Remember Me

Remember Me
Siapa?



Happy Reading


***


Christov menguap lebar saat berjalan di sepanjang lorong menuju unit apartemennya. Tangannya memeriksa jam tangan yang dia kenakan.


"Masih pukul lima sore," gumamnya pelan, tapi rasanya seluruh tubuh Christov terasa berat. Dia benar-benar kelelahan setelah seharian sibuk bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain.


Masuk ke dalam unit apartemennya, Christov melepas sepatu dan kaos kakinya. Lalu berjalan menuju dapur untuk mencari air mineral. Christov duduk di kursi makan, melepaskan jaket, lalu meneguk air mineralnya hingga habis.  Dia terdiam sejenak dan menatap sekitar apartemennya yang sepi. Christov suka sendirian dan tempat sunyi, tapi sunyi yang dia rasakan saat ini terasa aneh. Dia merasa tidak nyaman dengan kesendiriannya.


Christov menghela napas dan kepalanya kembali mencerna kejadian yang terjadi kemarin malam. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu saat mengingat kembali malam itu. Christov benar-benar tidak menyangka bahwa makan malam mereka akan berakhir di hotel. Namun, dia melakukan 'hal' tersebut karena Cassie mengundangnya.


"Ck.." dia berdecak lidah dan entah mengapa merasa aneh, "Bagaimana bisa aku meniduri wanita yang masih memiliki masa lalu bersama orang lain?"


Christov berspekulasi bahwa sosok yang selalu Cassie ceritakan adalah mantan kekasihnya. Entah mengapa, dia merasakan perasaan aneh di dadanya. Christov berpikir betapa beruntungnya pria yang Cassie cintai tersebut.


"Apa dia tengah menggunakan-ku sebagai pelariannya?" gumam Christov dengan suara skeptis, "Jahat sekali jika Cassie menggunakan-ku sebagai pelarian.."


Christov menarik jaketnya mendekat dan memeriksa setiap kantong jaket untuk mencari ponselnya. Dia perlu menghubungi Cassie walau tidak tahu apa yang harus dikatakan. Rasanya, Christov merasa ini salah. Meniduri wanita yang tidak memiliki hubungan denganmu lalu hilang tanpa kabar. Jika Cassie memilih untuk menghilang setelah kejadian kemarin, Christov akan memaklumi-nya. Walau begitu, Christov perlu mencari kejelasan tentang mereka.


"Setidaknya, aku harus mencari kejelasan dari hubun--" Christov mendadak berhenti berbicara saat merasakan objek lain di dalam kantong jaketnya. Dia menarik objek tersebut dan menemukan amplop yang dia temukan pagi tadi saat di hotel.


"Aku hampir melupakan benda ini," dia membalikkan permukaan amplop berwarna biru gelap nyaris hitam berbentuk persegi tersebut dan melihat logo dua cincin dengan dua burung merpati di sana.


"Undangan pernikahan?"


Christov berdehem kecil dan membuka penutup amplop tersebut lalu menilik isi amplop. Apakah ini milik Cassie? Mungkin wanita itu tidak sengaja meninggalkannya, bukan?


"Apa ini?" dia menjatuhkan benda yang berada di amplop ke atas meja dan menemukan secarik kertas kecil, undangan, dan satu kunci antik kecil.


Christov menatap ketiga benda itu dengan tatapan bingung lalu memilih untuk membuka undangan yang terlipat tersebut. Jantungnya seolah berhenti berdetak dalam sepersekian detik. Jiwanya seolah tertarik ke dimensi lain melihat namanya dan nama Cassie terpampang di sana.


"Rhode Island, 15 Agustus?" bisiknya, "Sehari sebelum kecelakaan.."


Dia membelalakkan mata saat mengingat kembali transaksi pembelian tiketnya dan sekarang, Christov merasa semua transaksi itu masuk akal. Napasnya berderu cepat dan wajah Christov tiba-tiba memucat. Rasa sakit di kepalanya kembali muncul, tapi Christov tetap memasakkan diri untuk membaca undangan itu.


"Undangan pernikahan? Apakah ini lelucon? Huh... Apakah ini lelucon Cassie?!!!" suaranya meninggi, tapi dia kembali tersadar akan transaksi yang dia lakukan. Namun, Clara juga memberinya undangan pertunangan beberapa waktu yang lalu. Ini benar-benar membuat Christov kebingungan.


"Siapa.. Siapa sebenarnya yang benar? Clara? Atau Cassie?"


Christov membuka lembaran kertas lain tersebut untuk mencari bukti yang lain dan menemukan ID serta password akun goggle tertulis di dalam kertas.


ID : cnc081593@gmail.com


Password : cnc091995


"Apa lagi ini? CnC?"


"08-15-93 adalah tanggal lahirku," katanya ketika mengetik ID email itu ke dalam ponselnya dengan jemari yang bergetar hebat.


"Lalu, bagaimana dengan angka 09-19-95?"


Akun google tersebut berhasil masuk, tapi dia membutuhkan kode verifikasi melalui pesan. Matanya melihat nomor ponsel yang empat angka di tengahnya di hapus, tapi menampilkan tiga angka terakhir dan ketiga angka terakhir itu sama seperti nomor ponsel miliknya.


Christov sudah dapat menebak apa yang akan terjadi seandainya dia menekan tombol untuk kode verifikasi tersebut. Dia menekan tombol tersebut dan hitungan mundur satu menit muncul di layar ponselnya. Berlalu lima detik, ponselnya segera bergetar, tanda kode verifikasi telah masuk.


Kode verifikasi tersebut otomatis terisi dan layar ponsel segera berganti ke isi dari akun google tersebut. Christov membuka drive google tersebut dan lagi-lagi, jiwanya seolah tertarik dari dalam tubuhnya . Napasnya berderu dengan cepat dan kepalanya terasa sangat sakit. Sangat sakit hingga terdengar dengung yang menyakitkan telinganya.


"Apa ini? A--Apa ini?" matanya yang membelalakkan lebar berubah merah. Urat-urat di dahinya muncul karena dia memaksa kepalanya yang sakit untuk berpikir. Tatapannya menatap penuh ketakutan melihat foto pernikahannya dengan Cassie. Mereka berdua, tersenyum lebar pada kamera sembari mengangkat tangan kanan mereka yang untuk memamerkan jari manis yang dilingkari oleh cincin. Cassie nampak cantik dalam balutan gaun putih panjang dan lagi-lagi, ingatannya akan transaksi di butik Gerald kembali muncul.


Semuanya masuk akal sekarang. Batin Christov. Tiket pesawat, gaun, dan cincin.


Christov tetap memaksakan diri membuka foto yang lain walau kepalanya serasa akan pecah karena dia memaksa dirinya sendiri untuk mengingat kenangan dalam foto tersebut. Namun, tidak ada. Tidak ada yang terlintas. Terus membuka foto yang lain hingga dia menemukan video berdurasi satu jam. Christov tanpa ragu menekan tombol mulai dan menonton video pernikahan tersebut. Dia melihat saudarinya ikut menghadiri pernikahan itu bersama beberapa wajah yang tidak Christov kenali, kecuali..


"Gerald.. Dia tahu.. Pemilik butik itu tahu," bisiknya penuh ketidak-percayaan. Pemilik butik itu mengenalnya, tapi dia berpura-pura tidak mengenal Christov. Lalu.. Lalu mengapa Gerald yang membawa Cassie ke altar pernikahan? Apa hubungan mereka? Jika mereka memang menikah, di mana keluarga Christov? Kenapa hanya ada beberapa orang saja? Mengapa mereka menikah? Lalu, mengapa pernikahan itu disembunyikan darinya? Cassie.. Bagaimana dengan Cassie? Apakah wanita itu bersandiwara selama ini?


Christov menjatuhkan ponselnya ke atas meja saat melihat senyum Cassie yang berjalan menuju altar. Dia bangkit dari duduknya, menatap ponselnya yang masih memutar video itu dengan tatapan ngeri. Kepalanya akan pecah dan perutnya bergemuruh hebat. Christov berlari menuju wastafel lalu mengeluarkan semua isi perutnya. Mual. Di merasa mual melihat semua itu. Potongan bayangan gelap itu muncul lagi dan wajah-wajah yang dia lihat dalam foto itu kembali muncul. Berputar dan menyatu untuk menyakiti diri Christov. Ucapan-ucapan Cassie sekarang ikut masuk dan merasuki pikirannya. Apakah Christov adalah sosok yang selalu Cassie bicarakan itu? Apakah dia-lah pria yang selalu Cassie bicarakan saat makan malam itu?Kenapa? Apa yang terjadi selama enam bulan ini? Apa yang Christov lewatkan? Siapa mereka semua? Apakah ini semua hanyalah kebetulan atau lelucon?


"Oh my.. Siapa yang harus kupercayai?"


****


Christov membuka matanya ketika mendengar suara dering ponsel. Dia segera terbatuk-batuk, tapi setiap dia terbatuk-batuk, dadanya seolah terbakar oleh rasa sakit yang teramat setiap dia terbatuk. Christov berusaha menggerakkan tubuhnya yang tegang dan menyadari bahwa dirinya berbaring di atas lantai dapur yang dingin. Christov benar-benar tidak ingat mengapa dia bisa berakhir di sini.


"Fvck," dia mengumpat kencang dan tetap berusaha bangkit untuk menghentikan dering ponsel yang semakin menggila. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan tubuhnya berkeringat walaupun Christov merasa kedinginan. Kedua tangannya berpegangan pada pinggiran wastafel untuk membantunya bangkit, tapi rasa mual menghantamnya lagi ketika melihat muntahannya yang berserak di dalam wastafel.


"Sial! Sial!" Christov menutup mulutnya dengan satu tangan, sedangkan satu tangan yang lain menyalakan air untuk membersikan muntahan tersebut. Dengan tatapan yang buram, Christov meraih ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.


"Fvck.. Fvck.." dia mengumpat lagi ketika tangannya tidak mau diajak bekerja sama. Christov benar-benar kacau. Pusing, mual, dan tubuh meriang. Suara air dari kran wastafel berbaur dengan suara dering ponsel dan juga detak jantungnya. Bergabung menimbulkan keributan pada telinga Christov yang tiba-tiba berubah sensitif. Suara-suara itu terdengar sangat keras dalam telinganya dan itu membuat keadaannya semakin memburuk.


"Kumohon.. Kumohon.. Hentikan suara yang ribut itu," bisiknya sambil berusaha menekan tombol terima di ponselnya.


"Halo, Christov? Kau ada di mana?" Christov mendengar suara wanita dari seberang, tapi dia tidak yakin siapa pemilik suara tersebut.


"Ada apa? Siapa ini?"


"Christina. Apa kau tidak menyimpan nomor ponselku? Kau ada di mana, huh? Aku berusaha menghubungimu sejak kemarin malam. Ini soal Mama..."


"Apartemen," katanya dengan batuk yang terus berlanjut, "Ada apa dengan Mama?


"Kau terdengar tidak okay? Kau sakit?"


Christov menggeleng dan menatap sekitar apartemennya dengan tatapan tidak fokus.


"Aku okay.. Aku okay.." ucapnya dengan suara yang tidak menyakinkan.


"Kau tidak baik-baik saja, Christov. Aku sedang dalam perjalanan ke apartemenmu saat ini. Bersiaplah jika kau masih sanggup. Aku akan membawamu ke rumah sakit,"


"No.. I'm okay, Christina.."


"Aku datang, Christov.."


Sambungan terputus dan Christov menaruh kembali ponselnya ke atas meja dengan kasar lalu mematikan kran airnya. Tangannya mengumpulkan ketiga barang yang Cassie berikan dan memasukkannya ke dalam amplop dengan susah payah. Dia tidak mau siapa pun menemukan barang ini sampai Christov menemukan kebenaran dari kejadian tersebut.


Dengan langkah lunglai dan sisa tenaganya yang tersisa, Christov berjalan menuju kamarnya. Dia berusaha berjalan ke arah lemari untuk berganti pakaian, tapi Christov tahu dia tidak mampu. Rasa ketidakmampuan ini membuat Christov marah. Sangat marah.


"Sial.. Sial.. Sial.." dia mengumpat lagi dan memilih berjalan menuju tempat tidur. Langkahnya begitu lunglai dan seisi kamarnya nampak bergerak lalu berputar. Christov kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri dan membuatnya terjatuh di atas lantai dengan sangat keras.


"Fvck.." dia mengumpat lagi dengan suara gemetar. Christov menggerakkan tubuhnya untuk merangkak di lantai menuju tempat tidurnya. Terus merangkak lalu memaksakan diri untuk berdiri sesaat sampai di sisi ranjang. Tanpa berpikir panjang, Christov segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Jatuh dengan pasrah dan membiarkan kegelapan itu merenggut kesadarannya lagi.


****


Dua hari kemudian. Selasa, 1 Desember 2020


Christina masuk ke dalam kamar inap Christov dan menemukan Clara ada di sana. Duduk di kursi samping ranjang Christov yang tengah berbaring tak sadarkan diri. Clara segera melepaskan kedua tangannya yang menggenggam tangan Christov saat menyadari kedatangan Christina. Mereka berdua saling bertatapan dan Clara segera berdiri untuk menyapa.


"Oh.. Hi.."


Christina mengangguk kecil, "Aku akan datang nanti saja,"


"No.. No.. Aku sudah selesai," ujarnya dengan nada canggung.


"Oh okay.. Mama-ku mencarimu tadi.."


"Oh benarkah? Dia sudah baikan?"


Christina menatapnya datar, "Yah.. Berkat perawatanmu. Aku tidak pernah tahu Ibuku terkena penyakit seperti itu karena dia selalu menjaga kesehatannya dengan sangat baik."


"Seseorang yang menjaga kesehatannya dengan baik akan tetap dapat terserang penyakit yang tidak terduga, Miss O'Connel.. Kalau begitu saya permisi,"


"Yes, Dokter."


Christina mengikuti arah kepergian Clara hingga wanita itu hilang dibalik pintu. Dia memutar tubuhnya ke arah Christov lalu berjalan mendekat.


"Bangunlah dan berhenti berpura-pura tidur," ujarnya seraya mengambil posisi duduk di kursi yang ditempati oleh Clara sebelumnya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" kata Christov dengan mata yang masih tertutup.


"Karena aku tahu.. Ibu akan datang ke tempat ini sebentar lagi,"


"Kalau begitu aku akan pura-pura tidur lagi.."


Christina menatap saudaranya tersebut lalu melipat kedua bibirnya sebelum kembali berbicara.


"Kau sudah ingat atau ada seseorang yang memberitahumu?" kata Christina tanpa pembukaan dengan nada santai.


"Huh..." Christov mendesah seraya tertawa kecil lalu membuka matanya untuk menatap Christina, "Bagaimana bisa kau tahu segalanya?"


"Karena aku saudarimu. Aku menemukan undangan tersebut di dalam saku celanaku saat aku datang ke tempatmu..."


"Ah.. Kau sudah melihat isi amplopnya?"


"Aku tidak ingin melihatnya, tapi aku sudah menyimpannya untuk berjaga-jaga.."


"Jadi, Cassie adalah isteriku atau Clara adalah tunanganku? Mana yang benar?"


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Silakan cari tahu sendiri. Aku tidak mau lagi terlibat dalam kehidupan pribadimu, Christov.."


Christov berdecak lidah dan kembali memejamkan matanya, "Aku sudah tahu kau akan menjawab seperti itu. Yah sudahlah.. Terimakasih sudah membawaku ke rumah sakit. Sudah berapa lama aku berbaring seperti ini?"


"Dua hari... Entah harus berapa kali lagi kau harus keluar masuk ke rumah sakit selama setahun ini.."


"Tergantung pertanyaanmu.."


"Apa kau tahu wanita yang aku cintai?"


"Kau jelas tahu itu."


Christov membuka matanya untuk menatap Christina lagi, "Cassie.. Aku mencintai wanita itu, bukan? Jika kami menikah, kenapa aku tidak melihat Mama dan Papa datang ke pernikahan itu? Kenapa hanya dirimu? Apa yang sebenarnya terjadi, Christina?"


"Siapa yang memberimu undangan itu?"


"Cassie.."


"Maka cari dia untuk menjelaskan itu semua padamu, Christov.."


"'Tapi--"


"Christov.." suara Theresa yang muncul dari balik pintu membuat Christov berhenti berbicara. Keduanya segera menatap pada Theresa yang masuk dalam ruangan mengenakan pakaian rumah sakit.


"Ada apa dengan Mama?" tanya Christov saat melihat Robert mendorong kursi roda Theresa.


"Cari tahu sendiri," ulang Christina dengan nada jengkel.


"Anakku.." raung Theresa.


Mata Christov tidak sengaja bertemu dengan mata Robert. Dia buru-buru membuang muka dan memutuskan kontak mata dengan ayahnya tersebut. Apakah dia juga tahu tentang pernikahan itu? Tanya Christov pada dirinya sendiri.


"Ma? Mama tidak apa-apa? Mama sakit?"


"Mama tidak apa-apa. Rasa sakit saat melihatmu berbaring seperti ini jauh lebih menyakitkan dari pada penyakit yang Mama derita.."


Christina menekan suatu tombol di samping ranjang Christov agar bagian ranjang atas Christov bergerak membentuk kemiringan tertentu.


"Thank you," ucap Christov ketika dia sudah dalam posisi setengah berbaring. Christina segera berjalan menuju sofa bersama Robert.


"Ada apa dengan Mama?" tanya Christov lagi.


"Vertigo.. Ibumu terserang penyakit vertigo," jawab Robert yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Vertigo?" ulang Christov. Dia merasa pernah mendengar istilah penyakit ini di suatu tempat.


"Bukan penyakit yang parah. Itu bisa sembuh jika mengkonsumsi obat medis yang diresepkan, dokter," timpal Christina.


"Well.. Di usia seperti sekarang, semua penyakit akan sangat berbahaya. Untuk ada Clara yang ada untuk merawat Mama. Tubuh Mama benar-benar sudah menua dan rentang terserang penyakit. Belum lagi dengan Papamu. Kedua anak Ibu sudah memasuki usia yang matang jadi--."


"Jangan memulainya sekarang, Ma," potong Christina dengan nada tajam. Seketika, suasana dalam ruangan berubah tegang. Robert yang menyadari ketegangan yang ada hanya bisa berdehem kecil.


Theresa berdecak lidah, "Apa yang Mama bicarakan benar adanya.. Aku dan Papamu akan semakin menua seiring waktu. Melihat anak-anaknya menikah dan membangun bahtera keluarga adalah impian setiap orangtua, Christina.."


"It's your dream, not our dreams, Mama*. Jangan libatkan orang lain untuk meraih mimpimu sendiri," lawan Christina dengan nada yang tidak mau kalah.


(*Itu mimpimu, bukan mimpi-mimpi kami, Mama)


"Yah.. yah.. Baiklah jika kau tidak mau, Christina. Mama pun tidak pernah berharap banyak padamu. Hanya Christov yang selalu menjadi anak yang baik.."


"Aku bukan anak baik, Mama," sanggah Christov. Matanya menatap Robert dan berharap ayahnya tersebut melakukan sesuatu akan suasana yang semakin memanas di antara Ibu dan saudarinya tersebut.


"Kau sudah bertemu dengan Clara, bukan? Di usia Mama yang sudah rentan ini, Mama benar-benar berharap--"


"Hentikan, Ma," Christina kembali memotong pembicaraan, "Mama pikir Christov menjadi anak penurut selama ini karena dia baik? Itu karena Mama punya sifat gila kontrol.."


"Christina, jaga omonganmu.." ucap Robert dengan nada tajam dan keadaaan di antara mereka semakin tegang, "Dia tetaplah Ibumu, sebenci apa pun kau kepada Ibumu..."


"Aku tidak bilang aku benci Mama. Aku hanya tidak suka cara kerja hidupnya yang melibatkan semua orang untuk meraih mimpi egoisnya. Jangan mengorbankan kehidupan seseorang demi meraih kebahagiaanmu sendiri, Ma.."


"Kebahagiaanku?! Mama lakukan ini demi Christov juga.."


"Mehhh.. Semua orang tahu bahwa Mama melakukan itu demi harga diri mama. Papa juga tahu itu, bukan?"


"Hentikan itu sekarang juga, Christina.." ujar Robert lagi, "Kita akan bicarakan ini lain waktu saja. Ini bukanlah di rumah.."


Christina memutar mata dengan jengkel lalu bangkit dari duduknya, "Terserah saja... Berada di sini hanya membuang-buang waktuku. aku akan pulang sekarang,"


"Kita punya janji makan malam bersama malam ini, Christina.." kata Robert yang sudah ikut berdiri, "Keluarga kita sudah lama tidak berkumpul bersama.


Christina menggeleng, "No.. Aku tidak bisa datang dan berpura-pura menikmati makan malam ku saat aku sendiri marah pada seseorang," dia berjalan ke arah pintu dan detik dia membuka pintu, sosok Clara sudah berdiri di sana. Wanita itu tersenyum hangat pada Christina yang menatapnya datar.


"Oh.. Hallo.."


Christina mengangguk sekali, "Cepat sembuh, Ma.." ucapnya dengan nada penuh sarkas dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Tatapan Christov tidak sengaja bertemu dengan Clara dan dia buru-buru memejamkan mata, memilih untuk mengabaikan kehadiran wanita itu dan seluruh manusia yang ada di ruangan ini. Lebih baik mengabaikan mereka semua sampai Christov tahu kebenaran yang ada.


"Aku ingin tidur," katanya.


"Jangan begitu, Christov.. Ada Clara di sini.. Yah ampun.. Clara. Kemarilah, nak.. Maafkan sifat tak ramah, Christina.."


Clara tersenyum tipis, "Well. That's okay.."


"Apa kau tidak bekerja? Ayo...  Duduklah ke mari,"


"Ah.. Tidak perlu, Mrs.. Saya masih sibuk dan tidak sengaja melintas dari kamar ini untuk memeriksa keadaan Christov. Nampaknya, dia sudah siuman.."


"Wah.. Kau sibuk, yah? Sayang sekali. Padahal kalian bisa berbincang sejenak."


"Ma... Aku ingin tidur.." ulang Christov lagi dengan nada sedikit menuntut.


"Kupikir aku akan kembali bekerja. Kalau begitu, aku pergi," dia tersenyum pada Robert dan Theresa secara bergantian.


"Datanglah nanti saat kau tidak sibuk lagi, Clara.."


"Yes, Mrs.."


Clara keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka bertiga dengan sisa ketegangan yang masih terasa jelas.


"Sudah kubilang jangan membicarakan hal itu saat Christina di sini," kata Robert, "Entah berapa kali kau harus bertengkar dengan Christina karena hal seperti ini. Theresa, anak-anak kita sudah dewasa, biarkan mereka menentukan sendiri pilihan hidup mereka dan berhenti ikut campur dengan urusan Christina dan Christov."


"Apa? Sekarang kau menyalahkanku, Robert? Christina-lah yang bermasalah. Itu juga kesalahanmu yang selalu memanjakannya dan membuat dia tumbuh menjadi wanita pembangkang.."


"Aku ingin tidur," ucap Christov lagi dengan nada yang naik satu oktaf. Dia benar-benar tidak ingin mendengar pertengkaran kedua orangtuanya tersebut.


"Mari kita pergi, Theresa. Dia butuh istirahat."


"No.. Aku akan membahas ini selagi dia masih bangun.."


"Oh my.. Theresa. Hentikan-lah semua ini dan fokus saja pada pengobatanmu.."


"Aku dan kau semakin menua, Robert. Aku dan Kau! Bukankah kau tidak menginginkan melihat anakmu menikah, huh? Apa kau tidak mau menggendong cucumu sendiri? Aku melakukan ini demi kita berdua. Demi anak-anak ktia."


"Kita tidak akan membahasnya di sini, Theresa.. Mari kita pergi sekarang.."


 "Ini demi kebahagiaan--"


"Stop it now!*" Christov tiba-tiba berteriak dan membuka matanya menatap Theresa dengan tatapan marah.


(*Hentikan sekarang)


Theresa dan Robert menatap Christov dengan tatapan heran.


"Berhenti mengatakan semua ini demi kebaikanku atau demi kebaikan Christina, atau demi kebaikan Papa. Hentikan itu, Ma. Aku muak! Benar-benar muak! Apa Mama tidak mendengar ucapan Christina? Atau Mama tidak paham juga? Jangan mengorbankan kehidupan seseorang demi meraih kebahagiaanmu sendiri, Ma.."


"Apa? Sekarang kau ikut melawan Mama, Christov?"


"Theresa.. Hentikan.. Kita bicarakan ini saat keadaannya sudah membaik," kata Robert yang hendak mendorong kursi roda Theresa.


"No! Aku tidak mau membiarkan kedua anak-anakku menjadi anak pembangkang. Itu salahmu, Robert! Kau selalu memanjakan mereka berdua saat masih muda.."


Lagi dan lagi.. Ibunya akan selalu menyalahkan orang lain yang tidak bersalah hanya demi menjaga harga dirinya sendiri.


"Pergilah.. Aku ingin tidur," kata Christov dengan nada pasrah karena dia benar-benar kelelahan. Christov tidak mau mendengar omong kosong Ibunya lagi.


"Ayo, Theresa.. Ini bukan waktu yang tepat.."


"Christov, dengarkan Mama--"


"Aku tidak mau mendengar seorang pembohong lagi," ucap Christov akhirnya ketika dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya sejak tadi, tapi Christov menahan diri untuk tidak mengatakannya. Namun.. Namun, Ibunya yang keras kepala mendorong Christov mengucapkan hal tersebut.


"Apa?"


"Aku tidak mau mendengar ucapan dari seorang pembohong seperti Mama..."


****


Miss Foxxy


Kenapa Christina gk kasih tahu Christov ajah gitu? Kan dia saudari Christov. Akan ada orang semacam Christina di dunia ini, tidak mau terlibat pada kehidupan orang lain, bahkan kehidupan keluarganya sendiri. Pemegang Tegus "Masalahmu, urusanmu". Aku tahu sosok yg kayak gitu di rumah author wkwkwk.


Lalu, bagaiman dengan Papa Christov. Uhm.. Papa Christov itu tipe yang pendiam dan nurut" ajah sama isteri. Dan semacam itulah. Theresa punya pengaruh yg kuat dan sifat yang keras dan itu buat Robert okkeh" ajah terus sama isterinya. Agak semacam itulah Robert.


Jangan lupa kopi atau mawarnya 🥰🥰🥰 I love you semua.