
Kaylin diam terpaku menatap tak percaya dengan jawaban yang diberikan Alexander, jawaban yang lebih terdengar seperti pria yang patah hati.
"Seandainya Raline ternyata mencintaimu, apa kau juga akan mencintainya?" Kaylin ikut berdiri, berjalan mendekat pada Alexander yang kini berada di balkon kamar.
Alex diam tak menjawab pertanyaan Kaylin, tatapan matanya menatap ke atas langit yang terlihat mendung tertutup awan gelap.
"Katakan Alex, apa kau akan mencintainya?" Kaylin mengulangi pertanyaannya dengan bibir bergetar menahan rasa yang bergolak di dalam dada. Rasanya saat ini Kaylin ingin sekali menangis karena terjebak dalam sebuah hubungan yang rumit. Namun yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah senyuman mengejek, mengejek pada dirinya sendiri yang sudah berada di tempat yang salah, ditengah-tengah ke-dua orang yang mungkin saling mencintai.
Ya, Raline mencintai Alex itu sudah pasti, dan seandainya Alex juga mencintai Raline. Lalu dimana tempatnya? Apakah dirinya hanya akan menjadi seorang figuran dalam kisah cinta Alexander dan Raline.
"Jawab Alexander!" Kaylin mengulangi pertanyaannya dengan jantung yang berdetak dengan cepat.
"Aku..."
"Stop!" Kaylin menutup kedua telinganya. Sungguh ia tidak sanggup mendengar jawaban Alex. Katakanlah Kaylin seorang yang labil, tadi meminta Alex untuk menjawab pertanyaannya tapi sekarang memilih untuk tidak mau mendengar. Kaylin takut dan belum siap menerima kenyataan yang akan membuatnya sakit hati apalagi sampai berdampak pada kehamilannya.
Alex berjalan mendekat, menurunkan kedua tangan yang menutupi telinga Kaylin.
"Bagaimana perasaanku itu tidak penting, cukup yakini satu hal kau adalah wanitaku satu-satunya."
"Tapi yang aku inginkan cintamu Alexander." Ucap Kaylin namun hanya dalam hati. "Kenapa sulit sekali membuatmu jatuh cinta? Seandainya aku tahu kau sulit mencintaiku karena sudah ada nama wanita lain di hatimu, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu." Lagi-lagi itu hanya terucap dalam hatinya.
Ah...
Kaylin berteriak sembari menggelengkan kepala.
"Hei.. kau kenapa?" Alex menyentuh wajah Kaylin yang terlihat tegang.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Kaylin hendak masuk kembali ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti saat pinggangnya di tarik dengan cepat hingga membuat tubuhnya berada di dalam dekapan Alex.
"Tetaplah disini!" Alex mencium rambut Kaylin, mencium wangi bunga Chrysantheium yang membuatnya nyaman. "Boleh aku menengoknya?" bisik Alex sembari mengusap perut Kaylin dengan perlahan tanpa berhenti mencium rambut wanitanya.
Kaylin berpikir sesaat. "Boleh, aku juga ingin menengoknya. Ayo kita ke rumah sakit."
Alex menghentikan gerakan tangannya diperut Kaylin lalu tertawa, membuat Kaylin bingung sekaligus bahagia karena untuk pertama kalinya ia bisa melihat Alex tertawa keras seperti itu, karena biasanya pria itu begitu pelit untuk tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun sangat jarang dilakukan pria itu.
"Kenapa kau tertawa?"
Alex membalik tubuh Kaylin menghadapnya. "Aku ingin mengulang malam panas kita saat di Dubai." bisiknya dengan mencium leher jenjang Kaylin.
"Oh..., eh tunggu dulu!" Kaylin mendorong dada telanjang Alexander. "Maksudmu kita..?" Kaylin menatap Alexander dengan gugup dan jantung berdegup kencang. Pipinya seketika itu memanas menahan malu saat membayangkan apa yang akan mereka lakukan.