
"Kaylin Moses aku mencintaimu. Dulu, sekarang, esok hari, sampai tutup usiaku kau akan menjadi wanitaku satu-satunya." Alex kembali mencium bibir Kaylin dengan lembut.
Apakah Kaylin merasa terharu dengan perkataan Alex, maka jawabannya sedikit. Karena ekspresi wajah Alex yang datar merusak momen yang seharusnya romantis diantara mereka.
"Tidak bisakah kau mengatakannya dengan tersenyum."
Alex menautkan kedua alisnya dengan bingung. "Tersenyum?"
"Iya tersenyum." Kaylin memperlihatkan senyumnya.
Alex pun mengikuti kemauan Kaylin dengan menarik ke-dua sudut bibirnya.
"Lebih lebar!" Kaylin kembali mencontohkan pada Alex. "Ayo ulangi perkataanmu tadi tapi dengan tersenyum."
Alex pun tersenyum selebar-lebarnya sembari mengulang perkataan cintanya. Namun bukannya terlihat romantis, ekspresi wajah Alex yang datar dengan senyum lebarnya yang kaku justru membuat Kaylin tertawa.
"Sudahlah kau memang tidak bisa bersikap romantis."
Melihat tawa di wajah Kaylin Alex pun tersenyum bahagia.
"Nah senyum seperti itu yang aku inginkan." Kaylin menyentuh wajah Alexander dengan gemas.
"Aku suka tawamu." Ucap Alex dengan menarik tengkuk Kaylin, mencium bibir merah wanitanya dengan dalam. Menyalurkan kerinduan yang di rasakan nya melalui ciuman mereka. "Aku mencintaimu, sangat." Alex kembali menautkan bibir mereka.
"Mama..."
Suara Rex yang cempreng membuat Alex dan Kaylin menyudahi ciuman mereka, keduanya kini menatap pada sosok anak kecil yang berlari memasuki kamar dengan Nanny nya yang mengejar dari belakang.
"Sini sayang!" Kaylin menepuk sisi ranjangnya.
"Mama sustel jahat, Lex tidak boleh masuk ke dalam kamal Mama. Katanya di dalam ada monstel jahat," adu Rex dengan menunjuk Nanny nya lalu menatap pada pria yang ada dihadapannya. "Apa papa Mostelnya?"
Kaylin menatap Alex lalu tertawa. Berbeda dengan pengasuh Rex yang ketakutan karena anak majikannya itu sudah berhasil masuk kedalam kamar Nona Kaylin, padahal ia sudah diberi peringatan oleh Nyonya Cleopatra agar Rex tidak boleh masuk jika didalam kamar masih ada suami Nona nya.
"Hampir tertabrak mobil? Kapan?" Kaylin mencoba mengingat.
"Itu Nona, saat Nona ingin membelikan es krim untuk Tuan Rex setelah pulang dari restaurant." Jelas suster itu.
Kaylin yang mengingat kejadian tersebut, menatap pada Alex dengan penuh tanya.
"Benarkah Alex?"
Alex menganggukkan kepalanya tanpa mau membahasnya lebih panjang. Rasanya malu jika Kaylin sampai mengetahui dirinya mengikuti wanita itu sejak dari restaurant.
"Kenapa kau tidak bilang?" Kaylin kembali bertanya. "Dan kenapa kau langsung pergi begitu saja?"
"Sudah jangan dibahas lagi, kejadian itu sudah lama berlalu." Ucap Alex dengan datar untuk menutupi rasa gugupnya.
"Oh ya Mama, bagaimana keadaan Adik bayi." Ucap Rex yang membuat Kaylin terkejut. Dia lupa keponakannya itu tidak diijinkan masuk ke kamarnya saat ada Alex, karena tidak ingin mulut Rex yang blong tanpa rem keceplosan berbicara seperti saat ini.
"Adik Bayi?" Alex mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Iya adik bayi yang—"
"Suster bawa Rex keluar! Kau lupa ya ini saatnya dia mandi." Kaylin memotong ucapan Rex dengan memberikan kode pada susternya.
"I-iya Nona." Suster itu segera menarik tangan majikan kecilnya. "Ayo sayang kita keluar, Rex harus mandi dulu."
"Tidak mau, Lex masih mau disini." Rex yang tidak mau keluar memeluk Mama Kaylin nya dengan erat.
"Sayang kau harus mandi dulu," bujuk Kaylin dengan mempertahankan selimut nya agar tetap menutup perutnya.
"No Mama.." Rex bersikeras untuk tetap berada di ruangan tersebut.
Kaylin pun terus berusaha membujuk keponakannya, berbeda dengan Alex yang menatap Kaylin dengan raut wajah tak terbaca.