
"Kay tahan emosi, tidak baik untuk kandunganmu jika kau marah-marah seperti itu." Edgar menahan rasa ingin tertawanya saat melihat wajah cantik Kaylin yang memerah karena amarah. Tampak lucu dan sangat menggemaskan di matanya.
"Bagaimana aku tidak marah? Dia itu pria yang sangat egois, aku dijadikan seperti tahanan dimansionku sendiri." Kaylin mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar kesal karena tadi saat pengawal pribadinya menghubungi Alex, pria itu tidak mengangkat panggilan tersebut.
Edgar sendiri kini tertawa karena sudah tidak bisa menahannya, saat melihat bibir Kaylin yang maju dengan begitu lentiknya.
"Kau itu seharusnya senang Alexander bersikap seperti itu, karena itu artinya.." Edgar mendekat pada Kaylin. "Dia cemburu karena kehadiranku." Bisiknya.
Kaylin diam dengan kening berkerut. "Kau yakin Alex cemburu?" tanyanya juga dengan berbisik, karena tidak ingin pengawal pribadi yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya mendengar pembicaraan mereka.
"Tentu saja aku yakin, aku juga berani bertaruh suami itu sedang melihat kebersamaan kita." Edgar menatap salah satu kamera CCTV yang ada di ruangan tersebut. "Kita mulai permainannya." Edgar kembali berbisik, sembari memeluk Kaylin dengan tangan satunya mengusap rambut wanita itu, mengusap perlahan dan penuh kasih.
...Biarlah seperti ini, walaupun yang kau tahu aku sedang berakting. Tapi bagiku ini sudah cukup, bisa memperlakukanmu layaknya seorang kekasih....
Edgar terus mengusap rambut Kaylin tanpa melepas pelukannya, membuat Kaylin terdiam karena merasa canggung diperlakukan seintim ini oleh Edgar. Karena sebelum-sebelumnya walaupun mereka dekat dan pernah tinggal bersama di Singapura, tapi Edgar jarang sekali memeluknya dengan erat seperti ini, karena biasanya dia lah yang lebih sering memeluk dan mencium pipi Edgar. Bahkan yang lebih gilanya, saat ini Kaylin bisa mendengar degup jantung Edgar yang kencang saat sepupunya itu membenamkan kepala di ceruk lehernya.
*
*
"Kak kau kenapa?" Raline menatap wajah datar Alexander yang terlihat menahan emosi.
"Tidak apa-apa," Alex menatap kembali pada layar laptop miliknya, dimana sejak tadi ia melihat apa saja yang tengah dilakukan Kaylin dan Edgar. "Permainan apa yang sedang kalian lakukan?"
Jika saja Alex bukanlah seorang mata-mata handal yang bisa menelisik dan membaca gerak-gerik seseorang, pasti saat ini ia akan pulang ke mansion untuk membuat perhitungan pada Edgar yang sudah berani menyentuh Kaylin untuk kedua kalinya.
Tapi Alex tahu apa yang dilakukan Edgar sepertinya di sengaja, entah apa alasannya tapi yang jelas dia tidak boleh terpengaruh dan terpancing emosi. Walaupun hatinya begitu panas melihat kedekatan Edgar dan Kaylin, ia tidak akan bertindak gegabah seperti saat di taman tadi. Lagi pula ada banyak pengawal yang ia tempatkan untuk mengawasi keduanya, jadi tidak mungkin Edgar dan Kaylin berbuat macam-macam.
"Kak coba kau periksa ini!" Raline menyerahkan berkas yang dikerjakannya pada Alex, untuk mengalihkan perhatian pria itu yang terlihat emosi entah karena apa.
Alex membaca berkas tersebut dengan pikiran yang bercabang hingga tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia pun memilih memejamkan kedua matanya dengan punggung yang bersandar di kursi untuk meredakan emosinya.
"Kak kau pasti lelah." Raline yang sudah berada di belakang kursi kerja Alex, memijat kepala pria itu dengan perlahan sembari mendekatkan wajahnya tepat di atas wajah Alex.
Ya, Raline mulai melancarkan aksinya untuk membuat Alex jatuh kedalam pelukannya, dengan bersikap sebagai seorang wanita dewasa bukan sebagai seorang adik.