One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 59



"Aku apa...?" tanya nya dengan suara yang mulai serak, mendekat dan tanpa banyak kata mencium bibir Kaylin dengan perlahan, menikmati rasa di dalamnya yang selalu membuat gairah tubuhnya terbakar dengan cepat.


"Alex..." desah Kaylin saat ciuman dibibirnya turun perlahan ke leher jenjangnya, seperti ada sengatan listrik saat bibir itu menyentuh lehernya, bahkan kini turun lebih bawah hingga beberapa kancing pakaian yang dikenakannya terlepas saat Alex menariknya dengan kasar.


Tok.. Tok.


Suara ketukan pintu yang begitu keras, membuat kesadaran Kaylin mulai kembali setelah sempat terbuai oleh sentuhan suaminya. Dapat ia dengar dengan jelas Raline memanggil nama Alex di sela ketukan pintu.


"Alex.. Raline..." sebisa mungkin ia berpegangan pada pundak suaminya, saat kedua kakinya terasa lemas bagaikan jely ketika Alex menyentuh kedua dadanya bahkan menyesap salah satunya dengan begitu rakus. "Alex..." Kaylin kembali memanggil suaminya agar menghentikan kegiatannya tersebut, karena kalau tidak mereka pasti akan berakhir di atas ranjang mengingat keduanya belum melakukan yang biasanya di lakukan para pengantin baru.


Meski dengan sedikit kesal Alex menghentikan apa yang tengah dilakukannya, bukan karena Raline yang mengetuk pintu kamar mereka, namun karena ia takut tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Kaylin lebih dalam lagi, padahal ia harus menahannya mengingat kondisi Kaylin yang tidak boleh kelelahan.


"Gantilah pakaianmu! Aku tunggu diluar," Alex bantu melepas pakaian yang dikenakan Kaylin, lalu pergi setelah sebelumnya mencium perut istrinya secara langsung tanpa terhalang pakaian.


Kaylin sendiri menatap punggung Alex yang semakin menjauh dengan tersenyum bahagia. Sungguh ia merasa hidupnya sangat bahagia dan sangat sempurna, memiliki seorang suami tampan yang ternyata sangat kaya raya, sedang mengandung, dan bisa hidup nyaman di tempat mewah seperti mansion miliknya dulu.


Namun hanya satu yang kurang di dalam hidupnya, yaitu cinta. Jika ditanya apakah ia masih mencintai Alexander, maka jawabannya ya. Kaylin masih sangat mencintai pria itu meskipun dulu sempat menyangkalnya. Namun sayang pria yang sejak dulu ia cintai sampai detik ini belum bisa mencintainya, tapi bagi Kaylin hal tersebut bukalah menjadi sebuah masalah yang besar, karena ia yakin suatu saat nanti Alexander pasti akan mencintainya.


*


*


"Kakak ipar akhirnya kau selesai juga, kita sudah lama menunggu." Raline menatap jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kita?" Kaylin menatap tampilan Raline dengan kening yang berkerut. "Kau ikut pergi bersama kami?"


"Tentu saja, ayo kak aku sudah sangat lapar," Raline menarik tangan Alex, berjalan meninggalkan Kaylin di belakang dengan tersenyum tipis.


"Oh my God," rasanya ingin sekali Kaylin berteriak saat ditinggal begitu saja oleh Alex dan Raline, seperti mahluk tak kasat mata saja dirinya di mata mereka. "Kay tahan diri, mereka itu Kakak Adik jadi kau tidak boleh marah melihat kedekatan mereka!" ingatnya pada diri sendiri di dalam hati.


Ia pun melangkahkan kakinya dengan tak bersemangat, saat mengetahui tidak hanya dia dan Alex yang akan makan di luar namun Raline juga ikut.


"Kau itu lama sekali!"


"Alex...." pekik Kaylin dengan terkejut, saat suaminya itu tiba-tiba datang dan langsung menggendongnya ala-ala bridal. "Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."


"Jalanmu itu seperti siput, bisa kelaparan anakku di dalam sana jika menunggu kau berjalan."


"Alexander..." gerutu Kaylin namun dengan bibir yang tersenyum lebar. Di satu sisi ia merasa sangat kesal karena disamakan seperti siput, namun disisi lainnya ia merasa bahagia karena Alex begitu perhatian pada bayi yang ada di dalam kandungannya.