Kau tidak sering gonta-ganti nomor bukan?"


"Tidak.. Itu nomor ponselku selama 10 tahun belakangan ini.."


"Baguslah.. Soalnya, akun ini tersambung dengan nomor ponselmu," Cassie memasukkan kode aktivasi yang masuk ke ponsel Christov, "Jeng.. jeng.. jeng.. Selesai sudah.."


Bersamaan dengan itu pula, Christov menepikan mobil pada pinggiran trotoar saat sudah sampai di tujuan mereka. Cassie menoleh ke sana - kemari seperti orang linglung.


"Kita sudah sampai?" tanya dia.


"Hm.."


"Padahal aku belum melihat foto keluargamu..'


"Kau bisa melihatnya sekarang. Aku akan menunggu.."


Cassie menggeleng, "Nanti saja.. Aku takut kita pulang terlalu larut.. Ini," katanya seraya menyodorkan ponsel Christov, "Jangan lupa aktivkan lokasi pada akun google yang kubuat sebelumnya agar jejak kita terekam,"


"Okay.." Christov melakukan apa yang Cassie suruh dan setelahnya, mereka berdua keluar menuju toko antik tersebut.


Cassie bisa mendengar suara lonceng lembut saat pintu didorong dan matanya terbuka lebar sesaat melihat semua furniture yang berada dalam toko itu. Aroma unik dari barang-barang lama pun bercampur dengan pengharum ruangan dengan aroma pinus. Berpadu dengan sempurna.


"Whoaaaa... Apa kau pernah menonton Harry Potter?"


"Tentu saja. Itu film sejuta umat.."


"Astaga.. Ini seperti toko-toko yang ada di dalam film Harry Potter.."


Christov tertawa kecil lalu mengarahkan tangan kanannya menutup mulut Cassie, "Rahang bawahmu lama-lama bisa lepas.. Ayo," dia melingkarkan tangan kirinya pada pinggul Cassie dan masuk semakin dalam ke toko itu.


Ada beberapa pelanggan juga yang tengah berburu barang antik di toko. Rak-rak kayu tinggi berjejer rapi di sana. Cahaya lampu oranye membuat suasana di dalam toko semakin khas. Ada berbagai barang yang dijual di sana, mulai dari gramofon, pedang, terompet, buku, hiasan, jam, maket mobil, cermin, lukisan, dan masih banyak lagi.


Cassie menatap semua benda-benda di sana dengan tatapan takjub. Tangannya mengelus rak kayu dan rasanya dia seolah masuk ke dunia lain. Lalu matanya menangkap kumpulan box kayu dengan berbagai ukuran dan pilihannya segera jatuh pada sebuah box kayu yang memiliki ukiran yang unik.


"Astaga.. Cantik sekali," bisiknya seraya mengelus ukiran kayu yang berada di samping kanan-kiri serta bagian atas box. Ada sebuah kunci mini yang terletak pada lubang kunci.


"Kau suka?" Christov bertanya dan Cassie mengangguk.


"Oh.." Cassie tiba-tiba teringat dengan buku jurnal miliknya yang berisi lirik lagu tentang Christov. Di taruh box itu dan tangannya buru-buru merogoh buku jurnal itu dari dalam tas.


"Bisa kau bukakan box-nya untukku, Christov.."


"Tentu.." pria itu membuka box tersebut dan Cassie segera mengarahkan jurnalnya ke dalam box yang terasa pas di sana.


"Oh my.." bisiknya penuh kebahagiaan, "Box ini benar-benar pas untuk jurnalku.." kata dia seraya memindah-tangankan box itu ke tangannya.


"Memangnya apa isi jurnal itu?"


"Sesuatu.. Kau akan tahu nanti," Cassie kembali memasukkan jurnal itu ke dalam tasnya lalu menutup box tersebut, "Aku akan membeli ini.."


"Biar ku pegang, sekarang kita harus mencari untuk saudarimu," ucap Christov dan memegang box tersebut pada tangan kirinya. Lalu mereka berdua kembali berjalan.


"Jadi, jurnal apa itu?" tanya dia kembali.


Cassie menoleh ke arahnya, "Nanti, kau akan tahu sendiri.."


"Kapan?"


"Sesegera mungkin.. Ayo," Cassie menggandeng tangan kanan pria itu dan membawanya masuk semakin dalam ke toko.


Setelah mengabiskan waktu satu jam lebih berburu hadiah, pilihan keduanya jatuh pada sebuah kotak musik antik yang dibuat pada tahun 1987. Tak lupa juga dengan box Cassie dan piringan hitam untuk gramofon Christov.


"Aku harap kotak musik ini tidak berhantu.." kata Cassie setelah mereka membayar dan keluar dari toko.


"Kau percaya hal semacam itu?" Christov membuka pintu untuk Cassie dan memberikan kantong belanjaan yang dia pegang.


"Tidak juga.." jawabnya dan Christov menutup pintu. Sesaat kemudian, dia bergabung bersama Cassie di dalam mobil.


Christov menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke jalanan, "Kita makan di luar saja," saran dia.


"Boleh.. Rasanya tidak mungkin lagi memasak jam seperti ini dan aku sudah kelaparan.."


"Kau ingin makan apa?"


"Ingat restoran jepang yang kukatakan sebelumnya? Mie ramen yang pernah kita makan sebelumnya di apartemenmu..."


"Ingat. Kau ingin makan ramen?"


Cassie mengangguk semangat, "Yeah.. Aku sudah merindukan makanan itu. Boleh kita makan itu saja?"


"Of course.."


(*tentu saja)


"Sekarang, sudah ada dua tempat yang dicatat oleh akun email kita.."


Christov mengangguk kecil dan sebuah pemikiran acak muncul, "Seandainya aku atau kau tiba-tiba lupa ingatan di masa mendatang, akun google ini akan sangat membantu, bukan begitu?"


"Aneh.. Mana mungkin hal seperti itu terjadi..."


"Kan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.."


"Bagaiman bisa aku melupakan pria setampan, sebaik, dan sesempurna dirimu, Christov?"


"Akulah harusnya yang mengatakan itu. Kau pasti dengan mudah melupakanku.."


Cassie menyipitkan mata, "Atas dasar apa kau mengatakan seperti itu?"


"Karena aku jauh lebih mencintaimu.."


"Arghhh.." dia mengerang kesal, "Sudah kukatakan cintaku seluas semesta ini. Aku hanya tidak berbakat mengekspresikannya.."


Christov tertawa kecil, gemas dengan ekspresi kesal Cassie.


"Okay.. Okay.. Aku percaya jika cintamu seluas semesta ini. Namun, bisa kau bayangkan betapa kacaunya keadaan jika salah satu dari antara kita lupa ingatan?"


****


Sabtu, 13 Juni 2020


"Ada yang bisa sayang bantu, Miss?" kata seorang sales wanita di toko perhiasan pada Clara yang tengah memeriksa sesuatu di dalam dompetnya.


"Aku ingin menjemput barang pesananku.."


"Bisa saya lihat kwitansi atau bukti bayarnya?"


Clara memberi secarik kertas sebagai bukti pembayaran tersebut dan sales itu memeriksa kwitansi tersebut.


"Saya akan memeriksa pesanan anda sebentar," si sales tersebut beralih dari kaca etalase menuju arah belakang toko. Clara mengambil posisi duduk di kursi tinggi dan menatap orang yang tengah berbelanja di toko perhiasan itu sembari menunggu pesanannya datang Setelah satu bulan penuh omong kosong ini berlalu, Clara akhirnya dapat pulang ke Los Angeles. New York merupakan kota yang menyenangkan, tapi Los Angeles jauh lebih menyenangkan saat di sana berisi seseorang yang dia inginkan. Di sini, dia tidak menginginkan apa pun.


"Miss Clara Murray?" si sales kembali dengan membawa sebuah kotak cincin kecil yang terbuat dari beludru hitam.


"Ini pesanan anda.." katanya seraya mendorong kotak cincin yang sudah terbuka itu. Manik matanya seolah ikut berkelap-kelip dengan dua pasang cincin yang dihiasi pertama tersebut. Sederhana, tapi terlihat mewah dan elegan. Tidak sia-sia dia menghabiskan ribuan dollar untuk dua benda mungil ini. Dia mengambil satu cincin yang ditujukan untuk pria dan memeriksanya.


"Setiap cincin memiliki ukiran C&C sesuai dengan permintaan anda. Apakah anda puas?"


"Well.." senyum miring menghiasi wajahnya dan jari telunjuknya mengelus ukiran C&C yang berada pada bagian dalam cincin, "Yeah.. Bisa kukatakan aku puas.." dan aku akan sangat puas jika cincin ini bisa dikenakan oleh Christov juga. Lanjutnya dalam hati. Dia menaruh cincin itu ke dalam kotak lalu mengambil cincin yang ditujukan untuk wanita. Clara memasukkan cincin itu pada jari manisnya.


"Pas sekali..." bisiknya seraya menggerak-gerakkan jemarinya tersebut dengan gemulai.


"Saya senang anda suka. Karena anda sudah membayar seluruh biayanya, anda sudah dapat membawa pulang kedua cincin ini, Miss..."


Pulang.. Ah.. Betapa Clara menyukai kata itu. Akhirnya.. Akhirnya dia bisa pulang.


"Kau benar... Akhirnya aku bisa membawa pulang dua cincin ini.."


***


Miss Foxxy


Ada fitur MT terbaru yang bisa buat kita kasih komentar per paragraf gitu. Whoaaaa. keren-keren.. Sempetin kasih komentar yah pada paragraf yang menurut kamu okkeh gitu. hehe. jangan lupa like juga. Akhirnya sedikit demi sedikit terpecahkan juga misteri ini, tapi misteri yang paling utama belum terpecahkan. Mungkin di chapter berikutnya. Sayang banget tebakan kalian terkait chap sebelumnya belum benar heheh. I love you guys dan jangan lupa ikutan giveaway.


NB : Yang ingin baca chap berisi adegan pemersatu bangsa, silakan dibaca yah. Sesegera mungkin akan di revisi. Tq