Remember Me

Remember Me
All too well



Happy Reading


****


"Menikah..." tubuh Cassie mendadak membeku dan tangannya yang hendak menekan handle pintu terhenti.


"Jika itu bisa membuatmu percaya, menikahlah denganku, Cassie..." lanjut Christov lagi dari balik tubuhnya. Cassie terdiam dan tidak tahu harus bereaksi apa pun. Siapa pun yang mendengar ajakan mendadak seperti ini pasti kehilangan kata-kata seperti Cassie. Dia melipat bibir dan membiarkan amarahnya kembali bergejolak di dalam dirinya.


"Kau pikir itu akan menyelesaikan masalah, Christov?" geramnya dengan nada bengis. Marah.. Yah, rasa amarahnya semakin menjadi-jadi karena ajakan remeh ini. Bagaimana bisa Christov dengan santainya mengajak dia untuk menikah setelah pertengkaran dan permasalahan rumit yang tengah mereka hadapi.


Cassie tahu, tidak seharunya dia menyalahkan Christov akan kesalahan Theresa, tapi dia tidak bisa menahan emosinya lagi karena Theresa telah menyakiti Ibunya. Cassie tahu bahwa dia marah pada Christov hanya untuk melampiaskan rasa kekesalan dan kekecewaannya pada Theresa.


"Kenapa? Kita sudah pernah membicarakannya.. Kau berkata mau menikah denganku.." tuntut Christov dan Cassie buru-buru memutar tubuhnya untuk menatap kekasihnya yang tampak kacau tersebut. Menatapnya dengan mata melotot.


"Namun, tidak sekarang!" suara Cassie kembali meninggi. Dia lelah. Lelah secara mental dan fisik, tapi masalah ini membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang.


Huhhh.. Bukan ini.. Bukan hal seperti ini yang Cassie harapkan. Cassie tidak pernah berharap menghadapi kisah serumit ini. Cassie tidak suka hal rumit karena itu akan membuatnya kesulitan. Awalnya Cassie berpikir bahwa dia bisa menghadapi masalah ini, tapi setelah mendengar perkataan Theresa yang menyakitkan hatinya dan keluarganya membuat Cassie kembali berpikir. Berpikir apakah perjuangan ini setimpal untuk sebuah cinta yang bisa berubah sewaktu-waktu?


Ada puluhan pria-pria yang mengejar-ngejar Cassie. Pria-pria yang jauh lebih tampan dan mapan dari Christov. Memutuskan kekasihnya tersebut tidak akan menjadi masalah besar. Cassie tahu dia akan merasakan luka teramat sakit jika mengakhiri hubungannya dengan Christov, tapi Cassie juga tahu bahwa luka itu akan sembuh dengan seiring waktu karena dia sudah pernah mengalami saat-saat seperti itu. Cassie sudah pernah menghadapi luka patah hati karena putusnya hubungannya dengan Jason. Pada masa-masa itu, dia percaya bahwa dia tidak akan mampu mencintai pria mana pun lagi, tapi nyatanya, di sinilah Cassie. kembali tergila-gila dengan pria nyaris sempurna seperti Christov dengan segudang masalah.


"Apa? Apa bedanya sekarang dan besok?!" sekarang, Christov ikut meninggikan suaranya. Ekspresi wajahnya menunjukkan amarah, amarah yang tak pernah Cassie lihat sebelumnya. Pria itu jelas sudah lelah bersikap sabar. Bersikap sabar akan kesalahan yang tidak dia lakukan. Christov tidak salah, tapi pria itu harus menanggung rasa bersalah karena Ibunya.


"Lalu, apa???! Kau akan membawaku ke rumahmu dan memberitahu Ibumu bahwa kita akan menikah?! Lalu berharap Ibumu memberimu restu?! Apa kau berpikiran seperti itu, Christo?! Huh!!" Cassie berteriak sejadi-jadinya dan kedua tangannya digerakkan dalam gerakan dramatis. Rahang bawahnya bergetar dan wajahnya memerah hebat.


"Kalau begitu, mari menikah tanpa ada yang mengetahui, Cassie.." ujar Christov dengan nada pelan, "Aku memang bukan manusia yang religius, tapi mari menikah sah secara agama. Ketika keadaan sudah terkendalikan, kita mendaftarkan pernikahan ini secara sah pada hukum.."


Cassie terdiam dan menahan napasnya. Matanya menatap lekat pada wajah Christov. Suara lalu lintas di kejauhan berbaur bersama suara angin dari laut. Keheningan di antara mereka diisi oleh keributan dunia. Dia menghembuskan napas yang sejak tadi di tahannya lalu berkedip beberapa kali.


"Kau gila.." bisiknya dengan nada lelah.


Christov membuang napasnya dengan kasar, "Yah.. Yah, aku gila.. Aku menggila karenamu, Cassie! Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu.. Aku tidak pernah----Tidak pernah sekalipun mencintai seseorang sampai sedalam ini. Tidak Ibuku, tidak juga Ayahku, bahkan tidak pula dengan diriku sendiri.. I love you, Cassie.. Aku sangat mencintaimu.."


Oh my.. Ide gila apa ini. Batin Cassie.


"Please, Cassie.." pinta Christov seraya meraih tangan kanan Cassie dengan kedua tangannya. Menggenggamnya erat tangan Cassie yang hangat dengan tangannya yang dingin.


"Please.. Percaya padaku.."


Cassie menatap mata Christov yang nanar, pertanda jika pira itu pun tengah menahan diri untuk tidak menangis. Yah.. Kekasihnya tersebut benar-benar mencintainya dan Cassie tahu itu. Dia tahu itu sejak awal. Cassi menyadari itu melalui perlakuan Christov padanya. Sangat dan teramat mencintainya. Andaikan.. Andaikan Theresa tidak menentang mereka, dia dan Christov akan menjadi pasangan yang sangat bahagia.


"I love you, babe. Aku mencintaimu melebihi apa pun.. A-Aku.. Aku tidak pernah merasakan kebahagian sebelum bertemu denganmu.. Duniaku dulu begitu tenang, hening, dan terkendali hingga kau datang dan membuat semuanya berbeda, Cassie..." ujar Christov dengan suara bergetar yang penuh ketakutan.


"Christov.." bisik Cassie dan ikut merasa hancur menatap wajah penuh ketakutan dari Christov.


"Bagaimana aku bisa bertahan tanpa dirimu? Kau membuatku hidupku terasa lebih berwarna, bahagia, bebas, dan yang terpenting, kau membuatku menjadi sosok yang sangat berharga dan layak mendapatkan cinta.." akhirnya.. Akhirnya air mata yang sejak tadi ditahan Christov menetes. Menetes dan mengalir dari sudut mata kirinya. Kedua mata Christov yang memerah tersebut menatap Cassie dengan tatapan polos. Begitu polos dan tak bercela bagaikan mata bayi yang menangis. Dari tatapan itu pula, Cassie bisa melihat sisi terapuh dari Christov. Huh.. Dia tidak pernah melihat Christov menangis seperti ini dan sekalinya dia menangis itu diakibatkan oleh Cassie. Tangisan Christov benar-benar melemahkan hatinya.


"Oh my big man*," Cassie mengusap air mata Christov dengan tangan kirinya, "Jangan menangis.. Jangan menangis, babe.. Kau membaut hatiku hancur.."


(*Pria besarku)


"Cassie.."


"Come*.. Peluk aku," Cassie membuka lebar lengannya dan tersenyum hangat pada Christov. Tanpa berpikir panjang, Christov segera datang ke dalam pelukan Cassie dan membenamkan wajahnya pada lekukan leher Cassie. Kedua tangan Christov melingkar erat pada pinggulnya.


(*Come\=Kemarilah)



"Jangan menangis, sialan.." ujar Cassie dengan tawa kecil ketika merasakan air mata Christov pada kulit lehernya. Dia mengelus kepala Christov dengan lembut dan satu tangan yang lain menepuk-nepuk punggung Christov untuk menenangkan kekasihnya tersebut.


"Tidak pernah sekalipun aku melihatmu menangis seperti anak kecil.."


"Kau yang membuatku menangis seperti ini.." tuduh Christov seraya mengangkat kepalanya dari leher Cassie.


Dia tertawa melihat wajah Christov yang basah dan memerah, "Jangan menangis lagi," katanya seraya mengusap wajah Christov dengan kedua tangannya, "Kau membuatku seperti penjahat saja.."


Christov menarik napas, "Apa kita sudah baikan?"


"Belum," ujar Cassie seraya memperbaiki posisi rambut Christov yang menutupi dahinya, "Tapi, kita akan selalu baik-baik saja.. Huh.. bagaimana aku tega meninggalkanmu jika kau menangis seperti bayi imut seperti ini?"


"Kalau begitu jangan tinggalkan aku.."


"Hmm.. Rambutmu sudah panjang begini," gumamnya pelan.


"Apa kau mau menikah denganku?"


"Maksudmu kawin lari, huh?"


"Bukan.. Kita bisa menggundang temanmu. Aku juga akan mengundang saudariku. Jika keadaan sudah terkendali, kita akan melakukan pernikahan yang sah secara hukum di mana keluarga besar kita akan datang..."


"Biarkan aku berpikir, Christov.." bisik Cassie dan kembali memeluk Christov. Menaruh telinganya pada dada pria itu seraya mendengar detak jantung Christov yang berdetak cepat.


"Aku butuh waktu sendiri untuk beberapa saat untuk memikirkan apa yang terjadi. Tidak akan lama.."


Christov melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Cassie yang tampak mungil di dalam pelukan christov.


"Berapa lama?"


"Sebentar.. Aku butuh waktu memperbaiki suasana hatiku dan suasana hati Ibuku.."


"Apa Ibumu akan membenciku, Cassie?"


"Ibuku orang yang sangat pemaaf.. Dia tahu bahwa kau anak yang baik. Hanya butuh beberapa waktu hingga perasaannya kembali lunak padamu.."


"Selama kau berpikir, aku akan mengurus Clara serta Ibu. Aku berjanji semua akan terkendalikan.."


"Jangan berjanji, Christov.."


"No.. Aku serius.. Tidak akan aku biarkan seorang pun menyakitimu lagi..


****


Christov duduk di sana, di dalam ruangan kerja Clara yang tampak mewah, minimalis, luas, rapi, dan sangat bersih. Warna putih mendominasi ruangan dan entah mengapa, itu membuat Christov tidak nyaman. Dia sudah duduk di sana selama lima belas menit sembari menunggu kedatangan Clara yang masih di dalam ruangan operasi.


"Dia benar-benar pintar, sukses, dan cantik," gumam Christov pelan saat melihat beberapa penghargaan yang terpajang pada lemari kaca. Beberapa orang yang mendengar kisahnya pastik akan menyayangkan pilihan Christov yang jatuh pada Cassie dan bukannya Clara yang memiliki segalanya.


Tapi, Cassie-lah yang membuatku bahagia. batinnya. Christov tahu bahwa Clara pasti sosok yang baik. Mungkin permintaan orangtuanya dan orang tua Christov lah yang membaut Clara begitu kekeuh mempertahankan Christov.


Tidak menunggu lama, pintu yang berada di belakang tubuh Christov terbuka dan saat dia memutar kepala, Christov melihat Clara baru saja datang. Wanita itu masih mengenakan masker, penutup kepala, dan sarung tangan karet. Dia bisa melihat bercak darah pada masker wanita itu. Clara buru-buru berjalan ke balik mejanya dan duduk di kursi. Dia melepaskan masker, penutup kepala, dan sarung tangan karetnya lalu membuang ketiga benda itu ke dalam tong sampah. Aroma tubuh Clara yang seperti obat bercampur dengan pewangi ruangan. Perpaduan itu bisa membuat siapapun pusing jika membauinya selama sejam penuh.


"Maafkan aku membuatmu menunggu lama, Christov. Aku baru selesai melakukan operasi.."



Christov tersenyum hangat, "Tak apa. Lagi pula, aku belum lama menunggu.. Aku membawa sesuatu untukmu," dia mengangkat paper bag hitam besar dan menaruhnya di atas meja, "Aku melakukan perjalanan bisnis selama beberapa minggu. Aku membeli beberapa suplemen, minuman, dan makanan herbal.."


Clara mengedipkan mata beberapa kali, tampak terkejut.


"Tumben sekali.."


Christov tersenyum lagi, "Kuharap kau suka.."


Clara menarik paper bag itu lalu memeriksanya sekilas sebelum menurunkannya kembali ke bawah meja. Dia menatap Christov dengan tatapan lekat.


"Jadi? Ada apa? Aku yakin kau tidak datang ke mari hanya untuk mengantarkan ini," ujarnya tertuju pada papar bag tadi.


Christov berdehem, "Ini tentang undangan palsu itu, Clara.."


Clara terdiam dan tetap menatap Christov dengan tatapan penuh selidik.


"Aku awalnya marah, tapi aku tahu itu bukanlah kesalahanmu. Itu pasti Ibuku."


"Kau benar.. Undangan itu bukan ideku.."


"Clara.. Kau tahu apa yang kupikirkan saat pertama kali bertemu denganmu? Cantik.. itulah kata yang terpikirkan olehku saat pertama kali bertemu denganmu. Aku berpikir kita bisa menjalin relasi seperti yang orang tua kita harapkan.."


Clara masih terdiam dan membiarkan Christov untuk melanjutkan kata-katanya. Di sisi lain, Christov bertanya-tanya apa yang tengah Clara pikirkan saat ini.


"Namun, tidak semua yang kita harapan akan terjadi, bukan? Aku tidak menemukan ikatan apa pun padamu, Clara. Bukan berarti aku mengatakanmu bukan wanita yang menarik, tapi ada sesuatu tentang kita berdua yang tidak bisa disatukan.. Sekeras apa pun aku membuka hati, tapi sulit menerimanya. Ada perbedaan di antara kita yang begitu sulit untuk disatukan.."


"Aku sudah berpikir kau akan mengungkapkan perasaanmu, Christov.." kata Clara dengan nada santai, "Kau mengecewakanku untuk kesekian kalinya.."


Christov tersenyum kecut, "Aku selalu berharap bisa mencintaimu, tapi tidak bisa. Di sisi lain, wanita yang tidak pernah kuharapkan dan tidak pernah terpikirkan olehku malah membuatku jatuh cinta.. Aneh, bukan? Terkadang takdir tidak mau memberi apa yang kau inginkan.."


"Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat.."


Clara tersenyum, "Sejujurnya, orangtuaku atau lebih tepatnya Ibuku-lah yang memaksaku dan menuntutku agar mendapatkanmu.. Aku adalah anak yang selalu patuh dan menuruti permintaan orangtua. Oleh karena aku tidak punya banyak pilihan, aku memaksakan diri untuk mendapatkanmu.."


Sama seperti Ibuku yang selalu memaksa kehendaknya. Pikir Christov.


"Maafkan aku tidak bisa menerimamu, Clara. Aku selalu berharap bisa mencintaimu, tapi hidup memiliki kehendak lain.."


"Baru kali ini aku merasakan penolakan yang sangat menyakitkan. Baiklah... Aku akan berhenti.. Toh, aku berpikir bahwa seluruh usaha yang kulakukan akan sia-sia. Aku punya segudang pekerjaan yang harus kulakukan dan mengurus perjodohan ini hanya membuat waktuku tersita secara sia-sia.."


Christov tersenyum, merasa tidak yakin bawah Clara serius mengatakannya, "Itu bukan penolakan, tapi pilihan. Aku senang mengenalmu, Clara. Aku berharap kita bisa menjali pertemanan. Jika pun tidak, aku berharap bisa bekerja sama denganmu dalam sebuah proyek suatu saat nanti.."


"Well.. Aku tidak berharap banyak tentang pertemanan karena aku tidak hebat akan itu. Aku tidak kan meminta maaf padamu, tapi, kuharap kau bahagia dengan pilihanmu.. Aku akan berhenti..."


Christov menghembuskan napas penuh kelegaan karena tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka akan berjalan sebaik ini. Padahal, Christov sudah berpikir untuk meminta pengertian Clara akan sulit. Namun, nyatanya tidak sesulit yang dia bayangkan.


"Aku akan melakukan operasi selanjutnya sebentar lagi, Christov.." ujar Clara sebagai pengusiran halus seraya bangkit dari duduknya.


"Okay.. Aku akan pergi sekarang," katanya seraya berdiri dari duduknya, "terimakasih, Clara.."


"Well.. Aku mundur karena aku tidak memiliki celah kesempatan apa pun, Christov. Namun, jika aku memilikinya suatu saat nanti, aku akan mengejarmu sampai dapat..."


Christov hanya merespon perkataan Clara dengan senyuman tipis, "Good bye.."


"Good bye and see you.."


(Selamat tinggal dan sampai jumpa)


Aku berharap tidak akan pernah melihatmu lagi, Clara.


****



"Apa yang kau lakukan di sini, huh?" ujar Theresa dengan nada ketus saat melihat kehadiran Christov di kediamannya. Mereka berdua duduk di ruang tamu dengan aura ketegangan dan permusuhan yang kental dari Theresa.


"Tentu saja mengunjungi orangtuaku.. Di mana Papa?" tanya Christov dengan nada lembut. berusaha untuk tidak marah dengan sifat ketus Ibunya tersebut.


"Kau bisa menanyakannya sendiri.."


Christov menghela napas panjang lalu mengangkat papar bag berisi makanan, minuman, dan vitamin herbal ke atas meja.


"Aku melakukan perjalanan bisnis beberapa waktu lalu dan ini untuk Mama dan Papa.. aku tahu kalian suka sesuatu yang herbal.."


Theresa mendengus dan memutar matanya dengan jengkel.


"Kau pikir benda seperti itu dapat membuatku senang setelah kau mengecewakanku, Christov?"


"Aku bertemu Clara beberapa hari yang lalu dan menyelesaikan masalah yang ada. Kami sudah sepakat untuk mengakhiri permasalahan ini.."


Theresa memutar kepala dan menatap Christov dengan tajam, "Apa? Kau tahu semua usahaku untuk membuat hubungan kalian berdua berjalan lancar, Christov?!" suaranya meninggi karena amarah.


Christov tersenyum kecut, "Namun, aku tidak bahagia dengannya, Mama.. Bukankah Mama tidak berharap aku bisa bahagia dengan pilihanku sendiri?"


"Astaga, Christov.. Apa kau senaif itu? Apa kau pikir wanita cacat itu akan setia padamu? Dia hanya wajah dan kekayaanmu, Christov. Sadar dan bukalah matamu lebar-lebar, 'Nak"


"Dia bukan wanita cacat, Ma. Dia seorang wanita sehat tanpa kekurangan apa pun. Dia seorang produser musik terkenal yang sangat berbakat dan Cassie tidak sedikit pun peduli dengan apa yang kumiliki karena dia menghasilkan uangnya sendiri. Lagian, bukankah Mama juga menatap Clara seperti itu? Melihat Clara dari apa yang dia miliki.." katanya dengan nada lembut dan bukan nada provokasi. Christov tahu bahwa kemarahan dibalas dengan kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.


"Ibu melakukannya karena Ibu menginginkanmu mendapatkan yang terbaik."


"Terbaik untuk Mama belum tentu terbaik untukku. Cassie adalah yang terbaik untukku, Ma. Dia tetap menerimaku walau Mama memiliki masa lalu yang buruk dengannya. Cassie tetap merangkulku walau Mama sudah menyakiti hatinya dan juga hati Ibu Cassie. Dia tetap ada di sana, menungguku selalu. Ma.. Kumohon.. Kumohon hentikan semua ini dan biarkan aku memilih wanita pilihanku sendiri.."


"Mama tidak akan pernah merestui hubunganmu dengannya Christov!"


"Setidaknya, restui kebahagianku, Ma.. Apa Mama tidak mau melihat putra semata wayangmu ini bahagia? Bukankah kebahagian seorang anak adalah kebahagian untuk orangtuanya juga? Aku tahu Mama sangat menyayangiku, tapi rasa kasih sayang Mama kadang membuatku terkekang.. Aku sangat menyayangi Mama karena sudah membesarkanku dengan baik..."


Theresa menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar, "Oh my.. Astaga.. pembicaraan ini membuatku pusing.." katanya seraya memijat kepalanya yang terasa berat.


"Aku bisa membuatkanmu minuman herbal untuk meredakan rasa pusingmu, Ma.."


"No.. Pulanglah. Ibu sedang tidak ingin melihatmu. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, Christov. Namun, ingatlah bahwa kau akan menyesali pilihanmu itu suatu saat.."


Christov tersenyum tipis, "Aku tidak akan menyesal, Ma.. Tidak akan pernah.."


****


Cassie POV


Los Angeles, 2 Agustus 2020


Dua minggu sudah berlalu sejak pertengkaranku dengan Christov. Selama itu pula kami menjaga jarak. Kami terkadang bertemu untuk menikmati makan siang atau makan malam bersama. Namun, setelah itu kami kembali lagi pada rutinitas masing-masing.


Selama itu juga aku dan Christov berusaha menyelesaikan masalah kami. Aku tidak tahu bagaimana dia menyelesaikan masalahnya dengan Clara dan Theresa, tapi aku sudah kembali menyakinkan Mom bahwa semua akan baik-baik saja.


Mom hanya diam dan berkataa, 'Hidupmu, pilihanmu.' Hanya itu dan Mom kembali diam padaku. Aku tahu keadaan masih belum baik-baik saja, tapi seiring waktu, aku tahu bahwa semua akan kembali baik-baik saja walau masih tersisa aura ketegangan di antara kami.


Saat ini, aku tengah duduk di kursi santai di tepi kolam renang yang berada di atas rooftop apartemen Gerald seraya membuka katalog toko Gerald yang berisi gambar model gaun pernikahan. Aku membuka tiap lembaran katalog dan sesekali mataku menatap Gerald yang tengah berenang di kolam renang.


Untuk mengalihkan pikiranku dari masalah yang menghantuiku, aku memilih menginap di kediaman ketiga teman baikku secara bergantian. Aku sudah menceritakan masalahku dan mereka tidak berusaha menghakimiku. Justru mereka mendukung pilihanku sendiri. Namun, aku tidak menceritakan bagian di saat Christov mengajakku menikah.


Well.. Jika aku menceritakannya, mereka pasti menggila. Lagian, aku tidak yakin jika Christov serius atau tidak. Bisa saja dia mengatakan itu karena terpancing oleh emosi yang bergejolak. Saat marah atau sedih, seseorang cenderung mengatakan apa pun tanpa memikirkannya lebih dulu. Lalu, jika dia serius? Hmm.. Entahlah. Menikah tanpa diketahui oleh orangtua benar-benar ide yang gila walaupun Christov mengatakan itu hanya pernikahan secara agama.


Namun, negara ini tidak terlalu peduli dengan agama. Kau bisa hidup dan tinggal bersama dengan kekasihmu tanpa ikatan apa pun. Kau bisa memiliki anak bersama tanpa takut melanggar hukum dan hujatan orang lain karena orang-orang di sini tidak peduli dengan hidupmu. Namun, tetap saja aku menginginkan pernikahan karena dengan itu, sebuah hubungan akan terasa lebih istimewa.


"Sampai kapan kau membolak-balikkan katalog itu, babe? Apa kau berencana menikah, huh?" ujar Gerald yang sudah keluar dari kolam dan sibuk memakai piyama handuk.


"Model bajunya bagus jadi aku tidak bosan melihatnya terus.."


Gerald meneguk jus jeruknya, "Tentu saja bagus karena aku yang mendesainnya.."


"Berapa lama kau menyelesaikan satu gaun, Gerald?"


Gerald duduk di kursi santai yang berada di samping Cassie, "Aku dan tim-ku bisa menyelesaikan satu gaun dalam waktu tiga hari jika bayaran yang diberikan fantastis. Normalnya, kami membutuhkan waktu sepuluh hari untuk menyelesaikan satu gaun.."


Cassie mengangguk kecil mendengar penjelasan Gerald. Ponselnya yang berada di atas meja kecil berdering dan Cassie meraih ponselnya tersebut setelah menaruh katalog di atas perutnya. Saat memeriksa nama pemanggil di layar ponsel, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kuat dan dia buru-buru bangkit dari tidurnya.


"Wait a minute*.." ucap Cassie pelan tanpa melihat ke arah Gerald seraya berdiri menjauhi tempat tersebut. Saat sudah jauh, Cassie menerima panggilan dari kekasihnya tersebut.


(*Tunggu sebentar)


"Hallo, Cassie.." suara bariton lembut Christov terdengar bersamaan dengan hembusan angin sejuk dari arah lautan. Perpaduan keduanya membuat Cassie merasa hidup di alam lain.


"Yes?" bisiknya pelan. Matanya menatap ke arah kota dan angin lembut menerbangkan anak rambut serat ujung gaun santai yang dia kenakan.


"Apa kau sudah selesai dengan waktu sendirimu?"


Dada Cassie bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya. Jantungnya berdegup kencang karena alasan yang tidak dia ketahui.


"Yes. Aku hendak menghubungimu nanti malam untuk membicarakan sesuatu..."


"Boleh kita bertemu nanti sore?"


Cassie menjilat permukaan bibirnya yang terasa kering, "Boleh. Di mana?"


"At my favorite place*. Di pertanian.. Pukul tiga sore. Kau boleh datang, Cassie?"


(*Di tempat kesukaanku)


Oh my.. Cassie harus berpegangan pada dinding yang berada di sampingnya untuk menopang tubuhnya. Kedua kakinya terasa lemah ketika mendengar suara Christov yang menyebut namanya dengan nada kalem yang lembut.


"Yeah.. Yeah.. Aku bisa."


"See you, babe.."


"Yeah... Bye, Christov..."


***


Miss Foxxy


Merry Christmas bagi umat yang merayakan. Maaf baru update karena begitulah. banyak urusan ini-itu. Semoga cukup panjang untuk mengobati rasa rindu. Ini bukan akhir, tapi masih permulaan. Are you ready for another problems?