
Sst..
Alex menaruh jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Kaylin untuk diam. Karena ia melihat putranya yang bersembunyi di bawah ranjang tengah tertidur dengan pulas.
Kaylin yang penasaran menatap kebawah. Betapa terkejutnya ia saat melihat putranya yang menghilang selama hampir dua jam itu ternyata tengah tertidur dengan pulas. Pantas saja Kaylin berteriak dan mencari tapi tidak menemukan Rain, karena ternyata putranya bersembunyi di salah satu kamar tamu yang ada di mansion mereka.
Alex sendiri memerintahkan para pelayan untuk menyingkirkan ranjang tersebut tanpa harus menggangu tidur Rain. Setelah ranjang tersebut disingkirkan Alex mengangkat tubuh putranya dengan perlahan, membawanya ke dalam kamar tidur Rain.
"Alex..."
Lagi-lagi Kaylin terdiam saat suaminya memberi isyarat untuk tidak mengganggu putra mereka. Ia pun akhirnya memilih mengikuti perintah Alexander untuk keluar dari kamar Rain.
"Oh ya ampun!" umpat Kaylin setelah berada diluar kamar. "Putramu itu benar-benar keterlaluan. Aku yang ketakutan setengah mati mencarinya, Rain justru tertidur dengan pulas." Ia meluapkan emosi yang sejak tadi ditahannya.
"Kay dia juga putramu, kau yang melahirkannya." Ucap Alex sembari berjalan menuju kamar pribadi mereka dengan menggandeng tangan istri tercintanya.
"Tapi Alexander, mau sampai kapan aku dibuat stres seperti ini." Keluh Kaylin dengan raut lelahnya. Sungguh ia tidak sanggup jika setiap hari harus bermain petak umpat bersama putranya yang jago bersembunyi seperti Alexander. "Sebaiknya kita pindah ke mansion yang lebih kecil agar Rain tidak memiliki tempat bersembunyi." Kaylin merasa itu pilihan yang tepat, karena mansion yang ditempatinya saat ini begitu luas untuk keluarga kecil mereka.
"Pindah bukanlah solusinya. Lagi pula apa kau siap tinggal jauh dari kakak tersayangmu?" Alex membawa Kaylin untuk duduk di pangkuannya, membelai punggung wanitanya dengan perlahan untuk meredakan emosi yang tengah dirasakan Kaylin.
"Kau benar." Kaylin menghela napasnya sembari menatap wajah Alexander yang kini menatapnya penuh arti. Sebuah tatapan yang ujung-ujungnya mereka akan berakhir di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
"Kenapa?" Alex mencium tengkuk wanitanya dengan penuh kelembutan sengaja memancing hasrat lawannya.
"Alexander geli." Kaylin tak tahan saat suaminya mulai menyentuh bagian sensitif nya dibawah sana tanpa melepaskan pakaian yang dikenakannya.Tapi cukup mampu membuat tubuhnya terasa panas terbakar api gairah. "Aku menginginkanmu." Tanpa banyak kata Kaylin mencium bibir Alexander dengan sangat menuntut tanpa merasa malu diawal tadi sempat menolak ajakan suaminya.
Sementara Alex tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciuman mereka. Kemenangan yang selalu didapatkannya karena Kaylin begitu mudah untuk ditaklukkan hanya melalui sentuhannya. Lama mereka berciuman dengan tangan keduanya yang mulai melepaskan kancing pakaian yang dikenakan pasangannya dengan terburu-buru.
"Mom.. Dad..."
Kaylin dan Alex yang terkejut langsung melepaskan tautan bibir mereka.
"Rain..." Dan di detik berikutnya terdengar sesuatu terjatuh dengan sangat keras.
"Alexander!" sentak Kaylin dengan penuh emosi karena terjatuh dari pangkuan suaminya saat pria itu berdiri dengan tiba-tiba. Sungguh rasa sakit di bok-ongnya tidak seberapa dengan rasa sakit dihatinya karena sang suami justru menghampiri Rain dari pada menolongnya berdiri.
"Sayang..." Alex yang tersadar kembali menghampiri Kaylin dengan perasaan bersalah.
"Tidak perlu!" ketus Kaylin sembari bangkit merapihkan pakaiannya kembali.
Alexander pun menghela napas lalu menghampiri putranya yang masih berdiri di depan pintu, setelah mengancingkan kembali pakaiannya. Meninggalkan Kaylin yang terlihat masih kesal setelah terjatuh dari pangkuannya.