
×REMEMBER ME×
PART 4
Laksh masih terdiam, dia melamunkan kejadian yg terjadi siang tadi saat anaknya Ragini memintanya untuk menjadi ayahnya. Entah mengapa Laksh merasa sangat bahagia saat Arjun memanggilnya dengan sebutan "AYAH". Laksh terus menerka perasaan yg sedang dirasakan oleh hatinya ini.
"Ragini.. Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu kembali. Kau makin cantik saja Ragini, dan senyumanmu itu berhasil selalu membuatku terhipnotis. Aku merindukanmu, Rag" ucapnya pelan.
Laksh mengambil ponselnya di laci, dia menghubungi seseorang.
"Akash.. Kau dimana?"
"....."
"Baiklah, aku akan segera menemuimu. Kau tunggu aku disana yah"
Laksh memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia membuka jas putihnya dan meletakkannya di kursi. Dia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.
"Neha, aku ijin untuk tidak praktek sore ini. Jika ada pasien yg ingin bertemu denganku, kau oper saja pasien itu untuk di tangani oleh Dhruv ya"
Neha, perawat Laksh itu hanya mengangguk.
Laksh menuju parkiran mobil, dan langsung mengemudikan mobilnya itu.
Bayangan tentang Ragini berkecamuk di benaknya. Ingin menepisnya, tapi tak bisa! Malah bayangan itu semakin muncul kembali.
"Astaga! Aku benar-benar sudah tidak waras" ucap Laksh pelan.
Dia mencengkram erat stir mobilnya.
Saat tiba di tempat yg dia tuju, Laksh langsung memarkirkan mobilnya di sebuah cafe. Dia langsung berlari, bola matanya memutar mencari sosok yg baru saja dia hubungi.
Akash melambaikan tangannya saat dia melihat Laksh. Laksh langsung berlari menuju tempat Akash.
"Akhirnya aku menemukanmu" ucapnya dengan nafas yg masih terengah.
"Lagian siapa suruh kau berlari seperti itu, Laksh. Apa kau sangat merindukanku?" godanya.
Pengunjung yg duduk tak jauh dari mereka hanya tersenyum saat mendengar ucapan Akash, karena memang suara Akash sangat kencang.
"Tutup mulutmu, bodoh"
Akash hanya tersenyum.
"Katakan Laksh, ada apa kau ingin bertemu denganku?"
"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Meethi"
Akash membulatkan matanya.
"Apa maksudmu, Laksh? Kau ingin menggoda istriku secara terang-terangan?"
Akash bangkit dari posisi duduknya, membuat seluruh pengunjung menatap ke arah mereka. Laksh langsung menarik tangan Akash.
"Hei, duduklah. Dengarkan dulu penjelasanku"
Akash duduk dengan wajah yg sangat garang.
"Aku ingin bertanya soal Ragini, kepadanya"
"RAGINIIII?" teriak Akash.
Pengunjung cafe itu pun melihat ke arah mereka lagi. Laksh hanya menggelengkan kepalanya.
"Nampaknya lain kali aku harus mengajakmu bertemu di tempat yg sepi saja, kau selalu saja berteriak seperti itu"
"Hahaha.. Maaf Laksh.. Aku kadang suka refleks. Katakan Laksh, ada apa dengan Ragini? Dan kenapa kau ingin bertemu dengan Meethi?"
"Kau tau kan Akash, Ragini.. Meethi.. Bulbul.. Mereka berteman akrab dulu?"
Akash hanya mengangguk.
"Lalu?"
"Aku ingin bertanya mengenai Ragini"
"Tentang apa?"
"Apa Meethi sering bertemu dengan Ragini?"
Akash hanya mengangguk.
"Benarkah?"
"Iyah.. Saat Rohit meninggal"
Laksh menghela nafasnya.
"Kau tau apa penyebab Rohit meninggal?"
"Setau ku dia kecelakaan Laksh dan langsung meninggal di tempat kejadian karena mobilnya terbentur keras dengan pembatas trotoar jalan"
Laksh hanya menghela nafasnya, dia merasa iba dengan Rohit. Bagaimanapun juga Rohit adalah sahabatnya.
"Ragini, dia sangat terpukul Laksh. Meethi bilang setelah tiga tahun Ragini baru membuka hatinya untuk Rohit. Namun di hari itu juga Dewa dengan cepat mengambil nyawa Rohit dan merenggut kebahagiaan Ragini"
Laksh berpikir sejenak dengan ucapan Akash.
"Setelah tiga tahun? Lalu? Selama tiga tahun sebelumnya memang Ragini belum menerima Rohit? Bukankah Ragini sendiri yg memilih menikah dengan Rohit?"
"Setau aku, Ragini menikah dengan Rohit baru 3 tahun Laksh"
Laksh memikirkan omongan Akash dan memang benar, tiga tahun yg lalu saat Laksh kembali, dia melihat Ragini dan Rohit menikah.
Laksh berpikir, usia Arjun berarti lima tahun jika dia satu sekolah dengan anaknya Bulbul Purab dan keponakannya.
"Arjun? Apakah dia anak Rohit?"
Akash menjadi sangat gugup, terlihat jelas di raut wajahnya itu
"Katakan Akash.. Katakan yg sebenarnya ku mohon"
"Arjun.. Dia anakmu, Laksh"
Laksh merasakan tersedak oleh ludahnya sendiri. Dia menatap lekat wajah Akash.
"Waktu itu setelah kau pergi dan memutuskan untuk melanjutkan studi mu di amerika, Ragini tengah mengandung anakmu. Dia tak berani mengatakan hal itu kepadamu, karena dia takut akan merusak impianmu menjadi seorang dokter. Jadi Ragini menyembunyikan kehamilannya dari mu. Kau tau berapa banyak hujatan yg Ragini terima, aku dan Meethi merasa sangat tak tega. Saat Ragini melahirkan Arjun, aku dan Meethi menyarankan Ragini untuk tinggal di rumahku bersama Arjun, tapi Ragini menolaknya. Dia memilih hanya menitipkan Arjun kepadaku. Nasib Ragini sangat miris Laksh, dia di usir oleh keluarganya karena kehamilannya itu. Setelah dua tahun Ragini dan Rohit bertemu kembali. Lalu aku dan Meethi menyusun sebuah rencana untuk menjodohkan Ragini dan Rohit. Akhirnya Ragini menyetujuinya, tapi aku dan Meethi tak menyangka jika Ragini dan Rohit selama ini tidak pernah tidur satu ranjang, mereka tinggal bersama tapi selalu terpisah. Tapi Rohit merupakan sosok pria yg sangat baik dan bertanggung jawab, dia selalu memberikan kebahagiaan untuk Ragini dan Arjun, walaupun Rohit tau jika Arjun bukan anak kandungnya sendiri. Tapi nasib Ragini memang benar-benar sangat miris! Saat dia mulai mencoba membuka hatinya untuk Rohit, dia malah pergi untuk selama-lamanya" jelas Akash.
Laksh menahan rasa sesak di dadanya, dia menahan airmatanya untuk tidak menetes.
Dia merutuki dirinya sendiri, dia menyesal telah menuduh Ragini. Padahal kenyataannya Laksh lah sumber kesedihan Ragini. Entah bagaimana cara Laksh untuk meminta maaf kepada Ragini.
Harusnya Ragini yg bersikap acuh kepada Laksh, bukan malah sebaliknya. Laksh mengepalkan tangannya.
"Akash.. Aku minta alamat rumah Ragini"
"Untuk apa Laksh?"
"Menyelesaikan hubungan yg belum sepenuhnya selesai"
Akash mengangguk, dia memberikan alamat lengkap rumah Ragini.
'Maafkan aku Ragini, maafkan ayah Arjun. Aku harus segera menemui Ragini untuk menebus semua dosaku kepadanya' batin Laksh.
***
Sementara itu di rumah Ragini..
"Ayo.. Arjun cepat.."
"Ibu.. Memangnya kita ingin kemana?"
"Arjun kau diam tak usah banyak tanya, kau ikuti saja ibu yah, Nak. Rumah ini bukan milik kita"
Arjun hanya mengangguk.
Ragini pergi dengan membawa dua koper besar dan tas ransel di punggungnya. Sesekali dia menatap lirih rumah yg dulu dia tempati dengan Rohit.
"Pergi yg jauh yah, jangan pernah kembali kesini lagi" ucap Meenu sinis.
Ragini hanya terdiam, tangannya memegang erat tangan mungil milik Arjun.
"Kita akan tingga kemana, Bu?"
Ragini tak menjawab, dia berkutat dengan pikirannya sendiri.
To be continued....