One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 112



Setelah sarapan pagi mereka selesai, Kenan langsung berangkat kerja dengan perasaan sangat kesal. Bagaimana tidak kesal anak dan istri tercintanya justru memilih sarapan dengan makanan yang dibawa Alexander.


Berbeda dengan Kenan, setelah sarapan pagi Alex justru tidak berangkat kerja melainkan menemani Kaylin di dalam kamar.


"Alex kau tidak berangkat kerja?" Kaylin merasa risih karena sejak tadi suaminya terus berada berada di dalam kamar, membuatnya tidak bebas untuk melakukan apapun.


Alex hanya menjawab dengan gelengan kepala, tanpa mengalihkan tatapannya pada layar laptop diatas meja.


"Tapi kenapa?"


"Karena aku ingin menjagamu dua puluh empat jam."


"What? Jadi kau serius ingin menjagaku dua puluh empat jam?" tanya Kaylin dengan tak percaya. Tadinya ia pikir Alex berkata seperti itu dalam artian menjaga dari jauh bukannya terus berada di sisinya. "Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Ini aku sedang bekerja, kau tidak lihat?" Alex tetap fokus pada kerjaannya sambil sesekali melihat berkas yang ada di tangan.


"Iya, tapi bagaimana jika kau dipecat karena tidak berangkat ke kantor?"


Reflek Alex menatap pada Kaylin lalu tertawa. "Siapa yang berani memecatku? Kau lupa aku pemilik perusahaannya?"


"Iya juga," Kaylin menganggukkan kepalanya. "Tapi bukankah pemilik perusahaan itu Kakek Moses?"


"Itu dulu, tapi sekarang semua aset miliki Kakek tua itu sudah menjadi milikku." Ucapnya dengan jujur, karena sejak kejadian Kaylin jatuh dari tangga kakeknya langsung memindahkan seluruh aset milik keluarga Moses atas nama Alexander. Merubah surat wasiat sebelumnya, dimana nama Raline pernah tercantum sebagai pemilik dua puluh persen dari seluruh aset keluarga Moses.


"Tapi tetap saja kau tidak boleh seenaknya, jika ada masalah di kantor siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Ada Boby dan orang kepercayaan Kakek tua itu yang menghandle semua pekerjaan selama aku menjagamu."


Kaylin kini terdiam, karena tidak ada lagi yang bisa ia jadikan alesan untuk membuat Alex pergi.


"Terserah kau saja," Kaylin memilih berbaring menutup tubuhnya dengan selimut, namun ia membuka kembali selimut tersebut saat teringat sesuatu. "Kabar Kakek bagaimana? Apa beliau sudah pulang?" ia ingin tahu kabar kakeknya karena sejak kejadian terjatuh dari tangga tak pernah sekalipun Kaylin berjumpa dengan kakek Moses.


"Kakek tua itu masih ada di Jakarta, karena harus mengurus masalah—" Alex tidak melanjutkan perkataannya karena tidak ingin menyebut nama Raline, takut Kaylin kembali trauma.


"Mengurus masalah apa?"


"Apakah masalah Raline?" tanya Kaylin. Karena ia tahu Kak Kenan membawa permasalahan mereka melalui jalur hukum, dan kini Raline tengah mendekam di dalam penjara karena pengajuan tahanan kota oleh kakek Moses digagalkan oleh kak Kenan.


Alex menghela napas dalam, memilih menyudahi pekerjaannya lalu berjalan mendekat pada Kaylin. "Jangan membahas dia lagi." Ucapnya sembari mengusap wajah wanitanya.


Kaylin menyentuh tangan Alex yang berada di pipinya. "Aku tidak ingin membahasnya, tapi apa kakek tidak menyayangiku sebagai cucu menantunya?"


"Kenapa kau bicara seperti itu?" Alex mengerutkan keningnya.


"Karena kakek tidak pernah sekalipun datang kemari menjengukku." Kaylin menundukkan kepalanya.


"Kakek sangat menyayangimu, percayalah. Dia tidak datang menjenguk karena kakakmu dan aku tidak mengijinkannya."


Kaylin langsung menatap wajah Alex dengan terkejut. "Kenapa kalian tidak memberi ijin?"


"Karena kami takut, kakek tua itu akan membahas masalah..."


"Raline?"


Alex menganggukkan kepalanya.


Mendengar hal tersebut, tentu saja Kaylin merasa terharu karena Kenan dan Alex begitu melindunginya sampai melarang Kakek Moses datang berkunjung. Namun tetap saja Kaylin ingin bertemu kakek Moses karena walau bagaimanapun dirinya sudah menjadi bagian dari keluarga Moses,


"Aku ingin bertemu kakek."


"Untuk apa?" Alex menatap intens wanitanya, berusaha menyelami jalan pikiran Kaylin yang tiba-tiba meminta untuk bertemu dengan kakeknya.


"Tentu saja untuk melihat keadaan Kakek dan berbicara dengannya."


"Lebih baik jangan, fokuslah pada kesehatanmu jangan memikirkan hal lainnya."


"Tapi Alex aku ingin bertemu dengan kakek, please." Mohon Kaylin.


Alex menghela napas dalam. Sebenarnya ia juga ingin mempertemukan Kakek dengan Kaylin, karena Kakeknya memang sangat ingin bertemu dengan cucu menantunya tersebut.