One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 95



Kaylin berjalan keluar kamar dengan terburu-buru untuk mengejar Alex. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya tadi malam setelah Raline mengatakan cinta pada pria itu. Namun saat hendak menuruni anak tangga, tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh seseorang.


"Raline.." ia terkejut saat melihat wajah wanita itu yang terlihat begitu marah dengan jejak-jejak air mata di kedua sudut matanya.


"Ini semua karena kau! Kalau kau tidak hadir di hidup Alex semuanya tidak akan kacau." Sentak Raline dengan emosi. Ia tidak terima saat Kakek Moses tadi mengintrogasi dirinya dengan banyak pertanyaan dan berujung dengan keputusan ia harus pulang ke Arab bersama pria tua itu.


"Raline kau itu bicara apa? Lepaskan aku!" Kaylin merasakan sakit dipergelangan tangannya.


"Kau masih tidak mengerti? Semuanya gara-gara kau wanita ******! Kau menggunakan kehamilanmu untuk menjerat Alexander ku." Raline mencengkram kuat tangan Kaylin dengan menatap tajam pada perut wanita itu.


"Aku bukan orang seperti itu. Alex lah yang mengajakku menikah sebelum aku mengetahui sedang hamil." Kaylin berusaha melepaskan cengkraman Raline, karena jujur ia merasa takut saat melihat kemarahan di wajah wanita itu ketika menatap perutnya.


"Pembohong!" Raline menarik Kaylin mendorongnya hingga mengenai Railing tangga.


"Untuk apa aku berbohong. Sekarang lepaskan aku!" Kaylin balik mendorong Raline, instingnya mengatakan ia dan kandungnya dalam bahaya dan harus segera pergi dari tempat tersebut.


"Mau kemana kau!" Raline menjambak rambut Kaylin dengan kuat saat wanita itu hendak melarikan diri.


"Aw.. Raline lepaskan aku!" teriak Kaylin kesakitan sambil berusaha membebaskan dirinya yang kembali di dorong hingga perutnya mengenai Railing tangga.


"Raline kau sudah gila!" rasanya ke-dua kaki Kaylin gemetar dan lemas saat melihat anak tangga dibawahnya. "Kau jangan berbuat nekat seperti ini!" Kaylin melawan dengan membalik keadaan, membuat Raline kini berada di ujung tangga dengan memegang kedua tangannya. Jika ia lepas pegangan tangannya maka wanita itu dapat dipastikan terjatuh kebawah.


"Ayo lepaskan aku jika kau berani?" Raline tersenyum sinis. Sungguh ia lebih baik terluka dari pada harus kembali pergi bersama kakek Moses tanpa Alexander


"Aku bukan orang jahat sepertimu," walaupun ragu tapi Kaylin menarik Raline agar tidak terjatuh. Namun yang tidak ia duga Raline justru mendorongnya dengan tiba-tiba hingga posisinya kini berada di posisi wanita itu sebelumnya. "Jangan lepaskan aku, aku mohon." Pinta Kaylin dengan memohon sembari menatap anak tangga dibawahnya dengan ketakutan. Bukan takut tubuhnya yang terluka namun ia takut kandungnya yang akan terluka.


"Kau mengatakan apa? Aku tidak mendengarnya?" Raline tertawa terbahak-bahak.


"Aku mohon jangan lepaskan," Kaylin kembali memohon dengan air mata yang mulai menetes di dikedua pipinya. "Edgar tolong aku.." Teriaknya dengan keras berharap sepupunya itu mendengar dan menolongnya.


"Percuma kau berteriak, di mansion ini tidak ada siapapun. Kakek di kamar dan sepupu tercintamu itu pun pasti ada di kamarnya. Dan semua pengawal kebetulan sekali sudah tidak berjaga di lantai ini." Raline tersenyum sembari melepaskan satu tangan Kaylin.


"Tidak.. tidak jangan!" Kaylin berusaha menggapai tangan Raline.


"Selamat tinggal Kaylin Meyer..." Raline melepaskan tangan Kaylin, namun sialnya tangannya pun ikut di tarik wanita itu hingga membuat keduanya jatuh terguling ke lantai bawah.


"Alexander..." Teriak Kaylin saat terjatuh sembari memegang perutnya dengan menangis. Ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, namun sebelum ke-dua matanya dipenuhi oleh kegelapan Kaylin melihat Alexander dan Edgar berlari kearahnya.