
Happy Reading
***
"Pergilah ke kamar mandi.." ucap Cassie dengan nada panik pada Christov setelah memutus sambungan ponsel pada ibunya.
"Apa? Kau menyuruhku bersembunyi?"
Cassie menggeleng, "Mandi, sialan. Aku menyuruhmu mandi. Pergilah mandi sementara aku mengurus keadaan di sini. Ibu dan saudariku sedikit.. Uhm.." dia menggerak-gerakkan jemarinya geram, gemas pada dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan kata yang pas untuk mendeskripsikan keluarganya tersebut, "Intinya begitu..Pergilah mandi. Ada beberapa pasang pakaianmu di lemari bajuku.. Pergilah.."
"Okay.. Okay.. Kau nampak ketakutan sekali jika Ibu dan saudarimu mengetahui tentang keberadaanku.."
"Arghhh!" Cassie menggeram kesal, "Pergi saja ke kamar mandi. Sana.." dia berjalan meninggalkan Christov ke arah pintu apartemennya lalu menuju pintu rooftop. Cassie mengatifkan layar kamera pengaman dan menatap Ibu serta Miranda tengah menunggu di balik pintu dengan wajah tak sabaran. Bel masih dibunyikan secara membabi buta dan itu membuat Cassie kesal.
Bel-ku bisa rusak!
"Oh my.." ditarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "Mari kita buka pintu sialan ini..." kata dia lalu membuka pintu.
"Kenapa lama sekali?" celoteh Miranda sesat pintu terbuka dan berjalan masuk begitu saja. Cassie tetap berdiri di sana, menatap Miranda dan Barbara melepas sepatu dengan asal pada lantai rooftop. Selalu asal. Pikirnya.
"Kenapa tiba-tiba datang?" tanya dia dengan nada tak senang.
Barbara memutar kepala, "Ibu-kan sudah bilang akan datang sore ini melalui ponsel tapi kau tiba-tiba memutuskan sambungan.."
"Itu karena aku benar-benar sibuk.."
"Kami sudah di sini, tak mungkin kau mengusir kami.." kata Miranda seraya melangkah masuk ke dalam apartemen Cassie, tapi keduanya tiba-tiba berhenti saat melihat rak sepatu milik Cassie.
"Pantofel?" tanya Barbara seraya memutar kepala ke arah Cassie yang menatap keduanya dengan tatapan malas.
"Sepatu siapa ini?" tanya Miranda.
Cassie menggeleng dan melangkah masuk mendahului mereka, "Tentu saja sepatu manusia." gumamnya.
"Orang sin-ting pun tahu ini sepatu manusia.." geram Miranda, "Kekasihmu? Apa ini sepatu kekasihmu? Apa kau punya kekasih?"
Dia mengabaikan saudarinya tersebut dan memilih mengambil posisi duduk di kursi dapur. Miranda dan Barbara segera bergabung dengannya dan menatap dia dengan tatapan penuh rasa penasaran. Kemudian mata Miranda menoleh ke sana- ke mari, menginspeksi ruangan Cassie tersebut.
"Ada suara aliran air.." ujar Miranda.
"Kekasihku sedang mandi," kata Cassie dengan nada santai, "Ibu ingin minum sesuatu?"
"Kekasih?" ulang Barbara dengan nada tinggi yang berlebihan, dia bahkan bangkit dari duduknya seraya memukul meja.
"Mom! Mejaku bisa rusak..."
"Kau punya kekasih? Di mana? Di mana dia?" tanya Barbara membabi buta.
"Oh.. Jadi itu alasanmu membuka pintu sangat lama, huh? Apa kau sedang melakukan hal yang tidak-tidak dengan kekasihmu?" Miranda menimpali dengan senyum jahat penuh kecurigaan, "Apa yang sudah kau lakukan dengan kekasihmu di sini? Mandi bareng?"
"Ah.. Mom. Miranda.. Please.." katanya kesal seraya berdecak lidah, "Dia sedang mandi. Sudahlah, jangan mengganggunya. Pertanyaanku, apa yang Mom lakukan di sini?"
Barbara kembali duduk, "Apa Ibumu tak bisa mengunjungi puterinya sendiri? Ibu hanya ingin memeriksa apakah putri bungsuku masih hidup atau tidak.."
"Untungnya aku masih hidup dan bernapas hingga detik ini," Cassie memanyunkan bibir bawahnya, "Ingin minum sesuatu?" tawarnya dengan nada setengah hati.
"Bawa dulu kekasihmu ke sini.." kata Miranda.
"Sudah kukatakan, dia mandi.."
"Kalau begitu, kami akan menunggu.."
"Momm..." rajuknya, "Argh.. Kapan-kapan saja. Biarkan dia sendiri.."
"Mom tak akan pulang sebelum melihat wajah kekasihmu.."
Cassie menyipitkan mata, "Setelah melihatnya, kalian akan pulang?"
"Whoaaaa.. Whoaaaa.." teriak Miranda dengan heboh, "Kau dengar itu, Mom? Kau ingin kami cepat-cepat pergi dari sini agar kau bisa berduaan dengan kekasihmu, bukan? Dasar iblis ca-bul.."
Dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal, "Berjanjilah kalian pergi setelah Mom dan kau melihatnya, okay?"
"Yah.. Yah.. Kau memperlakukan kekasihmu seperti orang penting saja. Lagian, aku tak tahan berlama-lama di tempat tinggalmu ini. kapan kau akan pindah dari tempat ini?"
"Ribut.." gerutu Cassie seraya berdiri dari duduknya, "Mom akan pulang ke rumah setelah ini atau pergi ke tempat lain?"
"Aku hendak pergi mengunjungi teman lama.."
"Baguslah.. Tetaplah di sini agar aku bisa berbicara dengan kekasihku. Jangan berusaha mengupingku.." ancam dia.
"Siapa sih nama kekasihmu?" tanya Miranda
"Nanti kau akan tahu sendiri.." dia beralih dari sana dan berjalan menuju kamarnya. Saat membuka pintu, Cassie menemukan Christov tengah duduk di depan meja rias dengan pakaian lengkap, berupa kaos dan celana katun. Pria itu tengah mengeringkan rambut dengan hair-dryer milik Cassie.
"Ibu dan saudariku ingin bertemu denganmu.." katanya saat Christov melihat dia.
"Ah..Aku tahu itu pasti akan terjadi.. Cassie, bisa kau bantu aku mengeringkan rambutku? Sejak tadi rambutku tak kunjung kering-kering.."
Dia tersenyum tipis dan mengunci pintu sebelum berjalan ke arah christov, "Kenapa harus sampai mengeringkan rambut seperti ini? Biasanya pun kau tak pernah..."
"Bukankah kau menyuruhku mandi agar keliatan bersih dan rapi saat menemui Ibu dan saudarimu? Sayangnya aku hanya memakai kaos dan celana katun di sini.."
Cassie meraih hair-dryer dari tangan Christov dan mengeringkan rambut pria tersebut, "Santai saja. Kau pakai karung pun tak masalah.. Keluarga adalah orang yang simpel. Selama kau bukan penjahat dan orang aneh, kau akan diterima.."
Mata mereka saling bertemu pada cermin, "Mereka akan menerimaku jika aku tak punya pekerjaan juga?"
"Aku saja tak mau menerima seseorang yang tidak memiliki pekerjaan menjadi kekasihku.." tangannya mengacak-acak rambut Christov seraya mengarahkan udara panas dari hair-dryer, "Rambutmu sangat tebal jadi sulit kering..."
"Aku gugup.."
"Jangan begitu. Mereka tak akan memakanmu.." dia menonaktifkan hair-dryer, "Sudah siap. Lebih baik seperti ini..." ujarnya seraya menyisir rambut tebal christov.
"Apa tak apa jika aku memakai pakaian seperti ini?"
Cassie memutar kepala, "Penampilan memang penting, tapi yang utama adalah karakter, cara berpikir, dan tentunya isi dompet.. Okay, ayo pergi agar mereka lekas pulang.." ajaknya seraya menggenggam tangan kanan Christov.
"Tapi aku tak kaya Cassie.." katanya dengan nada panik.
"Tenanglah.. Kau tak semiskin yang kau pikirkan. Ayo.."
Cassie mengajak Christov keluar dari kamar tanpa melepas genggaman tangannya. Jantung Christov berdetak kencang hingga dia sendiri takut jika keluarga Cassie bisa mendengar detak jantungnya tersebut. Perutnya bergemuruh dan rasa mual bisa dia rasakan saat ini.
Bagaimana.. bagaimana jika Ibu Cassie seperti Ibunya? Seperti ibunya yang menetapkan standar pada berbagai hal? Bagaimana jika Christov tidak sesuai seperti standar Ibu Cassie? Bagaimana jika Ibu Cassie memaksa mereka berdua berpisah? Berbagai pertanyaan yang mematahkan rasa percaya dirinya memenuhi kepal Christov. Oh my.. Erangnya dalam hati saat akhirnya dia melihat wajah Ibu dan saudari Cassie yang tengah duduk di kursi dapur.
Bola mata mereka biru.. Itulah yang Christov pikirkan untuk pertama kalinya. Seperti Cassie.
"Oh my.. Kau kekasihnya Cassie?" kata Barbara dengan nada ceria saat Christov datang. Senyum hangat itu membuat setengah ketegangan dalam dirinya perlahan hilang.
"Yeah.. Good afternoon, Mam*.." ujarnya dengan suara dan senyum kaku.
(Selamat sore, Bu)
Barbara berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Christov, "Aw.. Jangan tegang begitu,"
"Mom-lah yang membuat dia tegang.." timpal Cassie lalu matanya melirik ke arah Miranda yang hanya tersenyum tipis.
"Siapa namamu, anak muda?"
"Nama saya, Christover O'Connel.." kata Christov seraya mengarahkan tangan kanan, hendak menjabat Ibu Cassie.
"Bahkan suaramu saat berbicara terdengar okeh.. Jangan memanggilku Mam, itu terdengar formal sekali. Barbara De Angelis.. Panggil aku Barbara saja.." Barbara melakukan kecupan pipi dengan pipi pada Christov tanpa rasa canggung yang membuat pria itu kehilangan kata-kata.
"Mommy," gerutu Cassie, "Jangan begitu.. Lihatlah... Christov jadi terkejut.."
"Halo Christover.." Miranda ikut bergabung dan melakukan kecupan pipi ke pipi bersama Christov dan itu benar-benar membuatnya semakin terkejut sekaligus takjub. Bagaimana orang-orang ini berkenalan dengannya tanpa rasa canggung, padahal dia sudah berpikir keadaan akan sangat canggung saat bertemu mereka. Nyatanya tidak. Rasa gugup dan tegang yang merasuki dirinya seolah hilang begitu saja sesaat merasakan energi positif dari keluarga Cassie.
Apakah keluarga orang lain semenyenangkan ini? Pikir Christov.
"Argh.. Sana-sana.." ujar Cassie seraya menarik Ibu dan Miranda untuk kembali duduk, "Kalian membuatnya tak nyaman.."
"Duduklah, Christover..." ajak Barbara, "Cassie, ayo buatkan minuman untuk kami dan kekasihmu yang tampan ini..."
"Minuman? Apa yang Mom bicarakan? Bukankah kalian sudah berjanji pulang setelah melihatnya..."
"Lihatlah si anak durhaka ini.."
Christov tersenyum. Dia merasa santai melihat ketiga wanita yang tengah berbincang dengan hebohnya. Mereka semua memiliki kemiripan yang unik, terutama di bagian rambut dan mata. Rambut coklat dan mata biru.. Astaga.. Rumor tentang kecantikan keluarga De Angelis yang kerap dia dengar di pesta bukan sekadar gossip yang dilebih-lebihkan karena itu benar apa adanya. Keluarga kekasihnya tersebut benar-benar cantik, bahkan Barbara sendiri. Walau wajahnya sudah berkeriput, kecantikannya seolah tak memudar.
"Jadi, Christover.." panggil Barbara.
"Panggil aku Christov saja, Mrs.."
Barbara menoleh ke arah Miranda, "Lihat dia, Miranda? Christov benar-benar sopan. Beda dengan wanita yang tengah duduk di sampingnya itu.."
"Argh.. Mommy.. Jangan begitu," ucap Cassie kesal dan Christov tersenyum tipis. Menyenangkan sekali keluarga ini. Pikirnya. Barbara dan Miranda sama hebohnya dengan Cassie.
"Apa margamu O'Connel?"
Barbara menggaruk dagunya, "Apa kalian berdua tidak merasa asing dengan marga O'Connel ini? Ibu merasa pernah mendengarnya di suatu tempat..." katanya seraya menatap wajah kedua puterinya secara bergantian.
"Ada banyak ribuan orang bermarga sama di daratan ini, Mom.." timpal Cassie.
"Aku hanya merasa pernah mendengarnya di masa lalu..." dia beralih pada Christov, "Tapi, lupakan saja. Itu tidak penting. Jadi, sudah berapa lama kalian berkencan, huh?"
"Hampir dua bulan.." jawab Christov.
"Whoaaaa.. Dua bulan?" ujar Miranda heboh dengan senyum aneh saat menatap Cassie. Miranda mengangkat satu alisnya dan segera Cassie menendang kaki saudarinya tersebut yang berada di bawah meja. Mulut keduanya segera berkomat-kamit dalam diam dengan sumpah serapah.
"Astaga.. Aku tak menyangka puteri bungsuku yang acak-acakan ini mendapatkan kekasih sepertimu, Christov.."
Christov tertawa kecil, "Dia tidak acak-acakan.. Menurutku Puteri anda cantik, mandiri, dan disiplin..."
"Mom dengar itu?" kata Cassie dengan suara angkuh seraya mengibas rambutnya, "Aku adalah wanita cantik, mandiri, dan disiplin.."
"Jangan senang begitu. Dia hanya terpaksa memujimu.." ucap Miranda dengan nada santai.
Cassie memutar matanya dengan jengkel lalu beralih pada barbara, "Bukankah Mom bilang ingin mengunjungi seseorang?"
"Yeah.. kau benar. Well... Mungkin sudah saatnya aku dan Miranda pergi.."
"Pengusiran secara halus.." desis Miranda dan Cassie membalas saudaranya tersebut dengan menjulurkan lidahnya.
Melihat keluarga Cassie berdiri, Christov ikut berdiri hendak ikut mengantar keduanya ke pintu keluar.
"Jangan lupa pulang ke rumah akhir pekan ini untuk merayakan ulang tahuku.." kata Miranda, "Dan juga hadiah... Aku ingin hadiah yang mahal tahun ini. Jika sampai kau memberiku hadiah seperti tahu lalu, kubunuh kau, sialan.."
"Tidak mau.. Untuk apa aku repot-repot memberi hadiah untukmu, hah?"
"Arghhh... Sialan. Kau tidak pernah baik pada kakakmu sendiri..."
Mirip. Batin Christov. Cassie dan kakaknya memiliki sifat yang mirip.
"Christov?" panggil Barbara yang sepenuhnya mengabaikan kedua puterinya yang tengah berkelahi tersebut. Dia sudah terbiasa mendengar pertengkaran tersebut seumur hidupnya.
"Yah, Mrs?"
"Datanglah bersama Cassie untuk makan malam bersama akhir pekan ini. Puteri sulungku berulang tahun. Apa Cassie tak pernah bercerita jika aku pemasak yang handal?"
"Mom.. Dia sibuk," timpal Cassie yang sudah membuka pintu keluar dari rooftop, "Bukan begitu, Christov?"
"Aku bisa datang..." jawab Christov dengan cepat, "Aku dan Cassie bisa datang. Terimakasih sudah mengundangku.."
"Kau dengar itu, Cassie?" ujar Barbara dan Cassie hanya membalasnya dengan erangan kesal, "Kita harus sopan dan ramah..."
"Ah sudahlah.." dia menyerah melawan Ibunya tersebut, "Silakan tuan puteri.." kata Cassie dengan gerakan tangan mempersilahkan.
"Lihatlah anak ini.." Barbara berdecak lidah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Cassie lalu beralih kembali pada Christov, "Jangan lupa.."
"Yes, Mam.."
"Bye, Christov..."
"Bye, Christov.."
"Kalian tak mengucapkan selamat tinggal padaku juga?" tanya Cassie.
"Tidak.." jawab saudari dan Ibunya secara bersamaan dan tanpa pikir panjang, Cassie menutup pintu setelah kedua keluarganya tersebut keluar, "Argh.." erangnya kesal, "Aku heran kenapa Ibu dan saudariku seribut ini..."
Christov tersenyum lalu melingkarkan lengan kanannya pada bahu Cassie, "Keluargamu menyenangkan.."
Wanita itu melihat Christov dengan tatapan heran, "Menyenangkan? menyenangkan katamu?" dia menggeleng kecil, "Seandainya hanya kami bertiga di sini, kami akan berperang dan adu mulut hingga mulut kami berbusa..."
"Aku suka energi positif yang terpancar dari keluargamu, terutama Ibumu.." Christov duduk di atas ayunan bersama Cassie. Kakinya menggoyang ayunan kayu itu agar bergerak.
"Energi positif apa-nya, huh? Astaga.. Keluargaku ribut seperti itu kau sebut memancarkan energi positif. Malah aku mereka mereka memancarkan aura negatif, terutama Miranda..."
"Dibandingkan keluargaku, keluargamu jauh lebih menyenangkan," ujarnya dengan nada sendu. Matanya menatap jauh ke arah lampu perkotaan yang mulai nyala satu per satu.
"Saat kami berkumpul, tidak ada yang berbicara. Hanyalah sebatas bertanya kabar lalu basa-basi biasa.." kemudian Ibu mulai menilai setiap sudut kekuranganku. Lanjutnya dalam hati. Christov kembali mengenang masa-masa itu, di mana mereka berkumpul bersama dan Ibunya mulai mengomentari seluruh kehidupannya. Inilah.. Inilah alasannya tak suka pulang ke rumah untuk mengunjungi orangtuanya.
"Entah kenapa aku merasa canggung saat bersama keluargaku.."
"Aku juga terkadang canggung dengan keluarga baru ayahku.."
"Itukan sedikit berbeda kasus.."
"Beda kasus, tapi tetap saja menyakitkan. Makanya aku tak pernah mengunjungi Ayahku. Sampai saat ini, baik aku, maupun Miranda belum bisa menerima fakta jika ayah kami sudah punya keluarga baru."
Christina diam, tak tahu harus berkata apa. Cassie lalu berdehem saat Christov hanya diam saja.
"Apa kau tidak dekat pada siapa pun di antara keluargamu? Mungkin ayah.. Bukankah anak laki-laki memiliki hubungan yang kuat dengan Ayahnya?'
"Sifat ayahku benar-benar mirip denganku, Cassie. Kami sangat pendiam. Aku mungkin mewarisi sifat Ayahku. Jika ditinggalkan berduaan dalam satu ruangan, aku dan Ayah sanggup tidak bicara satu sama lain..."
"Hm.. Kau bisa memulai perbincangan dengan kenangan saat bersama. Mungkin kenangan saat kecil.."
Christov menyandarkan kepalanya pada bahu Cassie, "Sayangnya aku tak punya itu juga. Masa kecilku hanya kuhabiskan untuk belajar hal baru karena Ibu bilang, putera penerus nama baik keluarga harus mampu menguasai banyak hal. Dia dulu seorang guru di sekolah dasar. Jadi tak heran standar-standar diterapkan padaku."
Cassie tiba-tiba menarik bahunya untuk menatap Christov, "Nama keluarga? Apa-apaan itu? Nama keluarga tak hanya diteruskan oleh seseorang yang mampu menguasai banyak hal," geramnya, "Nama keluarga? Aneh sekali. Hal seperti itu tak relevan lagi di abad ini. Seharusnya, sebuah keluarga tak boleh membebani anaknya dengan hal semacam ini. Urusan nama baik keluarga tidak hanya dipikul oleh pihak lelaki, tapi keseluruhan keluarga."
Christov tertawa kecil, "Inginnya begitu, tapi Ibuku punya standar tinggi padaku.."
"Kau ingat aku pernah berkata bawah seseorang yang membebanimu dengan hal semacam ini tidak pantas disebut keluarga.."
Dia mengangguk.
"Kita mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang ini, tapi kau tak boleh terus-terusan membebani diri dengan hal semacam ini. Terlepas mereka keluargamu, kau tak boleh membiarkan orang lain menentukan bagaimana jalan hidupmu," Cassie tiba-tiba memegang kedua bahu Christov dan kedua matanya menatap tajam pada dia, "Bicaralah dan katakan apa yang kau inginkan. Jika tidak bisa, aku akan membantumu..." katanya dengan suara yang membara.
Christov tertawa senang melihat semangat membara dari Cassie dan tanpa pikir panjang menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Dipejamkan kedua mata dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Cassie.
"Aku sudah bicara, tapi hasilnya masih tetap sama saja.."
"Kalau begitu, berteriak kencang dan buat keributan,"
Tangan kanannya mengelus lembut rambut Cassie, "Aku suka semangatmu, Cassie.."
"Kau-kan memang suka segala hal tentangku..'
"Well.. Kau benar tentang itu... Aku suka segala hal tentangmu, Cassie.." dia mulai menggoyang-goyang lembut tubuh Cassie dalam pelukannya, "Bagaimana denganmu? Apa yang kau suka dariku?"
"Uhm.. Aku suka rambut dan alismu yang tebal.."
"Hanya itu?"
"Senyummu.. Aku sangat suka senyummu, tapi berjanjilah hanya menunjukkan senyum paling lebarmu hanya padaku.."
Christov mengecup kepala Cassie, "Okay.. Sekarang senyum terlebarku adalah milikmu seutuhnya. Apa lagi? Apa lagi yang kau suka dariku?"
"Banyaklah.... Jika aku jabarkan satu per satu, malam ini pun pasti tidak akan selesai."
"Aku itu pendengar yang baik apalagi jika yang kudengar itu suaramu.."
"Dasar tukang penggoda.."
"Aku tak sabar menunggu akhir pekan.."
Cassie hendak menarik diri dari pelukannya, tapi dia dengan cepat menahan wanita itu, "Kau tidak harus datang ke sana. ibuku memang suka membicarakan hal acak seperti itu.."
"Masalahnya aku ingin datang.."
"Apa?" suaranya meninggi, "Apa kau ingin datang karena terpaksa dengan alasan menjaga sopan santun? Kau tak perlu datang. Jangan memaksakan dirimu. Jika ajakan ibuku membebanimu, aku akan menjelaskan hal ini padanya.."
"Aku tidak merasa terbebani.. Aku hanya benar-benar ingin datang dan menikmati makan malam yang menyenangkan.. Setidaknya, aku ingin sekali saja memiliki makan malam keluarga yang menyenangkan walau bersama keluarga orang lain.."
"Oi... Oi.." protes Cassie, "Aku bukan orang lain tahu... Apa kau tidak tahu budaya terbaru kita? Keluarga kekasihku adalah keluargaku juga. begitu pula denganmu. Keluargaku adalah keluargamu juga.."
"Jadi kita adalah keluarga sekarang?"
"Yeah.. Anggap saja begitu. Jika kau memang menginginkan makan malam bersama keluarga maka aku tak punya pilihan. Kalau begitu, kita akan pergi akhir pekan ini.."
Christov mempererat pelukannya pada tubuh Cassie, "Aku tidak sabar.."
"Lain kali kau harus membawaku juga makan malam dengan keluargamu agar aku bisa tahu seberapa canggungnya makan malam bersama keluargamu.."
Senyum Christov perlahan hilang dan dia tertawa canggung, "Mungkin nanti.. nanti setelah aku berteriak dan membuat keributan.."
****
Miss Foxxy
Keknya gk ada harapan cover novelku kembali ,💆👌 Jangan lupa dukung author, minimal like kek jangan ada pembaca gelap. Yg mau join gc, follow author dulu yah. Yuk ikutan giveaway ,💜