
Melihat tubuh kekar Alexander tanpa penutup apa pun, apalagi saat melihat milik pria itu yang sudah membuat kegadisannya hilang, sontak membuat Kaylin mengalihkan tatapan matanya. Meskipun dulu ia sering melihat tubuh polos Alexander, tapi tetap saja terasa aneh apalagi dengan keadaan mereka yang sangat kacau.
"Kau mau apa? Jangan mendekat!" Kaylin berjalan mundur, saat Alexander dengan penuh percaya diri menghampirinya.
"Tentu saja mengambil pakaian ku!" Alex merampas kemeja dan celana miliknya dengan ekspresi datar, tanpa terpengaruh sedikit pun saat melihat wajah Kaylin yang pucat dan langsung menutup tubuh polosnya dengan tangan.
"Alexander kau itu brengsek!"
"Tidak perlu memaki! Lagi pula untuk apa kau tutupi? Aku sudah melihat semuanya."
"Kau!" geram Kaylin dengan tatapan penuh amarah. Namun di detik selanjutnya ia berteriak saat tubuhnya terangkat ketika Alex menggendongnya ala bridal style. "Mau apa kau? Turunkan aku!" teriaknya sembari memukul dada bidang mantan kekasihnya.
"Diamlah! Aku hanya ingin membantu!" Alex membawa wanitanya menuju bathroom. "Bersihkan tubuhmu setelah itu baru kita bicara."
Ia pun segera keluar dari dalam bathroom, meninggalkan Kaylin karena takut tidak bisa menahan hasratnya yang ingin kembali menyentuh wanita itu. Karena Alex tidak tega untuk melakukannya lagi, setelah semalam sudah membuat Kaylin tak berdaya memenuhi hasratnya sebanyak tiga kali.
Sementara itu Kaylin yang berada di dalam Bathroom, kini mulai mengingat apa yang telah terjadi tadi malam. Di saat ia mabuk karena melihat keberadaan Alex dengan wanita cantik yang tidak ia ketahui namanya, dan mengingat bagaimana mereka hampir melakukannya di dalam mobil, dan berakhir di dalam kamar yang sekarang ia tempati.
"Jelas-jelas dia yang lebih dulu menyentuhku dengan mencium di dalam mobil. Walaupun saat ditempat tidur aku yang memaksanya untuk tidak pergi, tapi kan bukan memaksa untuk bercinta!"
Kaylin benar-benar merasa sangat kesal, terlebih saat melihat di tubuhnya banyak sekali jejak kemerahan yang ditinggalkan Alex. Namun dibalik semua kekesalan, dan rasa amarah atas apa yang telah terjadi, ia merasa sedikit lega saat mengetahui yang mengambil kesuciannya adalah mantan kekasihnya. Pria yang pernah menjadi bagian terindah dan terburuknya di masa lalu.
"Tapi kenapa jadi begini? Kenapa kesucian ku hilang tanpa aku tahu bagaimana rasa nikmatnya?" gerutu Kaylin. Ia benar-benar tak menyangka, momen yang paling berharga di dalam hidupnya hanya tersisa sebuah rasa sakitnya saja.
*
*
Menandakan pria itu sudah membersihkan diri, walaupun entah di mana. Karena setelah Kaylin keluar dari bathroom, Alex sudah berada di depan pintu dengan menyodorkan paper bag berisi pakaian wanita.
"Kaylin dengar! Aku —"
"Lupakan!" potong Kaylin dengan cepat. "Lupakan apa yang telah terjadi diantara kita!"
Ya, Kaylin memutuskan untuk mundur sebelum pria itu menolak untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ia tidak mau kejadian tiga tahun yang lalu kembali terulang, saat dengan kejamnya Alex mengatakan seorang pria bisa menyentuh dan meniduri wanita walaupun tanpa rasa cinta.
"Aku akan bertunangan dan menikah dengan Mario," ucap Kaylin sembari mengangkat jari manisnya, dimana sebuah cincin berlian melingkar dengan begitu sempurna. "Jadi lupakan apa yang telah terjadi! Aku tidak mau sebuah kesalahan, kebodohan atau apa pun itu, mengganggu rencana pernikahan kami."
"Kaylin Meyer!"
"Nona! Nona Kaylin Meyer! Kau lupa dengan kedudukan kita? Aku atasan dan kau bawahan."
Deg.
Alex mengepalkan kedua tangannya dengan erat, saat lagi-lagi wanita itu mengingatkan posisi mereka sebagai atasan dan bawahan. Apalagi saat dengan angkuhnya Kaylin mengatakan kejadian malam panas mereka sebagai kesalahan dan sebuah kebodohan.