
"Raline apa yang kau lakukan?" Alex reflek menjauh karena terkejut. Bagaimana tidak terkejut, saat membuka kedua mata mendapati wajah Raline yang begitu dekat dengan wajahnya, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.
"Aku hanya ingin memijat kepalamu," Raline hendak menyentuh kembali kepala Alex.
"Tidak perlu!" Alex menahan lengan adiknya, berdiri dari kursi kerja lalu berjalan kearah kaca untuk melihat pemandangan di luar gedung perkantoran.
"Kak..." Raline yang tidak ingin kehilangan momen bersama Alex, memberanikan diri mendekat dan memeluk pria itu dari belakang.
"Raline lepas..."
"Tidak kak, biarkan seperti ini dulu." Raline menahan tubuh Alex yang ingin lepas dari pelukannya. "Aku rindu memelukmu seperti ini."
Ya, dulu Raline selalu memeluk Alex dari belakang, mencurahkan seluruh rasa cintanya meskipun Alex tidak pernah menyadari apa yang dilakukannya kala itu sebagai bentuk cinta seorang wanita pada pria nya, bukan sebagai adik kepada kakaknya.
"Kau kenapa?" Alex yang merasa sikap Raline yang berbeda dari biasanya, memilih diam membiarkan wanita itu memeluknya.
Raline menggelengkan kepala tanpa melepas pelukannya, air mata tanpa terasa jatuh di kedua pipinya hingga membuat pakaian belakang Alex basah.
Alex yang menyadari Raline menangis, membalik badan untuk menatap adiknya.
"Kau kenapa?"
Raline lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya, terus menangis mengeluarkan rasa sesak yang selama ini dirasakannya karena sebuah penyesalan. Menyesal karena tidak segera menyatakan rasa cintanya pada Alex setelah kedua orang tua mereka meninggal, dan memilih diam menunggu pria itu lebih dulu mengungkapkannya, hingga membuat keadaannya menjadi rumit seperti sekarang.
Melihat Raline yang semakin menangis pilu, Alex memeluk adiknya itu. "Apa kau sedang ada masalah dengan kekasihmu?"
"Kak, sebenarnya aku—"
Perkataan Raline terhenti oleh suara ketukan pintu dari luar. Alex segera mengurai pelukannya lalu mengusap air mata di kedua pipi Raline sebelum menyuruh orang yang ada di luar untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Tuan, aku membawakan laporan yang ada minta."
Alex mengambil berkas laporan dari karyawannya, menelisik lembar demi lembar sembari menyuruh karyawannya untuk duduk, karena pastinya mereka akan membahas laporan tersebut.
Melihat Alex yang sibuk mengurus pekerjaannya, Raline pun memilih keluar dari ruangan tersebut karena tidak ingin rasa kesalnya dilihat oleh Alexander.
"Sial"
Raline yang sudah berada di dalam lift mengumpat dengan kasar sembari menghentakkan kedua kakinya. Ia begitu kesal karena apa yang ingin dikatakannya terhalang karena kedatangan karyawan Alexander, seorang karyawan yang ia ketahui bekerja di bagian keuangan.
Seandainya karyawan itu tidak datang, mungkin saat ini Raline sudah mengatakan yang sebenarnya pada Alex tentang hubungannya dengan sang kekasih yang telah lama kandas. Raline juga ingin mengatakan rahasia yang selama ini disimpannya, yaitu mencintai Alexander Moses dalam diam, namun kesempatan itu hilang begitu saja.
"Nanti malam aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Alex."
Ya, Raline sudah bertekad untuk mengatakan rasa cintanya pada Alex bagaimana pun caranya. Karena ia sudah tidak mau lagi menunggu Alex yang mengatakannya lebih dulu, karena pria itu begitu kaku dan tidak peka terhadap signal-signal yang selama ini diberikannya.
"Aku yakin kau juga mencintaiku kak. Jadi kita bisa bersama setelah kau menceraikan Kaylin." Raline tersenyum membayangkan dirinya akan menggantikan posisi Kaylin sebagai Nyonya Moses.
Bukan tanpa alasan ia begitu percaya diri Alexander mencintainya, karena selama satu bulan lebih tinggal bersama Alex, pria itu lebih mementingkan dirinya dibanding istrinya yang sedang hamil.