Remember Me

Remember Me
Go Home...



Happy Reading


****


"Kalau Mama memang tidak berbohong, lalu siapa itu Cassandra De Angelis?"


"Apa? Siapa?"


"Sudahlah, Theresa.." ujar Robert dan tetap mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan Christov. Namun, Theresa bangkit berdiri dari kursi roda dan berjalan masuk lagi ke dalam ruangan Christov. Baik Robert dan Christov sama terkejutnya melihat Theresa bangkit dari kursi roda dan berjalan tanpa kesulitan sedikit pun.


"Theresa?"


"Mama?"


Ucap kedua pria itu dengan suara penuh keterkejutan.


"Siapa kau bilang? Cassandra? Dari mana kau mengenal wanita itu, huh?!"


Christov menguasai kembali ekspresi wajahnya dan menyipitkan mata, "Kalau begitu, Mama mengenalnya. Bagaimana dengan Papa? Apa Papa juga mengenal Cassandra?"


Robert menarik napas dan menggeleng-gelengkan kecil kepalanya karena merasa pusing sendiri dengan permasalahan keluarga yang tiada habisnya. Satu-satunya yang dia harapkan saat ini adalah keluar dari situasi yang kacau ini dan menikmati waktu bermain golf di bawah terik matahari. Namun, di sinilah dia. Menghadapi situasi seperti ini untuk kesekian kalinya. Entah mengapa, setiap kali mereka berkumpul, selalu terjadi pertengkaran tidak terduga seperti ini.


Robert akui bahwa dia bukan tidak mau permasalahan di antara ketiga keluarganya tersebut. Ketiga manusia yang memiliki sifat yang sangat berbeda satu sama lain. Robert ingin bersikap netral dalam situasi ini, tapi bersifat netral saja ternyata tidak cukup. Ingin menghentikan pertengkaran yang ada, tapi pada akhirnya, Robert yang akan kena batunya lagi.


Situasinya benar-benar terjepit dan pertengkaran keluarganya ini hanya membawa beban pikiran semakin besar padanya. Kini dia dikejutkan oleh isterinya yang bangkit dari kursi roda. Bukankah isterinya itu sakit? Apakah kemarahannya membuat penyakit Theresa sembuh? Huh.. Robert seolah melihat manusia yang bangkit dari kematian saja.


"Oh my.. Theresa biarkan dia sendiri," pintanya. Robert sudah benar-benar lelah dengan semua pertengkaran yang tidak pernah berujung.


"NO! Kau tahu siapa yang membuatmu kecelakaan, huh?! Wanita sinting itu, Robert!!"


Robert memijat pelipisnya dan matanya lagi-lagi tidak sengaja bertemu dengan Christov yang menatapnya lekat. Menatapnya seolah anaknya tersebut mengatakannya untuk menghentikan kegilaan yang ada.


"Jadi benar kalau Cassandra ada kaitannya dengan ingatanku yang hilang?"


Theresa berjalan semakin mendekat ke arah Christov lalu tanpa aba-aba mencengangkan kedua sisi tubuh pria itu dengan kuat. Hingga Christov bisa merasakan buku-buku jari  Theresa menusuk kulitnya.


"Dia yang membuatmu berakhir di rumah sakit, Christov.. Dia yang membuatmu harus koma.. Dan dia pula yang membuatku kehilangan pekerjaan, Christov! Wanita itu! Wanita itu adalah sumber perpecahan di keluarga kita, Nak.."


Robert berjalan mendekat dan memegang bahu isterinya tersebut, "Stop it, Theresa.."


"NO!" teriaknya seraya menepis tangan suaminya tersebut dengan kasar.


Robert terkejut bukan main dan rasanya dia sudah benar-benar muak dengan omong kosong yang ada di keluarganya tersebut. Robert sudah berada di ujung batas kesabarannya. Dia tahu bahwa dia adalah kepala keluarga yang sewajibnya mampu mengatasi masalah dalam keluarga ini, tapi Robert tida bisa. Robert tidak bisa karena keluarganya tersebut tidak pernah mendengarnya sekali pun.


"Diamlah, Theresa.. Kau membuat kepalaku pening.."


"Apa?" sekarang, Theresa melepas kedua tangannya dari bahu Christov dan beralih ke arah Robert, "Apa yang kau katakan?"


"Apa yang Christina dan Christov katakan selama ini benar, Theresa. Anak-anak kita tidak salah," Robert menarik napas dan mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan kalimat yang selalu ditahannya sejak dulu, "Kau-lah yang salah, Theresa.."


"Apa?! Apa yang kau katakan?!" Theresa menggenggam kedua sisi tubuh Robert dengan kuat, "Sudah kukatakan ini demi kebaikan keluarga kita! Apakah aku pernah salah dalam memutuskan pilihan untuk keluarga kita, huh?!"


"Theresa, stop.. Ini rumah sakit.. Berhentilah berteriak.."


"Aku yang membantumu keluar dari lubang kemiskinan! Aku yang selalu ada untukmu saat kau tidak punya apa-apa! Aku yang membantumu bangkit ketika kariermu sebagai atlet hancur!! Aku yang selalu ada dan kini kau menyalahkanku?! Aku--"


"STOP!" teriak Robert dengan nada tegas. Teriakannya membuat Theresa berhenti berteriak dan wanita itu perlahan melepas kedua cengkeramannya dari sisi tubuh Robert. Dia mundur perlahan dan menatap suaminya itu dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Syok.. Theresa benar-benar syok mendengar suaminya yang membentak dirinya. Theresa bahkan tidak mampu mengatakan sepatah kata pun.


"Aku pikir kau tidak butuh Dokter saraf, Theresa. Kau butuh psikiater.." ujar Robert dengan nada lesu, "Hentikan semua ini.. Jika kau masih bersikeras dengan keinginanmu maka lakukan sendiri. Jangan pernah membawa-bawa namaku demi keinginan egoismu.."


Robert menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengalihkan tatapannya pada Christov.


"Lakukan apa pun yang kau inginkan, nak.. Aku ingin pensiun dari semua kegilaan di keluarga ini," tatapannya kembali ke arah Theresa yang nampak syok dengan ucapan suaminya tersebut, "Apakah kau ikut pulang atau tetap di sini?"


Theresa diam dan Robert akhirnya mengangguk kecil, "Okay.. Terserah padamu. Aku akan pulang sekarang.."


"Bye, Papa.. Hati-hati di jalan," ucap Christov dan Robert tersenyum tipis sebelum akhirnya memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Christov dan Theresa.


Christov menatap Ibunya yang masih berdiri mematung. Jelas dia terkejut karena sosok Robert yang selalu diam akhirnya mengeluarkan seluruh kata-kata yang telah mengganjal di hatinya. Christov pun terkejut, tapi dia sudah mengantisipasi bahwa saat-saat seperti ini akan datang. Saat di mana Ayahnya akan lelah dengan sikap keras kepala Ibunya tersebut. Dia tahu bahwa se-sabar apa pun manusia pasti memiliki batas kesabaran sendiri. Sama seperti Christov. Selama ini dia sudah terlalu bersabar dengan segala keinginan dan standar aneh yang ditetapkan oleh Ibunya tersebut.


Christov menarik napas panjang lalu bangkit dari posisinya. Dengan infus di tangannya, Christov berjalan ke arah Theresa.


"Duduklah, Ma.." ajaknya dengan nada lembut dan Theresa nampak pasrah-pasrah saja ketika tubuhnya didorong lembut oleh Christov menuju sofa. Sesaat Theresa duduk, Christov berjalan menuju meja nakas dan meraih satu botol air mineral. Christov membuka tutup botol lalu menaruh botol mineral itu di sisi meja dekat Theresa.


"Minumlah, Ma.."


Christov berjalan ke arah telepon pesawat yang tersedia dalam kamar rumah sakit. Dia menekan rangkaian nomor ponsel milik Christina yang dia hapal jelas lalu menekan tombol panggil. Sembari menunggu sambungan telepon terhubung, Christov menatap Theresa yang duduk seperti orang linglung.


Dia menghela napas panjang lagi. Christov marah, tapi Theresa tetaplah Ibunya. Bisa saja dia mengatakan dia membenci Theresa, tapi Christov tahu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak bisa membenci Ibunya itu.


Christov berharap dengan setelah kejadian ini, mata Theresa terbuka lebar dan menyadari apa yang dilakukan itu salah. Namun, Christov kembali mengingat sikap keras kepala Ibunya dan itu membuatnya ragu lagi. Namun, hal yang ingin Christov selesaikan saat ini adalah kejelasan kisah antara dia dan Clara. Dia tidak berharap banyak pada Christina atau kedua orangtuanya untuk menceritakan kejadian apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu menimpanya. Christov akan mencari tahu sendiri. Lalu, dia berpikir pasti ada alasan kaut mengapa keluarganya menyembunyikan kejadian tersebut. Namun, apa?


"Halo?"


"Halo, Christina.. Ini Christov.."


"Ada apa?"


"Kau ada di mana?"


"Dalam perjalanan pulang.."


"Kau sudah jauh? Boleh menjemputku dan membawaku pulang?"


"Panggil taxi saja atau minta bantuan Papa.."


"Papa sudah pulang.."


"Apa? Kenapa?"


Christov berdehem, "Akhirnya Papa marah kepada mama walau tidak marah besar. Papa meninggalkan mama di kamarku dengan keadaan syok.."


"Sudah kuduga hal seperti ini akan terjadi. Jadi mama masih di ruanganmu?"


"Yah.."


"Okay.. Aku akan datang sebentar lagi ke tempatmu. Aku ingin menyaksikan sendiri wajah syok mama.."


Christov menutup sambungan dan menaruh telepon pesawat pada tempatnya. Dia berdiri di sana dan menatap Ibunya yang masih duduk, menatap kosong ke depan.


"Aku akan pulang.."


"Terserah padamu.."


Lihat? Sifatnya itu sudah kembali lagi.


"Apa yang akan Mama lakukan?"


Theresa menatapnya, "Aku tidak akan berharap satu pun dari kedua anakku akan menemaniku di sini," katanya dengan nada sarkas.


"Apa yang Mama harapkan dari pasien sepertiku? Menempatkan Christina dan mama dalam satu ruangan bukanlah ide baik. Satu-satunya yang bisa menemani Mama adalah papa, tapi papa sudah pulang.."


"Sekarang kau ikut menyalahkan Mama yang--"


"Ma.. Mari kita hentikan pertengkaran ini setidaknya untuk satu hari saja.. Aku lelah, Mama juga lelah karena sakit.."


"Sudahlah," Theresa bangkit dari duduknya.


"Mama pergi ke mana?"


"Ke ruanganku. Bersamamu hanya membuatku naik darah.."


"Mama butuh bantuan?" ujar Christov dengan tatapan mengarah ke kursi roda.


"Apa sekarang kau merendahkan Mama?"


"Aku hanya berusaha menawarkan bantuan," ucap Christov dengan nada penuh kesabaran.


"Sama saja.."


Theresa berdecak lidah dan beralih dari  sana tanpa menggunakan kursi rodanya. Christov menarik napas lagi dan berjalan untuk duduk kembali ke atas tempat tidurnya. Dia duduk di sana selama beberapa saat seraya menatap ke luar jendela kamar.


"Langit mendung lagi," bisiknya,


Ingin rasanya dia menggunakan ponselnya saat ini, tapi sepertinya benda itu tertinggal di apartemennya. Christov menunggu di sana dalam diam, menatap langit yang kelabu yang seolah mencerminkan hatinya saat ini. Abu-abu. Christov tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dirinya masih kesulitan menerima fakta jika Cassie adalah isterinya.


"Banyak sekali misteri,"


Saat Christov menyelesaikan ucapannya sendiri, terlihat kilat yang memecah langit dan diikuti dengan suara gemuruh serta guntur kuat. Hujan perlahan turun dan membasahi kota. Semakin lama, hujan tersebut semakin deras dan kuat lalu diikuti dengan angin kencang.


Christov tersenyum tipis lalu menempelkan tangannya pada permukaan kaca yang dingin dan mengembun. Matanya terpejam menikmati sensasi dingin pada telapak tangannya tersebut. Bayangan wajah Cassie dan Clara tiba-tiba muncul dalam kepalanya dan Christov segera membuka matanya kembali.


"Terlalu banyak wanita," pikirnya seraya menarik tangannya kembali dari jendela kaca. Ada Ibu-nya, Christina, Cassie, Clara, dan kemungkinan beberapa wanita lain mungkin akan terlibat lagi dalam masalah ini. Berurusan dengan wanita memang selalu merepotkan. Belum lagi dengan tamu yang hadir saat pernikahan yang masih Christov sangsikan kebenarannya. Mengapa dia merasa ragu? Itu karena Christov belum tahu kebenaran dari pernikahan tersebut. Terlalu banyak hal yang janggal dan aneh.


Suara ketukan pintu membuat Christov menoleh ke sumber suara. Matanya menatap pintu itu dalam diam dan dia tahu bahwa yang berada di balik pintu itu bukanlah Christina. Seandainya itu Christina, saudarinya tersebut akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk," katanya setengah berteriak untuk melawan kuatnya suara hujan dan petir yang menggelegar.


Dalam diam, Christov menatap handel pintu yang ditekan dalam gerakan perlahan lalu diikuti pintu yang didorong hingga akhirnya menampilkan Clara. Wanita itu sudah tidak mengenakan pakaian kerjanya, melainkan pakaian biasa. Berdiri canggung dengan senyum tipis.


"Ah.. Yeah. Begitulah..."


Dari mana di tahu? Batin Christov.


"Christina memberitahuku dan dia meminta tolong padaku untuk membantumu beres-beres."


"Aku bisa melakukannya sendiri.."


"Aku ingin membantumu melepas infusmu, Christov," dia menaruh tas tangannya di atas sofa lalu berjalan mendekat ke arah Christov. Clara duduk di atas kursi yang berada di samping ranjang. Tangannya menarik lembut tangan kiri Christov yang terpasang infus.


"Kenapa terburu-buru untuk pulang?"


Christov menyerngitkan dahinya ketika jarum infus tersebut di tarik dari lapisan kulitnya tersebut. Rasanya seperti sengatan listrik.


"Aku sudah merasa sehat," jawab Christov pendek. Matanya menatap tangan Clara yang terampil menempelkan plester luka pada lubang bekas jarum.


"Selesai," kata Clara dengan nada bangga. Wanita itu berdiri dan membereskan selang infus sementara Christov menatap plester luka dinosaurus di telapak tangannya tersebut.


"Aku suka dinasourus," bisik Clara dan Christov tersenyum canggung.


"Well.. I'm not really*.."


(*Aku tida terlalu suka dinasourus)


"Oh.. Jadi kau suka apa?"


Mata Christov menatap bola mata Clara yang berwarna unik. Perpaduan antara warna hazelnut dengan corak hijau dan biru. Sorot mata Clara menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang cerdas. Yah.. Wanita matang dan cerdas yang begitu sulit dia terima. Christov buru-buru memutuskan kontak mata dari Clara dan memilih bangkit dari duduknya. Saling bertatapan seperti hanya membuat suasana di antara mereka semakin canggung.


"Aku akan mengganti pakaianku dulu,"


"Yeah.. Aku akan menunggu di sini,"


Christov menarik napas dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah berganti pakaian, dia masih menemukan Clara di sana dengan paper bag berukuran besar.


"Aku membereskan barang-barangmu. Tidak banyak.." jelas Clara sebelum Christov bertanya, "Christina sudah ada di lobi lantai bawah.."


"Trims untuk itu," ucap Christov, "Kau dekat dengan Christina?"


"Not really*.. Dia tidak bisa menghubungimu karena kau tidak memegang ponsel saat ini jadi Christina menghubungiku sebagai perantara.."


(*Tidak juga)


Christov mengangguk kecil dan keheningan terjadi lagi. Dia menunduk untuk meraih paper bag itu, tapi tangan Clara mendahului miliknya.


"Biarkan aku yang memegangnya.."


Christov menegakkan pungunggnya, "Trims, tapi aku bisa--"


"It's okay.. Biarkan aku melakukan sesuatu untukmu untuk sekali saja.. Ayo.."


Clara berjalan mendahuluinya untuk membuka pintu dan berdiri di sana menunggu Christov.


"Thank you," ucap Christov dengan nada pelan.


Keduanya keluar dari ruangan tersebut dan berjalan beriringan di lorong rumah sakit dalam keadaan diam. Christov memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Saat ini, dia tengah berusaha memulai pembicaraan dengan Clara, tapi tidak ada satu pun topik pembicaraan santai yang muncul. Satu-satunya yang ada di kepalanya saat ini adalah kejelasan hubungan yang dia miliki antara Clara. Apakah rencana pertunangan mereka itu benar adanya atau itu hanya tipu muslihat?


Apa aku perlu menanyakan itu sekarang?


"Kau tahu, Christov?" tanya Clara sesaat mereka berdiri di depan lift. Keduanya menunggu pintu lift itu terbuka.


"Apa?" Christov kembali bertanya dengan nada hati-hati.


"Aku benar-benar mencintaimu," tepat di ujung kalimat, pintu lift terbuka dan itu benar-benar membaut Christov mendesah penuh kelegaan. Saat ini, Christov belum sanggup jika harus berhadapan dengan kalimat yang bagaikan bom baginya. Bagaikan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Untuk sekarang, dia belum siap secara mental dan jasmani walau Christov benar-benar ingin mendengarkan kebenaran kejadian yang terlupakan olehnya.


"Mari masuk," ajak Christov pada Clara untuk masuk ke dalam lift yang padat. Beberapa orang yang berada di sana tampak menggeram kesal karena kehadiran mereka berdua.


Christov melihat Clara nampak kesulitan di posisinya karena pria asing yang berada di sana nampak sengaja menempelkan tubuhnya pada bagian tubuh belakang Clara. Christov menatap pria asing itu dengan tatapan tajam lalu memindahkan posisi Clara ke tempatnya.


"Di sana lebih nyaman," jelas Christov.


Wanita itu menatapnya dengan tatapan heran lalu semu merah muncul di pada pipi dan lehernya. Clara memutuskan kontak mereka dan dalam gerakan tidak terduga, wanita itu menggandeng tangan Christov. Menggandengnya erat. Christov tidak berani menarik tangannya lepas. Namun, hingga pintu lift terbuka, Clara tak kunjung melepas gandengan tangannya tersebut.


Mereka berjalan keluar dari lift bersama beberapa orang dan Christov sudah menunggu momen saat Clara melepas gandengan tangan tersebut. Christov ingin menarik tangannya sendiri, tapi entah mengapa, dia tidak sanggup melakukannya.


Itu akan menyakiti perasaannya, bukan? pikir Christov seraya menatap bolak-balik ke arah tangan mereka yang saling bergandengan. Saat dia mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah depan, langkah kaki Christov mendadak berhenti.


"Ada apa?" tanya Clara dengan suara pelan, tapi Christov tidak menjawabnya dan sibuk menatap lurus ke depan.


Cassie?


Christov menatap Cassie yang berdiri kaku tidak jauh dari sisi Christina. Berdiri dengan pakaian yang basah kuyup, rambut acak-acakan, dan wajah yang pucat. Penampilan wanita itu tampak sangat kacau, belum lagi dengan bola mata Cassie yang memerah hebat dan saat ini, kedua mata itu menatapnya dengan sorot penuh sakit hati.


Dia sakit?


"Cassie?" panggilnya dan berjalan maju ke depan. Namun, langkahnya terhenti ketika Clara mempererat gandengan tangannya. Mereka bertatapan dalam sepersekian detik dan Christov kembali menatap ke arah Cassie yang menatapnya dengan tatapan nanar yang memohon.


"No.. No.." bisik Clara, "Kumohon jangan pergi lagi..."


"I'm sorry, Clara," Christov menarik tangannya dari tangan Clara lalu berjalan mendekat ke arah Cassie seraya melepas jaket yang dia pakai. Ketika sudah berdiri di hadapan Cassie, Christov membungkus tubuh Cassie yang gemetaran tersebut dengan jaketnya.


"Ada apa? Kau sakit?" tanyanya dengan nada khawatir, "Kenapa kau basha kuyup seperti ini?" Mata Christov meneliti setiap inci wajah Cassie lalu turun ke arah tubuhnya yang jangkung untuk memeriksa apakah ada luka.


"Christov.." panggil Cassie dengan suara yang bergetar. Kedua mata Cassie menatapnya lekat dan setetes air mata mengalir dari pelupuk mata kirinya.


"Kenapa kau menangis?" Christov mengusap pipi Cassie yang dingin dari air mata tersebut, "Apa kau sakit? Pipimu sangat dingin.."


"Jangan menangis.." timpal Christina dan keduanya segera menoleh ke arah saudari Christov tersebut, "Jangan menangis di sini, Cassie..."


"Jangan kasar begitu," ujar Christov setengah marah.


"No.. No.. Maafkan aku," kata Cassie diikuti dengan tawa canggung yang terdengar menyedihkan, "Aku tidak menangis.. Hanya.. Hanya.. Well.. Sialan.. Aku tidak menangis hanya.. Hanya..." Cassie berdehem kencang ketika tidak menemukan satu kalimat pun. Matanya menatap Christina yang melihatnya dengan tatapan datar.


"Aku tidak melarangmu menangis, tapi tidak di sini saat ada wanita lain yang juga tengah menahan tangisnya dan berharap Christov melakukan penghiburan yang sama kepadamu.."


Christov memutar tubuhnya ketika tersadar maksud dari perkataan Christina. Dia kembali mengingat keberadaan Clara yang sempat terlupakan olehnya.


Oh my..


"Menyedihkan, bukan? Ketika satu pria dicintai oleh dua wanita,"


"Astaga," Christov hendak melangkah ke arah Clara yang masih berdiri diam di sana seolah menunggu dia kembali datang untuk menghampirinya. Namun, Christov tidak bisa. Tidak bisa melangkahkan kakinya lagi seolah ada rantai yang menahan kakinya sendiri.


"Biar aku yang mengurusnya. Pulanglah," kata Christina, "Kau bawa mobil ke sini?" tanyanya pada Cassie yang masih nampak syok.


"Uhmm.. Yeah. Aku membawa mobilku.."


"Kau masih bisa mengendarai mobilmu, bukan?"


Cassie mengangguk, "Tentu saj.."


"Kalau begitu bawa Christov bersamamu.."


"Bagaimana bisa kau menyuruhnya mengendari mobil dalam keadaan seperti itu?" Christov menimpali dengan nada tajam.


"That's okay," Cassie menggenggam tangan Christov, "Ayo pulang.. Ayo pulang, Christov," pintanya dengan nada setengah putus asa.


Christov menoleh lagi ke arah Clara yang masih berdiri di sana.


"Please, Christov.." pinta Cassie.


"Tunggu sebentar di sini," ucapnya dan menarik tangannya lepas dari tangan Cassie, "Hanya sebentar dan aku akan kembali. Aku berjanji akan kembali," sambungnya lagi dengan senyum lembut yang menenangkan.


Tanpa menunggu Cassie bicara kembali, Christov berjalan menuju Clara dan memberikan senyum lembut ke arah wanita itu berambut pirang tersebut


"Thank you, Clara," katanya seraya meraih paper bag dari tangan Clara, "Aku menghargai bantuannya.. Sekarang aku harus pulang..."


"Kenapa kau pergi lagi? Tidak bisakah kau menetap di sini?" suaranya bergetar. Bergetar karena rasa sedih, kecewa, dan amarah yang bercampur menjadi satu.


"Aku sudah sembuh.. Sekarang, aku harus pulang.."


"Kau tahu apa maksudku, Christov.." suaranya sekarang meninggi satu oktav, "Kau tahu maksud dari perkataanku.."


"I'm sorry.. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk kita membicarakan hal tersebut..."


"Kenapa harus dia dan bukan aku?"


Christov menarik napas dan mengembuskannya perlahan, "Maafkan aku, Clara.. Cassie sedang menungguku," tanpa keraguan, Christov memutar tumitnya lalu berjalan meninggalkan Clara menuju Cassie yang sedang menunggunya dengan tatapan penuh cemas. Christov tersenyum lalu menggenggam tangan Cassie yang dingin dengan dengan tangan kanannya.


"Apa sekarang kita bisa pulang, Christov?"


"Yah.. Mari kita pulang, Cassie..."


****


Miss Foxxy


Jangan lupa dukungannya yah hehehe. I love you..