
Raline yang begitu bersemangat menjadi seorang Nyonya Moses, tidak sabar mengajak Alex makan malam bersama untuk mengungkapkan perasaan cintanya. Namun sayang rencana makan malam itu harus gagal, karena Alexander tidak mau dan lebih memilih makan malam di mansion. Raline yang tidak kehilangan akal, meminta Alex untuk berbicara empat mata di ruang kerja setelah makan malam mereka selesai.
"Kak jangan lupa ya," ucap Raline sembari berjalan menuju kamarnya, melewati Kaylin begitu saja tanpa ada keinginan untuk menyapa sama sekali.
Kaylin yang mendengar perkataan Raline hanya mencibir sembari berlalu dari tempat tersebut, karena ingin bersikap tidak peduli pada Alexander yang baru pulang kerja. Dia masih kesal karena suaminya itu melupakan begitu saja janjinya untuk membahas masalah status Raline yang ternyata bukan adik kandung pria itu.
"Kau mau kemana?" Alex menahan langkah Kaylin.
"Tentu saja ke ruang makan, kau tidak lihat ini sudah waktunya makan malam." Kaylin menunjuk jam yang terletak di salah satu sudut ruangan tersebut.
"Kembali ke kamar, sekarang!" perintah Alex dengan tegas.
Kaylin yang tidak mau mematuhi perintah suaminya, hanya diam berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
"Kaylin Moses, apa kau ingin aku menggendongmu?"
Tanpa sadar Kaylin menganggukkan kepalanya, membuat Alex tersenyum meskipun senyum itu tidak begitu jelas terlihat. Alex membawa Kaylin ke dalam kamar mereka karena akan membahas masalah tadi pagi yang tertunda.
Ya, Alex sengaja menunda pembicaraan mereka karena Kaylin yang terlihat emosi tidak akan bisa berpikir dengan jernih, saat ia menjelaskan tentang status Raline yang hanya anak tiri di keluarga Moses.
"Kau tunggu disini! Aku ingin membersihkan diri dulu," ucap Alex setelah menurunkan Kaylin ke atas tempat tidur.
"Oh ya ampun, jadi kau menyuruhku masuk ke kamar hanya untuk menunggumu mandi?" Kaylin menatap tak percaya. Ia pikir Alex akan membahas masalah diantara mereka.
"Kenapa? Apa kau ingin ikut mandi bersamaku?" Alex membuka kancing kemejanya lalu melempar asal pakaiannya setelah terlepas.
"Kau yakin tidak mau? Bukankah kita belum pernah melakukannya setelah menikah?" Entah mengapa Alex ingin menggoda Kaylin.
"Perlu kau catat! Jangankan mandi bersama, melakukan hubungan suami-istri pun kita tidak pernah melakukanya." Sahut Kaylin dengan sinis, membuat Alex terdiam tak dapat berkata-kata.
"Cepatlah kau mandi, atau aku akan keluar."
"Kau tidak bisa keluar karena pintu kamar sudah aku kunci. Di luar juga ada pengawal yang berjaga agar tidak ada yang menggangu kita saat bicara nanti." Alex berjalan masuk ke dalam bathroom.
"Ck.. dasar egois, menyebalkan," umpat Kaylin dengan kesal.
Dua puluh menit lamanya Kaylin menunggu Alex membersihkan diri, dan kini mereka duduk saling berhadapan di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Alex bisa tidak pakai pakaianmu dulu sebelum kita bicara," pinta Kaylin dengan jengah saat Alexander dengan santainya duduk dengan bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana panjang setelah keluar dari bathroom.
Jujur Kaylin takut tergoda ingin merasakan kehangatan tubuh kekar suaminya itu, mengingat kondisinya yang tengah hamil membuat hormon progesteron dan estrogen meningkat cukup drastis, hingga gairah seksualnya pun ikut meningkat.
"Untuk apa aku memakainya kalau akhirnya ku lepas." Ucap Alex dengan seringai tipis dibibirnya.
"Maksudmu apa?" Kaylin mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Tidak ada," sahut Alex dengan datar, membuat Kaylin semakin bingung.