
"Kau datang lagi?" Kaylin menatap Alex yang duduk di kursi samping ranjangnya.
Ya, sudah tiga Minggu ini pria itu menepati janjinya untuk datang ke mansion Meyer. Alex selalu datang pagi hari sebelum berangkat kerja, dan sore hari setelah pulang kerja. Padahal setiap harinya Kaylin tidak memperdulikan keberadaan pria itu sekali, bahkan ia sering berpura-pura tertidur hanya agar Alex pulang dan merasa bosan sehingga tidak lagi datang ke mansion Meyer. Tapi yang terjadi keesokan harinya Alex justru datang lagi hingga sampai hari ini.
"Bukankah sudah ku katakan, aku akan terus datang sampai kau mau ikut pulang bersamaku." Alex tidak akan mundur untuk membujuk Kaylin pulang, meskipun yang diterimanya selalu sebuah penolakan. Bahkan dua Minggu pertama ia berkunjung, Kaylin masih mendiamkannya tanpa mau menatap wajahnya sama sekali, dan baru empat hari ini wanitanya mau berbicara meskipun hanya perbicangan singkat.
"Aku juga sudah katakan ingin tetap tinggal di mansion Meyer." Kaylin merasa kesal karena setiap hari Alex selalu memintanya untuk pulang. Dulu saja saat ia masih tinggal di mansion Moses Alex tak pernah peduli dan selalu mengabaikannya, tapi kini pria itu bersikeras memaksanya pulang. Bahkan yang lebih gilanya, Alexander membeli sebuah mansion tepat di sebelah Mansion Meyer hanya agar ia mau ikut bersama pria itu.
"Aku tahu." Alex mengusap tangan Kaylin agar wanitanya tidak emosi, ia tidak ingin perbicangan mereka diisi oleh sebuah perdebatan. "Bagaimana kabarmu hari ini? Apa sudah lebih baik." Alex menatap Kaylin yang sudah tiga Minggu ini ia temui selalu berada di atas tempat tidur. Entah karena Kaylin masih dalam masa pemulihan, ataukah memang wanitanya itu masih malas untuk bergerak.
"Aku baik, kau sudah makan?" Kaylin tahu Alex baru pulang kerja, jadi pastinya pria itu belum makan.
"Aku belum lapar."
Kaylin menghela napasnya. Ingin sekali ia menawarkan pria itu untuk makan tapi percuma saja, karena yang sudah-sudah Alex akan menolaknya.
"Kay..."
"Em.." Kaylin yang tengah melamun kini menatap wajah Alex, wajah yang jika diperhatikan terlihat tak bersemangat seperti banyak pikiran.
"Boleh aku mengusap perutmu?"
"Apa?" Kaylin langsung mengeratkan selimut yang menutupi perutnya. Walaupun perutnya tergolong kecil untuk seorang Ibu hamil dan hanya terlihat sedikit menonjol, tapi jika Alexander menyentuhnya pasti pria itu akan sadar jika ia masih mengandung anaknya.
"Aku rindu saat-saat mengusap dan mencium perutmu." Ucap Alex dengan jujur sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh.
"Kay..." Alex mengerutkan keningnya dengan bingung, padahal ia hanya ingin menyentuh perut dimana calon anak mereka pernah berada di dalamnya.
"Jangan pernah membahas atau mengingatkan aku tentangnya." Kaylin memalingkan wajahnya tak ingin menatap Alexander, karena takut pria itu menyadari kebohongannya.
"Maaf..." Alex merasa bersalah melihat Kaylin yang ketakutan hanya karena keinginannya menyentuh perut wanita itu.
Kaylin sendiri langsung menatap Alex saat mendengar pria itu mengatakan kata maaf, kata yang sering diucapkan Alex sejak insiden yang menimpa dirinya. Sungguh di dalam hatinya ia sudah tidak marah pada Alex, bahkan Kaylin begitu merindukan pria itu. Namun karena ia masih trauma dan masih menjalani bed rest, Kaylin pun memilih tetap tinggal di mansion Meyer demi kandungannya.
"Oh ya, dimana sepupumu itu? Sudah lama aku tidak melihatnya." Alex sengaja mengalihkan pembicaraan mereka karena melihat Kaylin yang diam saja.
"Edgar sudah kembali ke Singapore."
"Syukurlah." Setidaknya Alex bisa tenang sekarang karena sudah tidak ada lagi pria yang mendekati istrinya.
"Alex apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"
Alex sedikit terkejut karena tiba-tiba Kaylin menanyakan hal tersebut disaat mereka membahas tentang Edgar.
"Kau masih tidak percaya dengan cintaku?" Alex balik bertanya hingga membuat Kaylin terdiam. "Apa yang bisa aku buktikan agar kau percaya aku sangat mencintaimu?"
Kaylin masih diam tidak menjawab pertanyaan Alex, dan sedikit terkejut saat sebuah kecupan mendarat dibibirnya. Kini mereka berdua saling berhadapan tak berjarak, dan saling menatap dengan intens.