
"Maaf tadi aku bersikap sedikit tidak baik, karena aku pikir kau dan Alex —"
"Tidak apa-apa Kakak ipar," ucap Raline tanpa melepas rangkulan di pinggang Alex. "Kau bukan satu-satunya orang yang salah paham dengan kedekatan kami."
Kaylin lagi-lagi hanya tersenyum kaku, tanpa mau terlibat perbincangan lebih dalam dengan sosok yang bernama Raline tersebut.
"Sekarang katakan, ada apa kau datang kemari?" Alex memang terkejut dengan keberadaan Raline di Jakarta, terutama di mansionnya.
"Tentu saja untuk tinggal bersamamu," ucap Raline dengan tersenyum. "Eh.. maksudku tinggal bersama kalian."
"What?" pekik Kaylin namun hanya dalam hati, karena jujur ia tidak suka pada Raline yang terlihat begitu mesra dengan Alex, meskipun ia tahu mereka kakak beradik tapi tetap saja Kaylin merasa tidak suka.
"Lalu Kakek?" tanya Alex.
"Kakek tidak keberatan, dia justru menyuruhku untuk ikut bekerja denganmu di cabang perusahaan keluarga kita."
"Perusahaan keluarga? Kakek?" sela Kaylin dengan tatapan sedikit kesal, kini ia benar-benar seperti orang bodoh yang tidak mengenal baik siapa itu Alexander.
"Nanti aku jelaskan?"
Kaylin hanya mendengus dengan kesal, apalagi saat Alex justru meminta pada Boby untuk mengantarnya ke dalam kamar, dan mau tidak mau Kaylin pun pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Alex yang kini berdua bersama adiknya.
Setelah melihat Kaylin pergi, Alex kembali melanjutkan perbincangan mereka sembari duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Apa kekasihmu tahu, kau akan tinggal di Jakarta?"
"Tentu saja dia tahu, dia bahkan senang karena akhirnya kami akan sering bertemu."
"Baiklah, aku harap kau bisa berteman baik dengan Kaylin. Karena sekarang dia kakakmu juga."
"Pasti kak, kau tenang saja." Raline berusaha untuk tersenyum.
"Aku juga berharap kau bisa menjaganya, karena dia sedang mengandung anakku."
"What? Mengandung?"
Alex menganggukkan kepalanya.
"Tapi kak, bukankah kalian baru saja menikah? Bagaimana bisa?"
Alex memilih tidak menjawab pertanyaan Raline. "Aku ke kamar dulu."
"Kak tunggu! Kau belum menjawab pertanyaan ku?" Raline menahan pergelangan tangan kakaknya.
"Apa kau ingin aku menceritakan bagaimana cara menghamilinya?"
"Eh..." Raline melepaskan pergelangan tangan Alex dengan wajah bersemu merah, antara menahan malu juga amarah saat membayangkan bagaimana Alexander menghamili wanita yang bernama Kaylin itu.
Alex pun berjalan pergi dari ruangan tersebut menunju kamarnya, menuju wanita yang pastinya sedang menunggu penjelasan darinya. Dan benar saja, setelah ia masuk ke dalam kamar, Kaylin yang tengah duduk di tepi ranjang langsung berdiri dengan wajah yang terlihat kesal.
"Aku berasal dari keluarga Moses, keluarga yang kumiliki hanya tinggal Kakek dan Raline. Perusahaan Moses bergerak di bidang pertambangan minyak bumi dan gas. Jika kau bertanya di mana kakek ku tinggal, dia menetap di Arab Saudi. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" jelas Alex panjang lebar sebelum wanitanya bertanya.
Kaylin yang terkejut dengan penjelasan Alex, hanya bisa diam dengan mulut yang terbuka lebar. Rasanya ia tidak percaya, Alex yang selama ini dikenalnya hanya sebagai seorang pengawal pribadi ternyata berasal dari keluarga kaya raya, karena perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Moses bukanlah sebuah bisnis yang main-main.