
Happy Reading
****
"Ingatan yang sempat terlupakan akhirnya kembali, Dokter Clara.."
Clara terdiam sejenak dan Cassie menyadari bahwa wanita itu menahan napas. Sorot mata penuh keterkejutan tersirat begitu jelas di mata Clara.
"Apa yang kau pikirkan, Dokter? Apakah itu pertanda baik?"
Clara menarik napas dan berdehem kecil.
"Tolong bawa dia menuju ruangan pemeriksaan CT Scan," perintah Clara pada seorang perawat.
"Yes, Prof.."
"Pasien yang selanjutnya,"
Cassie tertawa kecil dan itu membuat tenaga kesehatan yang berada di sana menatapnya dengan tatapan heran.
"Aku tidak akan melakukan pemeriksaan," ujarnya sambil mengambil posisi berdiri, "Thank you, Dokter. Saya sudah jauh lebih sehat setelah berbicara dengan Anda."
Clara terdiam dan sorot mata tajamnya berubah menjadi kemarahan.
"Bawa pasien yang selanjutnya," tegasnya lagi.
"Yes, Prof.." kata seorang perawat dan buru-buru melangkah keluar dari sana untuk memanggil antrian pasien yang lain.
"Semoga harimu menyenangkan, Dokter.." ucapnya dengan nada penuh arti. Mata Cassie melirik ke arah tangan kanan Clara yang terkepal kuat di atas meja dan entah mengapa, itu membuat Cassie senang.
Marahlah, sialan.
Dari hati Cassie yang paling dalam, dia tahu bahwa Clara saat ini ingin mencaci-makinya. Namun, Clara harus menahan diri karena para tenaga kesehatan yang lain ada di dalam ruangan itu. Andai mereka sendiri di suatu tempat, Cassie yakin wanita itu tidak akan segan-segan menghajarnya.
"Yes. Thank you," jawab Clara singkat dan langsung fokus kembali ke kertas kerjanya.
Cassie berjalan keluar dari sana dengan langkah penuh kepercayaan diri. Dari balik punggungnya dia bisa merasakan tatapan tajam Clara dan juga, Cassie bisa mendengar bisikan aneh dari para tenaga kesehatan yang ada di sana.
Perang sesungguhnya telah di mulai, Clara
****
"Berapa antrian lagi?" tanya Clara dengan nada sedikit kesal. Kaki kirinya memukul-mukul lantai dalam gerakan tidak sabar.
"Tinggal satu pasien lagi, Prof.."
Clara meneguk air mineralnya kemudian menggoyang-goyangkan kecil kepalanya agar bisa fokus kembali. Sejak kepergian Cassie, dia benar-benar kehilangan fokusnya dalam bekerja. Pening dan mata berkunang-kunang menyerang dia dan sekeras apa pun Clara berusaha untuk kembali fokus, dia tetap tidak bisa.
"Apa jadwalku setelah ini?"
"Anda memiliki waktu kosong setelah makan siang sebelum melakukan operasi pada pukul tiga sore.."
Oh my.. Clara ingat jadwalnya tersebut dan tahu operasi bedah apa yang harus dia lakukan nantinya. Operasi itu akan memakan waktu hampir delapan jam, bahkan lebih. Sial. Dia mengumpat lagi dan meneguk air mineralnya hingga habis. Clara harus tetap bekerja walaupun dirinya membutuhkan istirahat. Detik dia menaruh botol mineralnya, pasien terakhirnya masuk. Clara segera menegakkan punggungnya dan memberikan senyum profesional.
-------
Pukul setengah satu siang, akhirnya Clara menyelesaikan pekerjaannya. Dia berjalan sendiri di lorong menuju ruang kerjanya seraya memukul-mukul bahu kirinya yang pegal. Clara menguap lebar hingga air mata keluar dari kedua sudut matanya. Masuk ke dalam ruangan, dia melihat dua box makanan ada di atas mejanya. Berjalan masuk seraya melepas jas putihnya, Clara melirik ke arah box tersebut dan tersenyum tipis.
"Mama.." bisiknya pelan dan duduk di kursinya untuk menikmati sandwich yang berada di dalam box makanan tersebut, "Selalu memarahiku, tapi tetap peduli.." gumamnya pelan.
Clara benar-benar lelah secara mental dan fisik. Kelelahan itu semakin diperburuk oleh pikiran negatifnya tentang perkataan Cassie.
"Fvck," umpatnya pelan ketika kembali mengingat perkataan Cassie. Dia menaruh potongan sandwich yang tersisa sedikit lagi ke dalam box makanan dan menyandarkan tubuh di punggung kursi. Jemari tangan kirinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dan mulai berpikir.
Dia bisa saja memberitahu Ibu christov saat ini juga, tapi Clara sadar bahwa Theresa benar-benar tidak bisa diharapkan. Membujuk Christov saja dia tidak mampu dan malah membuat keadaan semakin memburuk. Dia yakin Theresa belum tahu tentang ingatan Cassie yang sudah kembali karena jika hal itu terjadi, Theresa sudah pasti langsung menghubunginya.
"Untuk sekarang, lebih baik dia tidak tahu," geramnya pelan.
Clara akhir menyadari bahwa bukan Christov sumber permasalahan yang perlu diselesaikan, tetapi Cassie. Cassie-lah sumber masalah yang perlu diselesaikan. Cassie-lah yang menjadi sumber ancaman baginya.
"Wanita itu yang harus disingkirkan.."
Dia kembali meraih sandwich-nya dan memakan sisanya hingga habis.
"Namun, aku tidak punya waktu mengurusi si-sialan itu dengan segala kesibukanku," ujarnya dengan nada kesal ketika menyadari jadwalnya yang padat.
Ponselnya yang berada di atas meja berdering dan Clara meraihnya. Sebelum menerima sambungan panggilan tersebut, dia memeriksa terlebih dahulu layar ponselnya. Wajah cemberut Clara segera hilang dan digantikan dengan senyum penuh kebahagiaan. Ekspresi wajahnya bak seorang bajak laut yang akhirnya menemukan harta karun yang telah dicari-cari sejak dulu.
"Oh my! Kenapa aku lupa jika aku punya Madison?!"
***
Cassie melihat bayangannya sendiri di cermin dan merasakan deja-vu dengan pakaian yang dia pakai. Dia mengenakan sepotong gaun mini serut berwarna biru tanpa lengan. Gaun serut itu memamerkan lekukan tubuh, bahu, dan kaki jenjangnya. Anting kecil, hills, dan tas tangan kecil semakin mempercantik dirinya. Rambutnya digerai sedemikian rupa dan dikumpulkan pada bahu kiri agar memamerkan tatto burung yang berada di punggung atas kanannya.
Namun, apa yang dia kenakan saat ini bukanlah sekadar pakaian biasa. Ini adalah gaun yang sama ketika pertama kali bertemu Christov di sebuah pesta sekitar bulan Maret lalu. Di sinilah dia, memakai pakaian, dandanan, dan riasan yang sama seperti dulu untuk menemui Christov yang mengajaknya makan malam bersama.
"Betapa cepatnya waktu berlalu.." ucapnya dengan nada mengenang.
Tinggal tiga hari lagi, bulan sebelas akan berakhir dan digantikan dengan bulan dua belas. Ingatan Cassie tentang pertemuan pertama dia dengan Christov di bulan Maret yang lalu masih tersimpan jelas. Dia tersenyum tipis, mengingat Christov membantunya saat bertengkar dengan mantan kekasihnya dan sejak itulah kisah mereka di mulai.
Awalnya hubungan mereka hanyalah sebatas friends with benefit, lalu menjadi sepasang kekasih, dan yang terakhir menjadi sepasang suami isteri. Betapa banyaknya kejadian yang terjadi selama satu tahun belakangan ini dan Cassie menyadari bahwa tahun ini adalah tahun terbaik untuknya karena di tahun ini, dia bisa mengenal Christov. Pria kaku yang pendiam, tapi memiliki hati bak malaikat.
Tahun ini benar-benar special berkat kehadiran Christov, tapi tahun ini juga adalah tahun terburuk bagi Cassie karena penghianatan yang dilakukan keluarga dan ketiga temannya. Di tambah dengan kehadiran Theresa dan Clara yang membuat tahun ini semakin buruk.
"Time to go," bisiknya lembut.
Dia berjalan ke arah tempat tidur dan mengenakan mantel bulu hitam. Cassie keluar dari gedung apartemennya dan melangkah masuk ke dalam mobil. Dia membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai pada restoran yang Christov katakan padanya. Setelah memarkirkan mobil, Cassie membawa tas kecilnya dan melangkah masuk ke gedung.
"Good night, Miss. Apa anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?" sapa seorang pramusaji dari balik meja lobi setelah dia masuk ke dalam restoran bergaya klasik tersebut.
"Saya memiliki janji dengan seseorang di sini atas nama Christoval O'Connel."
Pramusaji itu memeriksa sesuatu di dalam bukunya lalu mengangkat kepala, "Di meja 20. Seseorang bisa membantu Anda--"
"Tak apa. Aku bisa mencarinya sendiri. Aku sudah pernah datang ke restoran ini sebelumnya," katanya lembut lalu beralih dari sana menuju sayap kiri.
Beberapa pasang pasangan tengah menikmati makan malam bersama dan ditemani lantunan musik live lembut. Pencahayaan yang temaram dengan lampu oranye membuat suasana di restoran bergaya klasik itu terasa mewah dan romantis.
Satu sudut bibir Cassie terangkat ke atas ketika akhirnya melihat Christov. Duduk di meja yang berada di sudut ruangan dan tengah sibuk dengan ponselnya. Saat Cassie semakin dekat, pria itu mengangkat kepala dan pandangan mereka segera bertemu. Namun, hal yang membuat hati Cassie menghangat adalah senyum lebar penuh kelegaan dari Christov yang menyambut kedatangannya.
****
Apa dia tidak datang? Pikir Christov ketika dua puluh menit sudah berlalu dari waktu janji yang telah ditentukan. Cassie tak kunjung datang, tapi wanita itu sudah mengiriminya pesan bahwa dia berjanji akan datang. Christov mendengus dan merasa ragu akan kedatangan Cassie.
Apa aku perlu menghubunginya?
Matanya menatapi nomor ponsel Cassie, kaki kirinya mengetuk-ngetuk lantai, dan jari telunjuk tangan kanannya benar-benar tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menekan tombol memanggil tersebut.
Kita tunggu saja sebentar lagi.
Christov menjilat bibir bawahnya dan memfokuskan pendengarannya untuk mendengar lantunan musik lembut di restoran tersebut. Terdengar pula sayup-sayup bunyi percakapan orang-orang dan juga bunyi langkah kaki seseorang. Dari langkah kaki yang beradu dengan lantai marmer tersebut, Christov tahu bahwa seseorang itu mengenakan heels. Langkah kaki yang terdengar bagaikan detak jantung tersebut semakin mendekat ke arahnya.
Tanpa berpikir panjang, Christov mengangkat kepalanya dari ponsel ke arah depan dan detik itu pula, matanya bertemu dengan mata biru Cassie. Jantungnya seolah berhenti berdegup dalam sepersekian detik melihat penampilan luar biasa Cassie.
"Thank you, Christov," bisik Cassie lembut.
Christov menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Dia tetap berdiri di sana sembari menunggu Cassie duduk. Christov memperhatikan tiap inci penampilan Cassie yang benar-benar luar biasa. Seperti selebriti saja. Pikirnya.. Cassie melepas mantel bulunya, tapi Christov melihat wanita itu tampak kesulitan.
"Biar aku membantumu," ujarnya.
"Uhm.. Okay.."
Christov mengambil posisi ke belakang tubuh Cassie untuk membantu melepas mantel bulu tersebut. Dia bisa mencium aroma lembut Cassie, tapi hal yang benar-benar menarik perhatiannya saat ini adalah tatto burung yang ada di punggung kiri atas Cassie. Tatto sekumpulan burung yang terbang yang nampak sangat kontraks dengan kulit Cassie.
Tanpa sadar, Christov menahan napas dan jantungnya berdegup kencang. Dia memegang mantel itu di tangan kanannya dan menatap belakang tubuh Cassie dari atas hingga bawah. Tangan kirinya bergerak dengan semaunya dan mengelus permukaan tatto burung yang menonjol di atas kulit Cassie.
Christov mengelusnya dengan lembut. Matanya tertuju dan terfokus pada tatto itu. Dia merasakan permukaan tatto tersebut dan entah mengapa, permukaan tangannya terasa tidak asing dengan tatto itu. Seolah dia sudah biasa menyentuh itu.
Mendadak, Christov merasakan sengatan aneh di kepalanya dan dia buru-buru memejamkan mata dan menarik tangan kirinya untuk memegang kepalanya yang seperti tersengat listrik tersebut. Sat hal itu terjadi saat sengatan aneh itu muncul, sekumpulan potongan bayangan acak muncul di kepalanya. Dalam potongan bayangan acak itu, dia melihat wanita tinggi berambut coklat di sebuah lorong mewah yang berjalan memunggunginya, mengenakan dress mini biru, dan Christov bisa melihat tatto burung itu lagi.
Apa itu?
"Christov? Kau okay?" suara khawatir Cassie menyadarkan dirinya. Christov membuka mata dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Cassie yang menatapnya khawatir.
"Kau okay?" tanya wanita itu lagi.
Christov terdiam dan memiringkan kepalanya untuk meneliti wajah Cassie. Tatapannya turun lagi melihat dress mini biru yang dikenakan oleh Cassie. Dia menelan ludahnya dengan susah payah dan menatap Cassie kembali yang masih menatapnya.
Christov menunduk dan menggeleng kecil, menolak untuk menjelaskan apa yang terjadi. Kenapa dia melihat bayangan tubuh Cassie? Christov yakin potongan bayangan tadi adalah Cassie, tetapi kenapa? Kenapa dia muncul?
Dia beralih dari hadapan Cassie dan menggantungkan mantel wanita itu pada gantungan yang tersedia di dekat mereka. Christov duduk di hadapan Cassie yang masih menuntut penjelasan. Wanita itu hendak berbicara, tetapi pramusaji datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelah pramusaji itu pergi, Cassie akhirnya berbicara lagi.
"Ada apa?"
"Uhm.. Well.. Kepalaku tiba-tiba dihantam oleh pening. Hanya sebentar dan aku tidak merasakannya lagi.."
"Kau menyentuh punggungku.." tuduh Cassie.
Christov tersenyum kaku, "Maafkan aku, Cassie.. Itu benar-benar di luar kendaliku.. Uhh.. maksudku, aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba melakukannya. Tatto-mu itu.. Tatto-mu.." Christov berhenti berbicara untuk mencari kalimat yang pas untuk mendeskripsikan perasaannya saat melihat tatto burung itu.
"Ada apa dengan tatto-ku? Ada yang salah?"
Christov menggaruk punggung lehernya, "Alasannya cukup klise dan aneh, tapi itu benar terjadi. Uhm.. Itu.. ah.."
"Kau bisa memberitahu, Christov. That's okay," ujar Cassie dengan senyum lembut.
"Aku merasa jika aku pernah melihat tatto-mu sebelumnya di suatu tempat," ucap Christov, "Tanganku bergerak sendiri seolah aku sudah terbiasa menyentuhnya.."
Christov menyelesaikan perkataannya dan menatap wajah Cassie yang tak berekspresi. Itu membuatnya merasa gugup.
"Aku bukanlah pria mesum yang berusaha menggodamu dengan gombalan rendahan, Cassie.. Itu benar--"
"Aku senang mendengarnya," potong Cassie dengan nada misterius, "Ternyata masih sama,"
Apa? Apa yang sama. Christov membuka mulutnya, hendak berbicara kembali. Namun, pramusaji itu sudah datang dengan makanan mereka. Steak dengan beberapa potong sayuran seperti kentang, kacang polong, dan wortel dalam bentuk dadu.
"Kau tidak memesan jus atau sirup?" tanya Cassie ketika pramusaji itu menuangkan wine pada gelas mereka berdua.
"A--Apa? Jus? Sirup? Well.." Christov tersenyum dan merasa bingung dengan pertanyaan Cassie. Kenapa wanita itu bertanya seolah mereka sudah pernah makan bersama sebelumnya?
"Aku ingin minum alkohol malam ini," katanya.
Pramusaji itu meninggalkan botol wine yang masih tersisa banyak lalu pergi dari sana.
"Selamat makan, Christov."
"Selamat makan.."
Mereka makan menu utama mereka dalam diam. Setelah steak itu habis, pramusaji itu datang membawa menu pencuci mulut. Christov bersandar di punggung kursi dan menyesap wine miliknya dengan perlahan. Namun, tidak dengan Cassie yang minum begitu.. Rakus?
Wanita itu menegak wine dalam gelasnya bagaikan air minum biasa. Dia mengisi gelas ketiganya lagi saat Christov masih menikmati gelas pertamanya. Christov membuka mulutnya sedikit dan menatap heran Cassie yang menegak wine-nya lagi.
"Kau sudah minum terlalu banyak," tegur Christov seraya menarik botol wine dari atas meja dan menaruhnya di bawah kursi yang dia duduki. Cassie tertawa kecil lalu menumpukan dagunya di atas kedua tangannya.
"Apa?" tanya Christov ketika Cassie hanya menatapinya, "Kau mabuk?"
Cassie menggeleng, "Aku bukan orang yang gampang mabuk. Setidaknya, aku butuh dua botol wine untuk membuatku mabuk. Aku sangat.. sangat toleran pada alkohol.."
"Bagaimana pun, itu tidak baik untuk kesehatanmu," katanya dengan nada mengingatkan.
"Kau terdengar seperti ayahku. Jadi aku harus minum jus atau sirup saja?"
Christov menatap heran Cassie dan berspekulasi bahwa wanita itu sudah mabuk. Huh.. Bukan ini rencana awalnya. Seharusnya mereka berdua berbicara santai tentang diri mereka masing-masing dan bukannya seperti ini, saling membicarakan hal acak yang tampak tidak perlu. Christov ingin mengenal lebih dekat tentang Cassie.
"Apa kau suka mawar, Christov?" tanya Cassie tiba-tiba saat Christov sibuk dengan pikirannya.
"Apa?"
Apa dia bilang? Mawar?
"Apa kau suka mawar? Aku mengenal seseorang yang begitu suka pada mawar karena aku.."
Dia sedang bicara apa sih?
Saat Christov menyesap wine-nya, Cassie tiba-tiba berdiri dan menggeser kursinya ke arah Christov sehingga wanita itu duduk di sampingnya. Christov menatap wanita itu dengan tatapan heran di saat Cassie menatapnya dengan tatapan penuh impian.
Dia benar-benar sudah mabuk.
Tubuhnya mendadak membeku ketika melihat tangan kanan Cassie terangkat ke atas kepalanya dan tanpa berlama-lama, Christov merasakan elusan tangan Cassie pada rambutnya. Christov terlalu terkejut untuk berbicara kembali dan memilih untuk menatap mata Cassie yang menggelap.
"Aku suka rambutmu," kata Cassie dengan nada lembut dan Christov memejamkan matanya lagi, merasakan deja vu.
Dia bisa mendengar suara dan kalimat yang di ucapkan Cassie di dalam kepalanya. Suara dari masa lalu. Berdengung dan potongan bayangan itu muncul lagi. Potongan yang menunjukkan Christov berada di tempat gelap dengan lampu kerlap-kerlip. Pada potongan bayangan acak itu, dia melihat kembali wanita berambut coklat itu lagi.
Christov membuka matanya lagi ketika merasakan sentuhan tangan Cassie pada pipinya. Dengan lembut, Cassie mengusap alis, kelopak mata, lalu tulang hidungnya, dan kemudian turun ke arah permukaan bibir Christov. Jempol Cassie mengelus bibirnya dengan lembut dan Christov bisa merasakan getaran unik tersebut. Getaran yang membangkitkan setiap inci saraf tubuhnya.
"Apa kau suka mawar, Christov?" tanya wanita itu lagi dengan suara pelan yang menghanyutkan.
"Entahlah.." jawab Christov dengan suara berbisik.
Dia suka. Dia suka cara Cassie memanggil namanya. Entah mengapa, namanya yang pasaran dan biasa itu terdengar luar biasa saat Cassie ucapkan.
Tubuh Christov sedikit menegang ketika merasakan tangan Cassie yang menyentuh punggung lehernya. Mata mereka saling bertatapan dan Christov tahu mereka memikirkan hal yang sama saat ini. Matanya turun ke bawah dan melihat bibir penuh milik Cassie lalu turun lagi ke arah belahan da-da Cassie yang sedikit mengintip dari balik gaun-nya.
Christov menatap wajah Cassie lagi lalu mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Cassie yang hangat dengan punggung tangannya. Mengelusnya lembut hingga membuat wanita itu memejamkan mata. Christov berteriak penuh kemenangan dalam hatinya saat melihat Cassie menikmati sentuhan darinya. Dia menarik tangannya kembali untuk menggenggam tangan Cassie yang berada di bawah meja. Mereka saling bertatapan lagi. Bertatapan dalam diam dan mengirimkan ribuan pesan dan getaran.
"Apa kau mau melihat mawar denganku, Christov?"
***
Miss Foxxy
Beberapa kalimat percakapan Christov dan Cassie di chapter 27 "The Night We Met", aku masukkan lagi ke sini. Jadi Cassie agak sengaja bilang beberapa kata biar Christov merasakan deja vu gitu. Bolehlah baca chapter 27 lagi biar ingat beberapa kalimat yang mirip.