Remember Me

Remember Me
Explode



Happy Reading


****


"Kau punya senapan?" tanya Christov ketika melihat senapan angin yang tergantung di dalam lemari penyimpanan Cassie.


"Hmm.. Tenang saja, itu legal. Aku punya surat izin kepemilikan," gumamnya pelan sembari sibuk membongkar isi kopernya, "Kau sudah tahu aku punya senjata sedari awal..."


"Apa kau suka olahraga tembak?"


"Tidak juga. Aku berlatih hanya untuk pertahanan diri karena banyak orang sin-ting di dunia sialan ini,"


Christov mengangguk kecil dan entah mengapa dia sudah merasa biasa mendengar gaya bahasa Cassie yang kasar.


"Boxing, memanah, olahraga tembak, dan hiking. Kemampuan lain apa lagi yang kau miliki? Apa kau berencana masuk sekolah angkatan?"


"Akuu punya banyak sekali keahlian, Christov," Cassie berdiri dan mengambil posisi duduk mengangkangi di paha Christov. Dia mengecup bibir pria itu sekilas lalu mengelus rambut Christov yang tebal.


"For you.." ucapnya seraya mengangkat dua sarung tinju berwarna hitam. Christov tertawa kecil dan mengambil sarung tinju tersebut dari tangan Cassie.


(*Untukmu)


"Untukku? Sarung tinju?"


Cassie mengangguk kecil lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher Christov.


"Aku membelinya saat di New York dalam keadaan marah.. Marah kepadamu lebih tepatnya. Jadi aku membelinya sebagai alat untuk memukulmu karena kau bersikeras menginginkan ingatanmu kembali,"


Christov menaruh sarung tinju di itu di atas ranjang lalu menaruh kedua telapak tangannya pada pipi Cassie.


"Tutup matamu," pintanya.


"Uhmm. Untuk apa?"


"Just close your eyes, babe*," bujuk Christov lagi dengan suara lembut dan mau tak mau, Cassie menuruti permintaannya.


(*Tutup matamu saja, sayang)


"Jangan mengintip. Okay?"


"Ya.. Ya.." ujar Cassie  dengan mata tertutup dan senyum tipis di wajahnya, "Kau membuatku gugup.."


"Sebentar lagi.."


Cassie tetap menutup matanya dan sesaat kemudian dia bisa merasakan sentuhan tangan Christov di lehernya lalu merasakan suatu benda tergantung di sana dan Cassie tahu jelas benda apa itu. Kalung.


Dia menelan ludahnya dengan susah payah ketika merasakan tangan kanannya di tarik Christov dan benda kecil berbentuk bulat dilingkarkan di jari manisnya. Cassie menahan napas, tubuhnya memanas, dan wajahnya semakin memerah ketika Christov mengecup punggung tangannya dengan lembut.


"Sekarang, bukalah.."


Cassie membuka matanya perlahan dan dia melihat Christov sudah memegang ponsel yang layarnya diarahkan padanya. Aplikasi kamera terbuka di sana dan Cassie bisa melihat kalung emas putih dengan liontin burung yang menyibakkan kedua sayapnya. Dengan tangan kanan yang bergerak ragu, dia menyentuh dan mengelus permukaan liontin itu dan akhirnya dia juga melihat cincin putih bermahkotakan berlian.


"Ci--Cincin ini.."


Christov menaruh ponselnya ke atas ranjang dan menatap Cassie dengan tatapan berbinar. Dengan lembut, dia menyibakkan anak rambut Cassie ke balik telinganya


"Christov. Ci-Cincin ini.. Dari mana kau mendapatkannya? Cincin ini sama persis dengan cincin yang lama.."


Christov mengangkat tangan kanannya sendiri dan memamerkan jari manisnya yang dilingkari oleh cincin.


"Aku membelinya kembali dengan bentuk yang sama.. Mungkin ini bukan barang yang sama, tapi kuharap kau suka," jelasnya pada Cassie yang menatapnya heran, "Uhm.. Aku menyimpan sertifikat kepemilikan dari cincin lama kita jadi mereka bisa membuat cincin dengan bentuk yang sama... Jadi begitulah... Ahh, kau kecewa karena ini bukan barang yang sama?"


Cassie yang masih terdiam saja memutuskan kotak mata sembari menggigit bibir bawahnya.


"Kau membeli kalung juga," bisiknya.


"Well.. Aku ingin memberimu hadiah dan kebetulan liontin kalungnya mirip dengan tatto burung milikmu. Jadi aku membelinya untukmu.. Tidak mahal.. Sungguh.. Aku mendapat diskon besar. Apa kau tidak suka? Jika kau tidak suka, aku masih bisa melakukan pengem--"


Cassie segera memeluk Christov dengan erat dengan kedua tangannya dan membuat pria itu berhenti berbicara.


"Aku suka sekali, bo-doh.. Sangat suka.." katanya dengan suara bahagia yang penuh haru, "Kau hampir membuatku menangis," lanjutnya lagi dengan wajah merah yang tengah menahan air mata.


Christov tertawa kecil dan membalas pelukan Cassie, "Menangislah.. Sudah kukatakan, saat bersamaku, kau harus menunjukkan warna asli dirimu, Cassie.. Kau boleh berpura-pura pada dunia, tapi tidak padaku.."


"Aku memberimu sarung tinju sialan saat kau memberiku hadiah semewah ini.."


"Tidak juga.. Aku merasa sarung tinju ini adalah hadiah terbaik yang pernah kuterima.."


Cassie menarik diri dari pelukan Christov, "Thank you," bisiknya lembut.


"Terimakasih kembali,"


Mereka saling bertatapan dalam diam dan mengirimkan berbagai pesan hanya melalui tatapan tersebut. Cassie menaikkan sedikit salah satu sudut bibirnya saat melihat pupil Christov membesar. Satu tangan Christov meremas lembut bo-kongnya lalu menjilat sendiri permukaan bibirnya. Mereka jelas memikirkan hal yang sama.


"Not now, Christov," peringat Cassie seraya bangkit dari pangkuan pria itu dan berjalan keluar dari kamar. Dari belakang tubuhnya, dia bisa mendengar suara geraman kesal dari Christov.


(*Tidak sekarang, Christov)


"Kenapa?"


"Sudah kubilang aku ada urusan.."


"Bukannya pemeriksaanmu besok?"


Cassie membuka lemari pendingin lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil gelas dan sepanjang melakukan aktivitasnya, Christov tetap mengikutinya.


"Aku perlu bertemu seseorang sebentar lagi,"


"Ayolah.. Hanya sekali.. Please?"


Cassie tertawa melihat wajah memelas dari Christov, "Kau gila.. Kita sudah melakukannya sepanjang malam di apartemenmu dan kita baru selesai melakukannya dua jam yang lalu, Christov.."


"Maka dari itu aku meminta sekali lagi untuk yang terakhir sebelum kau pergi.."


Cassie menggeleng lalu meneguk air mineralnya, "Jawabannya adalah tidak."


"Oh my.. Cassie.. Please," pinta Christov dengan nada memelas.


"Tidak," jawab Cassie dengan suara tegas dan Christov mendengus kesal, "Aku perlu menyimpan energiku.."


"Okay.. Okay," balas Christov dengan nada pasrah.


Dia tersenyum lebar dan merasa gemas dengan ekspresi wajah cemberut Christov. Dengan tangan kirinya, Cassie mencubit pelan pipi Christov.


"Kau sangat menggemaskan," Cassie mengecup sekilas bibir Christov, "Sampai jumpa nanti malam. Setelah aku pulang, kupastikan kita bercinta hingga ke-jan-tan-anmu lemas.."


Christov tersenyum miring lalu melingkarkan satu tangannya pada pinggul Cassie dan menariknya mendekat. Pria itu tersenyum miring misterius.


"Aku juga akan bercinta dengan sangat keras hingga kau tidak bisa berjalan selama seminggu penuh.."


"Aku menunggunya, Christov," bisik Cassie dan menarik diri dari Christov, "Bye, babe.. Sampai jumpa nanti malam.."


"Sebenarnya kau ingin ke mana?" tanya pria itu lagi saat Cassie sedang memakai sepatu olahraganya.


"Bertemu Clara.."


"Clara?" suaranya meninggi, "Kenapa kau bertemu dengannya, huh?"


Cassie bangkit berdiri setelah memasang sepatunya, "Urusan wanita. Tenang saja, ketiga temanku akan ikut.."


"Gerald bukan wanita, apa aku tidak bisa ikut?"


Cassie tertawa kecil, "Jangan ucapkan hal seperti itu di hadapan Gerald atau dia akan memecahkan buah za-kar-mu, Christov.."


"Aku serius. Ke mana kau pergi, huh?"


"Menyelesaikan masalah di antara kami. Okay, babe? Aku harus pergi dan kumohon jangan terlalu mengkhawatirkanku..."


Christov memejamkan mata lalu menarik napas panjang, "Okay.. Okay," ujarnya dengan nada pasrah, "Berhati-hatilah. Jika kau butuh sesuatu, jangan lupa hubungi aku.."


"Okay, babe. Okay.."


****


"Kau membawa ke-empat temanmu kemari, huh?" ujar Clara dengan nada mencemooh ketika melihat kedatangan Cassie bersama ketiga temannya. Dia mengabaikan pertanyaan Clara dan memilih melihat Madison yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Juri," katanya singkat, "Kau sudah siap, Clara?" tanyanya seraya menjatuhkan tas kecilnya. Dia mempererat sabuk kain yang melingkar di tangannya yang membentuk semacam sarung tinju sederhana.


Mereka semua berkumpul di sebuah arena boxing yang kosong. Tempat ini sengaja disewakan oleh Cassie selama beberapa jam untuk melakukan pertandingan tinju sederhana dengan Clara. Sebelum kepulangannya ke Los Angeles, Cassie menghubungi Clara dan mengajak wanita itu untuk melakukan duel bersama. Awalnya, dia sudah menduga Clara akan menolak, tapi nyatanya wanita sialan itu menerima ajakan Cassie.


Sedari dulu, Cassie ingin menghabisi Clara dan Madison. Sangat ingin sekali. Mimpi menghabisi mereka hingga wajah dilumuri oleh darah selalu muncul dan itu memotivasinya untuk melakukan duel ini. Cassie yakin bisa menang duel ini, tapi menang bukanlah tujuan utamanya karena dia memiliki tujuan yang lain.


"Jika kau berani curang--"


"Aku tidak akan, sialan," potong Cassie, "Aku tidak serendah kalian. Aku tahu kalian berdua adalah bi-ang kerok dari masalah di perusahan tempatku bekerja,"


"Kau layak menerimanya, breng-sek," balas Madison, "Kau perlu diberi pelajaran agar kau sadar di mana tempatmu yang seharusnya, wanita ja-lang cacat.."


"NO!" teriak gerald marah dan Cassie segera menahan pria itu untuk tidak melangkah maju menghampiri Clara dan Madison.


"It's okay, Gerald," gumam Cassie lembut dan berusaha menenangkan amarah pria itu.


"NO. Kalian berdualah ja-lang murahan sialan! Jika kau memanggil dia seperti itu sekali lagi, aku kurebok muluk kaliaan berdua!"


"Diam saja kau ban-ci!!!"


"Berhenti beradu mulut karena aku menginginkan adu tinju," Meghan ikut menimpali dan menengahi pertikaian, "Cepat naik ke ring," katanya seraya berjalan menuju ring sebagai juri.


"Semangat, Cassie. Aku tahu kau bisa menang," semangati Bambi saat Cassie sudah naik di atas ring dan diikuti oleh Clara.


Cassie menatapnya tajam seraya merenggangkan kepalanya sendiri. Keduanya berdiri di antara Meghan yang akan menjadi juri Mereka saling bertatapan dengan sorot penuh kebencian. Sembari Meghan menjelaskan aturan pertandingan, Cassie mencuri-curi pandang ke arah tangan kanan Clara.


"Ini adalah lomba tinju dan kita tidak menggunakan sarung tinju sesuai permintaan dari pihak Clara Murray," jelas Meghan, "Dalam lomba ini, dilarang mencakar, menampar, memukul organ vital seperti ke-la-min, dan lomba ini tidak ada batas waktu. Artinya, kalian berdua akan bertarung hingga titik penghabisan hingga satu dari kalian menyerah.. Mengerti?"


Cassie dan Clara mengangguk kecil.


"Eratkan sabuk tangan kalian, ladies," ucap Meghan seraya melangkah mundur.


Cassie mengambil posisi kuda-kudanya dengan kedua tangan dikepalkan kuat dan mata elangnya menatap lapar ke arah Clara.


"Tiga...Dua.. MULAI!"


Cassie tidak bergerak dari tempatnya dan malah memperkuat otot kakinya. Sementara Clara berteriak kencang dan melangkah lebar menghampirinya dengan tangan terkepal kuat yang di arahkan ke arahnya. Cassie segera menghindar dari pukulan Clara lalu melayangkan pukulan mentah ke arah pipi wanita itu. Melemparkan pukulan lain ke pipi yang lain hingga Clara nampak kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri.


"CLARA! NO!"


"CASSIE! Ayo!! AYO!"


Teriakan di luar ring semakin memanas dan Clara menemukan keseimbangan tubuhnya kembali. Ujung bibirnya pecah dan darah menetes sedikit dari hidungnya, tapi Clara masih mampu untuk melakukan kuda-kudanya dengan mantap. Mereka saling berhadapan dan berjalan sedikit demi sedikit ke arah samping.


"Rasakan itu," ucap Cassie, "Kau layak mendapatkannya, breng-sek.."


Clara tertawa kecil dan mengusap darah dari hidungnya dengan kasar.


"Apa Christov sudah cerita, huh?"


"Jangan berani-beraninya menyebut namanya," geram Cassie dengan nada marah


Clara tertawa lagi dengan tawa aneh yang menjengkelkan.


"Ahh.. Jadi dia belum memberitahukan-mu jika aku dan suami kesayanganmu itu sudah tidur bersama?"


Jantung Cassie seolah berhenti berdetak selama beberapa saat, tapi dia sadar bahwa Clara tengah memprovokasinya.


"Kau berbohong.." ucapnya dengan nada marah.


Clara tersenyum miring, "Kau percaya, bukan? Aku tahu kau percaya, bukan.. Lihat wajah bo-doh sialan-mu itu.. Kami tidur bersama dan dia memiliki pe-nis yang--"


"DIAM!" cassie berteriak kencang dan melangkah lebar menghampiri Clara. Dia melayangkan satu pukulan dan Clara berhasil mengelak. Dalam momen singkat setelah Clara menghindar, Clara melayangkan satu pukulan keras ke arah perut Cassie. Sangat keras hingga membuat Cassie mundur beberapa langkah ke belakang seraya memegangi perutnya yang sakit. Cassie perlahan kehilangan keseimbangannya sendiri dan dalam kesempatan tersebut, Clara kembali melayangkan pukulan kencang di pipinya hingga Cassie terjatuh di lantai ring yang keras.


Tubuhnya memantul di sana dan suara lengkingan keras memenuhi telinganya. Suara lengkingan itu bergabung dengan suara sayup-sayup dari ketiga temannya yang berusaha memanggil Cassie. Tatapannya memburam dan timbul kegelapan di sisinya yang berusaha menelan Cassie hidup-hidup.


"Aku tidur dengannya, breng-sek," dia mendengar suara Clara sayup-sayup, "Kami me-nge-rang kencang bersama saat isterinya tidak ada.. Kau tahu, Cassie? Apa kau yakin Christov hanya menidurimu? Madison sudah ikut mencicipi pe-nis suamimu.."


"Diam.. Diam.. Diam.." ucap Cassie pelan secara berulang kali. Kedua tangannya menutup telinga berusaha menghentikan suara Clara yang menghantuinya. Namun, suara itu tidak mau berhenti. Kemarahan itu semakin menumpuk, bayangan perbuatan jahat Clara, Madison, dan Theresa berputar kembali. Berputar berulang kali bagaikan kaset rusak yang membuat kemarahannya semakin besar.


"Diam.. DIAM!" dia berteriak kencang dan matanya mendadak terbuka lebar saat melihat satu pukulan lain diarahkan ke arahnya. Lengkingan dan kegelapan itu menghilang. Cassie berguling menghindari pukulan Clara. Dia berusaha bangkit, tapi Clara dengan sigap melayangkan pukulan lain ke arah wajahnya yang membuat suara lengkingan itu muncul lagi.


"MATI!" teriak Clara seraya melayangkan pukulan lain dengan tangan kirinya. Cassie berteriak marah dan tanpa ragu dia bangkit berdiri dan mengarahkan kepala bagian atasnya memukul wajah Clara dengan sangat keras. Clara berdiri dengan sempoyong dengan darah yang bersimbah di wajahnya. Tanpa menunggu lebih lama, Cassie melangkah lebar menghampiri Clara yang sempoyong, melompat, berputar, dan mengarahkan tendangan kaki kanannya ke arah sisi wajah kiri Clara.  Menendang dengan sangat keras hingga akhirnya tubuh Clara roboh di atas lantai ring.


Cassie tersenyum miring dan senang melihat keadaan tak berdaya dari Clara. Lega.. Dia merasa lega melihat wajah Clara yang babak belur. Dia merasa segar mendengar teriakan marah Madison. Dia merasa bersemangat melihat darah segar Clara. Dia merasa hidup melihat Clara yang kesulitan bernapas.


Jadi.. Jadi ini rasanya menghancurkan kehidupan orang jahat itu? Terasa lega dan menyegarkan. Seolah seluruh kebencian dan kemarahan yang menyesakkan dadanya selama ini terangkat begitu saja. Senyum Cassie semakin melebar melihat tangan kanan Clara yang tergeletak tak berdaya di atas lantai ring.


"Hal yang paling berharga," bisiknya seraya memutar lehernya dalam gerakan perlahan, "Hal yang paling berharga,"


"CLARA!" teriak Madison, "CLARA!"


"Hentikan, Cassie! Pertandingan selesai!" Meghan berteriak dan berjalan menghampiri dirinya. Madison pun ikut masuk ke dalam ring. Cassie tidak memperdulikan teriakan itu dan malah mengangkat kaki kanannya. Mengangkat tinggi-tinggi lalu mengarahkannya pada tangan kanan Clara. Menginjak tangan itu hingga suara retak terdengar.


"ARGH!!!" Clara berteriak kesakitan. Berteriak penuh keputusasaan dan meronta kesakitan. Dia berusaha menarik tangannya lepas, tapi Cassie tak sedikit pun menggeser kakinya dan malah menekan kakinya semakin kuat ke arah punggung tangan Clara. Menekannya tanpa ampun. Tanpa belas kasihan. Senyum kejam menghiasi wajahnya. Dia benar-benar menikmati teriakan kesakitan dari Clara. Menikmati wajah penuh penderitaan dan keputusasaan dari Clara. Sekarang, dia akhirnya merasakan apa yang Cassie rasakan.


"Aku menang, Clara Murray," detik dia mengucapkannya, pukulan kuat diarahkan padanya. Sangat kuat hingga membuat seluruh dunianya menggelap.


****


"Apa kau tahu cara menghancurkan kehidupan seseorang, Cassie?" tanya Miranda yang berusia 14 taun pada Cassie yang masih berusia sembilan tahun. Keduanya berjalan pulang bersama di trotoar dari sekolah pada cuaca panas. Cassie yang sedang minum dari hanya bisa menggeleng kecil. Kemudian, dia mengipas-kipas wajahnya yang memerah dan berkeringat dengan kedua tangannya yang mungil.


"Tidak," katanya dalam bahasa Itali.


"Aku pernah membaca buku Mama bahwa cara menghancurkan kehidupan seseorang adalah mengambil paksa sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.."


"Sesuatu? Seperti apa?" tanyanya dengan nada penasaran.


"Kau tahu Uncle Sam, bukan?"


Cassie mengangguk semangat.


"Menurutmu apa hal yang paling berharga dalam hidupnya?"


"Piano karena Uncle Sam adalah seorang pianist.."


"Tidak, bo-doh.. Jemarinya.. Jemarinya adalah hal yang paling berharga di dunia, Cassie," katanya dengan nada geram, "Jika jemarinya di ambil paksa, kehidupannya akan hancur karena dia tidak akan bisa menggunakan piano lagi. Sama seperti tetangga kita yang pemain sepak bola. Apa kau tahu apa hal yang paling berharga dalam hidupnya?"


"Kakinya?" jawab Cassie dengan nada ragu-ragu dan Miranda bertepuk tangan.


"Kau benar.. Kakinya.."


Cassie mengangguk kecil, "Jadi, begitu cara menghancurkan kehidupan seseorang? Mengambil hal paling berharga dari kehidupannya?"


"Yah, Cassie.. Yah. Saat kau sudah besar dan ada yang menyakitimu, kau bisa melakukan cara itu agar mereka bisa merasakan hal yang kau rasakan.."


"Tapi itu jahat dan tidak baik.."


Miranda mendengus, "Bo-doh.. Untuk apa kau berkata seperti itu? Jadi kau akan tetap berbuat baik pada orang yang jahat padamu?"


"Kata Nonna, kejahatan dibalas kejahatan itu tidak boleh dan tidak baik.."


(*Nonna \= Nenek)


Miranda berdecak lidah, "Kejahatan dibalas kejahatan lebih baik dari pada kejahatan dibalas kebaikan, bo-doh. Untuk apa berbuat baik pada orang yang menyakitimu? Jika kau tetap berbuat baik, orang jahat tadi hanya akan terus berbuat jahat padamu. Mereka tidak akan jera. Sekali jahat, selamanya jahat..."


Cassie terdiam dan berusaha mencerna perkataan saudarinya tersebut.


"Kau ada benarnya.."


"Tentu saja aku benar karena aku lebih pintar dari Nonna.."


Cassie berhenti berjalan dan membiarkan Miranda berjalan sendiri sembari berceloteh. Dia menatap punggung saudarinya tersebut dalam diam.


"Miranda?" panggilnya dan saudarinya itu berhenti lalu memutar tubuhnya.


"Yah? Kenapa kau berhenti berjalan? Ayo.. Di luar sangat panas.."


"Jadi, saat aku sudah besar dan ada yang menyakitiku, apa boleh aku mengambil paksa milik mereka yang paling berharga," katanya dengan nada pelan yang tenang dan senyum dari wajah Miranda perlahan hilang. Bulu kuduknya meremang mendengar nada aneh dari Cassie. Entah mengapa setiap kali adiknya tersebut berbicara dengan nada tenang seperti itu, Miranda merasa ketakutan.


"Uhm.. Tentu.. tentu," jawab Miranda ragu dengan anggukan kecil, "Namun, kau harus tumbuh menjadi wanita kuat terlebih dahulu..."


"Okay.. Aku akan tumbuh menjadi wanita kuat,"


Cassie tersenyum lebar dan berjalan menghampirinya. Tangan mungilnya tersebut melingkari lengan Miranda.


"Aku lebih setuju padamu, Miranda.."


"Tentang apa?"


"Tentang kejahatan dibalas kejahatan.."


****


Explode artinya meledak. Memang, Cassie itu jauh dari kata baik. Pemarah, penghujat, suka berkata-kata kasar, kacau, kejam, dan jahat wkwk. Gak ada satu pun karakter dalam cerita ini yang beres.